THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
31 - Aires Bertemu Gerald, End Seri 1


__ADS_3

Ini adalah hari dimana Gerald menyaksikan hal yang tak pernah di bayangkannya. Karna kejadian itu dia duduk hampa di ruangan yang menjadi sel barunya, ruangan dimana Dival di siksa dan di perlakukan kejam tak berperasaan sampai mati. Jangan tanya bagaimana keadaan Gerald saat ini, jelas dia hancur dan sangat terguncang. Yang sekarang terlihat hanyalah kehampaan yang sangat kuat, keputusasaan yang tak pernah di rasakan Gerald sebelumnya. Rasa yang di inginkan Daniel, mungkin.


Waktu seolah berjalan sangat lambat bagi Gerald, kepalanya kosong, tubuhnya sesekali bergetar kecil, shock yang di rasakannya sangat dahsyat, lebih dari pada di pukuli Ziri. Tak ada kata yang pas untuk keadaannya saat ini kecuali satu, Mimpi Buruk.


Tapi sayangnya apa yang di lihatnya bulanlah mimpi buruk, tapi kenyataan yang kejam.


Sekarang mungkin sudah siang hari yang waktunya bagi para tahanan memecah batu di tengah lapangan. Tapi Gerald tak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya, tak ada sipir yang memaksanya juga untuk ikut bekerja, seolah dia tak pernah ada di penjara itu.


Tak lama dengan keheningan menyakitkan itu, tiba-tiba pintu ruangan yang tertutup itu terbuka lebar, Gerald tak bergeming sedikitpun karna pikiran kosongnya. Seorang cewek dengan pakaian santai melangkakan kakinya memasuki ruangan, dan dia terlihat terkejut saat berada didalam ruangan itu, hanya ada Gerald yang duduk seperti bukan manusia lagi, karna saking berantakannya rambut menawan itu dan tatapan hampa itu menambah kesan kekosongan yang dalam.


Cewek itu berada agak jauh dari tempat Gerald duduk, dia berada di dekat pintu, menatap Gerald dengan penuh keheranan. Di samping itu, Gerald yang di tatap tak menyadari kehadiran cewek tersebut, sampai cewek itu berbicara padanya.


"Permisi! Apa Dival tidak disini? " Tanya cewek itu yang suara lembutnya menusuk kekosongan Gerald.


Perlahan Gerald mengangkat kepalanya dan menatap cewek di dekat pintu itu, terlihat cewek itu membawa sesuatu. Saat Gerald terus mengangkat kepalanya, angin seolah menghempas wajah dan rambutnya saat matanya bertemu mata si cewek, dan hal itu menghangatkan kekosongannya sejenak. Cewek itu adalah Aires.


.


.


.


*Kejadian saat Aires pingsan dalam Kamar Ketua Asrama. 3 hari sebelum Aires mengantarkan sesuatu yang di minta Dival.


Aires terbaring di atas kasur Ketua Asrama, dahinya di kompres air hangat dan pencahayaan lumayan terang di sekitar kasur itu.


Ketua asrama itu membawakan bubur dan teh hangat dan meletakkannya di atas meja dekat kasrunya, dia duduk di samping Aires yang tak lama terbangun.


Aires membuka matanya perlahan dan segara memahami situasi, dia langsung duduk dan menatap Ketua Asrama yang sedang menatapnya juga.


"Kenapa aku disini? Aku sakit ya? (Memyentuh dahi bekas kompres) Maaf ketua membuatmu repot (menundukkan badan hormat)" Ucap Aires dengan polosnya.


Ketua asrama hanya melempar senyum hangat, hal itu membuat Aires heran.


"Kamu pingsan selama 30 menit, aku membuatkan mu bubur dan teh makan saja dulu" Ucap Ketua asrama itu sembari mengangkat mangkuk bubur buatannya dan ingin menyuapi Aires.


Aires... Jelas tidak enak dan segera mengambil mangkuk bubur itu dan memakannya sendiri.


