THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
12 - Jangan Putus Asa


__ADS_3

(Maaf ceritanya terlalu bagus, abaikan aja, yang terpenting sekarang, kayaknya cerita ini terlalu banyak tokoh dan berbelat belit. Yahhh emang saya pengen buat cerita kayak begini, mencoba menantang diri dengan karya aneh dan rumit.)


Di sini aku kembali melihat hal yang tak kuinginkan, setiap kali menutup mata, kamu selalu membayangiku. Pergi!!!


Gerald.


Jantung mereka berdua seolah mau copot mendengar teriakan Gerald yang tiba-tiba itu, membuat tubuh menjadi beku sesaat, mata membulat dan nafas tercekat, keringatpun membahasahi wajah mereka. Orang yang bernama Kanae itupun memberanikan diri untuk menyentuh tubuh Gerald yang menggigil hebat. Sang teman menelan ludah dengan susah payah melihat keberanian Kanae yang tidak di milikinya saat ini, dia tak mencegah ataupun bicara, hanya diam melihat Kanae dengan beraninya mendekati anak muda yang baru saja menjadi rekan kerja mereka itu.


"Gerald, Gerald! Bangun" Mendorong kecil lengan Gerald yang ikut bergetar kecil, dia, Kanae mencoba merasakan panas tubuh Gerald dengan meletakkan telapak tangannya di atas dahi Gerald, lalu terdiam sejenak dan berpikir.


"Furuji-san, dia demam tinggi, kita hubungi keluarganya aja?"


Furuji menyerngit.


"Bukankah dia sebatangkara, siapa yang mau di hubungi?"


Mereka berdua terdiam sejenak. Kanae yang tidak ingin menyerah membantu Gerald meraba-raba kantong celananya dan mendapatkan sesuatu.


"Ngapin Kanae, anak orang di sosor?" Kanae menoleh kearah Furuji dan memasang wajah jengkel "Ngapain nyososr dia, aku masih waras, nih" Nyerahin kertas kecil bertulisan nomer. "Niat banget nolongin dia, udah sana telpon pakai ponsel kamu" Kanae tambah kesal "Ye, Kok gitu sih, kalo yang ngangkat cewek gimana?" Furuji tertawa kecil. "Udah, nanti aku yang bicara coba aja dulu" Kanae pasrah dengan saran Furuji, dia menekan no itu menelponnya, sesaat menunggu sambungan, telpon pun tersambung, Kanae dengan sedikit ragu mencoba bicara.


"Hallo, apakah anda keluarganya saudara Gerald?"


"Ya, ada apa dengan dia?"


Kanae membeku, Furuji mengambil ponsel dari tangannya dan bicara menggantikan Kanae, dia tau kalau seseorang yang di telponnya adalah perempuan.


"Gerald demam tinggi, bisakah anda menjemputnya pulang?"


"Gerald sudah mati? Apa kau bercanda anak muda, akan kubunuh kau!!!!"


Suaranya sangat menakutkan hingga Furuji menjatuhkan ponsel temannya itu, Kanae mendesis mengambil ponselnya dan semakin jengkel pada furuji yang sedang membeku.


"Kamu kenapa? Kalau ponsel aku rusak mau ganti, gak kan" geramnya.


"Kanae, kita gak usah ikut campur urusan dia, cabut yuk"


"Kenapa?"


"Udah diem, nanti aja ku cerita'in"


____


Lama duduk di bangku halaman asrama, Aires pergi kembali ke dalam menuju kamarnya. Wajahnya lebih baikan di banding sebelum dia menangis, sebelum dia mengeluarkan isi hatinya dalam kesunyian. Matanya fokus pada lantai berwarna coklat muda itu, tanpa di sadarinya ada seseorang yang berdiri di depan pintu kamarnya, menunggunya. Sampai pada tujuannya dia tertegun dengan pemandangan yang baru saja di lihatnya.


"Luvia!!"


Sebuah senyuman hangat menyambut kata-kata itu. Tak ada yang bicara setelahnya tapi, satu pelukan penuh kekhawatiran sudah menjawab semuanya.


