
Malam itu, Kota QOINZE tepatnya di daerah pertokoan lengkap Clodrizz di hebohkan dengan tragedi mengerikan di tengah-tengah keramaian, sesuatu yang tak terduga.
Orang-orang berlarian menjauh dari tempat kejadian, berteriak, menabrak orang lain tanpa rasa bersalah, demi menyelamatkan diri, terjadi kekacauan yang agak merepotkan.
Suara tawa dari pria berpakaian serba hitam itu terdengar nyaring, dia seakan puas melihat kekacauan yang baru saja di buatnya. Darah bersimbah di lengan bajunya yang gelap, raut wajah korban yang kesakitan lucu baginya walaupun dia belum menengok siapa yang terkena pisaunya. Merasa belum puas dia memutar-mutarkan pisau itu di bagian vital si korban, suara daging robek terdengar ngilu di telinga, dia seakan ingin korbannya merasakan kematian dengan rasa seni, rasa sakit yang tak terlupakan. Entah itu Luvia atau Aires? Masih tanda tanya.
Setelah beberapa saat hal mengerikan itu terjadi, suasana mulai hening, sunyi, waktu seolah sedang berhenti berjalan.
. . . . . (You Will Be The A Jackpot)
"Aires, ayo pulang"
Suara Luvia yang terdengar santai, memecahkan keheningan si pria.
"Gak marah lagi?"
Tanya Aires yang di sambut anggukan Luvia.
Pria itu melihat kalau Aires maupun Luvia baik-baik saja, dia merasa tak percaya, apa ini mimpi? Lalu siapa yang di tusuknya? Matanya tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.
Mana kekacauan itu?
Teriakan?
Tangisan?
MANA?
Dia jauh dari kata sampai atau jaraknya terbilang tidak dekat dengan mereka, dan orang-orang di sekitar kejadian beraktivitas normal, tidak ada yang terjadi.
Tapi kenapa dia merasa seolah sudah menusuk salah satu dari mereka?
Dan kenapa dia merasa orang-orang panik berhamburan kesana kemari, berteriak seperti orang gila?
Apa itu hanya imajinasinya saja?
Deg...
Deg.... Deg.... Deg
Deg.... Deg...
DEG DEG DEG DEG....
Jantungnya berpacu tak karuan, ada kemarahan yang bergejolak di dirinya.
Pria itu melihat Luvia menggandeng tangan Aires dengan tenang, pergi menjauh darinya, lalu melirik kepadanya, mengatakan sesuatu.
("Sayonara ... Jackpot")
Pria itu terjatuh ke tanah, seakan lututnya tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri setelah mengerti apa yang di katakan Luvia.
Gejolak amarah yang mendidih tadi...
Lenyap..
Dia duduk menindih lutut dan wajahnya yang nampak ketakutan, pisau yang di pegannya lepas dari genggaman begitu mudahnya, orang-orang yang lewat dapat melihatnya. Lalu tak lama 3 orang polisi datang dengan tiba-tiba langsung menangkapnya, memborgol tangannya serta membawa pria itu tanpa adanya perlawanan.
Pria itu merasa kepalanya pusing, dia tak memikirkan pandangan orang terhadapnya, dia jatuh dalam pikirannya sendiri. Wajahnya pucat, cahaya pupil matanya redup, dia seakan melihat suatu kejadian yang jauh lebih mengerikan di banding penjara, tak terbayangkan.
Apakah yang terjadi?
____________
Pukul 12:00
Kamis 18 januari 2018
Terik matahari di kalahkan oleh dinginnya cuaca QOINZE, salju memang belum turun, namun ada tanda-tanda akan turun. Kampus, sudah di isi oleh mahasiswa yang ingin mendapatkan ilmu di universitas elit ini, se'elit penghuninya.
Dosen memasuki ruangan untuk jurusan Seni, wajah yang belum terlalu tua, namun bisa di sebut tua dengan rambut sedikit putih, matanya sedalam lautan, yap dosennya orang luar negri.
Bangku-bangku sudah terisi, mahasiswa sudah siap menerima materi, tak perlu lama pelajaran pun di mulai.
