
Empat hari setelah Gerald di penjara semua kehidupan sehari-hari masyarakat Qoinze berjalan seperti biasa, tak terjadilagi pembunuhan di kota itu.
Dalam Asrama Perempuan.
Malam pukul 19:10
Kehidupan Luvia kembali normal tanpa adanya gangguan yang membuatnya pingsan mendadak atau seperti ketakutan tanpa sebab. Semuanya kembali seperti semula, dia bersekolah dengan nyaman, bercanda dengan Aires dan melakukan hal yang biasa dilakukannya, baca novel.
Dalam keadaan rebahan dia menikmati novel kesayangannya itu, sedangkan Aires mengerjakan sesuatu di meja belajarnya. Tak lama Ponsel Aires bergetar mengejutkannya. Dia memeriksa ponselnya dan membuka pesan masuk itu.
[Nona Aires, bisakah Nona berkunjung ke penjara sebentar saja, 3 hari kedepan? Bawakan sesuatu yang saya titipkan pada Nona waktu itu, saya mohon]
Itulah isi pesannya.
Aires tidak membalasa pesan itu dan hanya meletakkan ponselnya kembali.
"Itu dari siapa? " Herannya.
Luvia melempar Novelnya dan mendekati Aires.
"Aires! Jalan-jalan yuk? " Ajaknya.
Aires menoleh pada Luvia yang mendekatinya.
"PR ku gimana? " Tanyanya polos.
"Entar aja" Jawab Luvia sembari memegang kedua bahu temannya itu.
"Bosan ya? " Tanya Aires lagi.
Luvia mengangguk.
Aires berdiri dan berjalan menjauhi Luvia, dia kekasurnya.
"Kerjakan PR ku dulu, aku gak mau di hukum guru killer" Tolak Aires dan mulai rebahan.
Luvia duduk di kursi yang baru saja di duduki Aires, dia menatap malas temannya itu.
"Aires! Kamu gak bosan apa ngejomblo? " Tanya Luvia.
Aires menatap langit-langit kamar dengan tatapan sulit di tebak.
"Aku gak jomblo kok, kan aku punya dia" Jawab Aires ambigu.
"Ha? Bukannya kalian break, itu namanya gak ada kepastian" Tukas Luvia agak jengkel.
"Kenapa kamu Sewot amat si soal percintaanku? " Tanya Aires kesal.
"Bukannya Sewot, cuman pengen liat aja kamu dandan cantik, pake dress cantik pergi jalan sama pacarmu lalu kamu ceritain ke aku, lah ini kita udah temenan sejak SD, kamu gak pernah cerita apa-apa, sejak kapan kamu sama si dia itu pacaran si? " Jawab Luvia panjang lebar dan terdengar marah-marah.
Aires terdiam sejenak.
"SMP mungkin, Dia waktu itu Kaka Kelas kita, udah mau lulus, aku gak sengaja aja liat dia duduk di atap sekolah" Balas Aires.
"Beneran? Kakak kelas kita?" Tanya Luvia memastikan.
Aires mengangguk.
Luvia terlihat menerawangkan pikirannya ke masa-masa SMP, mencoba mengingat siapa saja cowok tampan di sana terutama kaka kelas.
Aires yang melihat tingkah Luvia, tertawa geli, membuyarkan fokus Luvia.
"Kenapa ketawa, lucu?"
"Gak usah di inget juga kali Luvia"
"Kamu si gak mau kasih tau namanya"
"Emang kamu beneran gak tau?" Tanya Aires.
Luvia mengangguk.
"Seingatku, kita jarang banget jalan kepisah pas SMP"
"Iya itu bener, tapi pas SMP kamu itut Klub Seni kan? Ingat gak? "
Luvia menepuk tangannya.
"Bener, inget aku inget, kamu nungguin Klub ku selesai kan? Setiap hari, Waktu itu kamu pasti jalan-jalan, aaahh bener juga, astaga bodohnya aku, tapi... Kenapa kamu gak cerita apapun?"
"Aku gak bisa cerita, karna dia bilang hubunganku dengannya itu rahasia"
Luvia menatap nakal Aires.
