THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
13 -Misteri Dalam Misteri


__ADS_3

Hidup memang sangat misterius, kita tidak tau apa yang akan di lalui kedepannya.


Inilah aku, seseorang yang awalnya berhati putih kini kotor dengan bercak darah.


Tidak ada yang tau kan, hidup itu adalah misteri dari 1 juta misteri.


Senyum manis itu masih terlihat jelas, mata dengan binar indah dan wajah kokoh dengan garisan-garisan sempurna itu menghadap pada lawan bicaranya, Daniel laki-laki yang bisa di bilang sempurna dari segi fisik.


"Kenapa kemari?" Tanya Daniel lembut.


"Kangen" Jawab Cewek itu.


Daniel menghampiri perempuan itu dengan langkah pelan.


"Mau bermain?" Dia menyodorkan tangannya yang indah padanya.


"Tentu ini tidak gratis, bukankah begitu Daniel?" Sindirnya.


Sebuah senyuman penuh arti ini nampak jelas di bibirnya.


"Kamu benar, ini tidak gratis" Jelas Daniel.


Dari tadi dia bicara dengan seseorang yang cukup familiar, cewek dengan surai panjang berwarna hitam dan bola matanya coklat terang, dia perempuan yang baru saja menemui Erlo, Ya dia pacarnya Erlo.


Dery menyambut tangan Daniel lembut lalu mereka berjalan memasuki ruangan dengan pintu baja hitam, mimik wajah keduanya belum bisa di tebak. Baik Dery maupun Daniel mereka hanya tersenyum pada sesuatu yang hampa di depan.


Tapi apa tujuannya bertemu dengan Daniel? Apa hubungan mereka berdua? Terlalu banyak pertanyaan jika terus di pikirkan, nikmati saja alurnya, ngelantur saya maaf😆.


Entahlah kenapa, tapi yang pastinya adalah...


"sudah kubilang hidup itu adalah misteri dari 1 juta misteri."


_____


Malam itu setelah mendengar kabar Haris berada di kantor polisi, Erlo berlari tanpa pikir panjang kearah mobil dengan tergesa-gesa, tapi bukannya berangkat, ban mobilnya sudah di kunci rapat oleh pelayan.


"Sial!!" Decaknya sambil memukul stir.


Erlo tak habis akal, dia keluar dari mobil dan berlari lagi menuju gerbang, tapi apa daya semua yang di lakukannya sia-sia, gerbangnya di kunci juga. Mungkin ini akibat dari insiden yang terjadi pada mereka 2 hari lalu, Erlo terpaksa tidak di izinkan keluar malam untuk mencegah hal yang sama terulang.


Dia sangat kesal dan marah, dia melangkahkan kaki menuju rumah dengan wajah merah padam.


"Ini cara terakhir"


***


Apa yang sedang ku lihat ini, bukankah dari tadi aku menatap ruangan yang tidak kukenal sama sekali. Lalu kenapa sekarang aku berada di atas rumput hijau yang indah, dan di atasnya membentang langit biru putih cerah di iringi hembusan angin sejuk membelai kulit dengan lembut menyegarkannya, membuat siapapun yang di sentuhnya merasakan kalau ini adalah kehidupan.


Aku terlalu banyak terpana pada keindahan alam yang sedang bersahabat denganku ini, hingga aku lupa kalau sebenarnya aku tidak sendirian, ada seseorang, siapa dia? Kenapa dalam sekejap semuanya berubah saat aku menyadari kehadirannya. Hatiku berdegup kencang, mataku berbinar senang, senyumku datang dengan sendirinya, tapi ada rasa sesak di dada ini, rasa yang paling menyakitiku sampai saat ini, aku melihat wajah orang yang paling aku cintai, aku menatapnya dengan percaya diri walaupun hanya separuh yang nampak, itu membuatku sangat bahagia. Ini saat aku berumur 14 tahun, saat-saat di mana aku dan dia masih terlalu muda untuk menamakan rasa ini dengan nama cinta.


"Gerald, pulanglah, kamu masih di butuhkan di sana"


Aku tidak mengerti dengan kata-katanya sama sekali, aku menjelajahi semua alam ini dengan mataku sampai tak melewatkan satupun objek, tapi apa maksudnya di sana.


