
Suara sayup-sayup terdengar di telinganya. dia yang bersandar duduk di dinding samping gerbang dengan wajah tertutupi jaket hitam, masih tenggelam dalam alam bawa sadarnya atau mungkin saja dia masih tidur. Gelap hanya ada kegelapan, tapi dia bisa mendengar suara itu, suara seorang perempuan, dia berjalan mencari di kegelapan asal suara yang mengundangnya untuk bergerak, suara yang berbunyi "Hei bangun, hei!" berulang kali menusuk hatinya, "kamu kesakitan? Kamu terluka, hei ayo bangun!!". Suara yang membuatnya tambah ingin keluar dari kegelapan ini, keluar dari masa lalu yang menyakitkan ini dia berusaha sekuat mungkin lari dalam kegelapan tanpa ada sedikitpun cahaya ini, lari dengan erangan semangat, dan usahanya tak sia-sia, dia terbangun dengan nafas terengah dan menatap orang yang terus memanggilnya itu yang masih agak buram di matanya.
"Kamu tidak apa-apa?" pertanyaan langsung dari perempuan bernama Luvia ini melegakan benaknya yang hancur karna masa lalu yang baru saja terlukis dalam mimpinya, dia tertidur sesaat setelah sampai di samping gerbang karna rasa sakit habis di cambuk pelayan itu.
"Aku, aku kesakitan" Ucap Gerald jujur dengan keadaannya, dia benar-benar butuh pertolongan. Luvia mengeluarkan kotak obat p3k kecil di dalam tasnya, lalu menuangkan sedikit alkohol di atas kapas dan menyapu luka di wajahnya. Gerald agak terkejut dengan perilaku cewek di depannya yang langsung saja mengobatinya. Luvia fokus pada pengobatan dasar luka-luka Gerald.
"Bisakah kamu buka baju?" Tanya Luvia yang di sambut wajah shock Gerlad.
"Sepertinya belakangmu juga kena, paling tidak aku akan mengoleskan salep anti nyeri ini" Jelas Luvia.
Gerald menurut, saat dia membuka bajunya Luvia terkejut namun... Tetap fokus.
"Ini akan sedikit sakit, kenapa seluruh tubuhmu terluka seperti ini?" Tanya Luvia.
Dia sebenarnya pilu melihat itu, saat dia menyapu luka Gerald matanya menahan air mata. Gerald diam saja, dia tidak punya tenaga untuk meringis sakit, tenaganya hanya cukup untuk menahan rasa perih bercampur dingin itu.
30 menit berlalu, Luvia selesai mengobati luka Gerald lengkap dengan perban seadanya walaupun terbesit pikiran "aku terlambat", dia sadar kalau dia harus rela menerima hukuman karna terlambat demi cowok aneh yang baru saja di temuinya.
"Terimakasih" ucap Gerald pelan, dia tidak berani menatap mata Luvia yang sudah menolongnya.
"Tidak apa-apa, ini aku bawa bekal, kurasa kamu belum makan. Jangan anggap aku baik padamu mengerti, nanti kamu merasa berhutang padaku"
Ucapnya, dia segera berdiri setelah meletakan bekalnya di hadapan Gerald, Luvia pergi meninggalkannya dengan sedikit berlari. Dia sangat tergesa-gesa.
"Ah sial, ini pertamakali aku peduli pada orang, kamu bisa menyesal Luvia" batinnya.
Namun dia Terdiam sejenak setelah itu, tepat di depan gerbang.
"Kenapa harus menyesal, itukan perbuatan baik, apa aku bukan orang yang baik?" batinnya bergejolak.
Di dalam keheningan yang menjeda tubuhnya untuk tidak bergerak dan malah berpikir sesaat itu, dia tiba-tiba saja mendengar suara wanita serak putus-putus tepat di telinganya dengan jelas.
"Kamu bu-kan o-rang baik-baik, kamu ha-rus merubah pola pi-kir menji-jikan itu se-belum kehila-ngan segalanya"
Bulu badan Luvia meremang hebat dalam sekejap, nafasnya mulai keluar masuk dengan cepat, dia seperti baru saja mendapatkan teguran, ada apa dengannya?
