THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
Pembuka + 01 Kenyataan


__ADS_3

Hatiku hancur!!


Saat itu aku melihatmu melakukan hal gila...


Kau merusak segalanya!!.


Kini aku tak punya apapun selain rasa sakit!!


Aku mencintaimu!!


Sangatt!!


Sampai-sampai!!


Kebodohan mengikutiku karna terus mencintaimu!!


Lemah kan?!


Tapi aku masih punya Harapan! Mereka menjadikanku Harapan mereka, karna itu...


Aku tidak menyerah.


Hidup memang diiringi tangisan, tapi tak semua tangisan menyedihkan.


Gerald.


***


Rumah indah dan megah kini hanya tinggal kerangka, hangus terbakar.


Betapa menyeramkannya sebuah perubahan, ketika sesuatu yang di banggakan dan di puja-puja menghilang musnah dalam ingatan, hanya dalam satu malam.


Tawa orang-orang menggema di sana sini, bagaikan tak ada yang terjadi malam itu.


Bungkam.


Apa mereka masih manusia?


Hati?


Sia-sia!


Hal Itu tak ada di dada mereka!


Jadi!


Aku membuat sebuah keputusan!


Aku akan menggambil semuanya kembali!!


Akan ku pastikan orang-orang merasakan kesakitan yang sama, tunggu saja.


Daniel.


***


Manusia adalah mahluk lemah yang saling bertergantungan satu sama lain. Tapi sebagian merasa lebih tinggi di banding lainnya padahal mereka terbuat dari bahan yang sama, yaitu Tanah.


Groseen Eros Vail.


01 - KENYATAAN


Malam, adalah tempat di mana siang lenyap di gantikan kegelapan penuh bintang. Matahari yang bulat bersinar angkuh di atas bumi berpindah kebagian bumi yang lain,  lalu bulan menggantikkannya menguasai langit malam dengan cahaya redupnya, cahaya yang cukup untuk menyinari dirinya saja.


QOINZE, HARNZOV.


Kota sangat ramai dengan orang-orang, baik yang ingin pulang kerumah setelah hampir seharian bekerja, atau sekedar jalan-jalan saja. Gemerlap malam sangat mempesona, gedung tinggi dan tempat makan yang terjejer di pinggir jalan, seakan menambah keinginan orang-orang untuk berlama-lama berdiam di sana.


Wajah bahagia, senang, takjub, dan terpana berada dimana-mana, tapi di sekian banyaknya wajah tanpa masalah hidup itu bertebaran, terselubung juga wajah orang yang kehidupannya menyedihkan. Mereka sama sekali tak menikmati keindahan kota ini. Di kota-kota besar seperti QOINZE ini, terdapat banyak gelandangan yang tak terlihat jelas. Mereka memiliki alasan tersendiri kenapa hidup seperti ini. Mereka tidur tak tentu tempat dan makan saat ada makanan. Sebagian orang yang melewati mereka ada yang merasa simpati, iba, tapi tak melakukan apapun. HANYA MELIHAT.

__ADS_1


Seorang laki-laki remaja berada di tengah-tengah keramain berjalan dengan langkah agak cepat, dia menatap lurus kedepan tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Wajahnya tampan, matanya sayu dan rambutnya sedikit ikal dan di setiap helai rambutnya berpadu warna hitam dan ungu, lalu kulitnya seputih susu. Dia menuju suatu tempat, langkahnya tak terhenti walaupun sesekali bahunya bertubrukan dengan bahu orang lain, dia agak buru-buru. Meski dia menggangu pejalan kaki lain, di lihat dari segi sikap masyarakat QOINZE yang terknal individu dan hanya mengurus diri sendiri saja, wajar saja tidak ada yang memprotesnya, mereka tak terlalu peduli dengan hal sepele. Dan karna kebiasaan itu juga banyak dari mereka yang tak menyadari kehadiran orang-orang menyedihkan di sekitar mereka.


Lelaki remaja itu memakai jaket hitam, sepatu abu-abu, dan kaos berwarna putih. Dia sampai di tempat yang di tujunya, bawah jembatan besar, jembatan yang menghubungkan Kota QOINZE dengan perumahan elit para bangsawan di sebrangnya. Di bawah sana cukup gelap memang tapi penerangan sekitarnya memberikan sedikit cahaya remang-remang.


"Besok aku tak bisa melakukan apapun"


Dia bicara sendirian, tak ada siapapun selain dia di situ. Matanya menatap air yang tenang dengan pantulan cahaya bulan di atasnya, cahaya itu membuat warna air menjadi berbinar kecil, indah.


"Tolong aku, kita bisa bekerja sama kan?" ucapnya lembut pada pemandangan hampa di depannya.


Hanya suara hembusa angin yang menemaninya.


"Kau lakukan tugasmu dan aku lakukan tugasku"


Dari tadi dia hanya bicara sendiri, tapi dia tetap bicara.


