
Tok...tok..tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, seorang pelayan membawakan makan pagi menunggu di depan kamar Sein, " Tuan... saya membawakan makan pagi untuk anda " kata pelayan tersebut.
Sein yang mendengar ketukan pintu lumayan kencang terbangun dari tidurnya, dia segera pergi ke kamar mandi dan mencuci muka. Sein langsung beranjak menuju pintu kamarnya, setelah dia membuka gagang pintu pelayan tersebut hanya bisa diam membatu.
Menurut rumor kemarin malam yang beredar di antara pegawai penginapan, orang yang menginap di kamar nomor 17 adalah seorang pria dengan memakai topeng sangat seram dan berpenampilan sangat misterius.
Tetapi yang dilihat pelayan tersebut malah sebaliknya, seorang pemuda dengan muka yang tampan dan rambut hitam panjang terurai semakin menambahkan kesan elegan serta sedikit aura Bangsawan.
Sein melambaikan tangannya di depan wajah pelayan tersebut, " Kenapa kau melamun nona..? " tanya Sein
Pelayan tersebut kaget dan langsung tersadar dari lamunannya, " A..apakah aku salah kamar ya..?" gumam pelayan itu
Sein mendengar gumaman pelayan itu, " Hmm..maksud nona..? " tanya Sein dengan memiringkan kepalanya
Sang pelayan menjadi tambah gugup, " Aa..anu Tuan, apakah Tuan orang yang kemarin malam memakai topeng menyeramkan..?" kata pelayan itu ragu
Sein hanya menganggukkan kepala, suasana menjadi hening beberapa saat.
" Apakah itu makan pagi untukku nona..? " tanya Sein memecah keheningan tersebut
" I...iya Tuan, saya taruh dimana..? " jawab pelayan itu terbata - bata
Sein hanya menunjuk ke arah meja kosong di ruangannya, pelayan yang membawa makanan segera menaruhnya disana dan memberi hormat lalu meninggalkan kamar Sein.
Belum sempat pelayan tersebut keluar dari pintu, Sein memanggilnya, " Nona.." panggil Sein
Pelayan tersebut membalikkan badannya, " Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu..? " tanyanya
Sein menarik halus tangan pelayan tersebut dan menyerahkan satu keping emas, tangan pelayan itu langsung gemetar. Sein mengatakan bahwa itu tip untuknya, sang pelayan sempat menolaknya tetapi Sein memaksa dengan halus, akhirnya pelayan tersebut menerima tip dari Sein dan berterima kasih lalu beranjak keluar kamar Sein.
Sein yang melihat makanan masih hangat tersaji di atas meja, langsung duduk dan menikmati makan paginya. Selesai menyantap makan pagi, Sein bersiap dan kembali menggunakan jubah hitamnya.
Tetapi saat dia ingin menggunakan topeng peraknya, Sein berpikir bahwa dia keluar dari Istana adalah untuk berkembang, semakin banyak rintangan maka semakin berkembang pula kemampuannya. Sein memutuskan untuk memakai topeng biasa yang dia beli dari sistem, topeng yang dia gunakan saat akan mengintrogasi Julius.
__ADS_1
Sein keluar dari kamar dan berjalan menuju meja resepsionist, tapi bedanya dia tidak memancarkan aura menyeramkan seperti kemarin malam.
" Nona, apakah saya bisa menitipkan kunci kamar disini..? " tanya Sein penasaran, karena saat dia di bumi, setiap pengunjung hotel bisa menitipkan kunci di respsionist.
Sang resepsionist terkejut karena penampilan Sein berubah, meskipun tidak mengeluarkan aura kematian, tetapi dengan topeng itu dia tetap misterius dan menakutkan.
" Bi...bisa Tuan, nan..nanti saat anda ingin mengambil tinggal sebut nomor kamar anda " kata resepsionit terbata - bata dan keringat dingin keluar di sekitar pelipisnya
Sein menyerahkan kunci kamarnya, dan beranjak mengambil kuda yang dia titipkan pada penjaga penginapan.
" Paman, aku ingin mengambil kuda yang kemarin malam aku titipkan ke paman " kata Sein dengan nada ramah
Biarpun dengan nada ramahnya, sang penjaga masih tetap ketakukan, " Ba..baik Tuan, ikuti saya " kata penjaga tersebut.
Sein mengikuti penjaga itu dan mengambil kudanya, dia lalu bertanya tempat Administrasi Kota dan gedung Petualang, penjaga menunjukkan lokasi ke dua tempat tersebut. Sein memberi tip kepada penjaga dan bergegas menuju tempat Administrasi.
Sepanjang jalan menuju tempat Administrasi di pusat kota, banyak orang yang memandangi Sein.
' Apakah penampilanku terlalu misterius dan menyeramkan ' batin Sein
' Tapi kalau aku tidak seperti ini, bisa saja mata mata dari Kerajaan Libra membunuhku, apalagi kemampuanku masih lemah ' lanjutnya berkata dalam hati.
" Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu " katanya sambil tersenyum
" Saya ingin membuat kartu identitas, karena kemarin kartu saya hilang saat melawan bandit " jawab Sein mengarang cerita.
Sang reseosionist segera mengambil kertas dan pena khusus, lalu menyerahkannya kepada Sein. Sein mengisi semua data yang ada di kertas tersebut, setelah selesai, kertas itu melayang dan terbang menuju kearah resepsionist.
Sang resepsionist membaca sejenak kertas yang telah berubah menjadi kartu, " Tuan Sein, umur 16 Tahun, berasal dari desa Vinci, dan belum memiliki pekerjaan, apakah benar Tuan..? " tanyanya memastikan
Sein hanya menanggapinya dengan anggukan, lalu Sein bertanya, " Apakah jika saya menjadi petualang harus kembali kesini untuk mengganti status pekerjaan..? tanya Sein
" Tidak perlu Tuan Sein, anda tinggal menyerahkan kartu ini kepada resepsionist gedung petualang. Maka status anda akan berganti dengan sendirinya " jelas resepsionist panjang lebar
" Baiklah, berapa biayanya..? " tanya Sein
__ADS_1
" Untuk pembuatan identitas tidak di pungut biaya Tuan " jawab resepsionist
Sein hanya mengangguk dan mengambil kartunya, setelah itu dia menaruh satu keping emas di atas meja dan berkata bahwa itu bonus darinya. Resepsionist itu hanya tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih.
Sein segera menaiki kudanya menuju gedung Petualang, yang hanya berjarak 200 meter dari gedung Administrasi. Sesampainya disana dia melihat suasana gedung yang sangat ramai, dan banyak tatapan yang mengarah kepadanya.
Sein tidak memperdulikan itu, dia berjalan menuju meja resepsionist dan mengatakan bahwa ingin menjadi petualang, resepsionist itu memperkenalkan diri dan dia bernama Elena.
" Boleh saya lihat kartu identitas anda Tuan..? " tanya Elena ramah
Sein mengeluarkan kartu yang baru dibuatnya dari dalam jubah, setelah menyerahkan Elena merubah status pekerjaan Sein.
" Job apa yang akan anda ambil Tuan Sein..? "
tanya Elena sopan
Sein berpikir sejenak, " Nona Elena, tolong panggil saya Sein saja dan tidak perlu memakai Tuan. Saya ingin mengambil fighter " tungkas Sein
Elena mengangguk dan menyerahkan kartu identitas Sein, " Baiklah Sein, begitu pula dengan kau. Tidak perlu memakai nona, dan jangan terlalu formal hihihi " kata gadis itu sambil tertawa ringan
Sein hanya tersenyum dibalik topengnya, dia akhirnya bertanya pada Elena dimana tempat mengambil misi. Setelah diberitahu tempatnya, Sein mengambil misi untuk mencari inti hewan mystyc rusa tanduk api yang hanya ada di hutan mimpi buruk.
Elena melihat misi yang diambil Sein segera mengerutkan keningnya, " Apa kau yakin dengan misi ini Sein..?, tempat tersebut berbatasan dengan wilayah goblin dan elf " tanya elena memastikan
Sein menganggukan kepala, " Tidak masalah Elena, aku akan berhati hati. Dan bagai mana caranya menaikkan tingkatku dalam kartu ini..?" jawab Sein sekaligus menanyakan cara agar dia naik tingkat.
Elena segera menaruh cap pada misi Sein, dan dia berkata bahwa cara untuk menaikkan tingkat adalah dengan membunuh monster dan membawa 5 inti hewan mystyc yang berada di atas tingkatnya sekarang.
Dengan kata lain Sein harus membunuh monster/hewan Mystyc di tingkat elite sebanyak 5 hewan untuk menaikan tingkatnya, dari Bronze II ke Silver II. Karena 2,5 Inti hewan Mystyc tingkat Elite dapat membuat petualang tingkat Bronze II menuju Bronze I.
Setelah mendengar hal tersebut, Sein lekas berangkat menuju hutan mimpi buruk. Selama di perjalanan dia bertarung dengan beberapa bandit, tetapi semua dapat diatasi dengan mudah.
Sesampainya di bagian luar hutan mimpi buruk, suasana mencekam mulai terasa. Kuda yang Sein naiki seakan menolak untuk masuk, akhirnya dia mengikat kuda tersebut di salah satu pohon.
Sein memasuki bagian terluar hutan mimpi buruk, dia mencari goa dan sumber air untuk tempat beristirahat karena hari sudah mulai gelap.
__ADS_1
Saat Sein melihat goa dan bersebelahan dengan air terjun, dia mendengar suara raungan dari segala penjuru.
" Grrrr..hoarrrrmmmmmmmm " suara raungan itu menggema keseluruh arah