***
Gerald membuka lebar matanya, dia seakan tak percaya ada orang yang memberinya makanan gratis. Di obati saja dia sudah sangat senang sekaligus bersyukur, dan sekarang dia mendapatkan lebih. Belum sempat menyampaikan kata-kata, orang baik itu sudah lenyap di hadapannya, Gerald tau orang itu sudah terlambat dan mungkin saja di hukum gara-gara dia, tapi yang membuat Gerald sedih adalah, dia tidak sempat bertanya siapa nama perempuan baik yang sudah menolongnya itu.
"Kenapa aku selalu menyesal?"
____
Di gudang tempat Gerald di siksa, pria dewasa yang memakai jas hitam yang menyiksanya itu masuk membawa kotak P3K besar. Dia berjalan ketempat di mana cambuknya berada, saat melihat ruangan kosong, matanya memerah dan wajahnya sangat tidak senang. Dia jongkok di tempat Gerald duduk dan tangannya menyetuh lantai dengan darah kering itu.
"Dia sudah pergi 1 jam yang lalu" terkekeh.
"Tuan kecilku, siapa yang akan menolongmu hah!!" menaikan nada bicara, dia mulai marah.
"Sudah kubilang tunggu aku, nanti aku akan mengobatimu sama seperti dulu" terkekeh lagi.
"Tapi kenapa kau malah lebih merepotkan!!" teriaknya.
"Haaahhhhh!!! Dasar brengsek, kalau dia mati aku tidak akan pernah bisa merasa puas, aku tidak akan pernah melihat dunia kejam ini lagi, AKU!! Aku tidak ingin mati Gerald!!!" dia terus saja mengoceh dengan nada rendah lalu naik tiba-tiba seperti orang gila, dia sebenarnya takut Gerald mati atau dia sendiri yang takut mati? Matanya tajam seakan ingin sekali membunuh Gerald, kemarahannya tak terbendung, di saat-saat dia ingin berjalan kearah tumpukan barang bekas berniat menghancurkannya ponsel di sakunya berdering.
'''
Universitas.
Kelas jurusan seni libur satu jam, dosen killer tak bisa masuk karna ayahnya meninggal, akan ada guru pengganti yang datang mengajar tapi dua sejoli ini tidak peduli dan meninggalkan ruangan begitu mudahnya membuat teman-teman lain merasa jengkel.
"Anak bangsawan mah bebas"
"Iya, seenaknya aja"
"Mereka cuman takut sama dosen killer, karna beliau juga bangsawan"
"Dunia memang tidak adil"
Pembicaraan yang memanaskan telinga itu di hiraukan begitu saja, mereka tetap berjalan keluar dengan enteng dan sedikit mengolok mereka yang menggosip, gelar bangsawan seakan menjadi beban berat untuk anak muda dengan jiwa bebas seperti mereka, terutama seorang cowok yang duduk di bangku tengah sangat terganggu dengan pembicaraan teman satu kelasnya itu.
"Aku juga bangsawan, jangan lupa itu"
Teriaknya yang membuat teman satu kelasnya yang menggosip diam senyap, dia sudah muak dengan kata-kata tidak adil itu.
"Heh, menyebalkan"
Gerutunya, dia menenggelamkan kepalanya di atas meja setelah kelas kembali damai, sekilas dia menampakan senyum mengerikan.
"Mereka beneran merepotakan, andai saja dia bukan orang penting baginya, sudah kubunuh mereka berdua dengan pelan agar teriakannya membalas teriakanku tadi"
***
Di lorong Universitas.
"Erlo, cerita'in dong" rengek Haris, dia sudah habis sabar menunggu cerita Erlo yang membuatnya mati penasaran.
Erlo senyum-senyum gak jelas, dia terus saja berjalan hingga keluar gedung universitas menuju perpustakaan elit dan besar. Haris benar-benar merasa heran dengan tingkah temannya ini, dia akhirya mencegat Erlo dengan wajah jengkel.
"Cerita'in, ngapain keperpus, mau bacain aku dongeng?" bentaknya kesal, Haris over penasaran.
"Udah ikut aja dulu, nanti bakal tambah seru loh" ucap Elro tenang bagai air mengalir.
