Three Cold Girls

Three Cold Girls
Keliling Desa


__ADS_3

" Mah lagi masak apa?." tanya Lisa yang baru bangun.


" Lagi masak Ikan bakar." jawab mamanya.


" Ohh."


" Mana temen kamu yang lain?." tanya neneknya.


" Ada masih tidur, bentar lagi bangun mereka." jawab Lisa.


Baru beberapa detik Lisa membicarakan mereka, kedua sahabatnya itu langsung muncul.


" pagiii tante, pagi nenek." sapa Elena dengan gaya biacaranya yang heboh.


" Pagi." jawab mama Lisa dan nenek tersenyum.


" Nyapa orang ya nyapa aja, gak usah teriak - teriak masih pagi." ketus Lisa.


" Ya gak papa kali, pagi - pagi itu kita harus ceria semangat, gak kayak lho pagi - pagi gini


udah marah marah kek mak lampir." ketus Elena.


" Enak aja!, dasar kaset rusak ." ketus Lisa.


" Sudah tidak usah bertengkar, mending bantuin tante masak." ucap mama Lisa menengahi.


" Oke, siapp tante!." jawab Elena sengaja di dekat telinga Lisa dengan suara lantang.


" Hahaha." tawa Bianca.


" Sialan!." gerutu Lisa memegang telinganya lalu menoleh ke arah Bianca dengan tatapan tajam.


" Nenek, Bianca bantuin masak juga ya." ucap Bianca untuk menghindari Lisa.


" Para cowok - cowok kemana?,kok sepi banget." tanya Bianca.


" Palingan ikut kakek sama papa gue nyirem tanaman di belakang." jawab Lisa.


" Oh." jawab Bianca.


***


" Hijau dan subur ya tanaman di sini." ucap Angga.


" Iya itu juga tergantung bagaimana kita merawatnya." jawab kakek Lisa.


" Iya benar itu pa." sahut papa Lisa.


" Atau kalian mau belajar bercocok tanam kakek bisa mengajari kalian." tawar kakek.


" Boleh juga kek, seru kayaknya." sahut Briyen.


" Iya biar kalian tahu bagaimana bertani, anak muda seperti kalian itu harus produktif, jangan terlalu sibuk masalah asmara apalagi pacaran." ucap papa Lisa.


" Iya om, kalo Angga mau ngejar ilmu dulu hehe." jawab Angga.


" Sstt sok jadi anak baik, padahal Playboy lho ngga." bisik Briyen.


" Diem, gak usah ngerecokin gue." bisik Angga.


" Kalo kamu gimana?." tanya papa Lisa kepada Briyen.


" Mmm sama om mau ngejar ilmu hehe." jawab Briyen.


" Kalian cita - citanya apa?." tanya papa Lisa lagi.


" Arsitek om." jawab Angga dan Briyen.


" Bagus itu, makanya dari sekarang kalian harus belajar dengan baik, jika kalian tidak menyepelekan belajar kasihan orang tua kalian yang sudah susah payah untuk menyekolahkan." sahut kakek Lisa Briyen dan Angga menjawab dengan anggukkan


" Papa, kakek ayo sarapan dulu, makananan sudah disiapin di meja makan." ucap Lisa yang datang menghampiri.


" Iya." jawab kakek Lisa.


" Ya sudah ayo." ajak Lisa.


" Kakek sama papa lho doang yang di panggil kita enggak?." celetuk Briyen.


" Kalian nggak usah ikut makan." ketus Lisa.


" Kejam banget." sahut Briyen.


" Iya kalian juga ikutan, atau lho gak mau makan ya udah ikut makan rumput sama kebo sana." ketus Lisa kepada Briyen.


" Ya mau, eh maksudnya mau makan nasi, masa makan rumput." jawab Briyen.


" Hahahah udah nurut aja, gak usah banyak komen nggak bakalan menang lho." bisik Angga.


" Bisikin apa?."tanya Lisa.


" Nggak ada." jawab Angga.


" Ya udah ayok." jawab Lisa.


 


Lisa, Angga dan Briyen segera pergi menuju meja makan, di sana telah di siapkan dengan rapi berbagai jenis hidangan tersedia di atas meja.


 

__ADS_1


" Widih enak nih." ucap Briyen dan Elena yang langsung ingin menyantap makanan.


" Eit tunggu dulu, cuci tangan doa baru makan." ketus Lisa memukul tangan mereka pelan, Nenek kakek serta orang tua Lisa hanya tersenyum melihatnya.


" Iya." jawab Briyen dan Elena.


" Ya ampun ini cewek galak banget, manusia apa singa." batin Briyen.


" Dasar singa." batin Elena.


