
Setelah kemenangan Enzo melawan salah satu dari 3 keganasan, Saat ini cerita membawah kita kembali memperlihatkan para peserta yang lain.
Masi seperti sebelumnya, mereka semua bekerja sama mengalahkan para Iblis dan juga hewan-hewan buas penunggu hutan kematian.
“Sudah berapa kali mereka kita kalahkan? Tapi mereka tetap saja bermunculan.” keluh kesah salah satu peserta pada peserta yang lain.
“Kau benar, tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus tetap bertarung bersama! Jangan sampai ada yang terpancing untuk bertarung sendirian,” teriak dengan lantang peserta yang lain mengingatkan rekan-rekannya.
“Baik, dimengerti.”
“Siap, ayo kita kalahkan monster beruang itu bersama-sama.”
“Yeaaaaah.”
Monster beruang dengan badannya yang besar dan juga cakar-cakar serta kukuh tajam, secara cepat berlari mendekati mereka semua.
“Hewan buas itu datang!! Kalian bersiaplah.”
“Jangan lengah! Mari kita gabungkan kekuatan kita.”
“Matilah kau beruang sialan!!” semua peserta menyerang Monster beruang bersama-sama.
“Bakat api status 2, semburan api!”
“Bakat air status 1, lontaran air!!”
“Bakat tanah status 2, tusukan tanah tajam!”
“Bakat angin status 2, tiupan angin!”
“Bakat petir status 1, kilatan petir!”
Serangan gabungan mereka semua tampaknya berhasil mengenai Monster beruang, raungan kesakitan monster beruang tampak begitu nyaring.
“Grhahahahahaha!”
“Grhhhhahahahah!”
“Bagus, kita berhasil! Sepertinya serangan kita barusan membuat dia kesakitan.”
Monster beruang meloncat ke sana-kemari sambil meraung-raung dengan sangat keras, para peserta menutup telinganya masing-masing tak kuat menahan betapa kerasnya suara itu.
“Apa yang akan kita lakukan, bagaimana cara menghentikan suara monster beruang itu,” sambil menutup telinganya peserta itu bertanya pada peserta yang lain.
“Sialan, kita haus segerah mengalahkan Monster beruang itu!”
__ADS_1
“Tapi Bagaimana? Monster beruang itu tampak masih sangat kuat!”
“Telingaku sakit sekali!”
Beberapa dari peserta tampaknya tidak kuat lebih lama lagi menahan dentuman raungan iblis beruang, darah tampak keluar dari telinga mereka.
“Kalian semua lihat ke atas!! Cepat menghindar!” panik salah satu peserta mengingatkan peserta yang lain.
“Apa maksudmu? Apa ada sesuatu?”
Semua peserta lantas menoleh ke atas dan alangkah terkejutnya mereka semua melihat sosok elang raksasa menuju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
“Cepat menghindar!”
“Semuanya bersiaplah!”
“Sialan, musuh satu belum kelar datang lagi musuh yang baru!”
“Blaaaaaaaaaaaar” ledakan besar terjadi setelah monster elang raksasa dengan paruh kuatnya menghancurkan wilayah sekitar.
Asap debu tebal memadati wilayah tersebut, terdengar rintihan kesakitan para peserta dari dalam debu tebal itu.
“Apakah ada yang masih selamat? Jika masih ada cepat segerah menjauh.” Teriak salah satu peserta sambil terbata-bata dengan tangan kanan penuh berdarah.
Tidak terdengar suara sepatah kata pun kecuali rintihan akan kematian dari para peserta, tampaknya mereka semua sudah tewas akibat serangan dadakan barusan.
Angin kencang tiba tiba-tiba kembali muncul menyapu rata debu-debu wilayah sekitar, dari atas langit sekali lagi muncul monster kumbang raksasa dengan moncong-moncong penuh duri.
“Datang lagi? Sepertinya aku akan segerah mati!” wajah penuh keputusasaan tampak begitu jelas.
Cerita kemudian membawah kita kembali ke wilayah selatan hutan kematian, terlihat beberapa peserta berjumlah kurang lebih 20 orang berhasil mengalahkan monster cacing raksasa.
“Cacing ini sangat kuat sekali, aku tidak pernah mengira dia bisa membuat aku sampai seperti ini,” ucap salah satu peserta yang ternyata merupakan salah satu dari 15 peserta bangsawan.