"Dih main rahasia'an, emang kalian lakuin apa sampe kayak gitu?"
"Gak ngelakuin apa-apa kok, kamu jangan mikir aneh-aneh"
Luvia bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Aires yang rebahan, wajah Luvia keliatan sudah iseng banget, membuat Aires memeluk erat bonekanya.
"Kamu mau apa?" Tanya Aires curiga.
Luvia melompat ke atas kasur Aires dan menindih nakal temannya itu.
"Berat Luvia!" Keluh Aires.
Luvia hanya tertawa, dia lalu menatap lekat wajah Aires yang berada di bawahnya. Suasananya agak hening saat itu, Aires juga menatap mata Luvia yang lumayan dekat itu.
"Luvia?" Herannya.
"Dari sekian banyak cowok, kenapa harus cowok yang gak gentel kayak dia? " Tanya Luvia dengan seringai jahil.
Aires mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Dia gentel, hanya saja, dia tidak ingin terganggu" Jawab Aires sendu.
Luvia menjauhkan badannya dan duduk di atas kasur Aires dengan benar. Aires menatap posisi duduk Luvia yang masih di kasurnya.
"Kamu kenapa? " Tanya Aires penasaran.
"Aires! " Panggil Luvia dengan nada serius, wajahnya juga serius.
"Hemm" Sahut Aires.
"Kalau sampai satu bulan kedepan kamu gak punya kepastian sama dia, pacaran aja sama aku! " Ucap Luvia Serius.
__ADS_1
Aires menatap lekat mata temannya yang benar-benar serius itu.
"Apa yang harus kukatakan? Luvia benar-benar serius" Batin Aires.
Tak lama Aires menghela ringan.
"Aku tolak! " Jawab Aires singkat.
"Ha? Huuuuu... Dingin banget jawabannya njirr, pantes cowok gak mau nembak kamu lagi" Cerca Luvia.
Aires memiringkan kepalanya.
"Kamu gak serius? " Tanya Aires polos.
Luvia berjalan kelemari bajunya.
"Enggaklah, bentar lagi aku kencan nih, aku mau ganti baju, kamu ikut gak? " ajaknya.
Aires menghela berat.
Luvia mengambil mantelnya.
"Jangan-jangan kamu anggap aku sungguhan nembak kamu? " Tanya Luvia juga polos.
Aires menatap geram Luvia, wajahnya memerah.
Melihat ekspresi Aires, Luvia merasa geli.
"HaHaHaHa... Aires begooo.. Dasar begoo! " Ejeknya.
Aires tambah geram mendengarnya.
****
Perkafean dan Mall wilayah Growst.
Wilayah elit ini menjual berbagai macam baju dan makanan mahal yang hanya bisa di jangkau oleh para bangsawan dan orang-orang kaya. Meski hanya untuk orang banyak uang, wilayah Growst tak pernah sepi pembeli ataupun penjalan kaki yang hanya menikmati indahnya Growst. Dari sekian banyak pejalan kaki di trotoar luas wilayah itu, terlihat Luvia dan Aires duduk di salah satu bangku trotoar yang banyak di tata khusus di sepanjang trotoar.
"Luvia! Gak beli minum dulu? " Tanya Aires.
Luvia memperhatikan orang-orang yang lewat.
"Disini dingin ya? Tapi kalau nunggu dalam kafe nanti dia gak bisa nemuin kita" Ucap Luvia tanpa menjawab pertanyaan Aires.
Aires kesal.
"Aku mau beli minum, mau titip gak? " Ucap Aires sembari bangkit dari duduk.
"Oh baik sekali, tumben, Americano ya yang hangat" Balas Luvia dengan senyum polos.
Aires tentu saja kesal, tapi dia tetap pergi dengan lapang dada ke kafe terdekat.
Sesampainya di kafe Aires langsung pesan dan menunggu pesanannya, sambil menunggu dia melihat keadaan sekitar kafe dan terkejut saat melihat seorang cewek berbicara santai dengan cowok yang sangat di kenalnya. Mata Aires seakan tak bisa mempercayainya, bahkan setelah itu tatapannya hampa, tapi hatinya terasa sakit hingga dia sendiri agak terkejut merasakan perihnya dadanya.