 


Semua menikmati makanan masing - masing, selesai makan seperti biasa Lisa dan kedua sahabatnya membantu membereskan semua.


" Jalan - jalan keliling desa yok, bosen gue cuma duduk - duduk doang ." usul Bianca.


" Males ah, mager gue." sahut Elena.


" Elho emang mageran terus. Yok Lis tinggalin aja ni anak curut." ucap Bianca.


" Jangan, gue ikut hehe." jawab Elena.


" Katanya mager, ya udah diem di rumah aja." ucap Bianca.


" Iya, tapi gak mau gue sendirian." jawab Elena.


" Ya udah ikut aja." sahut Lisa.


" Iya iya." jawab Elena.


" Oke let's go." tutur Bianca.


 


Lisa, Elena, dan Bianca pergi berkeliling desa, mereka merasakan ketenangan di sana dimana jauh dari hiruk pikuk kota, dan kemacetan udaranya punasoh segar, dengan pemandangan hijau persawahan dan perkebunan penduduk yang menyejukkan mata.


 


" Huff huhh, seger udaranya betah gue disini." gumam Elena.


" Iya coba aja rumah kita di sini pasti seru." sahut Bianca.


" Sering - sering aja lho ajakin kita ke sini Lis hehe." ucap Elena.


" Enggak ah males ngajakin lho pada,


apa lagi lho Elena bisa habis semua taneman buah - buahan di sini.". ucap Lisa.


" Huh apa'an sih, gak separah itu gue." jawab Elena.


" Hahahaha, lho sih El semua yang keliatan di depan mata dimakan semua." sahut Bianca.


" Iya bully aja trosss, bully. Mendinginkan gue dari pada kalian yang galak mirip singa, kalo marah jelmaan setan, liat orang julit biji mata kek mau keluar, omongannya melebihi samurai tajem banget. Kalo gue kan enggak, gue itu orangnya lemah lembut sopan kalem, pendiem." ucap Elena panjang lebar karena tak terima di ganggu kedua sahabatnya itu.


" Wkwk bodo amat penting gue bahagia." jawab Bianca.


" Hahah seriusan lho pendiem lemah lembut, orang kalo di kelas paling pecicilan, lari sana sini kayak monyet." sahut Lisa.


" Mendingan monyet, dari pada kalian jelmaan setannn." ketus Elena.


" Oh ya, masaa sihh aku terhuraa sayangg." Ejek Lisa.


" OMG, benarkah itu aku terkejut, hahhh


 Astagfirullah." ejek Bianca dengan gaya bicara meremehkan.


" Dasar Bianca Putri hati batu, judes, julit, mulut cabe rawit mateng, jelmaan singa , Lisa Lauretza si nyinyir, julit, judes, jutek, nyebelin, jahil, kejam." ketus Elena kesal.


" Ya ampyunn, bongkar aib ini bocah jangan di sebutin semua dong hehehe, yang baiknya sebutin juga." ucap Lisa protes.


" Iya, kayak Bianca cantik, baik, manis, hehe." sahut Bianca.


" Ogah, kalian itu banyak yang jeleknya dari pada yang baik." ketus Elena.


" Setan lho!." ketus Lisa dan Bianca.


" Anyenyenyenyek." jawab Elena dengan memoyongkkan bibirnya.


" Idih anak TK." celetuk Lisa.


" Oh." jawab Elena.


" Ya." sahut Lisa.


" Masa." sahut Elena.


" Bodoh." sahut Bianca.


" Lho wkwk." sahut Lisa.


" Sialan." ketus Bianca.


Yah seperti itulah keseharian 3 sahabat ini, tiada hari tanpa bertengkar namun tak lama kemudian berbaikkan kembali. Meski begitu mereka tetap solid tidak meninggalkan ketika susah. Selalu mensupport satu sama lain ketika terpuruk.


" Guys pegel mulut gue ngoceh naikkan yok hihi." ucap Elena.


" Hahaha iya." sahut Bianca dan Lisa.


" Hmm bdw kenapa lho setuju dan ngajak Briyen sama Angga Lis?."tanya Elena.

__ADS_1


" Yah iseng aja, sekalian buat pesuruh hehe." jawab Lisa.


" Oh gitu, emang cocok tepat dan pas julukkan kejam yang Elena sebutin tadi haha." celetuk Bianca.


" Udah diem gak usah cari masalah, sebelum gue jahit mulut lho." ketus Lisa.


" Widih keren ya dari jurusan tata Busana Akil jahit baju, bisa jahit mulut juga hahaha." sahut Elena.


" Kurang ajar, apa mau coba sini gue jahit mulut lho." ketus Lisa.


