THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
07 - HANTU


__ADS_3

Pukul 18:44


Kantor polisi


Erlo dan Haris terlihat duduk di bangku berhadapan dengan detektif Leonardo, mereka menunduk tak berani menatap mata hijau polisi itu.


"Anda berdua membooking kamar no 133?"


Tanya Leonardo.


Haris juga Erlo mengangguk.


"Lalu saat kalian ke hotel, kamar itu malah di pesan orang lain?"


Lagi mengangguk.


"Bisa anda ceritakan"


Pintanya.


Erlo mengangguk dan mulai bercerita dari awal.


____


Malam, di sebuah kamar dalam rumah besar bercat putih. Sehari sebelum kejadian pembunuhan di kamar hotel no 133.


Erlo memegang ponselnya sambil malas-malasan di atas kasur, dia sedang asyik menatap layarnya, lalu mulai mengetik sesuatu.


Ruang chat


Erloo: Haris besok naik bus yuk.


Hariss: Gak di marahi bapak mu?.


Erloo: Abaikan aja, kita nginap di hotel gimana?.


Hariss: boleh.


Erloo: Ok aku yang atur ya.


Hariss: Sipp.


Erlo tersenyum geli setelah sepakat akan menginap di hotel bersama Haris. Dia beranjak dari kasurnya duduk di depan laptop membooking kamar.


"Hotel mana ya?"


Gumamnya.


Setelah banyak pertimbangan dia memilih Hotel Krimfold dan kamar no 133.


"Ok selesai"


Ucapnya senang.


Dia segera keluar kamar.


______


Haris di dalam ruangannya, ruangan dengan fasilitas lengkap dan banyak poster film tentang detektif.


"Ada-ada aja nih anak, ngapain juga nginap di hotel"


Gerutunya geli, meletakan ponselnya.


Dia membaca buku dengan tulisan pribadinya sendiri ada pulpen hitam tergeletak di sampingnya.


"Lord Diamond, aku akan mengungkapmu lihat saja"


Bicara sendiri.


______


"Jadi kalian membooking pada malam hari"


Perjelas Leo.


"Iya, setelah itu...."


Pukul 14:00


Erlo berada dalam bus bersama Haris, mereka menuju tempat tujuannya, Hotel krimfold. Banyak penumpang di dalamnya mengharuskan mereka duduk di kursi paling belakang.


"Sesak ya"


Buka Haris sedikit menggeser badan Erlo ke samping.


"Aku udah kejepit nih, jangan geser-geser"


Keluh Erlo.


"Iya maaf"


Ucapnya setelah merasa ada ruang untuk pantatnya.


"Ah leganya"


"Ck, dasar"


Decak Erlo.


Haris membuka ponselnya melihat ramalan cuaca.


"Oy, Erlo kenapa naik bus sih?"


Tanyanya heran.


"Biar gak ketahuan"


Terkejut.


"Sama siapa?"


"Keluarga aku"


Meletakan ponsel kembali kekantong celana.


"Emang kita mau nagapain di sana?"


"Belajar akting"


"What!!"


Pekik Haris keras membuat penumpang melirik mereka dan salah satu penumpang meletakan jari telunjuk didepan bibirnya berisyarat "jangan berisik".


"Malu-malu'in"


Cerca Erlo sambil memukul tangan haris dan menganggukin penumpang yang menegurnya itu.


Haris terkekeh gak merasa bersalah.


"Iya dah, cuman kita nih?"


Bisik Haris.


"Ya siapa lagi"


Balas Erlo juga berbisik.


"Ajak yang lain mampir gitu"


"Banyak orang itu terlalu berisik"


"Kalau gitu mau denger saran aku gak"


Tawar Haris tiba-tiba, dan membuat Erlo tertarik.


"Apa'an"


"Suruh pacar kamu nginap" ucapnya pede.


"Kamu mau jadi mayat sekarang"


Tatap Erlo sehoror psikopat yang siap menyiksa korbannya.


Haris merinding dan sedikit shock.


" Er-Erlo Marah" Batin Haris.


Erlo mengalihkan pandandangannya pada penumpang lain dan mulai cemberut.


"Ma-Maaf" Ucap Haris agak terbata.


