
Di tempat Gerald bekerja, semua pekerja yang berada di sana terlihat muram. Mereka melihat siaran Tv yang menayangkan pelaku di balik pembunuhan berantai minggu ini.
Kanae yang berjarak jauh dari Furuji, mendekati temannya itu lalu menyenggol bahunya. Furuji yang masih tidak percaya akan apa yang di lihatnya, sedikit terkejut dengan senggolan Kanae.
"Furuji-san, masih gak mau cerita nih?" Tanyanya.
Furuji mendesah kecil, lalu menatap mata Kanae.
"Yakin mau dengar?" Furuji minta kepastain.
Kanae memgangguk cepat.
"Sebenarnya, orang yang kita telpon itu bukan keluarganya, aku tidak tau apa hubungannya dengan Gerald, tapi sepertinya ada hal penting. Yang apesnya itu dia salah paham sama perkataanku dan .." terdiam sejenak.
"Dan..??" Kanae menunggu.
"Dia ancem mau bunuh aku"
Kanae bergidik mendengarnya.
"Bukannya suara perempuan itu kayak anak remajaan?" Kanae masih tidak mengerti, namun merasa takut.
"Entahlah, karna itu aku penasaran, jadi ku cari tau siapa dia"
"Ohh jadi kamu mau pastiin dulu baru cerita, emang ada hasilnya?"
Furuji mengangguk, Kanae seolah tidak percaya dengannya, jelas terlukis di wajahnya.
"Apa hasilnya?" Tantang Kanae.
Furuji meletakan pisaunya dan menatap lekat mata Kanae seolah ingin memberi taukan kalau dia serius.
"Perempuan itu tinggal di pinggiran , dia punya suami jauh lebih tua darinya, memakai kaca mata. Perempuan itu memiliki luka bakar di lehernya, dan prasangkaku benar .. Kalau dia itu agak budek"
"Oh pantas, kamu nanya langsung?"
"Tidak, tanya sama warga sekitar"
"Kau percaya tidak, Gerald pembunuhnya?"
"Entahlah, tapi .. Dia itu agak aneh"
______
Gerald sudah berada di gedung yang akan menjadi tempat persidangannya. Ruang sidang sepertinya masih di pakai untuk menyidang seorang penjahat, buktinya lampu di atas pintu persidangan menyala warna hijau.
Gerald tidak sendirian dia di dampingi Leonardo, mereka duduk di bangku tunggu luar ruangan. Mereka berdua tak ada yang buka suara, hanya diam menunggu tempat itu kosong.
Tak lama kesunyian itu buyar dengan datangnya Jarden, dia melempar senyum pada Leonardo yang langsung menatapnya.
"Tuan, silahkan duduk" Sambutnya.
Jarden masih melempar senyum hangat, tangannya memegang sebuah map biru.
"Terimakasih" Balas Jarden lalu duduk di samping Leonardo, sedangkan Gerald diam saja.
Jarden melirik Gerald yang menatap lantai dengan hampa.
"Dia baik-baik saja, kan?" Tanya Jarden pada Leonardo.
"Iya, dia hanya sedikit luka"
"Bagaimana dengan lokasi kecelakaan?"
"Rusak parah, bukan hanya mobil, sebagian tiang listrik dan aspal juga ikut kena dampaknya"
"Separah itu?"
"Emh, saya tidak yakin apa penyebabnya, bukankah ini aneh tuan? Bagaiman mungkin kecelakaan itu bisa merusak banyak hal padahal tidak ada bencana alam"
Jarden tersenyum lagi, dia meletakan map biru di pahanya.
"Leo, apa kau percaya dengan hantu?"
Leonardo bergidik.
"Tu-tuan, mana ada yang gak percaya sama hantu" Jawabnya sedikit takut, dia juga mengusap belakang lehernya.
"Oh, bercanda"
Mereka berdua tertawa kecil.
Sesaat setelah tawa kecil mereka terhenti, pintu ruangan sidang terbuka dan seorang dengan borgol di tangannya nampak jelas, dia di kawal dua orang ajudan bertubuh kekar.