"Perasaan apa ini? Rasanya sangat buruk, aku tidak mau merasakannya lagi" Pikir Aires.
Sesaat kemudian minuman yang di pesannya datang, Aires membayarnya dan langsung keluar kafe tanpa melihat orang-orang lagi.
Yang Aires lihat adalah....
"Ada apa Dery? " Heran Daniel.
Dery Tersenyum manis.
"Hanya pengen pegang tanganmu aja, soalnya tangan ini sudah terlalu kotor, ya kan? " Jawab Dery.
"Ah, kotor ya? Aku tidak menyadarinya, sekarang tanganmu jadi ikut kotor kan? Apa tidak apa-apa? " Tanya Daniel lagi.
Dery menggeleng.
"Aku baik-baik saja, tapi bagaimana dengan cewek kesayanganmu itu? " Ucap Dery yang membuat Daniel menyeringai.
"Aku tidak akan pernah menyentuhnya dengan tangan kotorku, aku harus membersihkannya dulu" Balas Daniel.
"Membersihkannya? Bagaimana caranya? " Tanya Dery dengan nada menusuk.
"Entahlah, ada banyak cara untuk membersihkannya, tapi itu semua perlu waktu" Jawab Daniel Santai.
Dery tertawa kecil mendengar jawaban Daniel.
"Ada banyak cara, kamu lucu juga, jadi bagaimana dengan rencanamu kedepannya? " Tanya Dery mengubah topik pembicaraan ke intinya.
Daniel menatap orang-orang yang lewat.
"Tentu saja menghancurkan mental Gerald yang keras kepala itu, aku tidak suka caranya mengusik ku" Jawab Daniel.
"Caranya? " Tanya Dery Lagi dengan nada nakal.
"Aku akan hancurkan dia di penjara, ada seorang sipir bodoh yang membantunya bangkit, aku hanya perlu menghancurkan sipir itu di hadapan Gerald, tanpa kesana pun aku sudah menang" Jawab Daniel sembari terkekeh ringan.
Dery menatap Mata Daniel yang penuh keambisiusan itu dan ada aura kehancuran didalamnya.
"Daniel, aku akan menghancurkan Aires sebagai gantinya, jadi kamu bisa menyentuhnya dengan tangan kotormu kan? Karna Sebentar lagi Aires juga akan kotor olehku" Batin Dery.
Dery tersenyum puas di depan wajah Daniel yang sedang fokus pada orang-orang yang berjalan di luar kafe.
****
Luvia masih menunggu pacarnya datang, dia sesekali melihat jam.
"Kenapa dia lama si, bentar lagi jam 8 malam nih, ****** kalau ketua asrama vampire itu tangkep kami" Keluh Luvia.
Tak lama Aires duduk di samping Luvia dengan tatapan hampanya, dia menyodorkan minuman Luvia tanpa menatap temannya itu. Luvia jelas kaget lah, tiba-tiba saja ada americano hangat depan wajahnya, tapi dia tetap menyambutnya tanpa mengeluh. Dia meminum Americanonya dan menatap wajah Aires yang sudah kayak mayat hidup.
"Kamu kenapa? Ketabrak tiang ya pas jalan? " Tanya Luvia mencoba melucu, namun hasilnya dia di cuekin.
Dia melambaikan tangannya di depan wajah Aires tapi tak ada respon.
"Nih anak kenapa ya? Oi Aiiress! " Seru Luvia.
Di sisi lain, pacarnya Luvia datang dengan nafas tersengal.
"Maaf, tadi mobilku mogok" Ucap Sang pacar.
Luvia cemberut, tapi dia juga tak bisa mengabaikan Aires yang masih melamun, padahal pacar Luvia sudah datang.
__ADS_1
"Duduk sini aja dulu" Perintah Luvia menunjuk sampingnya yang masih kosong.
Pacarnya menurut saja dan duduk di sampingnya.