Namun suasana bis nampak terlalu sunyi bagi Haris.


"EKHEM ... ok lah kita berdua aja, biar di sangka pasangan homo atau apa ...." Ucap Haris namun...


Mulutnya tertahan tangan Erlo yang mendekap mulut Haris. Suara Haris kelewat kenceng dan membuat seisi bis mendengarnya. Penumpang bis seketika menatap mereka dna berpikiran aneh pada mereka.


"Beneran mau mati ya?!"


Geram Erlo.


(Lah kok mereka jelasin kekonyolan mereka di bis ke hadapan Leonardo?)


Mendengar lanjutan kisah Erlo itu Leonardo agak jengkel tapi tetap sabar.


"Haha begitu ya?" Ucap Leonardo sembari mencatat keterangan Konyol Erlo dan Haris.


***


Lain cerita dan tempat, masih di hari sebelum pembunuhan.


Depan Rumah Erlo


Pukul 14:15


Ada 3 orang berdiri di samping mobil mewah sedang membicarakan sesuatu, 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.


"Erlo naik bus? Kenapa? Aku kira kau bercanda?"


Buka seorang pria paruh baya, ayah Erlo.


"Ya tuan, saya sudah bilang tapi anda menyuruh saya langsung ke sini"


Jawab sopir priabdi Erlo.


"Aku memanggilmu biar antar Erlo ke rumah, tapi ternyata aku.... Hah sial" Kesal Ayahnya Erlo.


"Baru kali ini kepala keluarga Anpaz tidak serius, kenapa beliau mengira aku bercanda? " Heran sopir itu dalam diam.


"Pah kemana kira-kira dia pergi?"


Tanya wanita juga paruh baya lumayan awet muda, ibu Erlo.

__ADS_1


Ayah Erlo menghentikan kekesalannya dan kembali serius.


"Coba kamu lacak ponselnya"


Perintah ayahnya Erlo pada sang sopir.


"Sudah, dia masih bergerak"


Ucap sopir sigap.


"Kemana kira-kira tujuannya?"


"Hotel, kafe, toko, restoran, apartement ada di dekat sana semua"


"Jarak yang paling dekat dengan posisinya!"


Ucapnya dengan nada meninggi.


"Hotel"


"Apa!!" pekik ayah Erlo.


Dia segera menelpon seseorang saat mendengar Erlo pergi ke hotel. Wajahnya terlihat cemas dan tangannya tak bisa diam dengan tenang, ini adalah kekhawatiran seorang ayah pada anaknya, tapi kenapa?


"Hotel apa namanya?"


"Krimfold"


Ayah Erlo menggigit bibirnya mendengar nama hotel tujan Erlo.


Tak lama Telponnya tersambung dengan seseorang, dia segera bicara.


"Hallo"


.....


"Kau bisa mengaturnyakan"


.....


"Ok baiklah"


____


"Kalian naik bus pukul 14:00"


Leonardo mencatat setiap kata yang menurutnya penting.


"Men-menjengkelkan" Umpatnya dalam hati.


"Iya lalu kami ..." Sambung Erlo


Depan Hotel


"Kita sampai"


Seru Erlo.


"Wah hotel bintang lima, borosin uang nih anak"


Cetus Haris.


"Aku yang bayar, kenapa sih kayak gak punya uang aja"


Cerca Erlo sambil mengangkat dada.


"Ah, ayo check in"


Ajak Haris meksi agak kesal.


Erlo mengangguk dan berjalan duluan. Dia berbicara dengan salah satu pelayan hotel ingin mengambil kunci, tapi dia malah di suruh menunggu. Haris memperhatikan Erlo dari jauh, dia duduk di kursi tunggu dan melihat temannya itu menghampirinya dengan wajah kecewa.


"Kenapa?"


Erlo menghela nafasnya.


"Katanya kamar kita di pesan orang 1 jam yang lalu"


Jawabnya lesu.


"Ha? kitakan duluan pesan apa-apa'an ini!"


Kesal Haris.


"Udah tunggu aja, pelayan itu kekamar pesanan kita. Paling sebentar beres"


"Iya deh, kamu sabar banget Erl"


Menepuk bahu Erlo.


