
Setelah mendengar cerita dari Fran, Erlo tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca duduk di halte bus, hujan turun dengan lebatnya mengguyur kota QOINZE menjadi basah dan sepi pejalan kaki. Payung-payung terbuka dan terlihat di mana-mana, hanya sebagian orang yang menembus hujan mengiklaskan bajunya basah demi sampai pada tempat tujuannya.
Pukul 16:06
Dia duduk sendirian, sejuknya angin hujan, membelai kulit putihnya yang sedikit pucat, Erlo masih diam membeku dalam pikirannya. Lebatnya guyuran hujan meredam bising-bising dengan bunyinya yang khas, seseorang yang sedih akan tambah sedih melihat langit mendung putih keabu-abuan itu, sedih di banding dirinya, dia hanyut dalam perasaannya yang mengacaukan seluruh prasangkanya.
"Haris, kenapa kau melakukan itu? Lalu bagaimana denganku?"
Batinya.
Dia menghela beberapa kali mencoba melapangkan dadanya yang sesak. Kelereng coklat miliknya yang semula malu-malu menatap keatas sekarang dengan gagahnya menyusuri pemandangan di sekitarnya, lalu dia menyipitkan kelerengnya ingin memperjelas sesuatu.
"Siapa yang berlalri kesini?" Gumamnya.
Dia melihat seorang laki-laki di sebrang jalan dengan pakaian biasa, berjalan kerahanya di bawah derasnya hujan dingin yang sedang menangis ini. Beberapa saat dia mengatakan itu, bus yang di tunggunya akan segera berhenti tapi orang yang di lihatnya, mulai berlari dan menjadi semakin mendekat kearahnya dari seberang jalan.
"HEI!! APA KAU SUDAH GILA, JANGAN BERLARI KE SINI!!"
BRAKK..
Teriakan Erlo sia-sia, orang yang di peringatkannya sudah tertabrak bus dan kepalanya terpisah dari tubuhnya yang seakan lembek bagai permen karet, kepala yang putus itu menggelinding kearah Erlo tepat di depan matanya, mulut Erlo sedikit terbuka, nafasnya tercekat, dia sedikit shock.
"Tolong aku.. Tolong aku"
Ucap Kepala itu.
____
Di waktu yang sama seseorang juga baru sampai di halte bus, halte di mana Erlo berada. Dia membersihkan jasnya yang sudah di basahi air dingin itu, tasnya pun di hentak-hentakan kecil agar tidak terlalu berair. Dia menatap heran pada orang yang berada satu halte dengannya itu, nampak alisnya mengerut. Orang yang sedang menatap Erlo itu memiliki tubuh agak pendek dan gemapal, seorang pria paruh baya.
"Hei nak ada apa denganmu? Tanyanya, tapi dia di abaikan membuatnya mendekat ingin melihat wajah orang itu.
Erlo masih diam dengan kejadian yang baru saja di lihatnya, dia tidak mendengar pertanyaan orang yang ada di sampingnya, matanya terpaku pada kepala yang bicara padanya dengan nada memohon.
"Tolong aku, hentikan dia, dia membawa malapetaka"
Suara yang sangat menyayat hati itu menusuk Erlo yang juga ingin meminta tolong mengatasi masalahnya jika dia bisa. Bukannya takut, Erlo hanya bisa melihat tanpa merespon kepala laki-laki yang berlumuran darah segar itu.
"Hei nak, kamu mau naik bus kan? Jangan diam saja" Ucap pria paruh baya di sampingnya itu lagi, membuat Erlo tersadar kedunianya kembali.
"A.. Iya, terimakasih" Balas Erlo canggung, dia mengikuti langkah pria itu memasuki bus dan melewati kepala yang masih menatap padanya.
Apa hanya Erlo saja yang melihatnya? Pria itu tak terganggu sedikitpun dengan pemandangan mengerikan yang di lihat Erlo, apa dia memang tidak melihatnya? Lalu kecelakaan itu? Hah semua ini hanya di perlihatkan untuk Erlo.
***
Di Gudang tempat Gerald tinggal juga tak luput dari tangisan langit, hujan dengan derasnya membasahi tempat tak layak itu. Embun yang di hasilkan oleh percikan air hujan dingin mengenai tangannya yang bertumpu pada jendela kecil, Gerald menatap langit mendung itu dengan mata teramat sayu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mencari kursi kayu hari ini" Gumamnya.
"Besok mungkin akan cerah, hujannya sangat dingin"
Puas memandang hujan dia melirik buku pribadinya itu, matanya menjelaskan semuanya, kalau apa yang di tanggungnya sangat menyakitkan.
"Tunggu saja, aku akan mengabulkan harapan kalian" Tersenyum kecil.
***
Kantor polisi
Pukul 18.23
Haris duduk dengan nyaman di sopa kantor atasan polisi, tangannya bebas borgol, dan bajunya juga sudah kembali mewah. Senyum bahagia terpancar di wajahnya melukiskan isi hatinya sekarang.
