
Malam pukul 20:32
Asrama perempuan
Hampir semua kamar terdengar berisik dan mengganggu, mereka bercanda dan berbincang dengan nada cukup keras. Sebagian kamar ada yang sangat sunyi seperti tak berpenghuni, isinya adalah orang-orang pintar yang sedang fokus pada buku pelajaran. Sepertinya suasana seperti ini sudah biasa terjadi, jadi tak ada yang protes satu sama lainnya.
Kamar Luvia-Aires, LA.
Suara tawa cukup keras terus menerus menusuk telinga Luvia yang duduk tenang membaca novel horor, dia mendesah kecil lalu menatap temannya yang sangat keterlaluan itu.
"Ya, Aires kecilkan suaramu" Tegurnya.
Aires mengalihkan pandangannya pada Luvia, wajahnya nampak masih belum bisa berhenti untuk tertawa.
"Ngebosenin baca buku malam gini, mau ikut nonton gak, gokil abis nih anime" Balasnya, lalu kembali menatap layar monitornya dan tertawa.
Luvia mencoba bertahan untuk tidak marah, dan melanjutkan membaca novel. Beberapa menit berlalu, suara tawa Aires yang terus saja memenuhi isi telinganya membuat emosi dalam dirinya meluap, Luvia melempar bukunya kesembarang arah dan berjalan dengan langkah kesal mendekati temannya itu yang masih saja tertawa.
"Aires" Suara Luvia terdengar sangat mengerikan.
Aires menatapnya dan langsung membeku seperti terkena sihir frozen.
"Serem"
"Kalau udah tau serem kenapa gak denger teguranku?"
"Luvia, coba sesekali aja lihat anime ini, sumpah lucu banget"
Luvia berhenti menatap Aires dan menuruti permintaannya untuk melihat anime yang di tontonnya, tak lama.
.
.
.
.
Mereka tertawa bersama.
"Udah ku bilang lucu, kan" Ucap Aires di iringi anggukan mantap.
"Kenapa dia bisa sebodoh itu (tertawa sampai mengeluarkan air mata)"
"Mana ku tau, bodoh banget" Mengusap matanya yang juga beriar.
Wajar saja sih mereka ketawa mulu.. Mereka nonton anime genre comedy di jamin ngakak lah.
"Jadi dari semalem kamu nonton ini?" Tanya Luvia menahan perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.
"Emh, kamu sih cuekin aku melulu" Mematikan Laptopnya.
"Maaf-maaf, nanti gak aku cuekin lagi, asal..." Aires menunggu syarat dadakan Luvia.
"Kamu gak boleh ketinggalan buku pelajaran lagi" Ucap Luvia.
"Ck, mana bisa syarat itu ku penuhi, itu kaya aku ngedorong tebing tau" Tolak Aires.
"Terus, maunya apa?" Tanya Luvia penasaran.
Aires mulai Berpikir.
"Kamu harus jujur padaku satu hal" Pinta Aires.
Lah bukannya yang beri syarat itu Luvia, kok?
"Apa itu?" Respon Luvia polos.
"Kamu sakit apa? Aku takut bertanya, tapi aku sangat penasaran"
"Aku? Kan sudah ku bilang, aku gak sakit"
Aires tidak bisa mempercayainya.
"Lalu kenapa kata dokter mm.." Bibir Aires tertahan jari Luvia, dia menatap mata temannya itu yang sedang menahan buliran bening.
"Aires, percaya padaku, aku baik-baik saja, dokter tidak tau apapun tentang ku, dan ..."
Menunggu.
"Aku tidak bisa di sembuhkan melalui medis, tapi denganmu"
Aires jelas keheranan dengan jawaban tak logis Luvia.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku bisa menyembuhkanmu? " Tanya Aires polos.
Luvia sulit untuk menjawab pertanyaan Aires kali ini, wajahnya menahan rasa bersalah.
"Tangisanmu, mungkin" Jawab Luvia bohong.
Tapi... Aires tersenyum lega dan mempercayai kata-kata temannya itu.