Nama. : Yuka
Anugrah : Bakat Petir status 4
Status. : Peserta/Bangsawan
“Anda memang hebat, tanpa bantuan Anda kami pasti kalah melawan monster cacing ini.” Ujar salah satu peserta rakyat jelata memuji bangsawan tersebut.
“Terima kasih Anda telah datang membantu kami!” lanjut peserta yang lain.
“Kekuatan dari seorang Bangsawan memang hebat sekali!”
__ADS_1
“Aku tidak ada niatan untuk membantu kalian, jadi jangan memujiku dasar rakyat jelata!” kesal pangeran Yuka.
Tubuh monster cacing tampak begitu mengenaskan dengan beberapa luka panah di sekujur tubuhnya. “Kalian semua menyingkir, ada sesuatu di belakang kalian! Bakat petir status 4 busur panah listrik kematian, Strom Shot!”
Panah petir berkecepatan tinggi sukses mengenai Monster bunglon tak terlihat yang berada di belakang para peserta.
“Jangan bersembunyi di depan mataku, monster menjijikkan!” ucap pangeran Yuka dengan nada sombong akan kekuatannya.
Semua peserta tentu sangat amat terkejut mendapati hal tersebut, merek tidak percaya jika di belakang mereka ternyata ada iblis bunglon yang sejak tadi mengintai di belakang mereka.
“Kalian terlalu lemah, setidaknya gunakan insting dan pikiranmu bodoh, jika kalian lengah sedikit saja kalian bisa mati!” ujar pangeran Yuka.
“Baik, terima kasi telah mengingatkan kami pangeran! Suatu penghormatan bagi kami bisa berbincang langsung dengan keluarga bangsawan!”
Di tengah pengobrolan itu tiba-tiba muncul dinding gerbang tanah raksasa yang muncul secara tiba-tiba, “Bakat penciptaan tanah Status 4, Benteng Hamerhead!”
Sontak hal itu membuat yang lain pada terkejut, Bagaimana tidak, benteng tanah itu sangat amat besar dan muncul secara tiba-tiba.
“Maaf membuat kalian terkejut, aku sedang mencari iblis yang lari di sekitar sini, apa kalian melihatnya? Jika tidak aku pergi dulu mencarinya,” tanya sosok peserta dengan rambut seperti Buah nanas.
“Hei kau Rakyat jelata berambut nanas, jangan pergi dulu setelah engkau mengagetkanku, kau harus membayarnya!” kesal pangeran Yuka kepada pria berambut nanas tersebut.
“Kita lanjutkan lain kali, aku benar-benar tidak mempunyai waktu lagi, jadi mohon maaf ya!” Pria berambut nanas itu pun kemudian akhirnya pergi menghiraukan ucapan pangeran Yuka.
“Strom Shot Kiling!” panah kilat berkecepatan tinggi dengan sangat cepat melesat menggores pipih pria berkepala nanas tersebut.
“Oiiii, apakah kau ingin membunuhku Bangsawan bodoh?” kesal pria berkepala nanas sambil mengusap darah di pipinya.
“Jika ia bagaimana? Mari kita bertarung rakyat jelata."
“Bangsawan memang selalu berbuat seenaknya, kalau begitu lihatlah ini, Bakat tanah Status 4 Thunder Soil Phantom!” badan pria berkepala nanas perlahan demi perlahan di lapisi oleh perisai tanah.
“Seperti yang aku harapkan, cepat serang aku kepala nanas!”
"Bagus, seharusnya begitu kalian harus bertarung satu sama lain biar aku lebih mudah untuk mengalahkan kalian! he-he-he!" gumam iblis dari kejahuan memantau pertikaian mereka berdua.
"Dasar dua orang yang bodoh, aku hanya tinggal menunggu sampai salah satu dari mereka kalah, lalu aku akan muncul dan menghabisi mereka semua!" lanjut gumam iblis.
Para peserta lain yang melihat pertikaian mereka berdua meminta untuk mengentikan pertarungan bodoh seperti ini.
"Tolong hentikan pertarungan sia-sia ini, sesama peserta seharusnya kita bekerja sama satu sama lain bukan bertarung seperti ini!"
"Diam kau rakyat jelata!" ucap pangeran Yuka.
"Yang di katakan pangeran bodoh itu benar, seharusnya kau menjauh dari tempat ini jika tidak ingin terkena efek dari pertarungan kami!" lanjut pria berkepala nanas.
__ADS_1
"Apakah kau sudah siap bangsawan bodoh?"
"Yhhahhaa jangan sombong dulu rakyat jelata!"