
Rabu, 17 Januari 2018
Sore pukul 17:20
****** ****** ****** ******
*Aku di sini dengan segenggam kemauan. Dari kapal yang tenang ini aku sudah dihadang oleh ombak besar di depan. Rasa percaya diriku terlalu kecil untuk menghadapi masalahku yang sangat mengerikan, di tempat di mana kalian semua pasti tak menginginkannya, di rumah yang bukan keluarga sendiri.
Susana didalam rumah besar dan megah itu aku...
Tak bisa mempertahankan rasa hormatku.
Aku... Lebih memilih mengetahui kenyataan di banding menjadi boneka.
"Pergi saja kemanapun kamu mau, jangan tampakan wajahmu itu lagi"
Suara keras menghantam telinga dan mentalku yang hanya seorang anak perempuan berumur 16 tahun yang sedang berdiri lemas di depan pintu,tak ada kekuatan sama sekali.
Aku menangis dalam hening, hanya air mata yang mengalir membasahi wajah tak berdosa ku yang jujur tak tau apa-apa.
"Kenapa? Apa salahku ibu?!"
Tanyaku dengan nada serak menahan suara tangis.
"Pergi saja, kamu membunuh anakku, itu SEMUA SALAHMU" Teriaknya padaku yang terasak di tusuk-tusuk di dada. perempuan paruh baya itu berteriak dengan nada berapi-api, membuatku semakin lemas dan lemah,
Jatuh.
Suaranya menyiratkan kebenciannya yang tak tertahankan lagi padaku.
Meski begitu....
Aku mencoba dalam keputusasaan untuk memastikan satu hal....
"Apa aku bukan anakmu?"
Tatapannya waktu itu, lebih mengerikan di banding sebilah pisau...
Ya...
Aku sudah tau jawabannya tanpa dia harus menjawab....
Jelas sekali...
Satu kata darinya saja...
Sudah cukup...
"Pergi!!!! " Teriaknya menolak menjawab.
Itu wajar di terima olehku kan...
Karna aku...
Bukanlah anak kandungnya...
Aku hanya anak pungutannya!!
Peranku sebagai boneka penghiburnya telah lenyap....
Sepertinya aku...
Bisa terbang sekarang, tanpa harus merasakan ganasnya ombak di dalam kapal rusak*...
****** ****** ****** ******
"Hei hei..."
Suara seruan itu membangunkannya dari masa lalu yang kelam.
Tepukan di pundak beruntun itu berasal dari seseorang yang duduk di sampingnya, mencairkan suasana hatinya yang beberapa detik lalu membeku.
"Hey.. Coba perhatikan cowok itu, lumayan kan, mau kencan buta gak sama dia? Ku comblangin 100% berhasil" Ucap seseorang di sampingnya itu dengan nada semangat, dia anak yang jelas sekali periang.
"Aa.. Boleh juga" responnya agak canggung, dia bahkan nyengir malas karna yah baru saja dia kembali ke alam nyata.
"Kapan?" desak temannya yang over hiper itu.
Dia agak kaget dengan ledakan semangat temannya itu, dia jadi nyesel menjawab asal-asalan tadi.
"Tunggu Luvia, aku harus siap dulu" balasnya.
"Ah, gak asik!" cetus temannya.
"Aa.. He he.. Oh ya... Ini sudah terlalu sore, nah ayo pulang, Luvia" ajaknya pada sang teman yang langsung merengut.
Dia makin kesusahan.
Percakapan tentang cinta yang di harapkan temannya itu malah berakhir cepat, itu membuatnya merengut.
"Ayolah" Ucapanya lagi pada Luvia dengan menggoyang-goyang tubuh ringannya.
"Blee... Gak mau! " Ledek Luvia.
Dia hanya bisa menghela malas.
Dua orang anak perempuan remaja yang sedang bicara di bangku taman ini, memutuskan pergi setelah luvia berdiri duluan dengan wajah yang masih merengut. Mereka duduk cukup lama untuk menghilangkan stress dengan memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka yang juga sedang menikmati matahari tenggelam di sela-sela gedung pencakar langit kota ini. Tapi sang teman seakan tak ingin membahas hal rumit seperti cinta di situ, dia memutuskan untuk tak melanjutkannya meski tau temannya Luvia bakal merajuk seperti yang telah terjadi dan masih terjadi.
Dia berdiri dan beranjak pergi dari bangku itu meninggalkan Luvia yang masih diam berdiri di depan bangku dengan cerungutnya.
Luvia melirik temannya yang ternyata dah jalan duluan, dan dia mulai menyusul dengan langkah besar.