_____
Seseorang dengan langkah mengerikan berjalan menyusuri lorong asrama mengakibatkan setiap kamar yang di laluinya sunyi dalam sekejap.
Tap
Tap
Tap
Bunyi itu menggema di seluruh Asrama yang perlahan mulai sunyi, dan langkah yang sangat misterius itu berhenti tepat di depan pintu kamar LA yang terdapat tulisan "Suka suka kami". Orang yang berada di dalam kamar tak menyadari langkah yang sangat meruntuhkan mental itu, Aires maupun Luvia asyik bercakap hal-hal seputar gosip guru olahraga mereka Yamada Uzumaki, dan tawa mereka menyakitkan telinga orang yang sedang berdiri di depan pintu mereka itu.
Tok
Tok
Tok
Aires dan Luvia yang mendengar suara ketukan pintu itu kaku di tempat, hanya bola mata mereka yang saling melirik.
Tok
Tok
Tok
Mereka berdua menelan ludah susah payah, nafas mereka yang semula keluar masuk dengan normal, kini berubah rima dengan cepat. Tak ada yang berani bergerak, karna sedikit saja suara yang terdengar akan membunuh mereka.
Tok
Tok
Tok
"Luvia, Aires!" Suara panggilan yang lemah ini membuat semangat mereka hancur, bulu kuduk berdiri dengan dahsyatnya.
"Aku tau kalian di dalam"
"Apa kalian mau main petak umpet?"
Suara pintu terbuka pelan terdengar setelah orang itu mengucapkan kata-kata yang berbau horor.
"Ketua, ada apa sih?" Tanya Luvia, dia mengeluarkan sedikit kepalanya, dia berusaha menahan rasa takutnya dengan menggenggam tangan Aires di belakannya, bersembunyi dibalik pintu.
"Ini waktu untuk tidur, jangan berisik, dan .. "
Luvia menunggu sambungan dari kata-katanya yang tidak bisa di tebak, Aires memejamkan matanya tak sanggup mendengar kata yang akan keluar.
"Aku mau membunuhmu"
Luvia merinding mendengarnya.
Aires ikut merasakan setruman listrik ketakuatan dari Luvia.
"Baik, ketua cantik, kami akan segera tidur" Berusaha tersenyum.
"Oh, baguslah"
Hanya itu yang di katakannya, lalu mulai melangkah melewati kamar selanjutnya, Luvia bernafas lega melihat mayat hidup itu pergi, tapi sebelum dia menutup pintu langkah itu terhenti, sedangkan Aires melepaskan genggaman tangan Luvia setelah merasa ini selesai, dia berjalan kembali kekasurnya.
"Soal pagi kemarin"
Luvia bagai tersambar petir mendengarnya, dia melihat tatapan kematian dari mata ketua aneh itu, membuatnya makin ingin cepat tidur saja.
"Ma-maafin aku ketua" Ucapnya tergagap.
"Terimakasih, aku akan segera tidur juga" Balasnya, wajahnya yang mirip Vampire itu tersenyum kecil.
Luvia menganga sempurna mendengarnya, dia tak tau kalau hal jail yang di lakukannya di sambut baik.
"I-iya, sama-sama" Tersenyum kecut.
"Jangan di ulangi, aku tidak main-main" Lagi mental Luvia luntur.
Dia ini baik atau psiko baik?
__ADS_1
Batinya.
Luvia menutup pintu kamar dan menoleh pada Aires yang tidak tau apa-apa.
"Ada apa? " Tanya Aires.
"Huaaa serem banget ketua asrama kita! " Rengek Luvia di iringi anggukan setuju Aires.
***
Daniel, berjalan santai di sebuah jemabatan khusus pejalan kaki. Orang-orang menatapnya, gadis remaja tak mampu melangkah saat berpapasan dengannya, ada yang berjalan sambil memalingkan wajahnya hanya untuk memperjelas ketampanan cowok rapi dan keren itu. Dia hanya menatap pemandangan kota yang sangat menawan saat malam hari, ia juga seperti sangat bahagia, senyum manisnya terlihat jelas dan indah. Sesekali dia tertawa sendiri, meskipun tak ada yang lucu.