Leonardo maupun Jarden yang melihat penjahat familiar itu langsung bad mood, siapa lagi kalau bukan, Shibata Genki. Penjahat yang di tangkap oleh tim mereka sendiri.
Gerald juga meraskan hal yang sama, tapi ada sesuatu yang aneh dari tatapannya.
"Apa aku bisa bertanya?" Pinta Gerald tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya pada seorang terborgol itu.
"Apa?" Sahut Jarden.
"Dia, Shibata Genki, kan?"
Mereka bedua terkejut mendengar pertanyaan Gerald, bagaimana dia bisa tau nama penjahat yang baru saja menerima hukuman itu, Shibata Genki adalah penjahat kelas atas yang hanya di ketahui pihak polisi.
"Iya, dari mana kau tau?" Tanya balik Jarden.
"Dia penjahat dalam buku hitam, tidak ada yang tau selain polisi" Tambah Leonardo.
"Dia bekerja dengan seorang yang menyebabkan kesedihan" Jawab Gerald, membuat mereka berdua makin heran.
"Kesedihan?" Jarden menyerngit tidak mengerti tapi kata itu membuatnya penasaran.
"Apa maksudnya?" Leonardo juga ikut penasaran.
"Beri tau pada Daniel Wexi B, kalau dia sudah salah melawanku"
"?????"
"Taun Daniel? Kau benar-benar sombong Gerald, pembunuh sepertimu tidak pantas menyebut nama terhormat itu" Ucap Jarden tersenyum kesal.
______
Aires, Luvia, berjalan di lorong kelas setelah kekacauan yang di sebabkan Luvia sendiri.
Mereka di usir paksa dari kelas oleh seluruh murid, kelas mereka banyak pelajaran kosong, jadi ini kesempatan emas bagi seluruh murid yang mencari keadilan mengusir perusak keadilan.
Waktu Luvia mencium paksa Yuuki dan di pukul Aires. Luvia merasakan sesuatu yang hilang darinya ada pada Yuuki. Meski dia di pukul Aires, Luvia masih menatap Yuuki dengan tatapan kerinduan tapi dia sendiri tidak tau. Yuuki melap bibirnya dan wajahnya sangat merah, meski dia kelihatan kesal tapi di sisi lain dia juga kelihatan lega.
"Ku harap anak bodoh dan hampa ini bisa kembali seperti dulu" Batin Yuuki dan pergi kembali ke bangkunya.
Setelah hal itu... Mereka berdua menerima pengusiran teman sekelas mereka itu.
Di lorong kelas, mereka berjalan tanpa kata.
__ADS_1
"Apa salahku coba? Padahal aku bela diri" Pikir Luvia dalam diam.
"Dasar bodoh, kalau dia mau mesum, jangan di kelas juga kali" Pikir Aires kesal.
Wajah keduanya tak mengenakan, mereka saling menatap kearah berlawanan seolah tidak mau memandang satu sama lain.
Sampai di belakang taman sekolah, mereka duduk berdekatan tapi ... Saling membelakangi.
"Aires bodoh, sakit banget kepalaku di pukul" Keluh Luvia.
"Temenku ini normal apa gak sih? " Heran Aires.
Seorang cowok dengan rambut hijau melintas di lorong dan berakhir di taman belakang sekolah membawa banyak buku di kedua tangannya, saat menghitung jumlah buku itu, dia seperti merasakan suasana aneh di sekitaran taman belakang sekolah.
Dia melihat sekeliling dan menemukan dua orang cewek sedang duduk di dekat pohon nampak mengumpulkan kekuatan, cowok itu adalah Reno.
"Aires?? Kenapa dia tidak masuk ke kelas?" Gumam Reno heran.
Reno habis dari kantor guru yang letaknya di dekat halaman belakang sekolah, Reno mengambil buku tugas dan tidak tau apapun masalah di kelas.
Dia memutuskan untuk menghampiri mereka, berniat menegur, mungkin.