Luvia mencubit pipi Aires agak keras karna kesal, Aires pun kembali kekenyataan, dia merintih kesakitan.
"Aaa sakit " Rintih Aires.
"Kamu kenapa si? Dari tadi melamun aja, pacarku udah dateng nih, liat" Nunjuk sampinya yang sudah di isi cowok ganteng yang sebenarnya tak asing.
Aires mengelus-elus pipinya sambil menatap pacar Luvia yang tersenyum ramah padanya.
"Halo, namaku Aires" Ucap Aires memperkenalkan diri.
"Hai, namaku Fran" Sahut pacarnya Luvia yang sebenarnya adiknya sendiri.
Luvia cengegesan mendengar Fran memperkenalkan diri. Fran agak kesal melihat kakaknya yang memanfaatkannya sampai segininya.
"Kaka paling bodoh sedunia! " Umpat Fran jengkel.
"Nah Aires, liat baik baik ya" Pinta Luvia, dia meletakkan americanonya di samping Aires lalu berdiri didepan Fran hingga Aires bisa melihat dengan jelas apa yang akan mereka berdua lakukan.
Aires hanya mengangguk dan memperhatikan Luvia, meski sebenarnya dia masih rada bad mood.
Fran sudah tau apa yang akan di lakukan Luvia padanya, Karna sejam lalu...
Luvia menelpon Fran saat Aires mandi.
"Fran sayang... Jam 19:30 ketemuan ya di Growst, ak tunggu di bangku trotoar dekat Kafe ****" Ucap Luvia.
Fran yang mendengar itu, merasa sangat jengkel. Dia masih di kampus dan mengerjakan tugas Dosen Killer.
"Sebentar aja kan? " Tanya Fran.
"Iyalah, cuman mau Chuu doang" Jelas Luvia.
Muka Fran benar2 jengkel.
"Iya, aku datang, setelah itu aku ada urusan dah aku tutup" Balas Fran dan menutup Telpon dengan kasar.
"Kakak paling bodoh! " Gerutunya.
Luvia hanya bisa cengengesan mendengar Fran yang menyetujui ajakannya.
"Liat baik-baik Aires ****, temen gak peka, kalau Chuu sama Cowok itu menakjubkan kayak di film" Ucap Luvia dengan membara.
Aires menatap fokus pada Luvia dan pacarnya, dia kelihatan sangat tertarik dengan apa yang akan terjadi.
Saat itu Luvia menyentuh wajah Fran lembut dan perlahan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Fran di depan Aires yang pastinya orang-orang yang lewat di dekat mereka bakal melihat hal itu. Tapi bagi Aires melihat moment itu adalah hal yang menakjubkan, mata hampanya seketika berbinar dia seolah masuk kedunia film romansa yang bersinar dan penuh cinta, dia benar-benar merasa apa yang di lakukan Luvia dan Fran adalah hal yang juga ingin di lakukannya dengan orang yang di cintainya, namun sesaat kumudian dadanya terasa perih mengingat Daniel di kafe dengan cewek yang tak di kenalnya, dan pegangan tangan mesra yang di lakukan cewek itu.
"Aku benci rasa perih ini, rasanya berbeda saat melihat Luvia sakit" Keluh Aires.
****
Depan Asrama perempuan.
Fran mengantar Luvia dan Aires, dia langsung pulang setelah mereka berdua turun depan gerbang asrama tanpa berkata apapun, hanya melempar senyum, dia seperti terburu-buru. Luvia melambaikan tangannya pada mobil Fran yang melaju pergi. Lalu dia dan Aires berjalan memasuki Gerabang asrama yang belum terkunci. Tak ada yang berbicara, mereka berjalan dengan hening sampai memasuki pintu depan asrama. Tapi keheningan itu berubah menjadi ketegangan melihat ketua asrama berdiri di depan pintu kamarnya yang memang dekat sama pintu masuk asrama, itu sudah di atur sekolah. Ketua asrama itu menunggu kedatangan Luvia dan Aires, dan siswi lainnya yang belum masuk asrama.
"Gawat! Padahal cuman telat 2 menit" Keluh Luvia.
