
Sekolahan sudah mulai ramai, dua orang familiar ini juga terlihat berjalan memasuki gerbang, Aires-Luvia.
"Wah, sumpah nafas ku mau putus rasanya" Kata Luvia mengatur pernafasannya yang sulit keluar dari paru-paru.
"Kamu sih, ngapain juga pakek balas dendam segala" Timpal Aires.
"Habisnya, dia gak pernah lari, cuman duduk natap buku, ngebosanin hidup kayak gitu, aku kasihan Aires" Masih dengan nafas tersengal.
"Dasar, aku jadi ikut lari kayak orang gila, untung gak ketangkep"
"Itu nasib namanya"
Mereka Tertawa.
***
Di samping tembok luar sekolahan, seorang laki-laki memperhatikan semua orang yang masuk gerbang, di matanya ada binar keinginan yang mungkin tak akan terwujud, dia juga ingin sekolah. Laki-laki meyedihkan ini adalah Gerald.
Dia bersandar di dinding tembok menatap langit, walaupun langit biru tertutupi banyak awan dingin, dia tak merasa terganggu. Gerald menghela nafasnya, memar di wajahnya tertutupi plester luka seadanya dan dia masih memakai jaket yang sama, jaket hitam yang mulai kotor.
"Dia siapa?"
"Tidak tau, ayo cepat nanti gerbangnya di tutup"
Pembicaraan pelan dua siswi yang lewat di depan Gerlad sangat menyakitkan, tapi dia diam saja, tak ada gunannya marah.
Gerald berjalan menjauhi sekolahan itu menuju sebuah kafe. Dia tidak masuk ke kafe, tapi hanya melihat di luar kaca kafe yang besar, isi kafe.
Dia berlalu dari kafe menuju toko buku, lagi dia hanya menatap dari luar. Kali ini dia pergi lagi menuju sebuah sungai yang dingin, dia duduk di tepinya dan bersandar di salah satu pohon yang berdiri di sana, pohon tanpa satupun daun.
"Menyedihkan"
Gerutunya.
"Kemana lagi aku bekerja?"
Menatap air yang tenang, tapi tidak setenang tubuhnya.
"Sial, perutku mulai perih"
Rintihnya.
___________
Pukul 11:12
Bel istirahat yang di tunggu-tunggu semua murid ini pun terdengar, tempat yang sepi dengan cepat terisi, apalagi ruang makan.
Aires-Luvia berjalan menyusuri lorong sekolahan menuju mesin minuman otomatis, mereka membeli susu.
"Tau gak, cowok itu sering sekali mandangin sekolahan, ngeri"
"Benarkah, wah besok aku harus melihatnya"
Pembicaraan murid yang baru saja lewat masuk ketelinga mereka berdua. Aires sedikit tertarik dan Luvia penasaran, dia segera mencegat salah satu dari mereka yang menggosip.
"Eh, cowok kayak gimana maksud kalian?" Tanya Luvia mengagetkan mereka.
"Oh, itu .. Cowok pakai jaket hitam lusuh, dia natap sekolahan mulu, ngeri, setiap hari lagi"
Jawabnya.
Aires merasa ini tidak penting, dia pun pergi duluan ninggalin Luvia yang masih penasaran.
"Ganteng gak?"
Ceplosnya.
"Aa.. Itu, menurutku ganteng, tapi dia aneh"
"Benarkah? Di mana dia biasanya menatap sekolahan?"
"Di samping dinding, luar sekolah"
"Ok makasih"
Dia langsung ninggalin dua orang tadi, nyusul Aires yang sudah duluan ke ruang makan.
"Dia Luvia kan, kelas 12-A, inikan cerita udah lama, heboh satu sekolahan"
"Dia gak tau kali, anak bangsawan mana ngurusin gelandangan"
"Bener juga, ih, aku keinget dia lagi, ngeri"
"Iya, kenapa dia kayak gitu, apa dia ada dendam sama sekolahan kita?"
"Udah ah, laper nih"
__ADS_1
Mereka yang ngegosip segara menyusul teman-teman yang lain ke ruang makan.