"Cuek amat sih, Aires!"
Cetusnya.
"Eh? Bukannya kamu sendiri mau pulang? " balasanya dengan polos.
"Ck gak asik! Aires gak pekaaa emang" decak Luvia terhadap sikap Aires.
Dua anak remaja ini berjalan pulang beriringan, perempuan yang melamunkan kehidupannya itu berjalan dengan wajah sedikit aneh, seakan dia sudah terbebas tapi ada sedikit raut muak akan segala hal yang terjadi di hidupnya, perempuan itu bernama Aires.
***
"Aku akan menangkapmu, lihat saja, kau akan menyesali perbuatanmu seumur hidup di balik jeruji besi, nikmati hidup penuh belenggu ini penjahat"
Seorang laki-laki memainkan akting sebagai polisi di dalam kamarnya sendirian, dengan seriusnya dia memegang sebuah pistol dan seakan menodongkan itu pada penjahat. Yah meski sebenarnya dia memang memakai pakaian ala atasan polisi.
"Wah, ini menakjubkan"
Memandang pistol, merasa takjub.
"Sepertinya tak terlalu buruk membaca novel kriminal, kata-kataku lebih bermakna"
Terkekeh senang.
__ADS_1
Dia bertubuh tinggi dengan rambut berwarna coklat. Dari wajah bisa di perkirakan kalau dia berumur 25 tahun keatas, memakai jas abu-abu, sepatu hitam mengkilat. Tak lupa tanda pengenal yang di taruhnya dalam saku, nah kan.. Dia emang atasan polisi.
"Ok, kita akan tau target berikutnya, Jarden"
Ucapnya pada dirinya sendiri di depan cermin, dia mengagumi ketampanannya yang langka di sana.
Di saat dia ingin meletakkan pistol berharganya di tempat khusus, tiba-tiba saja telpon di sakunya berdering, dia segera mengangkatnya.
"Hallo? Ini Jarden Farges dari kepolisian tingkat A divisi Kriminal Ekstrim" Buka Jarden.
"Target sudah di tentukan" Balas orang di telpon.
Suara serak dengan nafas berat terdengar di telpon.
"Hoo.. Kukira ini dari korban, heh" Respon Jarden dengan Senyum acak.
"Haruskah aku bergerak sekarang? "
Tanyanya memastikan.
"Apa itu boleh? Tapi lebih cepat lebih baik sih" Jawab Jarden seakan dia bukan pemegang kendali.
"Sesuai Intruksi dewa, aku akan mengacaukan semuanya"
Ucap orang di telpon dengan nada bergairah.
"Ini akan menyenangkan! Perlihatkan hal yang menarik ya, aku tidak sabar melihatnya" Balas Jarden.
Panggilan itu berakhir, pembicaraan yang di lakukannya dengan orang di telpon seakan mencekam karna suara berat lelaki yang menelpon sangat sarat akan kejahatan.
Laki-laki bernama Jarden ini, melangkahkan kakinya keluar kamar, suara pintu di tutup pun terdengar, kini dia tak terlihat lagi.
***
Dentuman keras di rasakan gendang telinga laki-laki berjaket hitam Gerald, di dalam ruangan minim cahaya. Di ruangan yang cukup gelap itu masih bisa terlihat dia meringis kesakitan. Wajahnya memar akibat pukulan, dan ada sedikit darah di sisi bibirnya yang pecah. Suara dentuman itu berasal dari sebuah benda yang menghantam dinding beton di dekatnya. Saking kerasnya benda itu di lempar hingga menimbulkan suara nyaring, membuat mental kecut. Gerald sedang mengalami penyiksaan di tempat minim cahaya, di tempat asing dan banyak tumpukan barang bekas. Seseorang yang tega melakukan itu masih samar-samar, di lihat bentuk tubuh, dia adalah seorang pria dewasa, bajunya rapi berwarna hitam, dia sepertinya memakai Jas?.
"Sakit?"
Tanyanya, dengan suara ringan sedikit hampa yang keluar cukup menakutkan di dengar.
Dia juga terkekeh senang.
"Masih mau melakukannya?"
Tambahnya.
Dia mulai mendekati Gerald yang terduduk suntuk di lantai dengan wajah menunduk.
"Perlihatkan wajahmu sayang?"
Kata-katannya menghantam mental Gerald perlahan. Dia berjalan semakin dekat, dan semakin dekat, tapi dia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aa... Apa kata Sayang! Ini hanya berlaku untukmu di masa lalu?"
"Aaa... Bukan, tapi ini panggilan khusus untuk hewan peliharaan sepertimu" Ucapnya di iringi tawa.