Meski begitu, dia tetap berjalan menghampiri ketua asrama mengerikan itu, tatapannya yang mengerikan dan sangat dingin membuat Luvia mual. Tapi tak seperti biasanya, Aires saat itu tak berekspresi sama sekali, biasanya dia juga ketakutan berurusan dengan ketua asrama dingin itu, melihat tingkah aneh temannya itu Luvia hanya bisa tegar sendiri.
"A-anu... Maaf kak Estelin, kami terlambat 2 menit" Ucap Luvia.
Ketua asrama itu membuka buku yang dipegangnya dan mencatat apa yang di katakan Luvia, tanpa sepatah katapun dia mengisyaratkan Luvia agar lewat, tapi Luvia hanya diam tak gerak.
"Aires gimana? Dia gak boleh lewat? " Tanya Luvia memastikan.
"Aku harus bicara dengannya" Jawab ketua asrama dengan nada dingin, membuat Luvia agak bergidik.
"I-iya, tolong jangan sakiti temenku ya kak" Pinta Luvia yang sebenarnya sudah tak tahan dengan aura dingin sang ketua asrama.
Dengan perasaan campur aduk, Luvia berjalan duluan kekamarnya dia sesekali menatap Aires yang masih menunduk tanpa ekspresi.
"Dia kenapa si? " Gerutu Luvia.
Aires yang dari tadi diam saja, di tarik paksa ketua asrama masuk kamarnya. Suasana dalam kamar ketua asrama itu benar-benar minim cahaya, hanya ada penerangan di meja belajarnya saja, kita tak akan tahu apa sebenarnya isi keseluruhan kamar ketua asrama yang gila belajar ini. Tapi saat itu dia menatap lekat mata Aires yang masih hampa menatap lantai.
"Aires! " Serunya.
Tak ada jawaban dari Aires.
Ketua asrama yang bernama Estelin itu menghela nafas untuk pertama kalinya, dia mendekati Aires dan memeluk lembut tubuh Aires. Hal itu mambuat Aires agak terkejut.
"Ketua?" Heran Aires.
"Bangunlah! Aku sudah bosan bermain-main jadi ketua asrama, Rei" Ucapnya.
Mendengar itu Aires seperti mendapat sengatan listrik ringan.
"Hah? Ketua kamu sakit? " Tanya Aires polos, dia merasa ngeri mendengar ucapan ketua asrama dingin itu yang menghangat di telinganya, apalagi posisi ketua asrama itu masih memeluknya dan semakin erat, Aires bisa merasakan tubuh ketua asrama yang bernama Estelin itu sangat panas, berbeda dengan tatapan dan auranya yang dingin.
Tak lama setelah itu Estelin melepas pelukannya dan beralih menyentuh wajah Aires, membelai lembut wajah polos itu. Aires hanya bisa melongo tapi, melihat ekspresi ketua asrama di depannya yang tak pernah di lihatnya membuatnya merasakan sensasi aneh.
"Rei, Bangunlah! Bangun! "
Kata itu terdengar sendu dan putus asa.
Aires tak sadarkan diri setelahnya, semuanya berubah menjadi gelap.
Estelin menangkap tubuh lemas Aires dan tersenyum tipis, dia memeluk lembut tubuh Aires yang berada di pangkuannya dan menikmati aroma tubuhnya seolah dia sudah lama tak melakukan itu.
"Adik bodoh, jatuh cinta pada manusia bodoh, perih kan? Dadamu? Rei ku yang sangat tidak peka? Cepatlah Bangun, ibu sangat merindukanmu, dia ingin kau cepat pulang" Ucapnya di iringi kabut merah melingkari tubuh Aires yang tak berdaya itu.
.
.
.
.
.
Siapa yang percaya penyihir zaman sekarang? Nyatanya mereka masih ada hanya saja rahasia, ada banyak misteri yang tak pernah habis di dunia ini, apalagi di negara Harnzov yang dulunya adalah kerajaan, kita tak pernah tau kenapa sistem kerajaan ini di rubah menjadi pemerintahan oleh pemimpin baru.
__ADS_1