" ja jangan dong, gak bisa makan gue." ucap Elena.


" Makan mulu." sahut Bianca.


" Iya dong ngga,." belum selesai kalimatnya sudah di potong oelh kedua sahabatnya.


" Nggak makan mati." ucap Lisa dan Bianca berbarengan.


" Itukan yang lho mau bilang." Nah itu tau.


" Nah itu tau." jawab Elena.


Sepanjang perjalanan tak habis pembicaraan mereka, dan sesekali para penduduk lewat berlalu lalang dan menyapa mereka dengan ramah. Saat sampai di perkebunan jeruk Lisa, Elena, dan Bianca bertemu dengan, Angga dan Briyen.


" Di sini ternyata nyangkutnya." celetuk Elena.


" Iya kenapa masalah." ketus Briyen.


" Masalah karena lho itu hama, pak hari hati sama dia, nanti jeruk - jeruk di sini rusak semua, dia itu jelmaan ulet." ucap Elena.


" Bukanya elho yang hama, jangankan jeruk mateng, jeruk mentah sama kulit - kulitnya lho makan juga, bisa habis kebun jeruk petani di sini." Celetuk Angga.


" Diem lho anggrek hutan." ketus Elena kepada Angga.


" Harum dong anggrek hutan." sahut Briyen.


" Iya harum, dari pada lho bunga bangkai." ketus Elena lagi.


" hahahaha." tawa Bianca, Lisa, dan Angga.


" Eh ada apa atuh ribut ribut di sini." sapa salah seorang bibi pekerja di kebun jeruk itu.


" Hehe nggak ada kok bi, cuma bercanda doang." ucap Lisa.


" Oh begitu neng, mau keliling kebon jeruk ya, mari saya antar." tawar bibi itu lembut dengan gaya bicara khas sunda dan di jawab mereka dengan anggukan.


" Wah bagus - bagus buah jeruk di sini." ucap Angga.


" Iya den, kebetulan hasil panen tahun ini lumayan." jawab bibi tersebut.


" Kira - kira berapa banyak hasil panennya bi?." tanya Briyen.


" Kalo lagi bagus gini bisa puluhan ton, tapi jika lagi banyak hama, yah palingan hanya beberapa karung den." jawab bibi itu.


" Banyak tanya, emang lho mau ngebon jeruk?." ucap Elena.


" Iya, buat mahar." jawab Briyen.


" Haha mahar, sekolah aja belum lurus udah mikir mahar." ucap Elena lagi.


" Ya, terserah gue dong, atau jangan - jangan lho ngarep jadi pengatin gue." ucap Briyen menggoda Elena.


" Idih najis amit - amit gue nikah sama lho." ketus Elena.


 


Mereka berkeliling kebun jeruk dengan di pandu oleh bibi pekerja di sana, ada - ada saja obrolan mereka yang tak ada habisnya kadang bertengkar dan kadang kompak. Mereka menyusuri setiap kebun jeruk tersebut, melihat sawah perkebunan sawi, hingga lelah menghampiri dan memutuskan untuk pulang.


 


" Huff capek." eluh Angga sembari mengibas - ngibaskan topinya.


" Ini es teh manis, di minum." ucap nenek Lisa yang datang sembari membawa beberapa gelas es teh manis.


" Makasih nek." ucap Lisa.


" Dari keliling desa ya?." tanya Nenek Lisa.


" Iya nek, seru disini betah Elena lama - lama di sini." sahut Elena di jawab dengan senyuman oleh nenek.


" Iya di sini udaranya segar dan asri, tidak seperti di kota yang banyak debu dan kebisingan." Sahut Angga.


" Iya, seperti inilah suasana desa, makanya nenek nggak mau pindah ke kota lebih suka di desa." jawab nenek.


" Iya nek, dan penduduk di sini ramah - ramah." tambah Bianca.


" Hmm mama papa sama kakek kemana nek? tanya Lisa.


" Mama sama papa kamu pulang duluan, kakek kamu ikut mengantar mereka." jawab neneknya.


" Ohh, tapi kenapa nggak pamit sama Lisa dulu?." jawab Lisa.


" Kata papa kamu ada urusan penting, tadinya mau pamit tapi kamu sama temanmu lagi berkeliling desa." jawab neneknya.


" Ohh ya udah nek gak papa." jawab Lisa.


SKIP


Detik Waktu tanpa lelah berjalan hingga waktu sore tiba, dan tak lama kakek Lisa pulang. Karena besok mereka mulai masuk sekolah seperti biasa, Lisa, Bianca, Elena, Briyen, serta Angga berpamit pulang.

__ADS_1


__ADS_2