THE ONE - SANG MALAPETAKA

THE ONE - SANG MALAPETAKA
IMPIAN YANG SESUNGGUHNYA


__ADS_3

Pukulan keras Blazing Strom yang Enzo lancarkan barusan sukses membuat sang bos iblis terpental sangat jauh, bos iblis menggeliat kesakitan merasakan pukulan Enzo yang sepertinya telah benar-benar membuatnya kesakitan.


“Kepalaku sakit sekali, dasar bocah kurang ajar! Bagaimana dia masih bisa bangkit dan memberikan serangan sekuat ini kepadaku!” emosi sang bos iblis melihat Enzo yang masih saja tetap bangkit meskipun ia telah menghajarnya berkali-kali.


“Aku tidak akan pernah menyerah, aku mengemban mimpi dan kepercayaan semua orang di pundakku! Karena aku kelak akan menjadi kesatria terhebat!” balas Enzo dengan tatapan penuh keyakinan.


Bos iblis lalu bangkit dan bersiap-siap untuk memaulai serangan kembali, akan tetapi Enzo tak membiarkan hal itu terjadi. Dengan cepat Enzo langsung memberikan serangan tinju bertubi-tubinya.


“Apa? Cepat sekali!” kejut sang bos iblis melihat Enzo sudah berada di depannya bersiap siap untuk menyerang.


“Kau terlambat! Matilaaaaah!” Enzo berhasil menyarangkan pukulan bertubi-tubi miliknya mengarah pas ke seluruh badan bos iblis.


“Bocah! Sialaaaaaaaaaaaan!” teriak bos iblis menerima semua pukulan yang Enzo berikan.


“Heaaaaaaaa rasakan ini iblis kurang ajaaaaaaaaaaaar!!!!” lanjut teriak Enzo.


Perlahan demi perlahan tinju Enzo membuat badan bos iblis terdorong ke belakang, sampai akhirnya terhempas menabrak pepohonan dan berbatuan.


“Braaaaaaaaaaaak!” suara hempasan bos iblis menabrak wilayah sekitar.


Kepulan asap tebal dengan cepat tampak begitu jelas memadati tempat bos iblis yang terhempas, bunyi napas ngos-ngosan Enzo untuk yang keseksian kalinya terdengar sangat keras.


Darah bercampur debu dan keringat tampak menetes kembali melewati dagunya, paparan cahaya bulan tengah malam seketika membuat pertarungan kembali sunyi.


Enzo lalu mendekati putri Iska dan membantunya untuk bangkit, tak lupa juga Enzo menanyakan keadaan putri Iska apakah kondisinya baik-baik saja.


“Bagaimana? Apa kau tidak apa-apa?” tanya Enzo dengan rasa khawatir yang tampak begitu jelas.


“A—aku tidak apa-apa Enzo, maaf aku telah merepotkanmu, akibat diriku yang lemah ini kau sampai harus menjadi seperti itu!” jawab putri Iska dengan rasa penuh bersalah karena telah merepotkan Enzo.


“Apa? Kau tidak perlu minta maaf, kau itu kuat! Andai kau tidak membantuku tadi pasti aku sudah mati.” Enzo mencoba meyakinkan putri Iska bahwa tindakan yang dia lakukan sudah benar.


“Ta—tapi aku tidak seperti yang kau kira Enzo, aku hannyalah anak gagal dari keluarga bangsawan Charlotte yang bermimpi ingin menjadi Kesatria Sihir hebat, nyatanya itu semua hannyalah omong kosong belaka, aku terlalu egois, aku mencoba menyenangkan ayah dan saudara-saudaraku agar mereka mau menerimaku!” lanjut putri Iska sembari tampak perlahan air matanya jatuh.

__ADS_1


Enzo yang mendengar hal itu sekali lagi meyakinkan bahwa semua tindakan yang telah di alami putri Iska adalah takdir yang telah terjadi, Enzo dengan tegas sedikit kesal menyuruh Putri Iska menarik kembali kata-katanya.


“jika kau mencoba menjadi kesatria sihir hebat dengan membohongi suatu harapan, yang akan kau dapatkan hannyalah sebuah kenyataan kosong! Mempercayai dan dipercayai itu semua sia-sia!” tegas Enzo mengingatkan putri Iska dengan tatapan penuh ambisi akan impian hebat kesatria sihir.


“Hal yang paling melelahkan dan menyakitkan adalah berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan kita, pada saat kita mencoba menyenangkan orang lain, mungkin semua orang lain senang, namun satu orang yang tidak senang yaitu diri kita sendiri dan itulah pintu dari depresi dan awal kegagalan!” lanjut Enzo kembali.


Putri Iska yang mendengar perkataan Enzo barusan, seketika terdiam termenung, dengan tatapan kosong putri Iska teringat kembali apa yang telah di katakan mendiang ibunya.


“Ibu, lihatlah betapa indahnya bintang-bintang di langit itu!”