Aires maupun Luvia tak ada yang bicara, tapi keduanya terlihat sangat kesal.
Angin dingin berhembus membelai kulit mereka dan menerbangkan daun kuning pepohonan taman yang bisa di hitung. Saat satu daun menyentuh tanah, saat itu juga mereka berdua saling berhadapan.
Reno yang menghampiri mereka terhenti di tengah jalan, dia terkejut melihat mereka berdua, seperti sedang main film Action.
"Kenapa kau menciumnya?" Buka Aires lebih dulu, dia kelihatan tak bisa lagi menahan rasa penasaranya.
"Aku tidak sengaja" Jawab Luvia polos.
"Mana mungkin, kau sengaja menarik kerah bajunya" Tolak Aires.
"Tidak, itu salah, aku menarik kerahnya untuk menghindari tamparan" Tukas Luvia.
"Hoo, begitu, tapi bukankah ada cara lain selain hal konyol itu" Cerca Aires.
"Tidak ada cara lain, bukankah ada pepatah hadapi apa yang ada di depanmu" Jelas Luvia tak mau kalah.
"Heh, kau sudah bisa ngeles ya, menggunakan pepatah tak berprinsip yang tak pernah ku dengar itu, murahan, konyol" Ejek Aires.
"Apa?!! konyol?" Tekan Luvia
"Iya, Kamu mau Apa?!!"
Tatapan mereka berdua semakin tajam, perdebatan sengit itu membuat Reno menelan ludah.
"Bagaimana caraku memanggil mereka?"
"Kau iri ya Aires" Cetus Luvia.
"Heh, iri? Kau tidak bisa lihat ya, bibirku lebih mahal darimu yang pasaran itu"
"Apa?!! Pasaran!" Luvia benar-benar geram.
"Emang benar, kan?" Tanya Aires menekan.
"Sombong, Aku jadi penasaran siapa kiss pertamamu, Apa dengan cowok itu ya?" Singgung Luvia yang membuat wajah Aires memerah.
"Aku lupa kiss pertamaku, jangan ngomong aneh-aneh, emangnya kiss pertamamu sama siapa?" Tanya balik Aires.
"Kiss pertamaku?" Heran Luvia.
"Heeh, jangan bilang sama cewek kasar tadi? " Sindir Aires.
"Emhh.. Gak kayaknya.. Emang kenapa? " Aires penasaran.
"Saat menciumnya aku.. Merasakan sesuatu" Jelas Luvia.
"Ha? Rasain apa? Bibirnya?"
"Ngapain aku ingat rasa bibirnya, mulutnya aja bau alkohol, pusing aku.. Bukan itu, tapi... Aku kayak kenal sama dia"
"Ee..HaHaHaHaHa.. Artinya... Sebenarnya Kau hanya pengen membanggakan kiss mu dengan cewek itu kan, lalu kau membuat sensasi aneh kayak di anime-anime roman, Otak mu sudah tidak waras" Ceplos Aires. Sepertinya Aires emang kurang peka.
Luvia geram mendengar ucapan Aires yang sudah kelewat batas. Padahal dia serius soal perasaan bingungnya itu.
"Gezz Aires bodoh.. Itu lebih baik dari pada kena tampar tau, dasar Aires gak peka" Teriak Luvia.
"Apa katamu?!!!"
Mata mereka berdua kembali berapi-api, tak ada yang berkedip, angin berhembus lagi membuat surai mereka berdua menari-nari kecil.
Reno tersenyum geli, dia merasa ini adalah kesempatannya untuk menegur mereka.
"Hei kalian, ada tugas dari pak Yamada Uzumaki, ayo masuk kelas" Potong Reno dengan senyum khasnya.
Luvia dan Aires langsung menatap tajam Reno, dia bagai kena reruntuhan batu melihat kemarahan meraka berdua tertuju padanya, senyumnya hilang dalam sekejap.
"Aku hanya mengingatkan" Sambungnya sedikit gemetar.
"Kau dengar Luvia Monster kiss?"
Luvia mengangguk.
