
" Assalamualaikum." panggil seseorang dari luar.
" Waalaikumsalam."jawab Lisa membuka pintu.
" Oh lho, masuk." ucap Lisa jutek.
" Siapa Lis?." tanya papanya.
" David." jawab Lisa.
" Jutek banget Lis." ucap David.
" Bodo."jawab Lisa berlalu pergi.
" Hallo om tante." sapa David.
" Eh nak David." ucap Mama Lisa.
" Sendirian ke sini?." tanya papa Lisa.
" Nggak om, David ke sini sama mama." jawab David.
" Oh, mana mama kamu." tanya mama Lisa.
" Ada di depan lagi parkir mobil ." jawab David dan tak lama mamanya datang.
" Hallo Lin." sapa mama David .
" Hai jeng, silahkan duduk." ucap mama Lisa.
" Dia kesini sama mamanya, mau ngapain?." batin Lisa.
" Lisa buatin minum buat tante Sarah sama David." perintah mama Lisa.
" Iya ma." jawab Lisa.
" Tumben kamu main ke sini sama anakmu, mana Raffi nggak ikut kesini?." tanya papa Lisa.
" Suamiku nggak ikut, dia lagi ngurus kerjaan keluar kota, tadi kebetulan lewat sini sekalian main Ndra." jawab mama David.
***
" Dari pada gue di bawah, jadi bad mood, mending main gitar di sini." gumam Lisa di balkon.
*Jrengg....
Menghapus tinta yang pernah kau lukis
Di kavas hatiku....
Merobek semua bayangan yang tampak
Di relung sukmaku...
huu.... huu...
Egotlah menghasut ku..
Untuk kembali padamu...
Namun logika berkata baiknya ku menjauh...
jauh.... jauh... jauh... jauh..
ku tlah menghasut mu...
kembali padamu..
lara tlah membawaku..
untuk pergi menjauh.. *
Lantunan lagu Dialog Senja yang Ldinyanyikan Lisa dengan gitarnya tersebut, di pintu dekat balkon terlihat David yang berpangku tangan sembari memperhatikan Lisa.
" Merdu suaranya." ucap David menghentikan aktivitas Lisa.
" Lho, ngapain ngikut kesini." ketus Lisa.
" Ya nggak papa, cuma mau Liat lho aja." jawab David tersenyum.
" Ohh." jawab Lisa singkat.
" Mana tugasnya, katanya tadi mau ngejain tugas?." tanya David.
" Udah selesai." jawab Lisa santai sembari mengotak-atik gitarnya.
__ADS_1
" Cepet banget hehe." jawab David, Lisa diam hanya mengisyaratkan dengan Lirikkan mata.
" Di cuekkin gulu gue." batin David.
" Pinjem dong, gue mau main juga." ucap David meminjam gitar Lisa.
" Bisa?." tanya Lisa.
" Bisa dong." jawab David percaya diri.
" Iya apa, perasaan gue dari dulu lho nggak bisa main gitar." ucap Lisa.
" Ya itu dulu, tapi sekarang bisa ya walaupun sedikit." jawab David.
" Ternyata walaupun cuek, masih inget sama kenangan dulu." batin David dan terlihat senyuman tipis di bibirnya.
" Kenapa senyum - senyum?, ayo main katanya bisa." ucap Lisa.
" Iya." jawabnya mulai bermain.
" Ayo lho nyanyi gue main gitar." ajak David.
" Gue nggak tau mau nyanyi apa." jawab Lisa.
" Nyanyi apa aja, lagu yang lho hafal." jawab David.
Mereka berdua mulai bernyanyi bersama, menyanyikan beberapa lagu milik Fiersa Besari.
" Udah bisa ternyata." ucap Lisa.
" Hmm, sepertinya percuma, buat apa gue judes sama dia, ya David baik, selalu bisa menghibur gue, walaupun pernah ngecewain, gue harus bersikap dewasa dan biasa aja sama dia, toh kalo gue judes dia kira gue nggak bisa move on dari dia, dan dia juga nggak bakalan menjauh, lebih baik gue bersikap seperti biasanya jangan karena masalah cinta jadi putus tali silahturahmi, dia juga pasti ngerti, dan mungkin lebih baik jika kita bisa jadi sahabat." Batin Lisa.
" Kenapa?." tanya David.
" Nggak papa." jawab Lisa.
" Mau gue ajarin main gitar biar tambah lincah nggak?." tawar Lisa tersenyum.
" Mau." jawab David.
" Sekian lamanya gue bisa liat senyum manis Lho lagi Lisa." Batin David.
" Gitu dong senyum, masa senyum aja pelit dari tadi, senyum lho itu indah kok manis nggak pahit." goda David.
" Hmm mulai, jiwa playboynya keluar, udah nggak usah macem - macem." ketus Lisa.
//Rumah Elena//
" Mama minta uang dong hehe, buat beli sepatu,sepatu Elena udah mau rusak." ucap Elena kepada mamanya.
