THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
22 - Sensasi Aneh


__ADS_3

Pagi yang tenang dan tentram seperti biasa di laluinya sekejap saja menghilang di telan rasa sakit dan cemas, sekolahan yang sering di lihatnya akan menjadi gelap di gantikan dinding dingin dan jeruji yang tak di inginkan siapapun. Banyak pasang mata tertuju padanya dengan tatapan tajam, takut, menghina dan semuanya terkumpul dalam kata yang menjelaskan semua itu TIDAK SUKA.


Suara sirene polisi mengisi depan gerbang sekolahan dan jelas terlihat dari kelas Aires.


Melihat hal itu wajah Aires langsung cemas, perubahan suasana yang sangat drastis ini pasti membuat penasaran siapa saja.


Dia segera bangkit dari bangkunya dan pergi keluar kelas seperti seseorang yang sedang sangat mencemaskan sesuatu, Luvia.


Gerald di bawa oleh dua orang polisi laki-laki dan tangannya sudah di pasang borgol, kepalanya menunduk tidak berani melihat banyak mata yang sudah menanti untuk memperjelas wajah seorang penjahat seperti dirinya.


Gerald di tangkap atas tuduhan pembunuhan berantai yang sulit di ungkap beberapa hari ini.


Cahaya terang dari kamera wartawan silih berganti menerpa dirinya, suara riak-riak dengan segudang pertanyaan mengekang telinganya, Gerald akan terkenal di seluruh Kota Qoinze dengan prestasi buruknya, meskipun dia tidak pernah melakukan hal itu.


Gerald sudah hampir memasuki mobil polisi yang sudah terbuka untuknya. Bertepatan sampainya Aires di depan gerbang dan melihat langsung wajah Gerald yang sering di gosipkan itu.


Saat itu...


Baik Aires mauapun Gerald merasa seperti jantung mereka berdetak lebih keras. Karna kejutan itu Aires tertegun, diam membeku. Sedangkan Gerald mencoba menatap sekelilingnya, mencari seseorang yang memicu hal itu pada dirinya.


"Ini kan? Dia di dekat ku? Tidak mungkin! " Batin Gerald.


Sesaat kemudian Aires merasakan tangan hangat melingkari tubuhnya, memeluknya dari belakang, makin membuatnya diam tak bisa berkata dan bergerak.


"Sensasi apa ini? Jantungku seperti terhubung dengannya" Batin Aires. Matanya tertuju pada Gerald yang juga seperti kebingungan.


"Aires, kamu cari aku ya?" Ucap suara familiar di belakangnya, Luvia. Aires diam saja, matanya masih fokus pada Gerald.


"Mungkinkah karna dia? " Heran Aires.


Gerald sudah tenggelam di dalam mobil polisi yang berbunyi nyaring, kerumunan itu memenuhi sisi samping di mana Gerald duduk dan membutakan mata Aires, dia tidak bisa melihat mobil polisi di depannya, hanya ada desakan para pemburu berita itu saja.


"Dingin, tapi tubuhmu hangat" lagi Luvia bicara aneh tapi tidak di tanggapi Aires.


Luvia menyeringai di belakang Aires, dia menikmati apa yang sedang di lakukannya, sedangkan temannya itu membeku, diam, mencerna apa yang sedang terjadi.


"Kenapa dia .. .. " Mulut Aires di tutup lembut oleh Luvia dengan telapak tangannya, dia tau seperti apa ekspresi hampa Aires kalau sudah shock.


"Aires, ini bukan urusan kita, ayo masuk kelas" Potongnya seolah dia ingin menghindari pertanyaan tidak mengenakan Aires.


Lalu, wajah Luvia berubah mengerikan.


"Kamu mau mati membeku ya, kenapa keluar tidak memakai mantel, dasar BODOH" Geramnya, membuat Aires tersadar kedunianya kembali. Dia melepaskan tangan Luvia yang melingkar di tubuhnya dan menatap langsung mata temannya itu.