“Kau benar, bintang-bintang itu memancarkan cahaya yang sangat amat cantik, apa kau ingin menjadi seperti mereka?”


“Menjadi seperti mereka? Apakah aku bisa ibu?”


Ibu putri Iska lalu perlahan meletakkan telapak tangannya ke dada putri Iska sambil tersenyum dan berkata, “Ya, aku percaya bahwa kau pasti bisa, karena kau adalah anak yang baik!”


Putri Iska akhirnya sadar apa yang di maksud ibunya dahulu, yakni ikatan sebuah persahabatan. Ketika ikatan kepercayaan telah di sandarkan maka akan muncul setitik cahaya yang akan selalu ada seperti halnya indahnya paparan cahaya bintang-bintang.


Selang beberapa waktu kemudian dari dalam kepulan asap tebal itu terdengar suara bos iblis yang tampaknya masih belum kalah dan berhasil bangkit.


Wujud bos iblis 100% berubah dari yang sebelumnya, matanya melotot sampai hampir keluar, gigi tajam serta air liur yang menetes begitu banyak membuat tampilannya sangat amat mengerikan.


“Jadi ini ya wujud aslimu, he-he-he,” ucap Enzo dengan sedikit senyum tipis membayangkan aura kutukan bos iblis yang sangat besar.


“Hehahahahahahahaha, mari kita akhiri ini bocah!” bos iblis merayap dengan sangat cepat dan gesit.


Enzo tak tinggal diam, dia menyuruh putri Iska tetap berada di belakangnya apa pun yang terjadi. Enzo mengambil pedangnya dan mulai menyiapkan kuda-kuda.


Bis iblis melancarkan cakaran tajam pas ke wajah Enzo, Enzo menangkis serangan itu dengan sekuat tenaga, benturan dua serangan itu menimbulkan hempasan angin kencang meluluhlantakkan area sekitar.


Putri Iska terhempas tak kuat menahan hempasan dua serangan itu, melihat Putri Iska yang terhempas tentu perhatian Enzo terbagi dua.


“Putri Iska bertahanlah!” batin Enzo.

__ADS_1


“Jangan mengalihkan perhatianmu jika musuh berada di depanmu bocah! Rasakan ini!” bos iblis berhasil memberikan tusukan di perut Enzo dengan ekor tajamnya.


“Ahhhhh! Sial perutku!” kejut Enzo dengan tatapan melotot melihat serangan bos iblis yang mengarah padanya.


“Enzooo, apa kau tidak apa-apa?” teriak putri Iska menghawatirkan Enzo.


Dengan wajah penuh keringat dan darah, Enzo mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan segerah menyuruh putri Iska untuk menjauh secepatnya.


“Jangan pedulikan aku! Ini waktu yang tepat untuk melarikan diri sebelum arena bos iblis terbentuk kembali! Cepat lari dan turuti perintahku!”


Saat ini arena bos iblis perlahan mulai terbentuk lagi, hal itu di karena kan ketika bos iblis berubah ke transformasi terakhirnya.


Dinding arena yang di buat menghilang sebab energi yang di buntukan untuk membuat dinding arena tidak terlihat, di gunakan bos iblis untuk membantu menyempurnakan teknik transformasinya.


Saat ini dinding itu mulai terbentuk kembali secara perlahan-lahan, oleh sebab itu Enzo memerintahkan putri Iska segerah pergi meninggalkan tempat ini.


Putri Iska di benturkan oleh dua pilihan sulit, kabur agar tidak menjadi beban pertempuran atau tetap di sini bertarung dan mati bersama.


“Tidak! Mulai detik ini, dengan tekad dan keyakinanku aku benar-benar akan menjadi Kesatria sihir terhebat!” teriak putri Iska sambil tampak tubuhnya yang bergetar mencoba melawan rasa takutnya.


“Cih, dasar orang yang keras kepala, tapi lupakan itu! Aku senang melihat keputusanmu barusan!” senyum enzo mengetahui pendapat Putri Iska.


Bos iblis kembali mengayunkan ekor panjangnya dengan sangat cepat sampai membuat Enzo terpental cukup jahu menabrak pepohonan sekitar.


"Hahahahha, rasakan itu bocah!" ucap bos iblis.


hempasan serangan bos iblis barusan membuat Enzo sekali lagi terkapar tak berdaya untuk yang kesekian dan kesekian kalinya.


Namun tiba-tiba tanpa di duga tubuh Enzo di penuhi aura hijau penyembuh, aura itu perlahan memulihkan tubuh Enzo, Enzo tentu sangat terkejut melihat aura hijau penyembuh itu.


Aura hijau itu ternyata berasal dari putri Iska yang berhasil membuka level status kemampuan bakat miliknya, putri iska sudah berhasil melawan rasa takut dan kepercayaan.


"Bakat air status 4 hembusan air penyembuh!" ucap Putri Iska.

__ADS_1


"Akhirnya kau berhasil putri Iska! Kau memang hebat!'


__ADS_2