
" Nggak usah terlalu di ambil hati ya sikap Leo, dia memang begitu nak." ucap mama Leo kepada Bianca.
" Iya nggak apa kok tante." jawab Bianca manis.
" Oh iya nanti ikut Tante belanja ya kita masak hari ini." ajak mama Leo.
" Oh iya boleh Tan." jawab Bianca.
" Huhh, pakek ngajakin masak, gue paling nggak suka masak." batin Bianca.
" Oh iya, kamu di sekolah ngambil jurusan apa?." tanya mama Leo.
" Ngambil jurusan Tata Busana tan." jawabnya.
" Ohh, nanti mau ngelanjut kuliah dimana?." tanya mama Leo lagi.
" Kalo maunya Bianca sih di Yogyakarta tante, tapi tergantung sama mama dan papa, kalo mereka nggak bolehin Bianca kuliah terlalu jauh, ya palingan di sekitar Jakarta sini saja." jawabnya lagi.
" Ohh begitu." jawab ma Leo.
" Leo mau kemana?." tanya mamanya melihat Leo keluar dari kamar.
" Berenang di belakang." Jawabnya.
" Ayo kita pergi ke mall beli sayuran." ajak mama Leo.
" Iya tante." jawab Bianca.
Bianca dan mama Leo pergi berbelanja bahan dapur di sebuah mall, sepanjang kegiatan Bianca tidak merasa senang sedikitpun. Ya tentu saja, bagaimana tidak, ia harus berpura - pura manis terhadap keluarga Leo yang sangat menyebalkan sekali baginya,
dan harus menuruti permintaan mama papanya yang menjodohkan dia dengan Leo, Ia hanya berharap perjodohan ini batal.
" Ini udah dapet semua tante." ucap Bianca.
" Iya, tante juga sudah membeli semua bumbu masakan, yuk ke kasir setelah ini kita langsung pulang." jawab mama Leo.
***
" Tante senang bisa menghabiskan waktu sama kamu." ucap Mama Leo.
" Kalo hari libur sering - sering main kerumah ya." ucapnya lagi.
" Hmm iya tante." jawab Bianca dengan senyuman palsu.
" Huh ogah gue main kerumahnya terus, ya mamanya baik, tapi anaknya kayak setan liat mukanya nyebelin banget." Batin Bianca.
" Ada apa bi?." tanya mama Leo.
" Nggak papa tan hehe." jawab Bianca.
//Rumah Leo//
" Leo..... Leo... ." Panggil mamanya.
" Iya." jawab Leo menghampiri.
" Tolong bawaain belanjaan ya, bawa ke dapur." perintah mamanya tanpa jawaban Leo langsung membawanya.
" Eh Bianca sini." panggil Leo manis karena ada mamanya.
" Iya apa." jawab Bianca jutek.
" Emm mama duluan aja Leo mau bicara sama Bianca." ucap Leo.
" Oh iya, bawa belanjaannya ya ." jawab mama Leo.
" Heh lho kasih guna - guna apa mama gue, sampe' dia mau ngajak lho ke sini."ketus Leo.
" Maksud lho apa?!, lho nuduh gue guna - guna mama lho!." ketus Bianca.
" Iya lah kalo nggak mana mungkin dia mau ngajak cewek resek kayak lho." ucap Leo meremehkan.
" Jangan sembarang kalo ngomong, gue juga nggak mau, mama lho yang ngajak gue sampe' jemput ke rumah, kalo nggak percaya tanya sendiri! ." ketus Bianca dan berlalu pergi meninggalkannya.
" Kita mau masak apa tante?." tanya Bianca yang baru datang.
" Masak sayur lodeh, ikan goreng ya macem macem, kamu bisa masakkan?." tanya mama Leo.
" Bisa tante." jawab Bianca.
" Kesempatan, selamat menikmati masakan gue nanti Leo." batin Bianca.
" Nih sayurannya." ucap Leo membawakan belanjaan.