"Jangan begitu ketua, terimakasih sudah buatin bubur" Ucap Aires sambil melahap bubur itu sampai habis.


Ketua asrama melempar senyum tanpa henti dan menyodorkan teh buatannya, Aires dengan sigap meminum habis teh itu dan segera bangun dari tempat tidur dan ingin keluar.


"Aku pamit dulu ketua, makasih sudah buatin bubur dan merawat ku, maaf merepotin (membungkuk lagi)" Ucapnya dan segera berlari keluar kamar ketua asrama menuju kamarnya. Jelas sekali Aires, ketakutan dengan sikap ketua asrama itu dan sepertinya dia melupakan kejadian sebelum dia pingsan.


Ketua asrama yang di tinggalkannya dengan tergesa-gesa seperti kesetanan itu sekarang kembali memasang wajah dingin tanpa senyuman. Dia menatap bubur dan teh di atas mejanya itu.


"Dia sudah baikan, itu lebih dari cukup, sampai kapan aku harus main-main, aku ingin bersama Aires lebih lama" Ucapnya agak kesal.


Aires yang sampai kamarnya itu langsung merengek kek bayi di depan Luvia, menceritakan semua hal mengerikan yang terjadi di kamar ketua asrama itu. Ternyata...


"Aires tenang dulu, tenang, emangnya kamu kenapa, di hukum sama vampir itu? " Tanya Luvia dan mendudukan Aires di atas kasur Aires agar dia tenang.


"Aku tidak tau detailnya gimana, intinya, kak Estelin itu buatin aku bubur sama teh, katanya aku demam 30 menit dan tau gak apa yang serem? " Curhar Aires.

__ADS_1


"Apa? Apa yang serem" Tekan Luvia penasaran.


"Kamarnya, kamarnya serem banget aslii.....!! Luviaa! kayaknya aku bakal mimpi buruk, aku sial banget...!!! Kenapa aku harus kena demam segala sii huaaa huaa! " Rengek Aires keras.


Hal itu membuat Luvia kewalahan.


Tapi mendengar cerita Aires, Luvia merasa janggal.


"Aires! Kenapa kamu bisa demam dadakan? Itu kan mustahil? Kamu ingat gak sebelum kamu pingsan dia ngapain kamu? " Tanya Luvia.


Tapi Aires malah.


"Ha? Mana ku tahu! " Herannya dengan polos membuat Luvia menghela kesal.


"Aa! Aku lupa! Luvia! 3 hari kedepan jam 2 siang aku ada janji sama pelayanku yang dulu itu, si Dival. Dia sms aku, tapi aku gak tau itu dari siapa awalnya kan aku lagi fokus kerjain PR, saat ku cek ulang, ternyata dari Dival (cengengesan), jadi kerjain tugas dari guru killer itu ya buat minggu depan itu" Pinta Aires masang wajah imut.


Luvia benar-benar merasa kesal tapi...


"Iya, serahmu deh" Jawab Luvia dengan nada pasrah.


.


.


.


*Aires Sebelum bertemu Gerald.


Aires sampai di penjara sendirian naik taxi, dia di perbolehkan masuk karna dia seorang bangsawan.


Tapi saat memasuki ruangan itu, dia hanya melihat Gerald, meski awalnya dia tak mengenal Gerald karna wajahnya menunduk, tapi saat dia bertanya keberadaan Dival, Aires dengan jelas melihat wajah Gerald dan mengenalinya.


"Aa.. Dia di kurung di penjara ini ya, padahal pembunuh bangsawan harusnya di eksekusi mati" Batinnya.


Meski Aires buka suara duluan dan mendapat respon Gerald, dia agak heran karna Gerald tak menjawab pertanyaannya.


"Kamu tau dimana Dival? " Tanya Aires lagi dengan polosnya.


Aires bisa melihat Gerald yang tersentak saat mendengar nama Dival di sebut olehnya, tapi ternyata Gerald belum mampu bicara.


Aires masih menatap Gerald lebih tepatnya menyimak apa yang baru saja di alami cowok tak di kenalnya itu.