" Rusak?, perasaan baru sebulan mama beli sepatu baru buat kamu, kok udah rusak, kamu apain?, kamu gigit ya?." protes mamanya.
" Enggak ma, masa Elena gigit sepatu, kalo kue ya enak hehe, merek sepatunya aja kali yang nggak bagus." jawab Elena
" Kamu ini pinter banget cari alesan." jawab Mamanya.
" Besok aja tapi sama mama belajnjanya, mama capek hari ini." ucap mamanya.
" Ya mama istirahat dulu, nanti kalo udah nggak capek kita pergi ya hehe." pujuk Elena.
" Assalamualaikum." panggil seseorang dari luar.
" Sana bukain pintu ada orang tu." perintah mamanya.
" Waalaikumsalam." jawabnya.
" Lah elho, mau ngapain?." tanya Elena.
" Iya gue mau ngan.... ." belum selesai Alex Bicara sudah di potong Elena.
" Masuk dulu." ucap Elena jutek.
" Belum selesai ngomong gue." batin Alex.
" Eh nak Alex, ada apa?, silahkan duduk dulu." ucap mama Elena ramah.
" Iya tante." jawab Alex.
" El buatin minum buat Alex." perintah mam
Elena.
" Iya." jawabnya.
" Alex kesini cuma mau nganter undangan pernikahan, kakak Alex tan." ucap Alex.
__ADS_1
" Ohh, kakak kamu udah mau nikah, sama siapa?." tanya mama Elena.
" Ini diminum dulu." ucap Elena yang baru datang.
" Iya." jawab Alex menyeruput teh.
" Emm tante, Alex pamit pulang ya cuma mau nganter undangan doang?."pamit Alex.
" Cepat sekali pulangnya, hmm kamu bisa anterin Elena belanja, soalnya tante masih banyak kerjaan." pinta mama Elena.
" Iya bisa tante." jawab Alex.
" Hah!, apaan sih mama." batin Elena.
" Iya El, kamu pergi belanja sama Alex aja." ucap mamanya.
" Tapi ma.. ." tolak Elena.
" Udah nggak apa - apa nak Alex nggak keberatan kok, dari pada kamu nunggu mama." ucap mamanya.
" Hadeh mama ini ada - ada aja." batik Elena.
" Ya." jawab Elena.
" Bentar, gue siap - siap dulu." ucap Elena kepada Alex.
***
//Supermarket//
" Alex, yok ikut kesana, tugas lho pegangin belanjaan gue." perintah Elena.
" Iyaa." jawab Alex menuruti Elena.
" Haha ****** lho sekalian aja gue kerjain." batin Elena.
Elena membeli sepatu dan kebutuhan lain sampai jajanan, ia sengaja belanja banyak dan menyuruh Alex membawakan semua, hingga Alex sampai kewalahan membawakan belanjaan Elena yang begitu banyak.
" Astafirullah sabar..., kayaknya Elena sengaja ngerjain gue, banyak banget belanjaannya untung gue cinta hadehh, udah kayak tali jemuran aja gue." gumam Alex.
//Rumah Leo//
" Ayu masuk nak." ucap mama Leo.
" Iya tante." jawab Bianca.
" Duh gue di suruh ngapain sih, di bawa ke rumahnya." batin Bianca menggerutu.
" Bianca nanti bantuin tante masaknya." ucap mama Leo.
" Iya." jawab Bianca tersenyum.
" Masak?, emang nggak ada pembantu suruh gue masak, atau ini ujian untuk ngetes gue buat jadi menantunya, aja gue ada ide liat aja nanti." ucap Bianca.
" Tante ke dapur dulu ya ambilin minum." ucap mama Leo di jawab dengan anggukan.
" Gede juga rumahnya." gumam Bianca melihat lihat isi rumah.
"Aduhh, siapa sih berdiri depan gue." ketus Bianca menabrak seseorang dan ternyata itu Leo.
" Heh ngapain lho di rumah gue, pulang sana." usir Leo.
" Gue di sini karena mama lho yang ngajak gue, kalo nggak ogah gue kesini apa lagi ketemu lho najiss!." ketus Bianca.
" Ngapain mama gue bawa rongsokan ke sini." ketus Leo.
" Apa, rongsokkan!, lho itu yang sampah masyarakat!." ketus Bianca.
" Bianca ini minum dulu, eh Leo sini duduk sama kita." ucap mama Leo.
" Nggak ma, Leo mau ke kamar." jawabnya berlalu pergi.
" Issh, sok cuek ini cowok." batin Bianca.
" Bianca ini minum dulu." tegur mama Leo.
" Iya tante makasih." jawab Elena.
" Liat aja yang gue lakuin nanti bakalan kapok lho, dan maaf tante juga nanti jadi korban." batin Bianca, tersenyum licik.
#see you later in the next episode😘#
__ADS_1
Jangan Lupa like, rait vote, comen kritik saran untuk mendukung karya ini, makasihh....🥰