"Ck" decak Haris dan terpaksa mengikuti langkah Erlo memasuki perpustakaan.
Di dalam perpustakaan mereka diharuskan menulis nama dulu di meja penjaga tapi ...
"Yo, Paman Fosted" sapa Erlo sambil mengedipkan mata.
Si penjaga hanya diam dan mengayunkan tangan menyuruh mereka masuk sana, tanpa menulis nama.
"Makasih paman" ucap Haris.
Mereka berduapun duduk di sofa dengan nyaman, lalu Haris menepuk tangan Erlo.
"Erl kapan" desaknya.
Erlo mengisyaratkan dengan wajah, Sabar.
"Ah, lama" keluhnya.
Setelah 10 menit menunggu sekitar jam 12:40 seseorang datang keperpustakaan melewati Erlo juga Haris memilih tempat duduk jauh di samping mereka, berjarak 4 kursi biasa dengan meja.
Erlo menyenggol bahu Haris yang sudah mulai bosan, dia menainkan ponselnya membaca novel online. Haris merespon senggolan Erlo dengan berkata "Apa" tapi matanya masih fokus ke layar ponsel.
"Tadi kamu mau tau siapa orang yang di lif itukan?" bisik Erlo. Haris segera menghentikan aktifitasnya menatap Erlo serius.
__ADS_1
"Iya, mana?" tanyanya antusias.
"Makanya jangan main hp terus, dia lewat aja kamu gak nyadar" singgung Erlo, Haris membuat wajah so imut.
"Maaf, mana dia?"
Erlo menunjuk ke semping Haris, dan Harispun menengok kearah di mana orang yang di maksud berada, dia terkejut sekaligus kagum.
"Wahhh, Erl aku gak bisa kata apa-apa lagi nih"
"Benerkan"
"Aku bisa jadi orang pertama yang ngungkap kasus itu"
"Hah, jangan mimpi"
"Ini sangat menarik"
____
Luvia masih menjalani hukumannya tapi dia tidak sendirian, ada seseorang yang menemaninya, Aires. Dia tersenyum manis.
Pukul 08:20 menit yang lalu.
Luvia memasuki kelas yang sudah mulai belajar, dengan nafas terengah dia duduk di bangkunya, sang guru yang di depan sendari tadi fokus menulis menyadari kehadiran Luvia. dia berhenti menulis lalu mengalihkan pandangan kearahnya.
"Kamu terlambat?" tanya guru laki-laki dengan menyentuh kacamatanya.
Luvia mengangguk.
"Ikuti pelajaran saya dulu, nanti jam istirahat setelah makan bersihakan toilet, mengerti"
Luvia pasrah dengan hukuman itu, dia mengangguk lagi.
"Baik" jawabnya.
Tapi siswa lain merasa ini tidak adil, salah satu dari mekera merasa gusar.
"Sensei, bukankah itu terlalu ringan, kami biasanya lari mengelilingi lapangan"
Ucapnya protes.
"Iya, bahkan ada yang sampai 10 kali putaran"
Tambah yang lain.
"Iya tuh"
"Iya ini tidak adil"
Keluhan-keluhan tidak adil itu terus menusuk telinga Luvia dan sangat mengganggu guru yang sudah menetapkan hukuman itu terutama Aires temannya Luvia, dia lebih merasakan perasaan temannya itu. Aires sangat panas dan ingin sekali menampar teman sekelasnya itu, kakinya tak bisa diam tangannya mengepal kuat, dia menahan emosinya yang hampir pecah itu sekuat yang dia bisa. Saat dia mau meluapkan kemarahan itu, sang guru memukul meja dengan keras membisukan semua siswa yang merengek dengan nama keadilan itu. Beliau sangat marah dan geram.
"Kalian mau dihukum juga!!" teriaknya keras.
"Kalian merasa saya tidak adil begitu? kalian tidak lihat situasi ya? saya ini pengamat semua siswa di sekolah ini jadi saya tau alasan terlambatnya kalian semua" Jelas Guru Lantang.
Siswa yang mengeluh itu duduk dengan lutut lemas.
"Kamu" Ucap Guru tegas menunjuk siswa itu, wajahnya mulai memupucat.