"Pulang kemana? kemanapun aku memandang hanya ada rumput dan langit"


Dia tersenyum manis padaku, itu hampir membuatku pingsan saking senangnya, kurasa ini hanya sebatas khayalanku atau mimpiku yang tak akan pernah terwujud, yahh sakit sekali, tapi tak apalah yang penting sekarang dia ada di depanku walaupun sebagai angan.


"Aku juga salah satu harapanmu yang belum terwujud, apa kau akan menyerah begitu saja?"


Ini semakin menbuatku pusing, dari tadi kata-katanya selalu berujung pada hal yang sulit ku mengerti, bukannya aku bodoh, tapi hanya sedikit lamban untuk mencerna alur dari pembicara'an orang lain, meskipun dia orang yang paling ku cintai sekalipun. Apa mungkin ini bisa disebut sebuah penyesalan? Atau kesalahan yang di iringi penyesalan? Ah ini menambah berat otaku yang kecil ini.


"Bicaralah dengan jelas, langsung ke intinya saja, apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"


Lagi-lagi dia tersenyum, aku gak marah tapi takut pingsan.


"Dia sedang bertarung dengan dirinya sendiri demi tujuannya, lalu apa yang akan kau lakukan untuk mengambilnya dari tujuannya itu?"


Saat dia berkata itu, aku baru mengerti, aku tidak boleh menyerah sekarang, kenapa aku lamban sekali menangkap maksud darinya, Gerald bodoh. Apa baru saja bilang kalau aku bodoh, ahh aku gak bodoh kok tapi lamban ingat ya lamban.


Dia benar, seharusnya aku ...


"Tentu saja, dunia yang indah ini belum bisa ku miliki, aku akan pergi, sudah kuputuskan, aku akan mengambilnya sebelum dia pergi terlalu jauh"

__ADS_1


Lagi-lagi.. Gerald bermimpi dalam tidurnya yang menyakitkan. Di ruangan yang asing itu, tepat di samping tubuhnya, seorang cewek yang nampak sangat anggun meletakkan tangannya di dahi Gerald. Meski hanya rambut indah dan pakaian panjangnya saja yang terlihat, aku yakin, orang2 akan berpikir dia sangat cantik.


"Dasar lemah" Ucapnya dengan suara yang sangat lembut.


****


Sejam kemudian...


"Selimuti dia dengan baik, lalu ikut aku" Suara berat dan sedikit lembut ini menyuruh seorang pelayan dewasa dengan wajah jengkel.


Pelayan itu hanya mengikuti perintahnya saja, siapa lagi, ya pelayan yang sangat kejam pada Gerald, pelayan bernama Ziri ini nampak pucat mendengar majikannya menyuruhnya untuk mengikuti langkah agak lebar itu.


"Tu-tuan, bukan maksud saya begitu, tapi anda sendiri yang bilang kalau bagaiamanpun caranya dia harus .." kata-kata itu terpotong dengan pukulan keras di tulang pipinya. "DIA, APA MAKSUDMU MEMANGGILNYA DIA, aku sudah peringatkan padamu jangan terlalu memukulnya, lihat sekarang, apa itu bisa di toleransi HAH!!! kau bercanda" Pria paruh baya ini sangat marah hingga hilang kontrol akan dirinya sendiri, Ziri menahan rasa sakit di wajahnya dengan mengepalkan tangannya. "Maafkan saya tuan" Pria itu berbalik membelakangi Ziri, dari tadi wajah pria itu belum jelas terlihat karna suasana malam yang gelap. "Pastikan dia besok bangun, suruh dokter memeriksa keada'annya, cari dokter khusus, mengerti!" Ziri segera mengangguk cepat walaupun apa yang di lakukannya tidak akan di lihat. "Saya akan hati-hati tuan, percayakan pada saya" Bukannya memuji atau merespon baik, pria itu mendesah geram lalu pergi meninggalkannya tanpa melihat wajah hormat pelayannya itu.


Wajah Ziri terlihat sangat kesal dengan perlakuan majikannya itu, tapi apa daya, dia tidak bisa membalasnya, apa karna itu dia memukul Gerald sepeti orang gila, apa Gerald menjadi pelampiasannya? Tega, kejam dll, tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan Ziri si Pyssco, mungkin.


"Sial!!"


Berjalan kembali kekamar Gerald, Gudang. Dia menatap wajah polosnya dengan tatapan tajam sepeti ingin cepat menghabisinya.


"Tuan kecilku malah tambah berbahaya"


_____


"Ayah, Ibu, boleh aku keluar sebentar" Erlo memelas pada kedua orang tuanya yang duduk tenang di ruang keluarga, bukannya dapat respon dia malah di abaikan. Dia tak putus asa, dengan percaya diri dia berdiri di depan keduanya.