Baru beberapa detik mereka diam tanpa kata, salah satu pelayan berlari menghampiri dengan tergesa-gesa, pelayan yang berbeda.


"Anu.. Tuan... Anda bangsawan kan?"


Tanya pelayan itu sambil mengatur nafas.


Erlo dan Haris heran dengan keadaan mendadak ini, mereka juga melihat susana hotel yang mulai berubah, Erlo pun dengan sigap menanggapi pelayan itu serius.


"Iya, kenapa?"


Jawab Erlo.


"Segeralah menjauh dari sini, ada mayat di kamar no 133"


"Apa!!"


"Korbannya dua orang bangsawan, pelakunya bisa saja mengincar nyawa anda, segeralah pergi"


_____


"Ok, baiklah, terimakasih penjelasannya. Orang tua kalian juga sudah menunggu, saya harap kalian mulai berhati-hati, mengerti"


Ucap Leonardo sembari berdiri meninggalkan mereka berdua.


Erlo dan Harispun pasrah di bawa kedua orang tuanya pulang, dan siap mendengarkan nasehat yang lebih mengerikan di banding introgasi.




Malam setelah kejadian di hotel beberapa jam yang lalu, pukul 20:50.



Haris dan Erlo berada di ruang tamu rumahnya sendiri, mereka berhadapan dengan kedua orang tua mereka masing\-masing. Dengan wajah lesu mereka terpaksa menjelaskan kejadian yang sebenarnya, hingga itu bisa jadi penenang bagi kedua orang tuanya. Setelah itu mereka di tinggal pergi keluar dengan pintu depan di kunci rapat, seolah mereka di larang kemana\-mana malam ini.



Suara hela'an nafas mereka secara bersama'an keluar. Di tempat berbeda ini mereka seolah saling berkomunikasi. Haris maupun Erlo mengambil langkah kedalam kamar, wajah, tubuh, dan lutut mereka lemas, seakan enggan di gerakan. Sesampainya di kamar mereka mengambil ponsel dan saling menchating.



Erloo: Gimana orang tuamu?



Buka Erlo duluan.



Hariss: Kayak orang tuamu.



Erloo: Kamu boleh keluar gak?



Hariss: Gak.



Menghela nafas serempak.



Hariss: Aku penasaran Erl.



Erloo: tentang apa?



Hariss: soal pembunuhan itu.



Erlo terdiam sejenak, lalu mulai serius, dia teringat sesuatu.



Erloo: Ada yang aneh ris, waktu kita di suruh pergi, waktu itu ada seseorang dengan jas warna merah darah keluar dari lif bawa bola bisbol.



Hariss: Beneran, wah kenapa baru bilang?.



Erloo: Soalnya, di tangan satunya dia pegang topeng.



Hariss: Topeng apa, batman, spiderman, atau musuhnya bataman? Seru tuh, dia lagi cosplay mungkil.



Erloo: serius dikit bisa? Topeng yang di bawanya lebih ke mengtimidasi mental.



Hariss: serius? Apa'an coba? Aku gak bisa mikir.



Erloo: Topeng yang identik dengan pembunuh legendaris, Jack the ripper.



\*\*\*


__ADS_1


Kantor polisi



Pukul 21:45



Masih dengan pelaku yang sama, Jarden kembali mengintrogasi Shibata Genki. Kini wajah Jarden kurang mengenakan, mungkin karna kasus baru yang lebih rumit dari kasus sebelumnya.



Dia duduk di hadapan pelaku dengan gaya bebas.



"Ok, Shibata san anda sudah mau ceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya?"



Pelaku tak bergeming.



"Saya sekarang kurang enak badan, setelah ini ada tugas lagi, jadi mohon cepatlah"



Masih diam, Jarden melonggarkan kerah bajunya.



"Shibata san, anda ini di suruh siapa dan untuk apa?"



Nada bicaranya mulai meninggi, tapi si pelaku tak mengerti dan masih kokoh menutup rapat mulutnya.



"Kalau tidak mau bilang kenapa anda tertangkap!!"



Bentak Jarden kesal seraya memukul meja dengan keras. Si pelaku terperanjat mendengar suara nyaring pukukulan itu sekaligus gema teriakan Jarden.



Tapi dia masih diam.