Sedangkan luvia yang sudah lebih dulu, memikirkan hal itu sambil berlari kecil, dan tiba-tiba berhenti seperti tertahan sesuatu.
"Jaket hitam?"
_______
Tempat pelatihan artis.
D.Z Entertaiment
Gedung yang cukup besar ini menampung banyak karyawan dan staff, ada panggung teater untuk melatih aktor maupun aktris dan ada juga ruang latihan dance bagi idol.
Di salah satu ruangan cukup luas Erlo nampak duduk dengan wajah lesu, dia membaca naskah yang ada di tangannya dengan malas. Sang sopir di sampingnya menyodorkan minuman tapi Erlo menepisnya lembut.
Lalu seorang wanita paru baya mendekati Erlo yang fokus pada naskah itu, dia tersenyum hangat.
"Bagaimana? Minat?"
Sapanya sedikit mengejutkan Erlo.
Erlo segera berdiri dan membungkukkan badannya membalas senyuman ramah wanita itu.
"Sedikit sensei"
"Kenapa?, kamu udah bagus latihan tadi"
"Ah iya, tapi .."
"Udah, coba aja besok kita mainkan teaternya ok. Ini bisa jadi batu loncatan kamu di audisi besar nanti"
Ucapan Erlo di serobot olehnya.
Dia menepuk bahu Erlo yang menegang karna kurang percaya diri. Dengan terpaksa Erlo menganggukan kepalanya mengiyakan saran sang guru.
"Baiklah, kalau begitu saya mau kekampus dulu"
Pinta Erlo sopan.
"Silahkan, jangan lupa naskahnya"
"Iya, saya pergi dulu sensei"
Hormat Erlo dengan membungkukkan badan.
"Tidak perlu, aku naik bus saja"
Tolak Erlo.
Sang sopir merasa heran.
"Tapi tuan"
Erlo berjalan mengabaikan sopirnya itu, dia menuju halte bus terdekat. Dengan nafas berat sang sopir meninggalkan Erlo dan menelpon seseorang.
"Dia pergi ke kampus naik bus"
. . . . . .
"Saya segera kesana"
Hotel.
Kamar yang biasanya di hiasai dengan hal menjijikan itu lenyap, laki\-laki muda yang menempati kamar itu sudah pergi, kapan dia check out?.
Kamar itu sekarang di tempati oleh sepasang kekasih muda, mereka tampak bahagia seperti habis menikah.
Sepasang kekasih yang di baluti rasa cinta mendalam itu sangat jelas ingin saling menyentuh, mereka melepaskan pakain utama di cuaca dingin ini mantel. Hawa dingin tak berlaku dalam ruangan karna hotel ini mewah, fasilitasnya lengkap, cuaca mah gak ngaruh.
Mereka berdua mulai berciuman panas, si pria perlahan membuka baju si wanita dengan ganas, sebaliknya si wanitapun melakukan hal yang sama, tak berselang lama suasana gelap dalam sekejap, walaupun tak segelap lampu mati malam hari, tapi ini cukup untuk membuat orang ketakutan. Kaca hotel yang seharusnya tembus cahaya siang yang cerah itu lenyap tertutupi tirai hitam pekat. Pasangan ini terhenti dengan nafsu mereka melihat keadaan sekitar, heran.
"Ada apa ini?"
Gerutu si pria.
"Sayang aku takut"
Kata si wanita, dia memeluk kekasihnya dengan perasaan takut.
"Jangan takut, ada aku di sini"
Kata si pria menenangkan, dia meraba meja di sampingnya mencoba menyentuh telpon hotel, setelah dapat dia pun langsung menelpon pelayan hotel untuk minta kejelasan, tapi telpon yang di pakainya tak berfungsi, dia mulai panik.
"Tunggu sayang, aku keluar dulu"
__ADS_1
Ucapnya lagi, dia melepaskan pelukan sang kekasih dan berjalan ke ambang pintu, pria itu tak ingin membuat suasana jadi kacau, kalian taukan perempuan paling mudah panik lalu menangis, laki\-laki mana yang suka akan hal itu.