"Kau bukan tipeku, ya" Tertawa kecil, senyumnya tak hilang sedikitpun, Apa yang sedang di ingatnya?.
"Kau membacanya kan, Aires"
_____
Setelah di tegur ketua asrama serem itu, Aires dan Luvia rebahan dengan tenang di kasur masing-masing.
Aires teringat dengan surat yang di dapatnya dari drone hitam itu dan sekali lagi membaca surat itu.
"Dahulu kala ada sepasang anak kembar pangantin lahir, anak laki-laki akan menjadi raja di negri itu siapapun keluarganya, tapi ternyata anak kembar pengantin hanya lahir 100 tahun sekali dalam keluarga yang sama, pertanyaannya adalah, jika anak perempuan yang menjadi Ratu dan anak laki-laki di buang apa yang akan terjadi? Dan kenapa itu bisa terjadi?" Baca Aires pelan.
Luvia melihat wajah serius Aires dan surat yang di bacanya. Tapi sepertinya Luvia tidak tertarik dengan surat itu.
"Aires" panggil Luvia.
"Apa Luvia Hero?" balas spontan Aires yang otaknya masih mencerna isi surat itu.
Luvia berpikir sejenak melihat respon lembut dari temannya itu, meskipun kata-katanya aneh.
"Soal cowok gila di sekolah kita itu, kamu mau nemenin aku lagi, kan?" Pintanya.
"Oh, iya, besok?" Tanya Aires dan mulai menatap Luvia yang mengangguk.
"Kamu yakin dia bakal di sana setiap hari?" Tanya Aires lagi, Luvia mengangguk.
Aires tersenyum melihat rasa penasaran temannya itu, melihat wajah so imutnya itu membuat Aires tak bisa menolak. Aires menyimpan surat itu di lacu mejanya yang dekat dengan kasurnya.
"Luvia" Panggil Luvia.
"Emh" Sahutnya.
"Kamu suka ya dengannya?" Tanya Aires dengan nada nakal.
"Siapa??" Luvia keheranan.
"Gerald" Ucap Aires percaya diri.
. . . . . . .
Luvia tak menjawab, tapi wajahnya sangat terkejut mendengar nama itu.
"Aku dengar dari murid lain saat gosip, kalau nama cowok gila itu Gerald" sambungnya, Luvia masih diam, dia seakan memikirkan sesuatu.
"Kemu kenapa?" Tanyanya karna tak di respon oleh Luvia, dia juga melihat jelas wajah Luvia yang sama persis saat mereka bicara di taman belakang sekolah kemarin, pucat.
"Luvia" Panggilnya, masih tak di respon, dia turun dari kasurnya mendekati tubuh temannya itu yang mulai bergetar kecil.
"Kamu sakit?"
"Luvia!"
"Luvia!" menyentuh bahunya mendorong kecil.
"Luvia!"
"Luvia!"
Aires terus memanggil nama sahabatnya itu dengan kekhawatiran tinggi, wajahnya yang semula normal kini memerah menahan air mata. Aires sekali lagi merasa kalau ini salahnya, dia panik dan tidak tau harus berbuat apa.
Luvia, tidak mendengar suara dari dunianya, dia masuk kedunia bawah sadarnya. Apa yang dia lihat bukan kamarnya, tapi sebuah rumah megah, mansion mungkin. Dan ada dua orang anak kecil dengan bahagianya bermain sebelum malapetaka datang.
"Apa yang terjadi padaku? Semenjak dia terkenal aku selalu masuk masa lalu, kenapa dia tidak enyah saja dari dunia ini!! Gerald"
.
.
.
.
__ADS_1
Aires maafkan temanmu yang pengecut ini, aku ingin melihatmu bahagia meskipun sesaat, jadi jalani lah hari-hari ini tanpa penyesalan, maaf.
Luvia.