Setelah berucap seperti itu dia kembali berjalan lamban mendekati Gerald. Degup jantung Gerald berpacu cepat seiringan dengan suara langkah lambat yang mengerikan itu mendekat. Dia tak tau siksa'an macam apa yang akan di lakukan pria itu lagi, memikirkannya saja membuat keringat dingin bagai aliran sungai yang deras mengucur membasahi tubuh. Buliran keringat secara perlahan jatuh kelantai, menciptakan bulatan kecil meresap.
Lalu pria itu terdengar bersenandung pelan menyanyikan sebuah lagu pendek sambil berjalan perlahan mendekati Gerald.
**Di sini ada boneka jatuh...**
**siapa yang mau membantuku...**
**kamu? Atau kamu?...**
Lagi terkekeh mengerikan saat dia menyelesaikan lagu itu. Tapi bukannya berhenti dia malah menyanyikan lagu aneh itu berulang-ulang dengan senyum licik, dia seolah tau itu adalah ketakutan terbesar Gerald. Dia menyanyikan lagi lagu itu sambil mendekati Gerald yang mengiringi langkahnya sesuai ketukan lagu. Dia mengamati perubahan sikap Gerald yang awalnya hanya diam mulai bergumam-gumam pelan dan malah terdengar seperti bisikan. Dia tak peduli malahan, melihat hal itu dia makin semangat menyanyikan lagi itu dan wajahnya yang awalnya tak terlihat mulai nampak.
"Hentikan! " gumam Gerald pelan.
Gerald mengepalkan tangannya kuat dan tangan satunya bergetar mencubit celana lusuhnya.
"Hentikan! "
Pria itu terkekeh dan kembali mengulang lagu yang sama dan kalau di hitung mungkin dia telah mengulangnya 5 kali.
"Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan!"
"Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan!"
"Hentikan! Ku mohon! Ku mohon! Telingaku sakit! Ku mohon! Kau menyakiti jiwaku! Hentikan!!"
"HENTIKAN!!!"
Teriaknya keras meluapkan gumamannya yang pelan itu.
Teriakan yang tiba-tiba saja keluar tanpa beban dari mulut Gerald dengan kerasnya itu akhirnya terdengar, dan hal itu mampu menghentikan langkah pria itu tepat 1 m di depannya. Wajah pria itu kini terlihat jelas, dia benar-benar seorang pria dewasa dengan pakaian pelayan seorang bangsawan. Rapi, bersih, tapi kelakuannya sekeji pembunuh.
"Cukup untuk hari ini, ingat!! kalau kau semakin liar, aku akan berindak lebih dari apa yang kau bayangkan"
Ancamnya.
Setelah melontarkan ancaman dengan nada datar namun mengintimidasi, diapun pergi meninggalkan Gerald yang masih suntuk. Badannya bergetar kecil, bibirnya sedikit membiru, Gerald sangat ketakutan setelah mendengar lantunan lagu aneh itu.
Kenapa? Kenapa bisa laki-laki cukup dewasa seperti dia merasa takut dengan sebuah lagu?
Yang bisa di katakan juga kalau lantunan lagu itu tidak terlalu horor.
Entahlah! Tapi sepertinya semua orang punya ketakutannya sendiri, percayalah!.
***
Malam hari di tengah Kota QOINZE.
Terlihat Dua perempuan yang duduk di taman itu, Aires&Luvia, berjalan-jalan dengan santainya menikmati indahnya pemandangan malam di tengah kota yang gemerlap, banyak sekali orang di sana, semua toko dan restoran penuh dengan pelanggan. Meski kelihatan memanjakan mata namun ternyata wajah salah satu dari mereka nampak cemas, dia Luvia.
"Kita bisa di kunci penjaga kalau terlambat Aires"
Keluh Luvia teman yang setia mengikutinya meski kadang merajuk pada Aires yang matanya mengamati toko-toko yang di laluinya.
"Sebentar aja"
Sahutnya santai tanpa menatap Luvia yang dari tadi memandangi wajahnya.
"Ck terus aja gitu" decak Luvia tapi di abaikan, diapun juga buang muka dan melihat kejalan raya yang penuh dengan mobil.
Mereka berjalan-jalan di depan toko-toko hingga beberapa saat sampai Aires menghentikan langkahnya tiba-tiba. Dia sepertinya sudah mendapatkan toko yang sedang di carinya sedari tadi. Ya, toko yang pastinya gak asing lagi di dunia ini, hampir semua orang suka toko ini. Toko Anime.
"Ngapain kisini?" Tanya Luvia cemas.
