
Kantor Polisi
"Bangsawan? Mana mungkin, dia adalah anak yang 2 hari lalu ku introgasi" Polisi dengan mata hijau ini menolak pernyataan salah satu polisi yang ikut dalam penangkapan dalam pembunuhan di salah satu rumah di perumahan mewah. "Iya pak, saya tidak bohong. Dia ada di ruang introgasi bersama tuan Jarden" Leonardo terdiam, polisi itu tetap kokoh pada kata-katanya. "Kenapa aku tidak di panggil untuk bertugas bersama kalian?" Tanya Leonardo kesal.
Polisi itu menggeleng tak tau "Saya hanya di suruh menyampaikannya saja pada anda pak" Jelas Polisi itu.
Leonardo Mencerna cepat.
"Baiklah, kamu boleh pergi" Polisi itu keluar dari ruangan khusus Leo dengan hormat walapun wajahnya agak jengkel
"Dasar, atasan sok berkuasa" gerutunya.
Bukannya menghampiri Jarden di ruang introgasi Leonardo malah tersenyum dan kembali pada aktivitasnya.
"Game ini menyenangkan".
Ruang Intogasi
Haris duduk dengan tenangnya di kursi yang sering di duduki penjahat. Tanganya terborgol seperti penjahat kelas atas, dia di sangka dengan tuduhan kasus pembunuhan masal di salah satu rumah mewah. Berhadapan dengan Jarden, Haris tersenyum hangat padanya yang dari tadi menatap dengan sinis, mereka bedua tak bicara satu patah kata pun hanya saling menatap. Setelah 20 menit berlalu dalam diam, Jarden keluar ruangan menghampiri polisi yang berjaga di depan monitor.
"Kalian pergilah, biar aku yang urus" Perintahnya.
Namun 2 polisi yang berjaga kurang setuju. "Tidak bisa tuan, kalau terjadi apa-apa bagaimana?"
Jarden tersenyum.
"Kalian meremehkanku?" Menggeleng serempak.
"Pergilah, dia bangsawan, ini akan jadi rahasia, mengerti"
Tanpa bicara mereka meninggalkan Jarden keluar, salah satu dari mereka memasang wajah heran.
"Aneh ya, kenapa bangsawan sangat di junjung kaya raja aja, padahalkan ini era moderen dan sistemnya aja udah beda" gumamnya.
Teman satunya hanya tersenyum kecil.
Setelah merasa sunyi Jarden mematikan monitor serta mengedapkan suara. Dia kembali lagi menghampiri Haris yang sangat tenang, aksinya ini di luar aturan polisi, kenapa dia melakukannya, apa karna Game?.
"Baiklah, kamu boleh bicara sekarang"
____
Luvia
Di sini sangat gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Sungguh di sini aku sangat ketakutan, mana teman-temanku, guruku, sahabatku, mana mereka, kenapa hanya tinggal aku disini, kenapa? Aku menjerit tapi tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun, sakit sekali rasanya, di sini sangat dingin, tolong aku, siapapun TOLONG AKU!!!.
"Hiks hiks hiks"
Apa ini, aku mendengar suara tangisan, siapa yang menangis? siapa? oh tidak ini suara anak kecil, perempuankah? Aku sunguh bingung, siapapun tolong pegang tanganku, TOLONG!!!.
"Kenapa dia belum bangun?" Aires di penuhi dengan kecemasan bertanya dengan menatap wajah dokter yang memeriksa keada'an temannya itu. Tapi sang dokter malah menghela berat seakan hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, dia menatap wajah Aires dengan rasa bersalah.
"Saya tidak bisa memastikan pernyataan saya ini benar atau tidak" jeda sesaat "Dia mengalami trauma fisik dan emosianal secara bersama'an, harus ada seseorang yang menemaninya, saya rasa ini akan sulit, karna tubuhnya belum bisa merespon otaknya, kemungkinan dia bisa bangun kembali hanya 0,001% tapi tidak mustahil sembuh, karna saya belum pernah mengobati pasien seperti ini, saya akan carikan dokter khusus"
Bukannya mengerti, Aires malah makin bingung dan cemas.
