
Terlepas dari pencarian Leonardo tentang pembunuh sebenarnya, sang pembunuh malah terkekeh bahagia melihat gerak gerik lawannya itu saat mendatangi Universitas Goldenbarnd melalui layar monitor di sebuah ruangan gelap.
"Yufen, kuda hitamku, bagus sekali, loncati siapa saja yang ingin menangkapmu" Terkekeh.
Pukul 09:30
Sekolahan.
Sekolahan yang sering di lihat oleh Gerald ini, sudah memulai pelajaran pertama. Kelas yang berisikan Luvia-Aires mendapatkan pelajaran olahraga, mereka sibuk mengganti pakaian, di ruang khusus perempuan.
"Luvia, kayaknya hari ini kita gak bakal bahagia"
Buka Aires, Luvia hanya diam dengan kata-katanya yang aneh itu.
"Yah, aku di cuekin" Keluhnya , Luvia tetap diam.
Selesai ganti baju, mereka menuju lapangan memulai pemanasan, guru yang mengajar mereka terlihat sangar, Guru itu bernama Yamada Uzumaki.
Gosip yang tersebar di sekolahan, membicarakan tentang ayah beliau adalah seorang yang sangat terobsesi dengan sesuatu berbentuk bulat, hingga anaknya di namai Uzumaki. Apa hubungannya? LOL.
Luvia-Aires saling menatap mengingat hal itu, mereka juga berbisik membahas tentang betapa konyolnya ayah guru mereka itu.
"Naruto Luv (terkekeh)"
"Iya, aku tau (juga terkekeh)"
"Seribu bayangan" Tertawa kecil.
Senda gurau mereka terputus setelah mendengar suara lantang sang guru.
"Kita mulai pemanasannya"
5 menit berlalu, pemanasanpun selesai.
"Baiklah, apa pelajaran kita hari ini!!" Ucapnya lantang.
"OlAHRAGA!!" teriak mereka serempak.
"Bagus, sekarang atur kelompok dua orang putra putri gabungan" perintahnya.
"HAH!!!"
"Protes!"
Seseorang merasa keberatan, Aires. Siswa lain tidak ada yang berani untuk mengajukan isi hati mereka, lebay.
"Pak, aku gak mau pisah sama Luvia" Ucapnya.
Guru itu mengarahkan pandangannya pada Aires, matanya setajam silet. "Apa alasannya?" Tanyanya dengan nada nanar, guru itu bicara pada Aires yang membalas tatapan matanya tanpa takut.
"Dia lagi sakit, kalau ada apa-apa kan bikin repot, biar sama aku aja" Jawabnya juga nanar. Mereka seperti adu tenaga dalam, saling menatap memancarkan cahaya kilat sekuat mungkin. Guru itu membuang muka setelah kalah menatap mata indah milik muridnya yang cantik itu.
"Nih anak, kayak boneka aja" guru itu langsung menggelang cepat setelah pemikiran aneh itu melintas dia bergidik sendiri mengingatnya.
Tapi dia kurang setuju dengan alasan Aires.
"Hem, (melirik wajah Aires, berpikir sejenak) lebih baik kamu tidak usah ikut olahraga kalau tidak mau ikut aturan saya" Tolaknya.
Aires kesal, terlihat jelas kalau matanya menahan kobaran api.
"Eh pak jambul ayam, bisa gak percaya aja sama aku, biasanya bapak gak pernah kayak gini, mau cari lawan ber-adu ya!" Ejeknya membuat siswa lain menahan tawa.
"Hah, jambul ayam, dimana ada jambul ayam?"
Guru itu naik darah mendengarnya, matanya melotot seakan tak bisa di tahan lagi untuk keluar, dia juga membuat kuda-kuda karate.
"Dari mananya ada jambul di tubuhku heh, ayo pukul perutku, kalau kau bisa buat aku kesakitan, it's okay kita pakai aturanmu" Tantangnya seirus, pemandangan itu sangat menggelikan. Siswa lain merasa terhibur ada juga sebagian merasa jengkel dengan sikap Aires yang melampaui batas. Biasanya guru akan sangat marah di tentang muridnya sendiri, tapi ini nampak sekali kalau semua guru hampir lemah terhadap seorang yang menyandang gelar bangsawan.
"Gak mau" Aires menolak terang-terangan dengan menghampiri Luvia lalu menarik tangannya berjalan keluar lapangan.
"Dia itu kenapa si, sombong banget" Oceh seoarang siswi.
__ADS_1
***
"Ini ya hal yang gak membahagiakan itu? " Ucap Luvia sambil berjalan mengiringi langkah Aires yang cukup lambat.
"Iya, tapi gak gini juga" Balasnya.