Aires tak memperdulikan temennya yang berisik itu dan nyelonong aja masuk ke dalam toko sendirian. Luvia yang masih berada di luar sesaat gak pecaya dia di tinggalin begitu saja, karna merasa jengkel diapun memutuskan untuk pergi kesuatu tempat di banding mengikuti Aires di toko yang tak di sukainya.
"Anime?! I Hate You! " Celotehnya sambil berjalan pergi.
Aires yang berada di dalam toko, mencari CD populer bulan ini, meski ada banyak sekali CD baru tapi yang merarik perhatiannya adalah CD One Puch Man. Tanpa pikir panjang dia membeli CD itu. Selain itu dia juga membeli beberapa CD anime lainnya dan setelah puas memilih dia segera pergi mengantri di depan kasir.
__ADS_1
Selama di kasir dia menengok keluar toko mencoba memastikan Luvia ada atau tidak di sana. Hasilnya nihil, Aires tak melihat temannya itu. Dia sedikit gelisah dan menatap kasir yang masih menghitung belanjaannya, Aires seolah ingin CDnya cepat di hitung agar dia segera keluar.
"Dasar Luvia ****" Umpat Aires dalam hati.
Setelah CD nya selesai di bayar dia langsung keluar toko mencari Luvia.
Luvia pergi ke sebuah toko cukup jauh dari tempat Aires berada, dia tidak memperdulikan Aires dan masuk ke toko tanpa beban, padahal dia bisa saja panik mencarinya, pembalasan mungkin.
"Dia itu, benar-benar jutek, temen macam apa yang ninggalin temennya kayak sampah? Emang ada teman kayak dia? Dasar! huh!"
Gerutunya sepanjang jalan menuju tempat pemesanan.
Sampai di depan meja pemesanan dia memesan ayam pedas dua porsi di bungkus.
(By The Way itu buat apa ya? Dia ini lagi marah atau gimana ya?Pertemanan mereka agak gak nyambung.)
Selesai memesan ayam dia, terpana sama si penjual yang memang ganteng. Saat pesanannya di depan mata tinggal di ambil dan bayar, Luvia senyum gak jelas.
"Kakak kok ganteng sih" Ceplosnya memuji.
Si penjual merespon santai dengan melempar senyum ramah.
"Banyak yang bilang kayak gitu kok" Balas si penjual santuy tapi kepedean.
"Oh, berarti kakak populer ya?"
Si penjual tertawa kecil mendengarnya.
"Gak juga, itu berlebihan namanya" Balasnya rendah diri.
"Kakak juga sopan ya, udah punya pacar belum?" Tanya Luvia agak dalam.
Si penjual terdiam sejenak, dia bingung mau jawab atau tidak. Tapi tiba-tiba seorang pelangan menghampiri meja pesanan, secara tidak langsung itu menyelamatkan privasinya.
"Mas beli ayamnya satu" Pesan pelanggan itu.
"Ah, iya!" Sahut penjual.
"Anu dik, kakak sibuk maaf ya" Kata si penjual pada Luvia dan beralih ke pelanggan itu.
"Tapi kak, gak boleh gitu" Ucap Luvia namun di abaikan.
Si penjual itu segera kembali kebelakang meninggalkannya setelah menerima pesanan dan menyuruh orang lain menggantikannya di depan. Luvia merasa di campakan, dia meletakan uang di atas meja dan segera keluar toko dengan perasa'an kecewa.
"Haah.... Dia kenapa sih? Padahal aku cuman mau diskon doang"
Batinnya.
"Aa... Seharusnya aku pakai gaya imut aja ya, mungkin lebih efektif"
Lagi pikirannya berlayar.
"Haah.. Apa aku tadi langsung bilang aja? Kayaknya Aires jauh lebih jago soal beginian, ahh kenapa aku jadi mikirin dia sih, semoga aja dia gak ketemu aku lagi, apa ini berlebihan? (Natap ayam di tangannya) Ck kenapa aku beliin ayam juga buat dia? Bodoh"
Gerutunya dalam hati tanpa henti hingga tanpa sadar dia telah berada di luar toko, namun...
Dia kaget karna Aires telah menunggunya di luar dengan sekantong CD baru dan senyum polos, gak merasa bersalah.
"Oo.. Kapan? Tau dari mana aku di sini" Heran Luvia.
"Tanya sama orang" Jawab Aires simpel.
"Hah!! kok bisa? Jarak toko ini sama toko onoh kan lumayan?" Herannya lagi.
Aires terkekeh pelan.
"Apa aku salah nanya? " Rengut Luvia melihat Aires yang merasa lucu.
