THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
26 - Kelegaan Sementara


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruang sidang tertegun dengan hukuman yang di ajukan Jarden, ketiga Hakim di depannya pun terlihat menelan ludah.


Gerald diam seribu bahasa, namun ekspresi wajahnya tak bisa di tutupi dengan apapun, dia sangat terkejut. Matanya membuka sempurna, mulutnya tak bisa di tutup, tangannya bergetar kecil, keringat dingin mulai menampakan dirinya.


Para orang tua yang kehilangan anak mereka maupun keluarga itu jelas menolak hukuman yang di jatuhkan seorang pentinggi polisi seperti Jarden.


Seorang laki-laki dengan kaca mata, Guru di sekolah Aires ini berdiri mengangkat tangan kanannya seolah minta izin bicara.


Hakim yang di kiri merespon cepat.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanyanya.


Guru itu pun mulai bicara.


"Nama saya, Kaken Reiju, seorang guru. Anak saya bernama Kaken Yushiki salah satu korban yang di temukan mati kehilangan jantung serta ginjalnya, dan seorang pencadu aktif seperti pemeriksaan polisi. Saya tidak tau, apa yang di katakan mereka sepenuhnya benar atau tidak, tapi.. Setau saya, Yushiki tidak pernah mengalami keanehan seperti layaknya pecandu. Dia rutin sebulan sekali menemui dokter langganan saya untuk memeriksa kesehatan hatinya yang mulai mengalami kerusakan akibat virus dari dalam rahim ibunya sewaktu masih dalam kandungan. Kalau memang benar dia seorang pecandu, dari dulu dia sudah mati."


Ketiga hakim terdiam mendengar pernyataan Kaken, Jarden tersenyum kecil, lalu dia meminta izin bicara dengan isyarat.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Tanyanya mengulangi pertanyaan hakim.


"Menganggap seseorang tidak ada itu, sangat tidak manusiawi!!"


"Hoo, bukankah ini sepadan dengan hukuman mati"


Guru itu menyentuh kaca matanya.


"Saya rasa semua ini hanya rekayasa, ya kan tuan polisi"


Jarden tersenyum manis, dia mengangkat map biru di tangannya lalu menatap mantap pada lawan bicarnya itu.


"Di dalam map ini, ada bukti kuat yang bisa di jadikan dasar dari hukuman yang saya ucapkan, dan .. Anak anda itu Yushiki, kenapa di katakan penyabu aktif adalah .. Karna dia ikut dalam pengedaran sabu itu sendiri, bukankah lebih parah? Jadi kami para polisi hanya ingin menghormati orang yang mati bersama orang terhormat juga, meskipun tindakan mereka merusak"


"Jadi itu alasannya, saya tetap menolak hukuman itu" tegas Guru itu.


Hakim di tengah merasa tidak enak.


"Jarden, ajuanmu di tolaknya, bagaiamana menurutmu?" Tanyanya.


"Saya sudah memikirkan hukuman ini matang-matang, karna apa? Karna hukuman mati tidak bisa membuat pembunuh menjadi takut membunuh, trauma lah yang bisa menghancurkan hasrat mereka, jadi hukuman ini menyiksa psikologi juga mengajarkan arti menghargai hidup sendiri maupun orang lain"


Jawaban Jarden bisa di mengerti semua orang yang sedang mendengarkannya, apa lagi ini adalah siaran langsung.


"Bagaimana menurutmu orang tua korban?" Tanya hakim kembali pada guru itu.


"Saya tidak bisa bilang setuju, tapi ada satu hal yang ingin ku tanyakan" pintanya.


"Silahkan" terima hakim.


"Kalau memang dia pembunuhnya, lalu masih ada pembunuh lain seperti dia, apa hukuman yang di terima juga akan sama?"


Jarden terkekeh.


"Tentu tidak, sudah ku bilang, ada dasar atas ajuan ku"


"Apa dasar itu?"


"Ini rahasia polisi"


"Bukankah ini Vonis terbuka, lalu kenapa.."


"Tuan Kaken Reiju yang terhormat, pertanyaan anda tidak bisa di jawab dalam sidang ini, Karna yang sedang di bahas adalah masalah Vonis hukuman yang akan di terima pelaku, kalau anda ingin komplain bisa datang ke kantor polisi secara pribadi" Potong Hakim yang duduk di kanan.

__ADS_1


Jarden tetap tenang melihat raut geram Kaken yang di tujukan padanya, suara ketikan dari pemburu berita mengiringi irama Vonis terbuka ini.


Soal Gerald, bisa di tebak kalau dia hanya bisa diam dan meraga pada pikirannya sendiri.


"Apa hukuman ini di stujui semua keluarga korban?" Tanya Hakim utama.


Tidak ada yang ingin protes lagi dengan hukuman itu, semuanya hanya ingin pelaku di balas atas perbuatannya. Anggukan setujupun terlihat jelas, menutup semua kicauan heran para penonton yang masih bingung dengan jalannya Vonis tidak masuk akal itu.