"Apa?" Tanya Luvia sambil menyilang tangan di atas dada.


"Dinginn" Jawab Aires menahan rasa dingin yang mulai membekukan tubuhnya yang memakai seragam tipis sekolah. Luvia tersenyum sinis.


"Heh, Dasar, Sudahku bilang, kamu ini seharusnya memperhatikan dirimu juga"


Aires hanya bisa tersenyum seperti anak kecil.


"Sini aku peluk" Tawar Luvia dengan wajah jengkel, Aires kembali tersenyum dan memeluk temannya itu.


"Hangat" Gumamnya, Luvia mendengar itu.


"Dasar" Gemesnya.

__ADS_1


"Luvia"


"Ehm"


"Pinjam mantel kamu sebentar boleh, sampai masuk ke sekolahan aja kok, kan jaraknya cukup jauh" Pinta Aires dengan nada memprihatinkan.


Luvia mendesah, dia melepaskan pelukan Aires lalu membuka mantelnya dan meminjamkannya. Aires segera mengenakan mantel itu dan melempar senyum anak kecil, dia berlari kencang masuk kegedung sekolah.


"Merepotkan" Kesal Luvia.


Meski begitu, mentalnya bisa baikan hanya dengan bersama Aires. Luvia merasa bebannya terangkat dengan di bawanya Gerald menjauh dari sekolahan ini. Entah kenapa.


***


Di dalam mobil polisi Gerald menunduk seolah berat untuk mengangkat kepalanya, perjalanan menuju kantor polisi masih agak jauh, dua orang polisi yang berada di samping kiri dan kanannya bereskpresi mengerikan, mereka memandang Gerald jijik dan marah.


"Jadi selama ini kamu pembunuh yang menentang pemerintah" Buka salah satu polisi.


Gerald diam saja, dia hanyut dalam pikiran sendiri.


"Cih, bisa-bisanya anak miskin sepertimu iri dengan orang terhormat seperti mereka, kau tau, kejahatan yang di lakukan oleh mu akan mendapatkan hukuman berat" Sambungnya, Gerald masih diam.


"Hei, sudahlah, jangan berbicara dengannya, derajatmu lebih tinggi" Tegur polisi satunya mendapatkan respon sinis dari polisi yang di tegurnya.


"Aku tau Kiro, tapi karna dia kita dapat kecaman masyarakat"


"Tidak apa-apa Aslan, itu artinya mereka sayang kita"


Aslan melongo mendengar kata-kata positif Kiro yang tidak masuk akal. Dia memandang teman bodohnya itu dengan tatapan kasihan.


"Hei! Kau kenapa?" Tanya Aslan jengkel.


Gerald tidak meresponnya, dia malah makin bergetar dan suhu tubuhnya mulai panas. Kirosuki bertindak dengan lembut terhadapnya berkebalikan dari temannya yang selalu marah itu, dia mengambil air mineral untuk di berikan pada Gerald, dia membuka tutup botol lalu menyodorkannya.


"Ini, minum dulu" Ucapnya dengan wajah khawatir.


Namun...


"BISAKAHA KAU PERGI DARI HIDUPKU!!!"


Suara teriakan Gerald yang keluar tiba-tiba itu membuat minuman yang di pegang Kirosuki tumpah, sesaat mereka nampak membeku. Yang paling parah adalah.. .. .. Mobil yang di tumpangi mereka oleng. Polisi yang bertugas menyetir pingsan setelah mendengar teriakan keras itu, dan teman di sebelahnya mencoba menginjak pedal rem dan mengambil alih stir.


"Aslan, Kiro, jangan sampai kepala kalian terbentur!!" Serunya sesaat sebelum mobil terguling dan menghempas tembok pembatas jalan.


Semua menjadi gelap.