Di sudut bagian belakang bangku, dua orang mahasiswa sedang asyik dengan dunianya sendiri. Mungkin wajar bagi mereka, jam segini biasanya jam tidur siang. 1 jam berlalu dengan materi membosankan tapi bermanfaat ini berjalan, dua orang itu masih dalam dunianya, sang dosen melihat mereka, karna tak ada yang bangun setelah lama di diamkan, akhirnya beliau mendekati mereka berdua.
"Sampai mana mimpinya tuan-tuan?"
Tegur sang dosen sambil menepuk bahu keduanya.
Sontak saja mereka terperanjat dari bangku, dan langsung bertatap mata dengan dosen yang bisa di bilang mengerikan, nyali mereka berdua luntur bagai lumpur di sapu air.
"Sudah sampai paris pak!"
Sahut salah satu mahasiswa yang lain dan mengundang gelak tawa, memecahkan ketegangan mereka berdua yang terkena serangan dosen killer.
"Oh jadi sudah sampai ngiler ya?"
Gelak tawa pun menggema mendengar candaan sang dosen, tapi tidak bagi mereka.
Salah satu dari mereka berdua mengusap mulut siaga akan sesuatu yang memalukan.
"Anu .. Ma-maaf pak, gak akan di ulangi kok"
Buka salah satu dari mereka berdua, Haris.
"I-iya, kami gak tau bapak sudah masuk"
Sambung temannya, Erlo.
"Gak ada yang bangunin gitu?"
Perjelas sang dosen.
Mereka ragu-ragu untuk mengangguk, apalagi melihat tatapan horor temen-temen sejurusannya. Mereka bagaikan menghadapi dua api, bingung untuk milih yang mana, tapi kalau kalian di posisi mereka, apa yang akan kamu pilih?.
"Ayo jawab!!"
Seru sang dosen agak keras.
"Erlo jawab"
Senggol Haris berbisik pelan.
"Kamu aja Haris"
Lemparnya.
"Gak mau jawab?"
Tanya dosen dengan nada tegas.
"I-iya pak, iya gak ada yang bangunin"
Jawab Haris sedikit gagap.
Suara helaan nafas marahpun terdengar beruntun di telinga mereka berdua. Entahlah, kenapa?. Padahal mereka gak mau bilang iya, dan mustahil bilang tidak. Hasilnya ...
"Kalian!!!! .... Semuanya akan ada tambahan tugas dua kali lipat!!!"
"Yahhh"
__ADS_1
Ucap mereka serentak.
__ ___ ______ ______ ___ __ ______ ___ ___
Santai aja ...
***
Warnet, tempat untuk pencinta internet maupun Game.
Dan...
Sebuah video ekstrim sedang di tonton oleh dua orang yang membuat masalah di kampus siang tadi, Erlo-Haris.
Mereka berdua asyik dengan mulut menganga takjub akan apa yang di tonton, dan tak henti-hentinya berseru Wow.
"Ya, ya, Erlo keren kan?"
Tanyanya di balik bilik.
"Okelah"
"Gila, kapan kita bisa kayak gitu"
"Tunggu aja"
"Kapan bro"
"Kiamat"
"Yah, ngaco aja"
Masih asyik dengan hal itu, mereka benar-benar santai menanggapi masalah yang menerpa.
"Haris, gimana nih, aku malas lihat film hari ini?"
Keluh Erlo.
Haris mengabaikan.
"Ya, denger tidak!!"
Serunya.
"Iya, iya, nanti aja latihannya, 3 bulan lagi juga tuh audisi"
"Bener sih, tapi ..."
"Tapi apa?"
Mata meraka fokus pada tontonan.
"Emh..." Erlo ragu jawab.
"Ck lama" Decak Haris mulai kesal.
"Pacar aku nih, gak suka film komedi, aku kan mau main film komedi"
Curhatnya.
"Kamu milih pacar kamu?"
Tanyanya balik.
"Iya"
"Yaudah, turutin aja, emangnya dia mau kamu main film apa?"
"Horor"
. . . .
____
Hotel.
Masih di tempat yang sama, dia laki-laki muda dengan topeng jack the rippernya menatap layar laptop yang menayangkan hal menjijikan, soal darah dan sejenisnya. Kini dia memakai jas warna hijau lumut serta tak ketinggalan jubah hitam dan topi, seperti gambaran orang tentang sosok si pembunuh sadis itu, dia penggemernya? Entahlah. Dia sering sekali terkekeh melihat video yang dilihatnya, Aneh.