"Baiklah, Hukuman 2 minggu penjara di tambah dengan tidak di akuinya sebagai masyarakat Harnzov dan menjadi penjahat dengan tindak kejahatan kelas atas, akan di awasi oleh banyak polisi sebagai antisipasi hal yang tidak di inginkan, dan tetap mendapatkan Hak sekolah dan pendidikan di jatuhkan pada saudara Gerald." palu di ketukan.


Tok


Tok


Tok


"Sidang di tutup"


______


Semua berakhir, Gerald tak bisa apa-apa, dia hanya diam meratapi apa yang sudah di putuskannya. Ini lebih berat dari perkiraannya, dia tidak pernah menyangka hukuman yang di terimanya membuat dia sendiri tidak memiliki harapan.


Putus asa? Tentu saja dia kelihatan putus asa.


Menyesal? Jelas.


Dia di bawa menuju sel tahanan yang berbaur dengan banyak lelaki berbadan kekar bertato, Gerald langsung merinding dan menjauh dari mereka semua, dia menempelkan badanya ke dinding dingin itu, menghindari sentuhan tubuh dengan mereka, kakinya gemetar, keringat menetes dengan derasnya, polisi yang membuangnya ke sel ini tersenyum puas, mereka berjalan pergi menjauh, kini tinggal Gerald dan sekumpulan orang-orang brutal.


Dia pun mendapatkan sambutan kurang baik.


***


Leonardo duduk tanpa semangat di singgasananya, di ruang khusus miliknya. Dia menopang dagunya berpikir keras, menonton video ulang Vonis Gerald, dan jelas dia tidak bisa berkata-kata selama proses vonis.


"Gerald, kah? Anak malang itu, di permainkan olehnya, awas saja kau pembunuh, Jack the ripper jangan pernah lengah, masih ada aku, keadilan yang akan membuatmu menyesal"


"Bertahanlah anak muda"


***


Jarden berjalan di lorong motel, dia memasuki salah satu kamar dan bertatap muka dengan cowok familiar, Daniel. Mereka saling bertukar senyuman legah.


"Akhirnya, tikus itu tertangkap juga" Buka Jarden.


"Kau benar, setelah tertangkap apa yang akan terjadi, ya?"


"Tentu saja penyiksaan sampai mati"


"Bisakah itu terjadi, ku rasa Gerald tidak selemah itu"


"Karna itu, rencana tuan sempurna, penjara lalu di anggap tidak ada, haha bagaimana ya mentalnya?"


"Yang terpenting, dia sudah berakhir, semuanya berakhir, itu lebih dari cukup"


"Anda benar"


"Rencana selanjutnya, kita mulai tiga hari lagi"


"Tentu tuanku, kapan saja saya siap"


***

__ADS_1


Di taman belakang sekolah, seperti biasa, dua sejoli ini nampak duduk tenang, menikmati alam buatan itu.


Aires masih merasa penasaran dengan kejadian pagi tadi yang membukakan pikirannya.


"Luvia? Kenapa cowok gila itu di tangkap polisi?"


"Gak lihat berita ya?"


"Males"


"Dia ternyata pembunuh berantai itu"


"Hah? Sungguh? Kamu gak papa, kan?"


Luvia mengangguk.


"Gak papa, Aires, Semuanya berakhir"


"Berakhir?"


"Intinya gak ada gangguan lagi kan di sekolah kita, makanya berakhir"


"Ohhh, gitu"


Luvia tersenyum lesu.


***


Ayah dan ibu Erlo di ruang tunggu operasi, seusai menonton siaran langsung Vonis Gerald, mereka tersenyum legah.


"Akhirnya berakhir" ucap ayah Erlo.


"Iya, berakhir, yang ku khawatirkan sekarang adalah Erlo" balas ibu Erlo.


"Kita harus susun rencana buat ngejelasin pada Erlo yang sebenarnya"


"Iya, kita akan mulai kalau operasinya selesai."


"Emh, kita berdoa saja"


***


Semuanya berakhir, semuanya merasa legah Gerald hilang dari pandangan.


Apa sebenarnya ini benar-benar berakhir?


Apa ini membuat sang tokoh utama hancur?


Tentu tidak, ini belum berakhir.


Ini malah awal dari segalanya.


Awal dari cerita misteri THRONE yang sebenarnya.


Cerita akan di lanjutkan di THRONE Seri 2 HOPE Hide In The Dark.


Seri ini akan menjelaskan Siapa Gerald sebenarnya dan kenapa dia bisa berurusan dengan Daniel dan Jack The Ripper, selalu di pukul Ziri dan menjadi Kakak Erlo.


See you next Time...


But.. Akan ada tambahan Chapter untuk Seri ini..

__ADS_1


Gerald Feesl Short Ver yang menceritakan kejamnya pengalaman Gerald dalam Penjara. Juga ada Chapter dimana Kehidupan Luvia, Aires, Haris, Erlo, Dery, Jarden, Leonardo, dan Daniel tanpa adanya Gerald di kota QOINZE yang mengganggu urusan mereka. Chapter ini adalah bagian dari seri 1 tapi akan bersambung di seri 3, seri ini penting jadi baca hati-hati ya.


Tunggu ya!


__ADS_2