Pria itu berharap tak terjadi apa\-apa, dia memutar gangang pintu tapi, pintu hotel tak bisa di buka. Itu tambah membuatnya panik dalam diam, dia menggigit bibir bawahnya sedikit kencang, berpikir.
"Kenapa sayang?"
Mendengar suara kekasihnya yang mulai resah, dia mencoba untuk tenang.
Pria itu mendekati kaca hotel melihat\-lihat tirai hitam itu, tapi dia hanya melihat tirai saja tanpa ada celah sedikitpun untuk melihat keluar.
"Sayang coba hidupkan lampu"
Pintanya.
Pria itu sangat penasaran dengan kejadian ini, dia masih mengamati tirai hitam itu.
"Dimana asalnya?"
Batinnya.
Si wanita menuruti saja apa kata si pria, saat dia menghidupkan lampu, yang menyala bukan lampu tapi sebuah rekaman film yang biasa di putar di bioskop, tempatnya adalah kaca tertutupi tirai hitam.
"Sayang"
Ucap si wanita shock.
"Tutup mata!!"
Teriak si pria.
Dia bergegas mengambil mantelnya mencari Handphone, dia ingat betul letak harapan satu\-satunya itu. Sedangkan si wanita menutup mata dalam rasa takut, tubuhnya sedikit gemetar, apa yang tidak boleh dia lihat?.
"Dimana dia, dimana?!!"
Pria itu panik saat mendapati kantong mantelnya kosong, begitu juga milik si kekasih.
"Apa\-apa'an ini!"
Dia menjambak rambutnya sendiri, wajahnya mulai pucat, keringat dingin keluar dengan derasnya menerobos pori\-pori tubuhnya. Dalam keputusasa'an itu terdengar suara di dalam kamar, suara saringan sedikit berat dan melengking.
"Haruskah ku robek dadamu"
Terkekeh.
Pukul 18:00
Setelah 8 jam lamanya, akhirnya Gerald mendapatkan pekerja'an baru. Dia bekerja di sebuah perusaha'an ayam potong di bagian pemotong ayam bertempat di bassement. Walaupun pekerjaannya terlihat berat dan sulit dia tetap bersemangat, para pekerja lain pun ramah terhadapnya. Di tempatnya ada Tv berukuran sedang untuk menghilangkan kejenuhan para pekerja, salah seorang dari mereka bosan dengan tayangan vearty show, karna itu dia mengambil remot Tv dan memindah tayangan ke channel Kluisso.
"Kluisso News, Di temukan mayat sepasang kekasih terbujur kaku di dalam kamar hotel no 133, tempat kejadian di penuhi dengan darah kedua korban. Korban pertama bernama John deval berumur 25 tahun bangsawan kelas C dan korban kedua Kim Sally berumur 24 tahun bangsawan kelas C, mereka pasangan yang baru saja menikah. kepolisan sudah memasang garis pembatas dan mulai menginvestigasi tempat kejadian dengan teliti, di perkirakan mereka meninggal 3 jam yang lalu akibat di bunuh, masih belum bisa di pastikan ..."
Para pekerja yang menonton berita itu merasa iba, ada yang memotong leher ayam dengan keras akibat kesal dengan pembunuhan yang terjadi.
"Apa\-apa'an ini, mereka baru saja menikah kenapa harus berakhir dengan tragis"
Lirihnya, dia mulai menitikan air mata simpati.
"Jangan alay kanae, aku tau kamu jomblo"
"Iss dasar, gak tau situasi"
Lirihnya lagi.
Gerald yang juga ikut menonton menatap nanar, lalu dia melanjutkan pekerjaannya. Dia yang awalnya bersemangat jadi lesu, Gerald merasa muak dengan hal yang baru saja di tontonnya.
"Kenapa mereka tak memberi taukan masyarakat kondisi mayat, heh suka sekali di suap"
Gumamnya.
"Cukup singkat saja, dada korban di sobek paksa dan paru\-parunya menghilang"
.
.
.
.
.
Haruskah aku bertindak, ini jebakan, dia benar\-benar jatuh kedalam, apakah aku harus jatuh juga? Demi mendapatkannya kembali?.
Gerald.
__ADS_1