Bianca dan mama Leo mulai memasak beberapa menu makanan, namun Bianca meminta ia yang mengerjakan semua, entah apa yang ia pikirkan tentang rencananya itu.
__ADS_1
beberapa jam kemudian masakkan sudah hampir matang
" Hmm tante udah mau mateng semua ini biar Bianca aja yang nyajiin ke depan, pasti tante capekkan hehe, tante tunggu aja di meja makan. rayu Bianca.
" Beneran kamu sendirian mau nyiapin ini semua?." tanya mama Leo.
" Iya tante, gak papa kok biar Bianca aja." jawabnya.
" Baiklah, tante tunggu di meja makan." ucapnya.
" Sana cepet pergi." batin Bianca.
" Oke udah pergi, saatnya beraksi, maaf ya tante Bianca terpaksa melakukan ini." gumamnya.
" Gue tambahin garem banyak - banyak, garem 2 sendok makan. Emm tapi kayaknya kurang deh, nah pakek centong nasi aja, cus masukkin garem 1 centong nasi, duh gue nggak kebayang gimana rasanya hahaha." gumam Bianca pelan.
" Selamat menikmati masakan gue Leo, sayur lodeh di kasih garem, eh nggak kalo banyak haremnya berarti garem sayur lodeh bukan sayur lodeh kasih garem hihihi." gumamnya lagi.
" Oke selanjutnya sambel tomat, hmm tambahin lagi bubuk cabe, mana bubuk cabe mana ya, hmm nah ini dia, kita masukkin 6 sendok makan penuh, dah beres. Ikan gorengnya nggak usah deh kasian mama papa Leo nanti klo masakkannya nggak bisa di makan semua, kalo Leo yang makan sih nggak papa." ucapnya lalu pergi menyajikan makanan di meja makan.
" Gue sajiin dengan cantik, tante... udah siap semua makanannya."ucap Bianca.
" Leo.. ayo kesini makan dulu." panggil mamanya.
" Bawa aja ke kamar, Leo mager mah." jawabnya dari dalam kamar.
" Hmm Bianca tolong anterin ini ya ke kamar Leo." perintahnya.
" Ohh iya tante." jawab Bianca.
" Leoo, aku datang mengantar makananmu dengan penuh cinta hahaha." Batin Bianca.
" Aku cicipi dulu masakkannya kayaknya enak, bisa masak nggak dia." gumam mama Leo.
" wuekk, ya ampun asinn banget, coba sambelnya jangan - jangan nggak enak juga, astafirullah pedas sekali." gumamnya.
" Bianca bii." panggil mama Leo.
" Kamu masukkin garamnya kebanyakan sayang, jadinya asin." ucap mama Leo.
" Hah, masa sih tante?." jawabnya pura - pura tidak tau.
" Iya nak." jawab mama Leo.
" Astafirullah, pantesan saja." jawab mama Leo.
" Tadi kamu masukkin bubuk cabe di sambelnya berapa sendok?, pedes banget Tante cicipin." tanyanya.
" 6 sendok makan penuh tante "jawab tak merasa bersalah.
" Ohhh iya ya, kebanyakan itu." jawab mama Leo lagi.
" Maaf ya tante, Bianca ngerusak makanan yang tante bikin, Bianca nggak tau." ucap Bianca.
" Hmm ya sudah tidak apa, kamu belajar aja terus masak pasti bisa." sahut mama Leo tersenyum.
" Hmm tante Bianca boleh pamit pulang nggak soalnya mama udah WA Bianca suruh pulang tadi." ucapnya.
" Iya nggak boleh, tante anterin ya." tawarnya.
" Nggak usah tan, Bianca naik taksi aja, tadi udah pesen lewat online, sekali lagi maaf ya tante." jawab Bianca.
" Iya nggak apa - apa kok, ya sudah kamu pulang hati - hati." ucap mama Leo.