"Ayah, ayahkan pernah bilang, laki-laki yang mengabaikan pasangannya itu sampah" Ayahnya Erlo menatap Erlo sedetik lalu kembali membaca koran.


"Dery pulang, dia mau makan malam di restoran, kalau aku gak datang dia bakal sendirian, ayah gak kasihan apa"


Ayahnya berdeham keras.


"Oh itu ya jawaban ayah, baiklah, Erlo bakal selamanya jomblo deh, Dery bisa mutusin aku besok tau kalau aku gak dateng tanpa alasan" Memasang wajah murung. Ibunya menatap Erlo dengan perasa'an iba, dia menyenggol tangan suaminya yang keras kepala.


"Pah, izinin aja malam ini, kasihan Erlo jomblo besok" Bisiknya. Sang suami melirik lalu monyongin bibir "Bilang aja sama dia kalau kamu hampir mati di teror selesaikan" Erlo mendesah mendengarnya, dia sangat kesal dan tak tahan untuk menunggu lagi.


"Yah, kejam banget sih, Erlo gak bakal nikah sama siapun kecuali Dery titik" Tegas Erlo.


Sang ayah menutup korannya lalu menatap mata Erlo memastiakan keyakinan anaknya itu.


Erlo membulatkan matanya dan mengangguk cepat.


"Terserah, apa syaratnya, nanti Erlo telat ayah" Bersikap imut.


"Kamu di temani Ziri"


"Hah??"


"Dan .."


"Apa lagi kok ada dua syarat"


"Protes nih"


"Gak kok cuman heran"


"Ada batas waktu"


Erlo mendecak pelan.


"Hanya 1 jam"


"Whatt!!!"


Erlo tidak bisa menerimanya, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.


Yang aneh di sini adalah siapa sebenarnya Ziri, pelayan laki-laki yang memiliki majikan belum terlihat jelas dan terus saja menyiksa Gerlad, lalu kenapa dia juga ada di rumah Erlo, menjadi pelayan yang akan mengawal Erlo. Ini aneh, dia sangat bekerja keras, bisa bekerja di dua majikan sekaligus, mungkin.


____


Pukul 20:20


Leonardo masih duduk di ruangannya, dia menatap buku yang berisikan catatannya tentang kasus-kasus rumit itu.

__ADS_1


"Wah untuk satu penjahat saja, aku sudah menghabiskan satu lembar penuh, sebenarnya apa yang di inginkan dari penjahat kekanakan ini"


Menumpu dagu dengan kedua tangannya.


"Aku rasa 50% pelakunya adalah mahasiswa"




S



aat Jarden Mengintrogasi Haris.



"Kamu boleh bicara sekarang" Jarden mempersilahkan Haris buka mulut, dengan senang hati Haris bicara.



"Kau tau, aku sangat bahagia bisa melihat langsung ruangan introgasi untuk penjahat ini, bukan itu saja aku juga bisa merasakan langsung apa itu borgol kebangga'an polisi" dia memulai bicara dengan mengutarakan isi hatinya sendiri. Jarden hanya mendengarkan tanpa protes, dia duduk dengan nyaman.



"Langsung saja, apa kamu pembunuhnya?"



Haris tertawa kecil.



"Kalau iya, apa yang akan kau lakukan pak detektif?"



Jarden terkejut.



"Ayolah jangan berbohong" dia tertawa di buat\-buat.



Haris mengehela berat sesaat, dia mentap mata Jarden sedikit mengejek.



"Pembunuhnya seorang mahasiswa sama sepertiku, tuan detektif hanya itu yang aku tau"



Leonardo diam\-diam mendengarkan pembicaraan mereka di ruang introgasi itu dengan menghidupkan layar monitor. Dia tersenyum licik melihat lawan mainnya merasa selangkah lebih maju darinya, kenyata'annya mereka masih di garis start.



"Ah halaman ini sudah tidak bisa di jejal lagi, aku harus membuka Halaman Baru"



.


.


.



Keserakahan ini lama\-lama membutakan jati diriku tentang keadilan, aku sudah termakan tantangan yang mempertaruhkan harga diri dan gelar. Aku harus menang, agar dia tidak ku panggil tuan lagi, apa aku terlalu sombong?


__ADS_1


Leonardo.


__ADS_2