"Emangnya kamu maunya gimana?"
Berpikir.
"Kita bedua adu lari estafet"
. . .
Percakapan tanpa asal usul yang jelas itu tidak dapat berlanjut karna mereka berdua terpaku pada diri mereka masing-masing. Timbulah suasana canggung dadakan. Luvia memutar bola matanya kearah berlawanan dengan Aires, sedangkan Aires masih memikirkan apa yang barusan di katakannya.
"Kenapa aku bicara gitu, kan jadinya gini, aneh"
"Aires udah gila, ngapain juga bicara ngelantur"
Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Aires maupun Luvia sama-sama merasa aneh dengan percakapan barusan, kenapa masalah sepele seperti itu di pikirkan? Mereka gak ada nyambung-nyambungnya sama sekali, tapi tetap berteman.
"Eh, Aires" Seseorang menegur Aires dari belakang, membuat dua orang ini menengok ke arah suara itu.
"Reno?" Aires sedikit terkejut.
"Ah gak usah kaget gitu" Tukasnya sambil tersenyum.
Luvia merasa heran dengan keada'an ini.
"Reno kenapa kamu di sini?" Tanya Luvia.
Reno mengalihkan pandangannya kearah Luvia "Aku malas ikut olahraga" Jawab Reno datar.
Hal itu semakin membuat Luvia heran.
malas? si ketua kelas ini?
Luvia tau Reno bohong, dan itu membuatnya jengkel.
"Ke perpus" Jawab Reno lagi namun menyembunyikan sesuatu.
"Oh, Kirai'in mau kemana, silahkan duluan tuan kutu" Ejek Luvia.
Dia membuat Reno sedikit kesal, tapi Reno tidak bisa melakukan itu karna Aires tersenyum dengan lelucon yang di buat Luvia. Dia mendesah pelan.
"Luvia, sebenarnya aku mau bicara sama Aires" Jujurnya.
Wajah Luvia mati rasa, dia seolah tak percaya dengan kata-kata Reno.
"Apa maksudnya ini?" Pikir Luvia.
Aires yang sedari tadi diam langsung menatap mata Reno tak percaya.
"Mau bicara apa?" Tanyanya.
Luvia masih mencoba mengendurkan wajahnya yang terlanjur kaku karna kaget dengan memijat kecil pipinya, dia memebelakangi mereka. Reno melempar senyum manis pada Aires yang akhirnya bicara dengannya.
"Sesuatu, kita berdua aja" Jelas Reno yang makin membuat Luvia curiga.
Aires heran dan merasa janggal, tapi dia menyetujui perminta'an cowok berambut hijau itu dengan anggukan. Reno nampak sangat senang sekaligus gugup, wajahnya yang memerah menjelaskan semuanya, walaupun dia melihat langsung tingkah Aires yang nyeleneh, ANEH.
Sebelum mereka pergi, Aires menepuk bahu Luvia, karna temannya itu memalingkan wajah dari mereka dari tadi.
"Luvia, kenapa?" Tanya Aires tapi tak di respon.
"Luvia, kami mau pergi, tunggu aku di tempat biasa, sebentar aja kok" sambungnya, lagi-lagi tak di respon.
Reno hanya melihat pertemanan aneh mereka, memiringkan sedikit kepalanya.
"L.U.V.I.AA!!" Seru Aires greget.
__ADS_1
Akhirnya temannya itu berbalik mentapa Aires yang sudah merasa kesal, bukannya menjawab atau mengangguk, wajah Luvia yang terlihat lucu itu membuat Aires menghembuskan angin ke luar dari mulutnya di iringi sedikit air liur menghempas wajah temannya itu, lalu tertawa geli. Luvia mengusap wajahnya yang sedikit basah kena air suci, Ueeekk.
"Buset, gak gitu juga kali Riess!!" Cercanya.
Aires masih tertawa, dan Reno melongo melihat tingkah mereka.
"Ngapain juga sok imut kayak gitu" Masih mentertawakan.
Luvia hanya bisa menerima sifat Aires dengan lapang dada, sesekali dia mengusap wajahnya lagi, memastikan air suci itu sudah lenyap.
"Aku gak becanda.. Lagi olahraha wajah" Jelas Luvia kesal.
"Hahaha... Maaf maaf" Ucap Aires.
Lalu Reno dan Aires pun berlalu meninggalkan Luvia yang masih mengusap wajahnya.
***
Di luar gerbang sekolahannya, mobil hitam mewah terlihat sedang menunggu di sana, lalu seorang cowok keluar dari dalam mobil itu membawa sebuah drone, Daniel. Senyumnya sekilas terlihat lalu sepucuk surat biru di letakan di atas drone hitam itu.
