THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
20 - Tangisan Iblis Kecil


__ADS_3

Di dalam dunia mimpi.


"*Luvia" seseorang memanggil namaku, aku melihat kearah suara itu dan semua pemandangan yang baru saja aku lihat, hilang.


Aku melihat diriku sendiri berjalan keluar dari kamarku, apa ini? Aku di rumahku sendiri? Aku melihat diriku saat berumur 6 tahun? Sebenarnya aku ini kenapa? Bermimpi? .


"Nah putri kecil kita datang" Itu suara ayahku, aku di peluk erat olehnya, ini adalah masa laluku.


"Ayah, kapan kita kerumah Nona Aires?" Diriku versi kecil sangat polos, lihatlah betapa polosnya wajah tak berdosa itu, aku ingat hari itu adalah ulang tahun nonaku, hah nona? Aires, kan sahabatku.


"Besok sayang" Ibuku mengelus rambutku dengan lembut, aku merindukan semua itu*.


Aku melihat sebuah keluarga bahagia, aku ingin kembali pada masa itu, diamana semua kebahagiaan terkumpul dan menjadi kenangan indah. *Baru saja aku tersenyum bahagia, mataku mengikuti diriku sendiri pergi dari dekapan kedua orang tua tercinta. Kemana anak itu pergi? Dia meninggalkan moment yang sangat berharga itu dengan cepat, Luvia bodoh, seharusnya kau peluk erat-erat kedua orang tuamu waktu itu, aku menyesal.


Sekejap saja pemandangan indah itu hilang di gantikan sebuah kobaran api dan peperangan, banyak orang-orang mati dan darah menutupi permukaan tanah hijau di atasnya. Aku melihat diriku berlalari sambil menangis melewati semua mayat itu dan ...


"Lihatlah siapa yang minta di bunuh" Suara tawa itu, milik orang dewasa yang membunuh semua mayat ini.


"Kalian siapa?" Hah, aku seberani itu, aku mengantar nyawaku sendiri di depan mata mereka, lihatlah tatapan membunuh itu, mengerikan.


"Kami, (tertawa) sebelum kau mati akan ku beri tau sedikit kenapa mayat ini berserakan"


Aku melihat diriku mengusap air mata dan mendengarkan dengan tenang orang jahat itu bicara.


"Itu ulahmu, kau penyebab semuanya hancur dan ..."


"Nona berhargamu mati hangus di rumahnya sendiri"


Aku membeku, tubuhku mati rasa ... Nafasku seolah terhenti, tapi... Diriku yang dulu, menyeringai, mengerikan dan bagai .. Seorang iblis kecil.


Mana mungkin Aires mati, dia selalu bersamaku sekarang, dia menjadi orang paling merepotkan seumur hidupku, tapi dia satu-satunya kebahgiaanku.


Aku tak bisa mempercayai ini, Apa benar ini ulahku? Aku menangis dalam diam menahan semua rasa sesak dan perih menyerang dadaku bagai hujan anak panah, sakit*.


_____


Luvia terbaring di kasurnya, dia tertidur saat Aires terus memanggil namanya beberapa menit yang lalu. Dia membuat sahabatnya itu merasakan tusukan pisau di dalam dadanya, nyeri, perih, sakit, untuk kedua kalinya.


Aires berbaring di sampingnya, dia memeluk tangan Luvia yang dari tadi bergetar, dia juga menatap wajah Luvia yang mulai berubah ekspresi yang awalnya dia tidur dengan tenang, tapi sekarang, ada air mata mengalir membasahi pipi pucat temannya itu.


Bukannya panik, dia malah mengusap buliran bening itu dengan rasa empati mendalam, Aires ikut menangis.


"Bangun, kamu pernah bilang, kalau tangisanku yang membawa nyawamu kembali"

__ADS_1


____


Pukul 05:43


Cuaca bertambah dingin, angin yang berhembus melewati orang-orang berjalan di hadapannya merasakan gelombang dingin yang sangat menusuk. Hidung memerah hingga membuat sebagian merasakan ingus mereka akan keluar, tapi seseorang dengan mantel hitam berjalan menembus angin dingin itu tanpa merasakan dingin, wajahnya terlihat sangat pucat, rambut hitam keunguan yang terkena angin dingin itu terlihat keren, sedikit menutupi mata kirinya.


Gerald, menuju sekolahan yang setiap hari di datanginya. Dia sampai kesana 1 jam dengan berjalan kaki, sesekali terlihat gumpalan asap dingin di hembuskannya. Matanya yang hitam menatap lekat pada bangunan sekolahan elit dengan nama Internasional Gold High School.


"Ku rasa ada kursi usang sekitar sini" Gumamnya. Dia membalikan tubuhnya menatap kearah berlawanan dengan sekolahan itu, kelereng hitam pekat itu turtuju kedapan.