"Kamu Gerald? Cowok Gila dan pembunuh bangsawan itu? " Tanya Aires memastikan dengan nada polos.


Gerald mengangguk.


"Ini cowok kok kayak bukan pembunuh si? " Pikir Aires.


"Ini ruangan Dival, dimana dia? " Ucap Aires lagi sambil melihat seluruh ruangan hampa itu, sekilas dia mencium bau amis darah.


Gerald masih diam saja.


"Cueknya minta ampun, udahlah bodo amat" Keluh Aires.

__ADS_1


Aires berjalan mendekati Gerald dan meletakkan sesuatu yang di bawanya itu tepat di depan Gerald duduk, meski jelas sekali Wajah Aires agak bad mood tapi dia berusaha untuk tenang.


"Aku dan Dival punya janji hari ini jam segini, karna dia tidak ada aku tetap harus menyerahkan buku ini padanya, tolong ya" Ucap Aires lagi, tapi kali ini matanya benar-benar menatap wajah sedih Gerald, dan dia bisa mengerti kenapa cowok itu mencuekinya.


Aires melihat Gerald menggigit bibir bawahnya kencang dan matanya yang hampa itu seperti tak sanggup untuk mengeluarkan air mata, dia menahan air matanya dan menyakiti batinnya sendiri.


"Aku tidak mengenalnya, aku juga tak merasakan sensasi aneh seperti saat di depan gerbang sekolah, tapi... Aku bisa merasakan keputusasaan yang kuat di matanya, aku.. Bukan.. Hati nuraniku menginginkanku untuk bicara sejujurnya padanya, meski bukan urusanku tapi.... Aku pernah merasa seperti ini" Batin Aires setelah mengerti seberapa putus asanya laki-laki di depannya.


"Hei! Tetaplah hidup! Aku ingin melihatmu dimasa depan" Ucap Aires dengan nada tenang lalu berlalu pergi.


Gerald terkejut mendengar kata-kata itu, mata yang menahan air bening itu tiba-tiba saja mengalir sendirinya, Gerald bahkan terkejut dan segera menghapus air matanya, dadanya terasa sesak tapi juga hangat, seolah kekosongan dinginnya itu di paksa untuk menjadi hangat oleh cewek yang tak dikenalnya sama sekali. Gerald tak bisa menahan rasa aneh itu dan menangis sejadi-jadinya.


Aires berhenti tak jauh dari ruangan itu setelah mendengar dengan jelas tangisan Gerald yang sangat memilukan. Dia menatap langit-langit penjara yang dingin dan tersenyum tipis.


"Jadi begitu ya? Dival... Sudah tidak ada"


.


.


.


.


.


.


.


Hari berlalu menjadi sore, suasana penjara ramai di ruang makan.


Tapi..


Gerald...


Setelah lama menangis, menumpahkan amarahnya dan kesedihannya, dia merasa kelelahan dan terbaring lemas di ruangan itu. Dengan keadaannya yang menyedihakan itu, dia berusaha menggerakkan bibirnya.


"Aku... Benar-benar lemah" Cercanya pada dirinya sendiri.


"Lemah! Lemah! Naif dan bodoh! "


Gerald memegang buku Dival sambil mengumpat dirinya sendiri.


"Ah.. Kenapa semuanya jadi begini? Siapa yang salah disini? Sejak kapan aku semenyedihkan ini? " Tanyanya dalam kesunyian.


Karna kelelahan, Gerald pun akhirnya tertidur.


"Ini terjadi karna dia! Ini terjadi karna aku bertemu dengannya 10 tahun yang lalu! " batin Gerald.


Next cerita akan di lanjutkan ke THRONE seri 2 "HOPE" Hide In The Dark. Kisah 10 tahun yang lalu sebelum Gerald masuk penjara dan jadi kriminal.


See You Next Series....

__ADS_1


Akhirnya Ada juga cerita yang selesai ku buat, meski hanya satu seri sih.. Makasih sudah mau meluangkan waktu membacanya.


__ADS_2