"Bisakah kau mengenaliku, Aires? Menurutku teka-teki bagus juga, tapi kau bukan orang yang jenius, jadi ku buat sederhana. Apa kau tau anime Tokyo Ghoul? Dimana anak laki-laki bernama Kaneki Ken harus menghadapi dua dunia yang berbeda dalam satu tubuh, ya, dia menjadi Ghoul dan Manusia di saat bersamaan, memakan daging manusia dan memiliki perasaan manusia, bayangkan bagaimana dia beradaptasi bertahan hidup, sulit bukan? Di saat manusia bilang Ghoul mengacau dunia dia tau kalau bukan hanya Ghoul yang salah tapi manusia juga salah."
"Begitulah aku, laki-laki yang memiliki hati dan juga tidak memiliki hati di saat yang sama, satu-satunya pemicu diriku untuk bertarung dengan diriku juga adalah, Kamu Aires" Setelah berkata seperti itu dia menerbangkan Drone hitamnya yang membawa surat biru ke arah taman belakang. Dia tersenyum geli saat menangkap wajah Aires yang sedang serius mengikuti seorang cowok di depannya.
"Ooh, cowok itu bakal ... " tertawa geli.
***
Mereka berdua berada di dalam perpustaka'an, ruangan ini cukup cocok untuk pembicara'an rahasia karna pelajaran masih berlangsung, perpustaka'an kosong total.
"Mau bicara apa?" Buka Aires lebih dulu, wajahnya berubah dingin setelah berpisah dengan Luvia.
"Itu.. (Tergagap, juga gugup) .. Aires kamu gak punya pacarkan?" Reno bertanya dengan tenaga ekstra, dia juga memejamkan matanya saat mengeluarkan kata punya pacar?.
Aires masih diam, wajahnya tambah dingin. Reno tak berani menatap mata gadis manis di depannya, nyalinya sudah terbang saat dia menanyakan privasi miliknya.
"Gak" Jawab Aires singkat.
Reno menatapnya dengan mulut sedikit terbuka, dia seperti mendapatkan satu kesempatan dari 0 kesempatan, dia memberanikan diri.
"Mau gak.. Ja-ja-jadi.. (Menelan ludah) .. Jadi .." Reno tergagap dan pelipisnya mulai di basahi keringat dingin.
Melihat tingkah Reno yang menurutnya pengecut itu, Aires mendekatkan tubuhnya ketubuh cowok keren itu, membuatnya mundur kebelakang hingga punggungnya menyentuh rak buku. Wajah Aires hanya beberapa centi dari wajahnya, itu makin membuat Reno tak bisa bernafas dengan benar.
"Kiss, apa kamu sudah pernah merasakannya?" Tanya Aires dengan suara yang agak nakal.
Pertanya'an membunuh itu semakin membuat Reno memejamkan matanya erat-erat, dia bisa meraskan hembusan nafas lembut Aires. Hangatnya hembusan itu saat dia bicara makin memacu jantungnya sampai 300Bpm, apalagi di tambah dengan kata kiss. Dia mencengkram buku yang ada di tangannya menahan semua kekacauan di tubuhnya yang di terpa badai besar palnet jupiter.
Aires menjauhkan badannya setelah puas melihat tingkah Reno yang makin pengecut itu.
"Maaf Reno, kamu bukan tipe ku" Ucap Aires, menghancurkan semua harapan Reno dalam sekejap. Dia berjalan pergi meninggalkan cowok pengecut itu dengan mantap.
Reno mengatur fungsi tubuhnya yang sudah kacau beberapa detik lalu, lalu matanya mulai memperlihatkan buliran bening yang terkumpul di dalam matanya, dia seakan tak ingin menangis. Tapi dadanya yang semula baik-baik saja terasa sangat sesak dan perih, Reno terdiam kaku mencerna semua hal yang terjadi padanya.
"Aku di tolak?"
***
Aires berjalan dengan perasa'an kurang mood, dia melewati beberapa lorong baru sampai di tempat Luvia berada. Sebelum kakinya sampai pada temannya itu, sebuah drone terbang ke arahnya membawa surat berwarna biru laut. Aires bingung, tapi tetap mengambil surat itu dan membacanya di tempat.
"Aku masih penasaran siapa ciuman pertamamu? Maukah kamu menjawabnya? Kita bertengkar karna hal itu... Terimalah permohonan maafku"
"Hah, dari siapa ini? DANIEL? Gak mungkin" Heran Aires.
.
.
.
.
__ADS_1
Kau tau betapa senangnya aku, dari semua kegelapan yang ku lalui selalu ada cahaya kecil yang mengiringiku, dan itu adalah kamu, sayang.
Daniel.