"Bodoh!!" Ucap Aires.


Aires sangat merasa bahagia, bebannya seolah terangkat begitu saja tanpa bantuan siapapun. Matanya terus terpejam merasakan apakah ini benar Luvia temannya, teman yang sering bersamanya, menjadi sahabat karibnya sebelum dunia di ciptakan, pena di langit sudah menulis nama mereka lebih dahulu, Alay.


Saking eratnya pelukan itu, wajah Luvia yang semula baik-baik saja, mulai memerah.


"Aires, jangan kenceng-kenceng, mau bunuh aku ya, gak bisa nafas nih" Aires segera melapaskan pelukannya dengan wajah bersalah, dia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya seperti biasa, sampai dia tak bisa berkata-kata, matanya yang memandang wajah Luvia lekat-lekat lebih dari cukup untuk membuatnya yakin, Luvia sudah sepenuhnya sembuh.


"Kapan kamu bangun?"

__ADS_1


"10 menit yang lalu"


"Gimana caranya? Dokter aja gak bisa bantu kamu"


"Oh, itu karna kamu Aires"


Bengong.


"Karna aku, maksudnya gimana?"


"Tangisan mu memanggil nyawaku kembali"


***


Kantor Polisi


Belum ada kepastian dari pihak polisi tentang kasus baru yang sangat meresahkan warga kota QOINZE terutama wilayah Growtsh yang terkenal dengan perumahan, kafe, sekolahan mewah dan elit. Kasus pertama saja belum tuntas, datang lagi kasus baru yang lebih rumit yang memakan banyak korban. Kali ini korbannya tidak hanya dari kalangan bangsawan, tapi mahasiswa biasa juga ikut terseret arus buatan penjahat yang tidak di ketahui oleh polisi identitasnya.


Kantor polisi tambah sibuk dan panik, mereka di tuntut oleh masyarakat karna di anggap tidak kompeten dalam menangani kasus meresahkan ini, mereka hanya bisa merengek dan tak bisa membantu polisi dengan memberikan kesaksian atau apapun itu demi kelancaran penyelidikan.


Detektif yang bergelar si jenius Leonardo ini pun di turunkan kelapangan oleh pihak atasan untuk membantu polisi yang sudah angkat tangan karna tak bisa memecahkannya dengan cepat.


Dia sudah berada di ruang otopsi, melihat 6 mayat laki-laki yang semuanya hampir seumuran, kelereng hijau itu terus mengitari apapun yang terpampang di tubuh mayat, walaupun kecil kemungkinan dia bisa mendapatkan jawabannya. Tangannya menggores cepat kertas putih di genggaman dengan tinta merah mencolok, dia juga menandai sebagian yang di tulisnya.


"Pak, saya ada laporan" Suara ini menghilangkan fokus Leonardo dalam sekejap, kelereng hijau itu mentapa orang yang memanggilnya itu.


"SeorangĀ  penyidik dari tim B bilang tidak ada sidik jari yang tertinggal di tubuh mayat, baik itu punya bangsawan Haris ataupun dari si pembunuh lain yang mungkin ada di sana" Leonardo mencatat apa yang baru saja di katakan polisi dengan tanda nama Kirosuki. Polisi itu terlihat masih muda dengan wajah tampan, di sukai oleh gadis remaja.


"Ada lagi?"


"Baiklah, ini sudah cukup" Menutup buku catatannya.


Polisi tampan itu sedikit memiringkan kepalanya.


"Apa maksud anda?"


"Masih ada yang ingin kau katakan junior?"


Kirosuki sedikit tersentak, perkata'an Leonardo seolah tak memberinya jeda untuk santai, terlalu serius. Ia menarik dalam nafasnya lalu mengangguk.


"Santai saja, aku memang begini, kamu pasti bingung" Leonardo mentertawakan tingkah juniornya itu.


"Baiklah pak, (menarik nafas lagi) Setiap mayat di bunuh dengan cara berbeda, ada 3 yang terkena racun dan sisanya murni di tusuk sampai mati"


Leonardo tersenyum kecil.