"Pak Uzumaki"
Dan .. Mereka berdua tertawa lepas membuat Reno memiringkan kepala tambah bingung.
"Haa? Sebenarnya mereka ini bertengkar atau apa?"
"Reno, Pak Uzumaki kemana?" Tanya Luvia, dia mendekatinya dengan raut jahil.
Melihat perubahan tingkah Luvia, dia agak memundurkan badannya.
"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Reno gugup sambil menahan buku-buku yang di bawanya.
"Apa ya?? Kiss mungkin" Ucap Luvia Jahil.
Reno mengantup bibirnya rapat-rapat dan menggelengkan kepalanya menolak.
"Jangan lakuin hal bodoh" Tolaknya.
Aires sangat kesal melihat tingkah Luvia yang sudah keluar batas.
"Luvia!" panggil Aires.
Luvia mengalihkan pandangannya.
"Apa?"
Wajah Aires sangat dekat dengannya membuat Luvia kaget bukan main, dia segera mendorong bahu temannya itu.
"Aku waras Aires" Tukasnya.
__ADS_1
"Heee, benarkah?"
"Iya, jangan lakuin hal bodoh"
"Kau mencopy kata-kataku" Sahut Reno.
"Sini Luvia, bukan kah kau suka kiss"
Aires mulai mendekatinya lagi, melihat itu Luvia merasa ketakutan, dan ada rasa jijik. Dia juga bergidik ngeri.
"Jangannn!! Aku masih Waras AIRESS!!" Teriaknya lalu berlari kencang meninggalkan Aires di belakang.
Aires ikut mengejarnya, namun berhenti sesaat, dia menatap Reno, melambaikan tangan dan tersenyum manis.
"Makasih Reno, sampai jumpa di kelas" Ucapnya.
Reno sangat senang mendapatkan perhatian Aires, meskipun kelakuannya saat bersama Luvia dan saat sendirian jauh berbeda.
Aires sambil tertawa geli mengejar Luvia yang berlari seperti ketemu setan, mereka membuat keributan di setiap lorong kelas dengan teriakan juga tawa, masa remaja indah yang tak akan pernah bisa di lakukan di masa depan.
______
Bercerita tentang lorong, kali ini ada orang tua yang kelihatan cemas akan sesuatu, mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mereka kedua orang tua Erlo.
Ziri berdiri di depan pintu kamar Erlo yang sedang sibuk dengan pemeriksaan, tak lama kedua orang tua Erlo sampai di depan kamar Erlo yang langsung di beri hormat oleh Ziri. Dia membukakan pintu kamar dan melihat beberapa dokter nampak murung.
Kedua orang tua Erlo dengan tenang menghampiri dokter, dan menanyakan banyak hal.
"Bagaimana keadaan Erlo Dok?"
Dokter menggeleng pelan, membuat ibu Erlo menahan air mata.
"Dia perlu oprasi jantung segera, kalau tidak .. Dia tidak akan bertahan"
"Kalau begitu lakukan secepatnya"
"Tidak ada persedian jantung di rumah sakit ini sekarang, dan tipe jantung Tuan Erlo tergolong langka"
"Lakukan apapun, jangan samapai anakku mati, atau ku tuntut kalian semua" Ucapnya mulai geram.
Dokter hanya diam mendengarnya, dia menundukan kepala seolah tak ada kata lagi.
Ayah Erlo sangat marah, dia mulai kacau, lalu dia mengambil ponsel di sakunya menelpon seseorang.
"Dokter tidak bisa melakukan apapun lagi?" Tanyanya sekali lagi.
Anggukan pelan sang dokter menjawab semuanya.
Tak lama, telponnya di angkat.
"Hallo, apa kau punya jantung sama dengan Erlo?"
"...."
"Bagus, segera antar ke rumah sakit ini sekarang"
Dia mematikan panggilan dan menatap tajam dokter itu.
"Kau dengar, saat jantungnya sampai jangan ada kegagalan dalam oprasinya, mengerti!!"
"Baik Tuan"
"Erlo akan baik-baik saja kan?" Tanya sang istri.