"Dok, dia pasti sakit, saya tidak mengerti sama sekali maksud anda, bukankah anda ini ahli, kapan dokternya ada, anda butuh uang kan, saya punya banyak, gak ada nama penyakitnya gitu? Mustahil, pasti ada, sindrom apa itu aku gak ngerti tapi kenapa dokter kayak gini?" Dokter kebingungan untuk menjelaskan keada'an Luvia secara logika seperti ilmu kedokteran pada Aires, karna dia sendiri ragu untuk memberikan obat mana yang cocok untuk keada'an langka ini. " Ma'afkan saya, untuk sekarang teruslah di sampingnya dan hubungi orang terdekatnya, mungkin saja ada yang tau bagaimana cara menyembuhkannya" Saran dokter itu lalu dia pergi meninggalkan Aires begitu saja tanpa meminta bayaran. "Dokter!!" Panggilnya tapi sia-sia, dokter itu mengabaikan Aires. Nafasnya tercekat, dadanya mulai sesak, dia sangat kecewa hingga kakinya tak sanggup berdiri lama, dia terduduk di samping Luvia yang terbaring lemas di kasurnya, matanya berkaca-kaca seakan butiran bening hangat itu akan segera jatuh.
__ADS_1
"Luvia, bangun, kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit".
***
Aku dimana? Kenapa hanya gelap, dingin, sunyi, aku kesakitan, ku mohon keluarkan aku dari sini. Kenapa alam ini seakan luas sekali, tak ada dinding, tak ada yang bisa ku pegang, aku sudah menangis, menjerit, tapi semuanya sia-sia, tolong aku, tolong. Tak ada gunanya aku menjerit, tak ada gunanya aku merintih, tak ada gunanya aku memelas, memohon, disini tetap sunyi, gelap dan dingin. Apa ini hukuman untukku, aku ingat sesuatu "IBU" ya hanya ibuku yang bisa membangunkanku, memberiku cahaya, memberikanku jalan keluar dari kegelapan ini, tunggu.. Bukankah aku punya seseorang yang berharga di sini, ya aku ingat, kenapa aku melupapakannya, Luvia bodoh, yakinlah padanya, dia sekarang menggantikan ibu untuk menolongku, ya sahabatku "AIRES".
***
Aires keluar dari Asrama sendirian, di sore dengan warna oranye ini dia duduk lesu dengan segumpal pikiran, hawa dingin kota QOINZE menambah hampa hatinya. Wajahnya frustasi, sedih, kesal, juga jengkel dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Luvia, butiran bening hangat yang di bendungnya sekuat tenaga itu akhirnya jatuh dalam diam membasahi pipi pucatnya, Aires menggigit bibir ranumnya untuk menahan suara tangisannya yang akan menghanyutkan siapapun yang mendengarnya, membuat siapapun ingin menghapirinya, menenangkannya, dia tidak ingin itu datang padanya, dia tidak ingin orang merasa simpati padanya, dia hanya ingin meluapkan kesedihannya sendirian tanpa bantuan siapapun.
"Untuk apa aku berteman dengannya selama ini, aku hanya memperhatikan diriku dan egoku saja, aku tidak pernah memperhatikannya, aku ... (Terisak pelan) tidak pernah tau kalau dia sedang sakit" menangis dalam diam dan tambah pilu, hatinya seakan terkoyak dengan paksa, perih dan sangat menyakitkan, sangat menyiksanya.
Di saat dia sedang tersiksa itu, seorang laki-laki bertubuh tinggi, sedang menatapnya dari jauh, memperhatikannya, merasakan kesakitannya, dia laki-laki dengan wajah tampan dan keren dengan rambut biru yang sangat di kenal Aires, dia Daniel.
"Siapa yang membuatmu menangis? Akan kubunuh dia.. Aires"
Tangannya menggengam bola bisbol dan warna jasnya merah darah. Lalu dia mengambil ponsel dan memanggil seseorang. Sambil menunggu tersambung dia berkata.
"Aires apa kau tau tentang cinta? Kata Gillian Flynn dalam Novel Gone Girl nya, "cinta akan membuatmu ingin menjadi orang yang lebih baik, benar, benar. Tapi mungkin cinta, cinta sejati mungkin akan memberimu kesempatan untuk menjadi diri sendiri" dan sekarang aku menjadi diri sendiri karna mencintaimu, karna cinta ku padamu, membuatku melupakan segalanya, dan hanya tertuju padamu"
_____
Erlo menundukan wajah coolnya itu tidak seperti biasanya. Dia sedang berada dalam kafe tapi tidak sendirian, dia duduk bersama seseorang, bersama seorang cewek cantik, pacarnya? Wajahnya yang biasa percaya diri itu tenggelam seperti kapal karam, seperti putri malu, tanaman yang di pegang akan mengantup cepat, pemalu sekali.
"Erl, aku jauh-jauh dari London, negara yang juga pake kerajaan, kok kamu gitu" tak ada respon, Erlo terlalu malu menampakan wajahnya.
"Kamu kenapa sih? Kalau gini aku pulang aja" mendengar itu Erlo menatap lekat cewek yang sedang ngembek itu. "Jangan, tadi aku mikirin naskah aku sebentar, maaf sayang" walaupun dengan nada goyah dia tetap mengatakan alasannya, agar cewek itu tidak jadi pulang. Erlo memanggil cewek cantik itu sayang, mereka pacaran? Mungkin.