"Terimakasih junior, kamu boleh pergi"


Kirosuki mengangguk cepat dan hormat pada Leonardo baru berbalik pergi meninggalkannya dari ruang otopsi.


"Ha'ahh, apa yang di rencanakan Jarden ya?" Desahnya sambil menatap lekat salah satu mayat dengan dada robek kehilangan paru-paru beserta jantung.


"Ini tidak terlalu rumit, asalkan ada satu bukti maka .. (Tersenyum lebar) I'm Winner"


_____


Gerald masih terbaring lemas di ruangan itu sendirian, dia terbangun 30 menit setelah Furuji dan Kanae pergi. Wajahnya di banjiri keringat dingin, nafasnya juga terengah seolah habis lomba lari 100m. Tak ada siapapun di situ dan tak ada apapun, kelereng hitam pekat itu memutari ruangan dengan pelan, lalu hilang dalam dua kelopak yang mengantupnya. Gerald ingin cepat bangun dan melanjutkan kerjanya, dia sendiri tidak tau berapa lama dia terbaring seperti ini. Tubuhnya terasa sangat berat dan sakit, terutama punggung yang habis di timpa lemari cukup berat. Kepalanya tidak terlalu pusing hingga dia tidak perlu menyentuhnya, tangannya fokus pada kaki yang tak bisa di gerakan dengan normal, dia mendecak kesal dalam sunyi. Lagi kelereng hitam itu mengitari ruangan asing yang tak pernah di lihatnya itu, mimik wajahnya jelas cemas dan ada sedikit ketakutan, Gerald tidak tau harus apa karna kakinya mati rasa.

__ADS_1


Dalam keheningan itu dia menundukan wajahnya dan matanya mulai berkaca-kaca, dia sangat lemah juga hina hingga tak ada yang mau membantunya, sebenarnya dia sendiri tidak ingin berteriak minta tolong karna dalam pikirannya hal itu hanya akan menimpakan beban pada orang lain. Dia hanya bisa menahan rasa sakit dengan meringis dalam diam dan menangis sembunyi-sembunyi di dalam hati. Berharap semua itu bisa melegakan rasa sesak dalam dadanya yang terus saja ingin menekan air mata suci itu jatuh dengan alasan... Tidak ada gunanya hidup (Putus asa).


"lagi, aku tidak bisa menahan rasa sakit ini, kenapa bayangmu datang di saat begini. Sial!!"


"Dia! Benar-benar ingin aku putus asa, tidak, aku tidak selemah ini"


Ucap Gerald, dan tatapannya kembali tajam serta bersemangat.


***


Malam datang dengan cepatnya, senyum merekah dari bangsawan romantis bernama Erlo ini nampak jelas. Dia berada dalam kamarnya dan tak henti-hentinya memandangi wajah dalam layar ponselnya itu, siapa lagi kalau bukan bidadarinya Dery.


"Kamu manis banget baby" ( guling-guling gak tentu arah) Erlo senyum-senyum kayak orang gila di pasar).


Dia terus saja menatap wajah bidadarinya itu, lalu dia teringat satu hal, temannya Haris tidak kunjung menchat dia seperi biasa.


"Dia kemana sih, biasanya udah heboh aja bahas soal detektif bule itu, Aa telpon aja"


Dia meletakan ponselnya di telinga dan menunggu sambungan tersambung. Lalu ...


"Hallo, Ris kamu di mana sih?"Mendengarkan orang di sebrang dengan seksama.


Wajah Erlo berubah kaget dalam sekejap.


"HAH, HARIS DI KANTOR POLISI!!"




"Hai Daniel, gimana kabar kamu?"



Daniel yang awalnya menatap pemandangan malam kota QOINZE dari jendela kaca besar membalikan badannya kearah suara perempuan yang menyapanya itu, lalu senyum manis membuat meleleh hati siapapun yang melihatnya.



"Aku baik\-baik saja" Jawabnya.



.


.


.


.



Senyumku harusnya untukmu, tapi apa daya, semuanya ini harus kulakukan demi kebahagianmu di masa depan sayang.



Daniel.

__ADS_1


__ADS_2