"Memangnya kenapa saya suruh kamu lari keliling lapangan, mau saya bocorkan di depan teman-temanmu biar mereka tau?" Tanya Guru itu.
"Jangan sensei, jangan"
Guru itu menghela berat, dia menenangkan dirinya sejenak.
"Makanya, jangan ada yang protes dengan keputusan saya, mengerti. Karna itu semua akibat kelakuan kalian juga" Jelasnya dengan nada stabil.
Luvia dan Aires terperangah melihatnya, mereka saling menatap dan menggeleng kagum. Luvia memikirkan sejenak apa maksud gurunya itu.
"Apa dia benar-benar tau alasan terlambat semua siswa? Jadi ... Apa dia juga tau kalau aku? Ah lupakan, yang penting sekarang adalah hukumannya ringan" tersenyum senang.
Kembali ke toilet.
Aires selesai membersihkan 2 toilet dan Luvia selesai ngelap kaca besar depan tempat cuci tangan. Mereka berdua terlihat kelelahan dan akhirnya memutuskan berhenti sejenak mencari tempat duduk.
"Break dulu"
Ucap Aires.
Luvia mengangguk.
***
Mereka duduk di belakang halaman sekolah, setelah membeli minuman. Di sana tidak terlalu ramai dan cocok untuk santai dari rasa capek dan setres.
"Hahh maaf merepotkanmu Aires"
Buka Luvia, Aires menyodorkan minuman dingin padanya.
"Makasih"
Mereka berdua menyegarkan tenggorokan yang kering, sesekali mereka melakukan peregangan ringan. Puas beristirahat Aires menatap wajah Luvia serius.
"Luvia!!" panggilnya yang di respon langsung dengan anggukan kecil, matanya fokus ketanah berumput kecil.
"Kenapa terlambat?" Tanya Aires.
Luvia tersentak pelan mendengarnya, dia berhenti menatap tanah dan mengalihkannya pada Aires.
"Aku .. Bukuku ketinggalan juga tadi"
Aires tidak mempercayainya, nada bicara Luvia tidak stabil menandakan kalau dia berbohong, dia tau sekali kalau temannya itu menyembunyikan sesuatu.
"Gak mau cerita nih" bujuk Aires, dia menatap santai kedepan.
Luvia ragu-ragu untuk memulai bicara karna dia tidak tau harus cerita dari mana, tapi melihat reaksi Aires yang santai dia mulai memberanikan diri.
"Aires maafin aku ya"
Aires menyerngit.
"Apa?? Bicara yang jelas"
"Aku bohongin kamu tadi" Ucap Luvia dengan nada lirih.
Aires makin bingung.
__ADS_1
"Kapan?" Tanyanya memastikan.
..He? Kapan Luvia bohongin aku? Apa yang barusan? Gak mungkin, Luvia bukan orang yang suka sedih dan menyesal.. Batin Aires.
"Kamu lupa? Yang pagi tadi" Jelas Luvia yang sebenarnya juga agak kaget dengan respon Aires yang lambat.
Aires menatap mata Luvia, dia bisa merasakan penyesalan di mata temannya itu, membuat dia agak merasa kotor.
"Ooh gak papa, kamu udah sering becanda" Jawab Aires dengan nada agak aneh.
Luvia ragu melanjutkannya karna Aires sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya dia maksud, meski Luvia juga menyadari kalau nada bicara Aires terdengar Aneh.
"Luvia, aku boleh curhat"
Ucap Aires dengan nada sedikit sendu.
"Tiba-tiba gini" Responnya cepat.
..Ha? Apa yang terjadi, kenapa aku malah balik ke kebiasaan ku? ... Batin Luvia heran.
"Hemh" Sahut Aires.
"Boleh, apa?"
Nada bicara Luvia kembali normal, dia terbebas dari hal rumit yang bisa saja jadi kelahpahaman antar teman kalau terus di lanjutkan, Mungkin.
"Soal, aku gak mau kencan itu"
Ucap Aires ragu-ragu.
"Hemh"
Luvia Mendengarkan dengan seksama.
"Itu karna aku masih menyukai orang lain"
"Benarkah? Wahh siapa?" Responya kaget.
"Rahasia, pokoknya aku masih mengharapkan dia, jadi jangan ajakin aku kencan buta ok"
Luvia mengangguk senang.