"Bagaimana ini akan menghibur"
Terkekeh berat.
"Harusnya kau robek dulu dadanya, lalu keluarkan paru-paru rusaknya itu"
Semakin terkekeh.
Jarden berada di kantor polisi, dia dengan fashionya yang keren berjalan angkuh ke sebuah ruangan, ruangan introgasi. Jarden menatap orang yang akan di introgasinya itu dengan ramah, dia melihat wajah pelaku yang lebam akibat pukulan polisi lain.
"Menyedihkan, psikologisnya buruk, dasar polisi tak becus, aku harus menjadi protagonis untuk mengubah suasana ini"
Batinnya.
Jarden duduk dengan tenang berhadapan dengan pelaku, dia menyilang tangannya di dada, lalu menghela berat seolah ini masalah besar.
"Hallo tuan black"
Sapanya.
Pelaku tak bergeming.
Pelaku memiliki wajah lesu dan bulatan hitam bawah mata seakan kurang tidur, dia tidak terlalu mengerikan seperti kebanyakan penjahat. Tubuhnya kurus kurang gizi atau sorang pecandu alkohol, ada sedikit jenggot di dagunya, matanya hitam pekat dengan bibir menghitam. Tapi ada sedikit kejanggalan di wajah orang itu, luka?.
"Apa yang anda lakukan di jalan ramai seperti itu tuan black?"
Masih tak ada jawaban.
Jarden santai menanggapinya, dia memposisikan duduknya dengan nyaman.
__ADS_1
"Ok, wajah anda kenapa tuan black?"
Masih diam.
Jarden menghela nafasnya, menenangkan diri sebisa mungkin.
"Dulu, waktu kecil aku pernah kekantor polisi karna menjadi saksi tentang kasus pencurian. Awalnya aku takut, tapi mungkin karna aku terlalu kecil polisi\-polisi bodoh itu menyogok ku dengan permen, suapaya mau bicara. Aku tetap tidak memberikan kesaksian karna takut dengan penjahat itu, memikirkan kalau dia sudah tak di penjara. Kau tau kan pikiran anak\-anak waktu itu? lalu seorang kakek\-kakek mendekatiku, dia menyentuh bahuku sambil berkata "nak, beritau polisi kejadiannya, takut tak akan merubah apapun, keadilan tidak menyakiti pengikutnya" Aku angkat bicara setelah itu, dan merasa tak takut apapun, karna keadilan tidak menyakitiku, Aku percaya itu"
Jarden menarik nafas lagi dan melanjutkan kata\-katanya...
"Jadi tuan black, maukah anda jadi pengikut keadilan? aku tak akan main kekerasan walaupun anda tidak mau menjawab"
"Keadilan ya? Ini orang gila? "
Batin pria itu setelah mendengar kata\-kata bijak Jarden.
"Terserahlah... Tugasku sudah berakhir... Apa salahnya aku buka mulut? Aku ingin tau topeng pria muda yang percaya diri ini"
Batinnya lagi.
Kali ini usahanya tak sia\-sia, pelaku itu mulai menatap mata Jarden meskipun belum mau buka mulut.
"Haah... Matanya saja sudah kotor... Terserahlah... Mungkin aku bisa melihat senyuman aslinya hari ini"
Pikir penjahat itu setelah menatap mata Jarden.
"Anda sudah mau bicara, katakan saja"
Tawarnya seraya tersenyum hangat.
Pelaku itu masih tak ingin bicara, tapi dia mulai merasa nyaman dengan perlakuan Jarden, yang tak langsung membentaknya, mungkin, yah dia ada maksud lain lah.
Dengan sedikit kesabaran, akhirnya si pelaku mulai mencoba menggerakan bibirnya yang dari tadi tertutup rapat.
"Aku, di suruh"
Bukanya.
"Di suruh, oleh siapa?"
"Bos"
"Anda seorang mafia?"
"Bukan"
"Lalu?"
"Pembunuh bayaran"
Jarden menyeringai mendengar itu dia menatap penjahat di depannya dengan tatapan....
Kebencian.
Pria penjahat itu melihata seringai Jarden dengan jelas...
"Orang ini... Benar\-benar Gila"
.
.
.
.
.
Bodoh, sepertinya ini akan menyenangkan, haruskah game di mulai sekarang? .. Ah terlalu cepat rupanya.
__ADS_1
Jarden.