" Iya tante, assalamualaikum." pamitnya.
" Waalaikumsalam." jawab mama Leo.
Beberapa menit kemudian taksi online yang telah di pesan Bianca datang.
" Hahaha puas gue, semoga aja Leo makan masakkan gue tadi, sakit perut deh dia rasain akibatnya main - main sama seorang Bianca.
Abis ini gue yakin mamanya bakal batalin perjodohan, dia nggak akan mungkin mau punya menantu yang nggak bisa masak." Batinnya.
***
//Rumah Lisa//
"Tut..... Tut... ." suara dering handphone Lisa.
π Iya hallo." Lisa.
π Hallo Lis, ini gue. Main ke restoran yuk tenang gue traktir." Bianca.
π Ke restoran?.
__ADS_1
Tumben - tumbenan emang ada acara apa?." Lisa.
π Ada deh ntar gue ceritain, dateng ya gue tunggu di sana daa." Bianca.
π Oke." Lisa.
π......
" Siapa?." tanya David.
" Bianca." jawabnya.
" Ohh." jawab David.
" Dia ngajak gue ke restoran, lho mau ikut nggak?." tawar Lisa.
" Hmm boleh juga." setuju David.
" Oke yuk berangkat." ucap Lisa.
//Rumah Elena//.
" Tut... Tut....." suara dering telepon.
" Siapa sih yang nelpon, Bianca ternyata." gumamnya mengangkat telpon.
π Hallo Bianca kenapa?." Elena.
π Nggak papa, gue mau ngajakin lho main ke restoran." Bianca.
π Widih tumben mau traktir gue." Elena.
π Mau nggak?." Bianca.
π Pasti mau dong hehe." Elena.
π Oke gue tunggu." Bianca.
//Restoran//
" Hai Bi." sapa Lisa.
" Hai." sahutnya.
" David?, kok bisa sama Lisa?." tanya Bianca.
" Iya gue tadi main ke rumahnya, dan Lisa ngajak gue kesini." jawab David.
" Ohh oke." jawab Bianca.
" Hai guys." sapa Elena.
" Hai El." sahut mereka.
" Lho kesini juga David?." tanya Elena.
" Iya Lisa yang ngajak gue." jawab David.
Bianca memesankan jus dan makanan untuk mereka. Perbincangan di mulai sebari menikmati air mancur dan sekeliling yang sejuk, ya restoran yang mereka datangi. menyajikan suasana yang berbeda dari restoran lain. Bianca menceritakan apa yang ia lakukan terhadap Leo, dan di sabut dengan tawa kedua sahabatnya itu, sementara David hanya mendengarkan saja perbincangan mereka.
" Hahahaha gila, parah - parah. Lho masukin garem pake centong nasi." ucap Elena.
" Haha ia, biar sekalian dia makan sayur lodeh rasa air laut." jawab Bianca.
" Ya ampun bi, apa nggak sakit perut mereka makannya, lho taruh 6 sendok makan penuh bubuk cabe, hahaha." ucap Lisa.
" Hahaha biarin." jawab Bianca.
" Cukup jahil ternyata mereka." batin David.
" Hmm Lisa gue dulua ya , mama Wa dia udah mau pulang dari rumah lho." ucap David pamit.
" Oh iya, hati - hati." ucap Lisa.
" Oke, gue pulang duluan Bianca, El." pamit dan di sabut oleh senyuman.
" Lisa kok lho sama David?, lho balikkan sama dia?." tanya Elena.
" Siapa yang baikkan." jawab Lisa.
" Lah terus?." tanya Elena.
" Gue temenan aja sama dia, lagian kita udah dewasa masa cuma gara - gara masa lalu putus juga pertemanan. Lebih baik gue bersikap seperti biasanya aja." jawab Lisa.
" Gampang banget lho bilang gitu, kalo gue sih susah Lis kayak lho, apalagi kalo deket lagi." sahut Bianca.
__ADS_1