***


Hidup memang tidak adil, terkadang keadilan memang ada, tapi sekejap saja berlalu hilang sepeti angin yang hanya berhembus lewat. Setelah membahas gelandangan yang terlantar, kita akan di bawa ke kehidupan di mana hidup ini bagaikan surga, Orang Kaya.


Hotel


Waktu bagi mereka yang berhamburan uang, seakan sangat cepat berlalu. Bagaimana tidak, perut mereka sekejap saja kenyang, sedangkan para gelandangan bersusah payah menghadapi malam dengan rasa lapar, hingga membuat otak mereka lelah dan merasa kalau waktu berjalan sangat lambat.


Kamar yang nyaman, kasur empuk dan selimut yang hangat menjadi impian bagi mereka, tapi itu adalah kenyataan bagi Orang Kaya.


Setiap kamar hotel sudah terisi oleh Orang Kaya, suara tawa angkuh dan canda gurah penuh keangkuhan mengihias susana malam di setiap kamar yang di boking para elit. Dan di kebanyakan orang yang sedang menginap ini, ada salah satu kamar di isi oleh seorang laki-laki muda berpakaian rapi dengan jas biru gelap berselimutkan jubah hitam dan kepalanya bermahkotakan topi bergaya Old 80-an, tapi ada yang aneh dengan wajahnya, ya wajahnya tertutupi oleh sesuatu, Topeng!.


Dia menatap layar laptopnya yang terletak di atas meja, jari tangannya rapi di atas keyboard seakan siap mengetik menulis sesuatu.


"Kekekeke.... Menyenangkan" Ucapnya dengan suara aneh, seperti suara yang di saring agar lebih menyeramkan.


Dia mengakses link Red_Dark, link yang membawa seseorang kedalam ruangan mengerikan, ruangan yang tidak layak bagi manusia Normal melihatnya. Untuk mengakses link itu pun hanya bisa di lakukan oleh orang-orang tertentu saja, seperti hakker atau sejenis ahli tentang komputer mungkin?.


Artinya untuk bisa masuk ke sana harus melewati jalan rumit bagaikan labirin, namun baginya itu mudah karna diatas layarnya tertera tulisan


Sesaat setelah dia memainkan keyboardnya itu, mulai bermunculan banyak video-video mengambang di layar, video penuh hal-hal menjijikan yang berhubungan dengan darah, teriakan, penyiksaan, dan cara untuk memuaskan nafsu yang mengalir deras di pembuluh darah setiap orang pemilik kelainan jiwa, psikopat, semuanya ada di sana.


Selain itu juga, ada video toturial tentang cara membunuh tanpa harus ketahuan atau tertangkap. Entah apa maksud laki-laki yang satu ini, tapi sepertinya dia bukanlah manusia normal.


"Menyenangkan sekali, ke.. Ke.. Ke.. Ke.. "


"Apakah aku harus mencobanya untuk konten baru?"


Ucapnya dengan kekehan nakal.


Yang janggal di dirinya adalah mengenakan topeng.


Kenapa dia memakai topeng? Bukankah topengnya yang di pakainya itu jack the ripper? Siapa yang tau wajah pembunuh legengdaris itu? Tidak ada yang tau! Namun siapapun yang melihat ukiran topeng itu, pasti akan terpikir hal yang sama.


Jack The Ripper! Siapa yang tak mengenal pembunuh sadis dan misterius itu, semua orang tau, dia sangat terkenal. Banyak di bahas di berbagai media masa dunia hingga sekarang, bahkan ada yang percaya dia masih hidup, konyol memang, yah pasti ada penggemar pembunuh itu kan di dunia busuk ini. Jack The Ripper adalah seorang pembunuh pro, ak tidak perlu menjelaskan tentang sejarah pembunuh itu, intinya adalah ciri khas Membunuhnya korbannya kebanyakan wanita, dia mengeluarkan isi tubuh, mencabik, menguliti wajah korbannya, menghilang dalam kegelapan dan dia juga mengaku seorang dokter?.


Dia pembunuh paling di takuti pada masanya, mengerikan.


Anehnya adalah, itu masa lalu tidak ada alat secanggih sekarang yang mumpuni buat mengidentifikasi penjahat, Lah kenapa pihak hotel tak mencegatnya saat di meja check in?


Asumsi yang logis hanyalah, mungkin sebelum masuk hotel dia tidak memakai apapun layaknya pengunjung normal.


***


Beralih ketempat di mana para gelandangan itu berada, mereka


menutupi diri dengan kardus dan koran agar tak merasa kedinginan melewati malam yang panjang. Seorang kakek-kakek terlihat dengan rapinya bersiap untuk tidur di bawah naungan atap stasiun kereta. Dia meletakan secarik kertas berisi tulisan di sampingnya. Lalu memejamkan matanya dengan senyuman tulus, seakan ini ciri kalau dia akan pergi selamanya dari dunia ini.