Dia di dampingi Jarden, juga ada Leonardo di sana, mereka bertiga saling menatap penuh dengan misteri. Senyum yang di hadirkan 3 laki-laki ini sangat kontras, terlihat jelas perbedaannya.
"Ehem.. (Berdeham) Haris, sesuai kesepakatan, berbohonglah pada Erlo" Buka Jarden. Di sambut baik olehnya, Leonardo pun setuju walaupun senyumnya sangat di paksakan.
"Kenapa kau bisa berada di sana? Melihat apa? Sedang apa? Semuanya sudah terjawab tapi, satu yang sangat ku benci darimu" Leonardo bicara setelah mengikuti sandiwara mereka yang seolah tak terjadi apa-apa. Haris menatapnya tenang, tangannya mengambil gelas berisi teh lalu menyeruputnya.
"Apa itu pak detektif?" Tanya Haris polos.
Leonardo tidak langsung menjawab, dia tersenyum sinis pada Haris yang pura-pura tidak mengerti.
"Kurang sopan"
"Kukira apa yang akan kau katakan, ternyata (lagi tertawa) ah perutku sakit"
Haris juga Leo heran dengan tingkah Jarden yang mentertawakan sesuatu yang jelas sekali sekali tidak lucu.
"Maaf, aku hanya merasa geli dengan perkataan si jenius Leo" sambungnya.
Mereka menghela nafas bersamaaan.
"Aku serius Tuan-Tuan" tekan Leo, dia tidak ingin pembicaraan ini hanya untuk bersenang-senang.
"Kesepakatan ini serius jenius, kau kira aku mau mengorbankan saudaraku pada pembunuh itu, karna itu, Erlo tidak perlu tau apapun"
Perkataan Jarden belum bisa menenangkan Leonardo, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya yang di rencakan lawannya itu.
"Kalau dia mencari tau bagaiman?"
Jarden menatap tajam mata Leonardo yang sangat jeli, untuk menghilangkan ketegangan, Jarden tertawa lepas. "Kuharap kau tidak pernah menanyakan itu loh, Leonardo" Ucapnya dengan nada ubah dari biasanya.
Haris yang semula tenang merasa ini hal yang buruk "Aku sudah boleh keluarkan?" Ucapnya mengalihkan pandangan mereka padanya, anggukan serempak itu terlihat jelas. Haris tambah merasa gusar, "Aku tau kalian sedang bersaing, tapi kalian kurang pro" Singgungnya.
__ADS_1
Leonardo heran "Apa maksudmu?" Haris tersenyum bingung, dia menyentuh lehernya "Maksudku, persaingan itu akan memuaskan saat kedua belah pihak tidak saling berkomunikasi, tapi masih bisa melihat perkembangan sejauh mana dia bergerak". Mereka berdua yang mendengarnya saling menatap lalu mengangguk.
"Ini juga kesepakatan ya kan Tuan Jarden" Lontar Leonardo, membuat Jarden jengkel.
"Ya ini kesepakatan, aku rasa yang akan menang adalah aku" Sombongnya.
Haris tak tahan dengan perdebatan kedua polisi hebat ini, dia memutusakan berjalan tanpa pamit pada mereka.
_____
Di luar kantor polisi, hujan lebat yang mengguyur kota sudah reda dan meninggalkan genangan air yang cukup banyak, Haris sudah di tunggu seseorang, Yufen. Dia bersandar pada mobil mewah itu dan tersenyum hangat menyambut Haris yang berjalan kearahnya.
"Bagaimana, menyenangkan?" Bukanya.
Haris melempar senyum.
"Tentu saja, bagaimana denganmu? rambut biru itu keren juga"
Yufen menyentuh rambutnya dan wajahnya terlihat senang.
"Yah ini, aku mengikuti stylenya" balas Yufen Bangga.
"Hoo... Yufen berubah sekali ya, dalam waktu singkat kamu sudah bukan lagi si culun" Sindir Haris membuat Yufen agak jengkel.
Haris melewati Yufen, membuka pintu mobil lamborgini merah milik temannya itu.
"Apa kau akan memberi tau Erlo?" Tanya Yufen membuat Haris tidak jadi masuk kedalam mobil.
"Urus saja urusanmu, teman yang punya banyak rahasia tidak pantas menanyakan soal Erlo" Balas Haris sinis.
Yufen menyeringai, lalu dia mendekati Haris yang sudah duduk manis di bangku penumpang.
"Aku yang nyetir ya? Dasar Pengecut, teman yang punya banyak rahasia? Bukankah kau juga sama? " Ejeknya.
Haris tak merespon, dia menatap kedepan dengan tatapan marah, mencoba menjadi seseorang yang kebal akan olokan pedas.
"Heh, kau cukup mengesankan, aku tak menyangka kau akan menyeburkan dirimu sendiri, Haris" Sindir Yufen tersenyum manis.
Haris diam seribu bahasa.
.
.
.
.
__ADS_1
Apapun yang kau katakan padaku nanti Erlo, aku yakin suatu saat kau akan mengerti, meski membutuhkan waktu yang lama.
Haris.