Dia berjalan menyusuri halaman luas luar gerbang sekolahan yang sebagian di tutupi pohon, daun-daun kering berjatuhan memenuhi hamparan tanah, tak ada celah untuk tidak merasakan empuknya tumpukan daun itu. Ada satu pohon besar yang memiliki banyak daun kering yang berjatuhan membuat Gerald tertarik untuk mendekatinya. Langkahnya pun berhenti di samping pohon besar itu dan matanya tertuju pada sebuah kursi kayu usang.


"Benar, dia juga mengawasi sekolah ini" Gerald mencatat asumsinya di buku kecil yang selalu di bawanya.


Setelah itu, Gerald dengan mata sayunya menatap barang yang sangat menonjol duduk di atas kursi itu, di sana ada sebuah kotak berwarna biru yang kelihatan masih baru. Tanpa pikir panjang, Gerald berjalan kearah kotak itu dan mengambilnya, sebelum membuka dia terpaku pada tulisan di atas kotak.


Ini lebih menyakitkan loh, Hai Gerald siapkah untuk memasuki ujian berikutnya, kuharap kau bertahan dan menangkapku, pecundang.


Kotak yang di pegangnya seukuran dua buku besar, kotak biru itu mudah di buka karna hanya menggunakan kuncian biasa. Gerald belum mau membukanya, dia berjalan jauh ketempat di mana orang tak akan melihatnya, saat merasa aman, dia duduk di atas rerumputan hijau dingin itu dan melihat keadaan sekitar.


"Apa maksudnya melakukan ini?"


Terdiam, lalu menatap kotak itu dengan ragu.


"Kurasa ini jebakan, tapi ... Hanya ini yang bisa ku lakukan"


_____


Aires masih dalam dunia mimpi, tak lama nyawanya yang berkelana sebentar, itu kembali. matanya langsung menatap apa yang di depannya.


"Luvia?"


Dia menyentuh kasur yang di tidurinya itu seakan kehilangan teman berharganya itu, semalaman dia tidur di sampingnya, berharap dia segara bangun.


Aires panik melihat teman berkahnya hilang, dia segara bangun dan menyurusri ruangan dengan kelereng hitam menawannya, dia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja di lihatnya, Luvia sudah berseragam lengkap dan memasukan buku pelajaran kedalam tas miliknya.


"Luvia!" Ucapnya seakan ini semua mimpi, dia mengusap matanya untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat.


"Kamu kok.." kata-katanya terpotong dengan tatapan tenang Luvia.


"Sana mandi, nanti cowok gila itu pergi karna kamu terlambat"


____

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menyusuri jalan menuju sekolah, Aires menatap wajah Luvia yang sangat tenang itu. Dia sekarang yang merasa murung, matanya menatap kebawah memikirkan sesuatu.


"Aires!"


Luvia memanggilnya membuat jantungnya berpacu cepat.


"Emm" Sahutnya singkat seraya menatap mata Luvia yang mulai sayu.


"Bisakah kau kekelas duluan" Pintanya, Aires seakan tidak percaya dengan permintaannya, tapi dia tidak bisa menolak.


"Baikalah, cepat ya di luar dingin banget" Ucapnya dan mulai melangkah berat meninggalkan temannya yang namapak banyak pikiran itu.


"Jangan lama-lama" Aires melambaikan tangannya mencoba membuat Luvia tersenyum.


Setelah Aires tak melihatnya lagi, Luvia berjalan kehalaman luar gerbang menyusuri pohon-pohon yang bisa di bilang menutupi sebagian pandangan. Dia sampai pada kursi kayu yang baru saja Gerald datangi, lalu menatap lurus kedepan kearah dimana Gerald berjalan menyembunyikan diri.


"Dia sangat bodoh, ya kan teman?"


Luvia berbicara dengan seorang anak kecil perempuan mengerikan berjongkok membelakanginya memainkan pasir, entah datang dari mana pasir itu, anak perempuan kecil yang muncul di masa lalu Gerald.


"Game ini dimenangkannya" Sambungnya.


Lalu suara tawa melengking menusuk telinga Luvia, membuatnya menatap heran pada anak itu.


"Yang kalah itu dia, Gerald bukan orang yang mudah putus asa"


Luvia merasakan sesuatu sejenak.


"Gerald.. Nama itu membuatku bernostalgia"


"Tentu saja, apa kau akan mengkhianatinya lagi?"


Luvia terdiam, matanya tambah sayu, dia banyak memikirkan sesuatu yang mungkin sangat rumit dan membuat beban berat di pundaknya.


"Aku akan mengkhianatinya, sampai dia bisa membunuhku, hanya itu yang bisa ku katakan"


.


.


.


.

__ADS_1


Aku yang dulu dan sekarang tidak jauh berbeda, ini pengkhianatan ku yang kesekian kalinya padamu, demi kebahagiaan Aires, aku akan melakukannya.


Luvia.


__ADS_2