"Iya, kau sudah bisa tenang itu lebih dari cukup, aku yakin usaha kita tidak sia-sia"
Ibunya Erlo mengangguk pelan, ia membelai rambut Erlo dan menatapnya lirih.
"Cepat bangun sayang"
______
Persidangan di mulai, Gerald duduk di tengah-tengah penonton yang hadir. Tak ada jaksa penuntut, tak ada pengacara, hanya ada hakim dan beberapa polisi.
Banyak kamera yang menyorotnya, dan para reporter dengan laptopnya, orang tua yang kehilangan anaknya, juga beberapa petinggi.
Sidang itu terkesan sangat aneh, tidak ada bantuan untui Gerald dan tidak ada tuntutan yang biasa terjadi di persidangan.
Wajah mereka yang berada di ruangan itu nampak sangat tegang, ada yang geram, marah, jijik, kesal, dan tidak sabar, apalagi keluarga korban.
Gerald menatap hampa semua kamera yang tertuju padanya, di saat itu juga seseorang dengan topeng Jack Ther Rapper menonton di ruangan bercat biru muda, tanpa ada penerangan dan jendela, hanya cahaya Tv yang memberikan gambaran seperti apa ruangan yang sedang di tempatinya itu.
Tangannya memainkan bola bisbol, memutar-mutarnya lalu melempar kesembarang arah.
Dia terkekeh, sepertinya itu kebiasaan yang sering di lakukannya.
"Wajah polos itu, membuat perutku geli"
_____
Jarden sudah siap dengan map birunya, Leonardo duduk di sisi kanan Gerald, dan para hakim berada di depannya berjarak cukup jauh.
Hakim di tengah mengetuk palu, membuyarkan ketegangan dengan suara ketukan mutlak itu.
"Hukuman akan segera di jatuhkan" Suara Hakim itu menggema di seluruh ruangan.
Jarden berdiri dari kursinya yang berada di samping Leonardo, dia berjalan ketengah tepat di depan Gerald.
"Saya yang akan mengusulkan hukuman apa yang pantas di terima olehnya" Ucap Jarden dengan gagahnya.
"Silahkan" Serah sang Hakim.
"Hukuman, untuk penjahat yang bernama Gerald atas apa yang sudah di lakukannya adalah...."
"Dia akan di jatuhi penjara selama 2 minggu, di lanjutkan dengan pengasingan seumur hidup, tidak di anggap sebagai masyarakat Harnzov, dia tetap mendapatkan Hak bersekolah, namun apapun yang masyarakat lakukan padanya tidak akan di hukum kecuali membunuhnya, ini hukuman mental bagi anak di bawah umur 20 tahun yang akan di resmikan tahun depan, tapi aku akan menggunkan hukum itu pada anak ini"
Suara berisik dari penonton yang hadirpun menggema di dalam ruangan, suara ketikan keyboard laptop juga ikut meramaikan, sebagian ada yang tidak mengerti dengan hukuman yang di terima Gerald, ada juga yang merasa tidak puas.
"Yang artinya, meski bersekolah, dia sama seperti tidak pernah ada, hanya saja masih di bimbing melalui pendidikan" Sambungnya.
Dari Tv itu Jack The Ripper melihat bagaimana ekspresi Gerald saat di jatuhi hukuman yang tidak pernah di duganya.
Wajah tenang bermata sayu itu berubah gusar, dia seakan ingin sekali menolak hukuman itu.
Suara tawa mengerikan keluar dari mulut Jack The Ripper itu, dia puas, dia bangga, dan merasa berkuasa, dia mentertawakan musuhnya yang sudah terperangkap dalam perangkap mencekek leher hingga hampir putus, menggeliat ingin melepaskan diri tapi tidak berdaya.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan Gerald"
.
.
.
.
__ADS_1
Ada pepatah bilang, hadapi apa yang ada di depanmu. Saat aku mencobanya, aku malah tercebur, tapi mungkin ini lebih baik dari pada lari dan di cap pengecut seumur hidup.
Gerald.