"Gak kok, cuman kamu itu mudah di cari dan orang-orang juga pasti bakal ingat meski hanya sekali liat kamu" Jelas Aires sembari tersenyum nakal.
Luvia menyerngitkan keningnya.
"Apa'an? Kamu jangan bohongin aku!" Cetus Luvia.
Aires tersenyum jail dia ngeluarin Samsung Galaxy Note S10+ nya lalu dia berjalan kebelakang Luvia dan memotret. Luvia jelas keheranan tapi dia membiarkan Aires dan menunggu hasil fotonya, tanpa lama Aires nunjukn hasil Foto dan hal itu membuat Luvia melongo. Aires tertawa ringan tapi sepertinya perutnya geli jadi tawanya terdengar agak terbahak-bahak.
Pantas saja Aires mampu menemukan Luvia kalau di belakang baju Luvia tertempel kertas bertulisan.
KALAU LIHAT DIA HUBUNGI POLISI!
Luvia seakan tak percaya dengan tingkah temannya itu.
"Aires, polisi gak bakal datang kesini kan? " Tanyanya dengan nada jengkel juga panik.
"Mana ku tau?!" Jawabnya sambil ngangkat dua bahu, dan tertawa lagi.
"Yah, kamu bukan main, sejak kapan ini tertempel?" keluh Luvia, dia juga berusaha ambil kertas tempelan itu di belakang punggungnya.
Ternyata Aires sudah menempel kertas itu 1 menit sebelum sampai toko anime, dengan berpura-pura memeluk manja Luvia.
Mendengar penjelasan Aires, Luvia marah bukan main.
"Aires ****! ****! ****! ****! ****! BEGOOO!!!!" Umpat Luvia geram sambil meremas kertas itu. Sedangkan Aires masih mentertawakannya.
Di satu sisi, tapat beberapa toko di belakang Luvia & Aires, ada seseorang yang diam-diam sedang mengintai mereka berdua, entah siapa. Dia memakai jaket dan masker hitam, matanya saja tak jelas sangat tertutup, dia pandai menyembunyikan diri. Orang-orang di sekitarannya saja tidak curiga apapun karna memang di tempat itu terkenal dengan cosplay anime yang lumrah di pakai oleh para Wibu. Mungkin orang-orang berpikir dia sedang cosplay baju ninja.
Seseorang itu menekan sesuatu di dekat telinganya.
"Mereka di luar" Ucapnya berkomunikasi dengan orang lain di sebrang.
Suaranya terdengar berat sedikit melengking, saringan? Ini jelas menandakan kalau dia laki-laki. Dia bicara dengan seseorang melalui alat kecil, dan tak lama terdengar kata...
....... "Lakukan! "
Dari lawan bicaranya yang entah siapa.
Mendengar itu matanya berubah bergairah.
"Baik" Balasnya.
Dia bergerak setelah menerima perintah. Pria dengan pakaian serba hitam itu berjalan perlahan mendekati Aires juga Luvia yang nampaknya masih bertengkar manja (saling pukul malahan). Orang-orang yang berjalan di sekitarnya tak menaruh rasa curiga apapun karna di kira dia ninja dari desa konoha, hal itu membuatnya leluasa bergerak.
Langkahnya yang awalnya pelan, perlahan bertambah cepat dan semakin cepat, jaraknya yang mulai dekat manambah kegesitan tubuhnya yang lincah, dia mengeluarkan sebilah pisau tajam di belakang tubuhnya. Dengan liarnya dia sedikit berlari, sampai akhirnya pisau itu menusuk tubuh tak berdosa, darah mengalir deras, mulailah ada reaksi dari orang-orang sekitar karna ulahnya, mereka melihat pemandangan itu dengan mata terkejut dan teriakan mulai bergema di tempat itu, membuat mereka berhamburan berlari tak tentu arah menyelamatkan diri.
Siapakah yang di tusuknya?
Apa yang di inginkannya?
Siapa yang menyuruhnya?
Tidak ada yang tau.
Orang-orang sekitar bisa mendengar suara tawanya, suara tawa dari seorang pembunuh. Dia penjahat dengan baju mirip ninja itu seakan menikmati kekacuan yang di lakukannya. Hingga tak lama terdengar bisikan aneh di telinganya.
"You will be the a jackpot in this game!"
__ADS_1
Mereka cuman bisa berteriak takut dan berlalari menyelamatkan diri sendiri? Mereka dengan mudahnya meninggalkan orang yang tak berdaya yang sedang kesakitan dan perlu bantuan. Apa mereka itu manusia? Cih sampah!! tuanku bahkan lebih berhati dari mereka yang sok punya hati.
Black Man.