"Sudah kuduga... Orang ini lebih Gila dari siapapun" Batin Shibata puas.



"Hah menyebalkan, bukankah anda buron selama 5 tahun, lalu kenapa sekarang tertangkap dengan mudah, anda lebih menyedihkan di banding \*\*\*\* pasar"



Ejek Jarden.



Si pelaku menatap tajam Jarden yang sudah melontarkan ejekan pedas.



"Ek... Dadaku rasa tertusuk" Batinnya mengeluh.



Dengan menarik nafas ringan shibata mulai buka mulut.



"Aku! Tidak akan tertangkap kalau tak melihat hal mengerikan itu"



Tukas Shibata. Dia juga bergidik ngeri saat mengingat apa yang sudah menimpanya kemarin.



"Hoo, kenapa? apa yang lebih mengerikan dari membunuh, melihat mayat bersimbah darah? Kehilangan orang yang berharga di dunia? sendirian di dunia kejam ini? anda bercanda? anda itu pembunuh!! Orang yang membuat kengerian!"



Jelas Jarden Lantang.



Mendengar itu, Shibata menurunkan pandangannya.



"Haah... Sudahlah, kasih tau saja orang gila ini, mungkin aku bisa terhibur sedikit lagi" Pikir Shibata.



"Aku melihat sebuah fatamorgana" Ucap Shibata.



Jarden tertawa lepas mendengarnya.



"Sungguh" Tegas Shibata.



"Ok, baiklah, kalau begitu jelaskan sampai aku menerima perktaanmu"



Tantang Jarden.



Shibata, menghela berat.



"Aku kira, aku sudah menusuknya"



"Aku merasa pisauku menembus tubuhnya, darah mengalir nyata di lenganku membuatnya berwarna merah. Aku mendengar, melihat orang\-orang panik, tapi setelah itu ternyata aku hanya berdiri kaku di tempat, aku sama sekali tak berlari kearahnya, aku sama sekali tak menusuknya, aku malah melihat orang itu berlari kearah ku, orang itu menerima pisauku, orang itu tersenyum tepat di depanku wajahku"



Shinata bernafas tak karuan saat menceritakannya, keringat dingin mengalir di pelipisnya, pupil matanya membesar.



"Ha? Aku tak mengerti sedikitpun ceritamu" Cerca Jarden, dia memutar bola matanya kearah lain.



"Apa\-apaan penjelasannya, dia berhalusinasi akibat terlalu banyak minum obat terlarang? " Batin Jarden jengkel.



Di lain sisi, Shibata menguatkan dirinya meski ketakutan hebat mengingat hal itu.



"Lalu, aku baru menyadari siapa yang sudah kutusuk" Lanjutnya dengan nada agak nyesek.



"Hemhh, siapa?" Tanya Jarden malas.



"HANTU"



"Hek... HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH...  HAHAHAHAHAHAHAHAH... KAU BERCANDA YA? MANA ADA HANTU DI DUNIA INI SHIBATA? HAHAHAHAHAHAH, LUCU... LUCU SEKALI"



Jarden tertawa hebat mendengarnya, perutnya serasa geli sekali mendengar penjelasan Shibata.



Shibata kaget dan memandang Jarden dengan senyum tipis.



"Begitukah menururmu? Komisaris Jarden? " Tanya Shibata agak kesal, tapi dia seolah merasa senang juga.



"Aku tidak bisa menerima penjelasanmu, aku menganggapnya lelucon terbaik abad ini, jadi... Jawab saja yang logis, jangan membuatku tertawa lagi, mataku berair tau" Jawab Jarden mengusap matanya dan meredakan tawanya.



"Bukan Hantu yang membuatku takut dan gemetar" Lanjut Shibata.



"Tapi, Wajah ibuku, ibuku yang membuatku gemetar, kau tidak tau seberapa menyeramkannya ibuku, Jarden" Jelas Shibata dengan nada berat dan Serius.



Jarden yang mendengarnya, Tersenyum santai.



.


.


.


.



Dia sangat mengerikan, kenapa dia membawa topeng jack the ripper? Apa dia pembunuhnya? Tapi kenapa aku seolah kenal dengannya, ini menarik.

__ADS_1



Erlo.


__ADS_2