"Tapi ..." bersedih kembali "Dia dulu pernah menyakitiku, apa mungkin dia merasa tidak pantas bertemu denganku?" sambungnya lirih.
Luvia menatap wajah samping Aires dan merasakan kehampaan besar temannya itu.
"Jangan begitu, menurutku dia hanya sedang mengumpulkan keberanian, emangnya dia orang seperti apa? Yang rinci ya?"
Aires menghela geli, dia melihat kembali Luvia temannya yang super berisik dan kepo.
..Semoga responku membuatnya senang Batin Luvia.
"Iya, gini, dia itu tinggi, kulitnya seputih susu, cara bicaranya lembut, dia juga punya wajah sangat tampan, lebih ke keren si, tapi yang aneh dari dia adalah ... " Jedanya.
"Apa, jangan buat penasaran" Ucap Luvia menunggu dengan semangat konser.
"Dia gila sama warna biru"
"Hah"
"Dulu dia pernah bilang "Aires, nanti kalau umurku sudah 20 tahun rambut hitam ini akan ku cat warna biru, biru laut" begitulah"
"Berarti dia mudah di kenali, ya, kan? Kamu beneran menyukainya ya? salut aku, di mana dia sekarang?"
"Tidak tau"
"Oh begitu ya, btw anginnya seger ya"
Luvia enggan lanjut bertanya melihat wajah murung Aires, dia bisa merasakan rasa kesepian temannya itu dan memilih mengubah pembicaraan.
"Emh Anginnya segar"
Hening sesaat.
Percakapan mereka terhenti beberapa saat, mereka menikmati angin segar taman belakang sekolah ini.
Namun...
Tiba-tiba...
"APA AKU SALAH?"
Teriak Luvia mengagetkan Aires, membuatnya menoleh cepat pada Luvia.
"Luvia? kenapa bicaramu aneh" respon Aires cemas. Dia bahkan mencoba menyentuh bahu Luvia namun tertahan, Aires merasakan Hal Buruk.
Luvia terdiam.
"Luvia, kamu mikirin sesuatu ya?" Tanya Aires
Luvia menggeleng.
"Kenapa tadi berteriak? " Tanyanya lagi, dia benar-benar khawatir, namun... Tak bisa menyentuh Luvia.
"Maaf" Ucap Luvia.
Aires merasa heran. Dia menatap wajah Luvia yang mengeluarkan keringat dingin, dia merasa kasihan sekaligus penasaran, Aires tenggelam dalam pikirannya yang menerawang, dia malah merasa bersalah.
"Apa ini salahku, atau karna dia baru pertama kali di hukum?" pikirnya.
"Tapi? Kenapa aku? Kenapa aku tidak bisa menyentuhnya? " Geramnya dalam diam.
Luvia masih diam dan menundukan wajahnya seolah dia tidak bisa menatap mata temannya itu, apa karna dia merasa bersalah karna tidak mengatakan yang sebenarnya? Apa karna dia tau sesuatu? Dia mendengarkan isi hatinya yang mengaduk pikirannyan saat itu, dan semua hal itu seakan menambah tekanan pada mentalnya.
"Kenapa kamu merahasiakannya Luvia, kamu itu temannya atau musuhnya? Kenapa kamu bertanya bodoh seperti itu pada dirimu, jelas sekali kalau kamu itu salah, dasar keras kepala"
Suara dari kepalanya membuat Luvia bertindak seperti tadi, membuat siapa saja akan bingung.
Luvia bimbang dengan dirinya sendiri, setelah melihat dan menolong Gerald dia seperti sedang menimbang apakah yang di lakukannya benar? Atau malah malapetaka? Yang saat ini mengisi pikirannya adalah kepastian, dia ingin memastikan apa yang di lakukannya salah atau benar.
.
.
.
.
__ADS_1
Apa aku bisa mengatasi hal ini? apa aku bisa lari dari sini? apa lari menyelesaikan masalahku? aku sangat bingung dengan diriku sendiri, ayolah! keberanian datanglah padaku, aku terjebak kebimbambang aneh ini, padahal yang ku lakukan itu baik, lalu kenapa?.
Luvia.