THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
21 - Dunia Baru


__ADS_3

Gerald terdiam, membeku, matanya bergetar kecil melihat isi kotak yang sangat mengerikan, Potongan Kepala manusia, dan sepertinya itu kepala seorang perempuan.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi, mari kita lihat misteri sebelum malapetaka yang menimpa Gerald ini terjadi.


Flashback


Gedung.


Saat Daniel menerima panggilan.


"Hallo? Apa ini Daniel?"


"Ya, ini aku Daniel"


"Aku ingin lebih memperdalam kesepakatan dengan mu, dan kau tak bisa menolak"


"Kau mau yang lebih?"


"Aku mempunyai banyak rencana, tapi aku ingin lebih menyakitinya, bagaimana?"


"Terserah saja"


"Ya, itu membuatku senang, apa kau mau melihat banyak mayat dalam 1 tempat"


"Jam"


"Kau terlalu to the point Daniel, baiklah jam 15:00 "


"Baiklah"


_____


Saat Luvia masih koma, dan Aires duduk di bangku taman asrama sendirian, menangis. Daniel menelpon seseorang sesaat setelah mengatakan hal mengerikan.


"Hallo?"


"Tuan, ada apa?"


"Kurasa Luvia kambuh, bisakah kau datang sebelum Aires masuk asrama?"


"Apa yang tidak buat anda, dan kakaku mungkin sekarang sangat kedinginan"


"Cepatlah, dia akan masuk asrama sebentar lagi"


"Aku sudah bergerak tuan, serahkan padaku"


"Berhati-hatilah Fran"


_____


10 menit sebelum Aires masuk asrama, Fran orang yang memancing Erlo agar mau mendengarkan ceritanya soal Haris itu masuk ke kamar LA lewat jendela. Padahal letak kamar suka suka kami ini ada di lantai 2.


Fran melihat kakak kesayangannya Luvia terbaring lemas di atas kasur, dia segera mendekatinya dengan wajah sedih.


"Ini terjadi lagi, aku benci dia tapi... Tidak bisa melakukan apapun"


Fran memdekatkan wajahnya pada wajah Luvia lalu..


Chu


Terjadilah kiss. Entahlah untuk apa dia melakukan itu, tapi setelah beberapa detik melakukan itu tangan Luvia bergerak, Fran yang menyadarinya segara berdiri tegak seperti semula.

__ADS_1


Perlahan-lahan, Luvia membuka mata dan terkejut melihat ada laki-laki di dalam kamarnya.


"Fran?? Kenapa kemari?"


"Membangunkan mu putri tidur"


"Hah?? Apa aku ... Hei cepatlah pergi, di sini bukan tempatmu"


Fran tersenyum hangat, tangannya menyentuh kantong celananya mengeluarkan sepucuk surat.


"Nii-san, ini tugas terberat yang pernah di berikan olehnya, ku harap nii-san bisa bertahan"


*Nii-san artinya kakak dalam b. Jepang.


Luvia menyambut surat itu, lalu kembali menatap mata Fran.


"Dari dia?" Fran mengangguk.


"Kenapa nii-san tidak memberi tau saja pada Aires penyakit nii-san?" Luvia menggelang.


"Penyakitku tidak lazim, aku tidak bisa memberatkannya" Fran tertegun.


"Tapi, itu sangat merepotkan ku setiap hari harus mengontrol nii-san dan jadi satria bayangan dadakan, aku juga pernah di pergoki oleh Aires saat mau keluar asrama beberapa hari yang lalu" Luvia tertawa kecil mendengarnya


"Kenapa tertawa, lucu? Adik Nii-san ini sudah mengorbankan harga diri untuk menyelamatkan nii-san" Fran kesal, tapi Luvia teringat soal permainan tebakan yang di mainkannya bersama Aires sewaktu berjalan keluar asrama, dia semakin mentertawakannnya, melihat reaksi aneh dari sang kakak Fran memutar bola mata kearah lain sambil mengetukan kakinya di lantai.


Luvia berhenti tertawa setelah puas melepaskan rasa sakitnya, dia merubah ekspresinya menjadi mode serius.


"Fran, terimakasih, agar kamu tidak jadi satria bayangan dadakan lagi, nanti saat aku merasa sakit, kau bisa berpura-pura jadi pacarku, dan kau maupun aku tidak merasa berat hati" Fran langsung merasa tersakiti saat Luvia mengatakan hal itu, matanya nampak menahan rasa perih.


Kakaku ini benar2 bodoh.. Batin Fran kesal.


Percakapan singkat itu terhenti dengan perginya Fran lewat jendela tak ada kata setuju darinya, Luvia tau kalau apa yang di katakannya keterlaluan. Dia menatap jendela terbuka itu dengan tatapan sedih, tapi kesedihannya tidak berlangsung lama saat sebuah suara mengerikan menusuk telinganya.


Tanpa pikir panjang, Luvia segera menutup jendela dan menyembunyikan surat itu di dalam lacinya, dia memandang surat itu sejenak lalu segera menutupnya dan pergi keluar kamar, menunggu Aires di luar pintu.


"Apapun yang ku lakukan, Aires selalu percaya"


_____


Tengah malam, di saat semua orang tertidur lelap. Seorang laki-laki berdiri di depan Asrama Perempuan memakai jubah Jack The Ripper dan kali ini dia tidak memakai topeng tapi masker hitam, tidak ketinggalan topi yang sering di pakainya berada di atas kepalanya menutup sebagian rambut. Tangannya memakai sarung berwarna hitam dia memegang bola bisbol dan satunya memegang sebuah foto, dia menatap tajam ke arah lantai 2 dan tertuju pada kamar LA.