Tak berselang lama, laki-laki dengan jaket hitam itu berjalan melewati jalan di mana para gelandangan biasanya tidur. Entahlah apa maksudnya, dia menatap jalan dengan mata yang teramat sayu. Sesampainya dia melawati di mana para gelandangan itu berusaha tidur, dia menghentikan langkahnya tepat di depan kakek-kakek yang meninggalkan secarik kertas itu. Seakan sudah tau hal ini terjadi lelaki itu tanpa bersuara menundukan badannya untuk mengambil kertas di samping kakek itu, dan membaca tulisannya.


Tanpa menunjukan ekspresi apapun, dia melanjutkan perjalanannya.


Isi tulisan itu adalah...

__ADS_1


(aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu di sini dengan banyak orang baik, dan sekarang saatnya aku pergi ).


***


Laki-laki yang membawa kertas kakek itu berhenti jauh di depan kantor polisi. Tatapannya seolah benci untuk mendekati kantor itu.


Dia menggenggam kertas berisikan pesan terakhir itu dan berjalan dengan terpaksa mendekati kantor polisi. Dia melihat ada polisi yang keluar dari kantor untuk merokok, timing yang tepat, tanpa basa-basi dia menyerahkan kertas itu pada polisi.


Polisi itu menyerngitkan alisnya bingung, tapi tetap menerima kertas dari laki-laki itu.


"Ohh.. Baiklah, terimakasih anak muda"


Ucap polisi itu setelah membaca isinya, senyuman ala polisi jelas terlihat ada di wajahnya. Sesekali dia membuang asap rokok di mulutnya memperkeruh suasana hati lelaki itu.


"Di mana dia meninggal?" Tanya Polisi.


"Di jalan sebelah selatan" Jawabnya dingin


"Stasisun maksudmu?" Ucap polisi itu memastikan.


"Hem" Sahutnya.


Polisi itu manggut-manggut. Dia kembali menghisap rokok dan membuang asapnya lagi kesamping lelaki itu.


"Anda baik sekali memperhatikan mereka, setiap hari kami harus mengontrol keadaan di sana agar tak ada mayat membusuk, biasanya mereka mati kelaparan, tak terdetiksi seperti penjahat saja"


Cetus polisi itu seraya terkekeh.


Laki-laki itu memasang wajah lebih dingin setelah mendengar ejekan polisi terhadap para gelandangan, secara tidak langsung dia merendahkan kehidupan orang lain. Si polisi sadar akan ucapannya yang kurang baik.


"Ekhem... (Dehamnya) Oh ya! Nama anda siapa?" Ucap Polisi mencoba mencairkan suasana.


"Untuk apa?" Balasnya dingin.


Polisi itu sedikit heran dengan balasan laki-laki itu, tapi dia berusaha bersikap ramah. Dia mencoba tertawa meski agak canggung untuk meresponnya.


"Yahh.. Ini untuk tanda perwakilan saja atas mayat itu" jelas polisi itu lagi.


"Oh, setauku itu tidak di perlukan"


Lagi balasnya dingin.


Polisi itu tetap memasang wajah ramah meski mulai jengkel.


"Yah memang sih, tapi baru-baru ini di butuhkan nama untuk laporan, makanya siapa nama anda?" jelas polisi itu dengan nada jengkel.


"Gerald"


Jawabnya...


Angin malam itu, terasa lebih dingin di banding malam sebelumnya, dan tatapan dingin sayu laki-laki berjaket hitam itu menambah kelamnya malam tepat di depan mata polisi setelah dia mendengar nama anak itu di sebutkan.


GERALD!


****Cerita menyeramkan akan di mulai dengan mereka berdua sebagai tokoh utamanya.**


- Gerald anak yang memperhatikan para gelandangan


- Dengan anak muda memakai topeng serta aksesoris Jack The Ripper??!.


Perbedaan antara dua dunia yang memang sudah terjadi jauh sebelum zaman serba modern ini terjadi, dan mungkin saja zaman ini lebih baik di banding zaman dahulu, zaman di mana kebejatan merajalela, memperlakukan manusia semena-mena karna belum ada HAM.


- Mereka berdua akan saling bertemu dengan tujuan masing-masing. Gerald menjunjung prinsipnya sedangkan lelaki dengan topeng Jack The Ripper??! memuaskan nafsu buasnya**.


Dengan mata dingin sedingin salju, Gerald pergi menjauhi polisi itu dan menghilang dalam kegelapan. Dia juga meninggalkan kesan mengerikan dengan tatapannya pada polisi itu dan segudang tanya di benaknya.


Mungkin tidak ada manusia yang melakukan sesuatu untuk orang asing, dengan tulus.


Gerald.

__ADS_1


__ADS_2