***


Sebuah ruangan dengan tempat duduk bertingkat mirip versi mininya stadion lapangan nampak sedang di gunakan, sisi kanan dan kirinya terisi dengan orang-orang memakai jubah merah ke biru tuaan. Di tengah-tengah kursi bertingkat itu ada pembatas yang menjadi pembeda dari kursi lainnya, ada satu meja terletak lebih tinggi di banding lainnya di tempati oleh 3 orang dengan jubah merah mecolok juga ada sedikit warna hitam menghiasi warna lurus itu.


Di tengah-tengah ruangan itu, ada satu kursi biasa di tempati oleh seseorang yang sangat familiar, Jarden.


Dia menghadap kepada orang yang ada di depannya yang kelihatan seperti hakim.


Dengan wajah tenang dia membuka buku di tangannya lalu mengambil nafas untuk mulai berbicara.


"Kepada Hakim terhormat, saya akan mengajukan keringanan kepada saudara Gerald, atas tuduhannya dan hukumannya"

__ADS_1


Seluruh orang yang berada di ruangan itu diam mendengarkan dengan seksama maksud dari sidang yang mendadak di ajukan oleh seorang petinggi polisi seperti Jarden.


Hakim yang tepat berada di depannya memiliki wajah datar, memberikan suasana mencekam.


"Saya memohon agar dia tidak di hukum mati"


Suara bisik-bisik mengisi ruangan setelah Jarden menyampaikan maksudnya.


Salah satu Hakim yang duduk di kiri, memiringkan kepalanya.


"Jarden, ini sudah jelas, siapapun yang membunuh bangsawan akan di hukum mati"


Jarden tersenyum mendengar sanggahan Hakim itu.


"Saya punya sesuatu yang menarik, karna itu saya berani mengajukan keringanan ini"


Ketiga Hakim di depannya menyerngit tidak mengerti.


"Tunjukan"


Jarden memperlihatkan buku yang ada di tangannya kepada ketiga Hakim, dengan menyerahkannya pada seorang pelayan di sisi kanan yang menjadi kaki tangannya untuk mengantarkan buku itu kehadapan ketiga Hakim yang namapak sudah tidak sabar ingin melihatnya. Dalam hitungan detik setelah membacanya mereka membeku, kaget, juga ada banyak ekspresi tak terduga yang keluar.


"Sebelum dia di vonis di hadapan masyarakat, saya ingin menyarankan sesuatu yang bisa membersihakan nama Hakim terhormat sekalian" Ucapnya dengan percaya diri.


Ketiga Hakim, kembali menyimak keinginan dan maksud Jarden yang penuh dengan misteri. Mereka saling menatap sesaat sebelum memutuskan untuk merespon keinginan Jarden.


"Baiklah, kami bertiga mempercayakan hal ini padamu" Serahnya.


"Tentu saja, siang ini saudara Gerald akan langsung di vonis dan di lihat oleh seluruh rakyat Harnzov, saya rasa vonis ini lebih masuk akal di banding hukum mati"


***


Telpon berdering di saku celana Jarden, dia segera mengangkatnya. Jarden menghentikan langkahnya keluar dari bangunan mewah berwarna putih bersih ini, mendengarkan orang yang sedang menelponya itu.


"Ada apa?"


"Tuan, mobil polisi no 133 yang membawa Gerald kecelakaan, sepertinya tersangka tidak bisa di sidang siang ini"


"Oh, tetap bawa dia ke kantor polisi, dan .." Melirik jam tangan.


"Kita masih punya 3 jam sebelum sidang di mulai"


"Baik, tapi keempat polisi yang membawanya .."


Jarden memutus sambungan telpon dengan seringai yang sangat mencurigakan, dia kembali melangkahkan kakinya keluar bangunan mewah tempat yang baru saja menjadi kesepakatannya dengan Hakim Khusus.


.


.


.


.


Kecelakaan kah, kurasa hidupnya memang sial


Jarden.

__ADS_1


__ADS_2