"Baca Luvia, lalu nikmati peranmu"


______


Di waktu yang sama Luvia duduk di kursi belajarnya bersiap membaca isi surat itu. Dia menghela nafas beberapa kali baru siap untuk menerima apapun perintah di dalamnya, Luvia sudah membuka surat itu dan membacanya dengan seksama.


To My Maid Luvia


Ini waktunya untuk berpesta mayat, satu-satunya penghalang di dunia ini hanya dia .. Gerald. Pancing dia kedalam perangkap lalu musnahkan dia dari pandanganku, aku ingin melihat seberapa benar ucapannya itu. Aku melihatmu menolongnya, apa kau mengkhianatiku juga? Kerja bagus untukmu karna sudah menolong nyawanya, aku ingin dia menderita sampai mulutnya sendiri bilang "Aku putus asa, lebih baik mati saja" Atau "Aku akan membunuhmu" kau mengerti maid ku yang cantik, kerjakan tugasmu dengan baik dan buat dia membencimu lalu membunuhmu.


      Jack The Ripper.


______


"Aku tidak bisa menolak perintahnya, ini membelenguku sangat kuat, Gerald bisakah kau bertahan"


Luvia menggeleng cepat saat pikiran khawatirnya melintas, tubuhnya merinding. Dia menepuk kedua pipinya cukup keras memastikan kesadarannya sudah pulih.


Ini adalah hari H untuk menjalankan perintah. Perintah yang di berikan Jack The Ripper beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Ini semua untuk Aires, ayo lakukan dengan baik" Ucapnya meyakinkan diri.


Luvia duduk, bangun lebih dulu ketimbang temannya itu, dia menatap wajah sang teman yang nampak sangat cemas berbaring di sampingnya menjaganya semalaman.


Mata Luvia terlihat menurun mengingat kejadian malam tadi saat dia pingsan tanpa alasan. Hanya karna mendengar nama Gerald dia tidak bisa menahan penyakit tidak lazimnya kambuh, namun kali ini dia bangun sendiri tanpa di bantu Fran.


"Aires, nanti kalau saatnya sudah tiba, aku akan memberi taukan segalanya"


Setelah berucap demikian, Luvia segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Di satu sisi Daniel sibuk membaca buku Jack The Ripper di tangannya pagi buta tak seperti kebanyakan orang. Bola bisbol yang selalu di pegangangnya duduk di atas paha kuat berlapiskan kain biru tua yang menawan, dia duduk sendirian di kursi kebanggaannya.


"Aku sudah menamatkannya 2 kali, dan ini sangat tidak menarik"


"Aku lebih penasaran dengan ekspresi putus asanya Gerald, tapi apa yang membuatnya melupakanku? Kejam"


_____


Waktu yang di tentukan tiba, waktu di mana Gerald polos tak berdosa ini termakan permianan yang di buat oleh seseorang yang mengenakan atribut mengerikan Jack the ripper.


Pukul 08:00


Tepat seperti tebakan Daniel, dia membuka kotak biru itu sesuai dengan aturan Game, entah apa sebenarnya arti dari Game itu sendiri.


Baik Luvia, Daniel, Haris, Jarden dan Dery mereka terikat satu sama lain atas nama Game yang tak berketentuan.


Tulisan di atas kotak yang di buka Gerald jelas sekali meremehkan dan menginjaknya, tapi rasa itu tak di indahkannya, Gerald tetap ikut bermain dan ingin menghancurkan permainan itu jika dia bisa.


Rasa shock yang di tunjukannya waktu itu seperti nyata, Gerald memang shock tapi tidak sampai segitunya. Luvia tidak bisa membaca mimik wajah Gerald yang penuh kesedihan, dia hanya menyampaikan hasil misi dan membuka malapetaka untuk Gerald seluas-luasnya.


Tujuannya sederhana, Luvia ingin Gerald membencinya lalu membunuhnya, sesuai perintah.


***


"Apa kau mengingatku?" Tanya Luvia tanpa ragu.


Gerald yang semula diam, mengalihkan kelereng hitamnya tepat di wajah Luvia yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Sudah kubilang, aku bukan orang baik" Tambahnya, Luvia memprovokasinya sampai dia bisa mendengar kata yang ingin di dengar si pengirim surat.


"Ya, kau bukan orang baik" Sahut Gerald, di iringi keheranan Luvia.


"Lalu.. ??" Tanya Luvia memastikan.


"Tapi itu hanya menurutmu saja"


Luvia tambah bingung.


"Aku ... Ingin mengucapkan terimakasih karna telah memasukanku ke dalam dunia baru"


"Dunia baru? Maksudmu penjara? Heh konyolnya" Kesal Luvia.


.


.


.


.


Jadi ini, kenapa dia sangat ingin mendengar kata-kata putus asa dari mulut Gerald, jelas sekali kalau dia adalah cowok paling sabar yang pernah ku temukan.

__ADS_1


Luvia.


Kalau suka ceritanya Vote ya chingu, inikan cerita misteri jadi agak pusing bacanya, maaf juga terimakasih sudah mampir meluangkan waktu untuk membaca kisah dari seorang penulis amatir seperti saya, semangatt.


__ADS_2