Dia tersenyum mendengar alasan Erlo dan kembali memasang wajah normal.
"Kita udah lama gak jalen bareng, besok aku akan cari tempat-tempat wisata, giamana?" Tanyanya antusias.
Erlo mengangguk setuju, tapi cewek itu merasa kesal karna pacarnya yang bernama Erlo itu hanya diam membeku.
"Kamu kenapa sih?" decaknya.
"Sayang, kamu tau gak apa yang aku main kan tadi di tempat latihan?" Tanya Erlo gugup.
Pacarnya berpikir mengingat apa yang terjadi di tempat latihan, lalu dia menggeleng membuat mata Erlo membulat senang.
"Beneran?!" Tanya Erlo memastikan.
Pacarnya mengangguk.
"Emangnya kenapa?". Tanyanya heran.
Erlo mengelus dada dan menatap manis padanya.
"Gak papa kok, ok besok kita jalan-jalan sepuas kamu" dia tersenyum senang, sambil menyeruput kopi.
Cewek itu menatap mata Erlo yang kini mulai percaya diri.
"Kalau aku tau, apa yang akan terjadi?" Erlo kembali membeku mendengar ucapan pacarnya itu, dalam beberapa detik dia menahan nafas.
"Bercanda" candanya dan tertawa nakal.
"Dery sayang, jangan bercanda, jantungku lemah nih" Erlo bersikap imut, mereka beneran pacaran. Jadi dia pacarnya Erlo yang menginginkan Erlo main film horor.
__ADS_1
_____
Kejadian saat Gerlad pingsan.
Keadaan di bassment panik gara-gara ulah Gerald, mereka tak percaya anak itu akan menginjak tumpuan lemari di belakangnya, sangat menyedihkan. Orang-orang bersusah payah mengeluarkan tubuhnya yang tertindih, dengan kesabaran tinggi akhirnya tubuh kurusnya itu dapat di keluarkan dan di baringkan di salah satu ruangan layak. Dia masih memejamkan matanya seakan nyawanya belum sanggup untuk bangun, para pekerja bergantian melihat keada'anya. Bukannya menyenangkan seperti bayangannya, dia malah menyebabkan sesuatu yang sangat merepotkan, dan mungkin saja dia akan di pecat lagi dari pekerja'annya ini, dan kembali harus mencari pekerja'an lain.
"Ha'ahhh, lelahnya, kapan ya nih anak bangun, aku mulai bosan kanae" keluh seseorang yang membuat gelaran jomblo pada temannya itu.
"Mana ku tau, kenapa dia malah nginjak tumpuan itu sih, padahal jelas banget, nih anak emang sial"
"Udahlah, kamu gak lihat apa, nih anak banyak perban di tubuhnya, dia pekerja keras kanae gak kayak kamu"
"Tadi ngeluh, sekarang nyeramahin aku, gak ngerti aku bisa punya teman bunglon kayak kamu, ubah dalam sekejap"
"Yee, mau ku tebokin cewek cantik nih"
Kanae buang muka, kesal.
"Tolong, tolong, jangan kejar aku, siapa kamu?"
Kanae dan temannya menatap Gerald heran.
"Dia ngingau kanae"
"Iya, kayaknya dia lagi di kejar penjahat"
"Lari, lari .. Jangan tengok kebelakang, awas api, awas, Ries!!!! Jangan tinggalin aku, tolong!!"
Mereka berdua tenggelam dalam kebingungan, melihat Gerald yang terus mengatakan hal aneh dan tak masuk akal, mereka benar-benar tidak di mengerti.
"Bangunin kanae, kasihan dia, ngadepin masa lalunya, mungkin" suruh sang teman.
"Kamu aja, aku takut" tolak kanae.
"Pengecut!" cerca temannya.
Dia mencoba membangunkan Gerald yang masih bicara naik turun, minta tolong dan kadang berteriak memanggil seseorang itu, dia menepuk-nepuk wajah Gerald pelan dan memanggil namanya tanpa henti.
"Oy oy, bangun, udah pagi nih"
Tapi..
"TOLONG!!!!!" Teriak Gerald kencang.
Mereka berdua tersentak mendengar teriakan tiba-tiba dari Gerald.
.
.
.
.
Aku harus menolong Aires, dia menangis sekarang, sakit sekali, kenapa rasanya sakit sekali, ini lebih sakit di banding mutilasi seribu kali. Tunggu Aires, sebentar lagi senyummu akan segera kembali, bisakah kamu menerima aku yang sekarang ini?
Daniel.
__ADS_1