THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
14 - GERALD


__ADS_3

Lupakan sejenak tentang kasus rumit dan alur yang tak tentu, mari kita baca kisah hidup menyedihkan dari tokoh utama dalam cerita ini.


Gerald.


Pukul 05:08.


24 januari 2018


Pagi yang dingin, dengan asap mengepul bagaikan hembusan angin menerpa padang pasir. Di sebuah ruangan hangat, ruangan yang dulunya tak layak pakai.


Dia masih terbaring di atas kasur, tapi tempat yang di tempatinya bukan ruangan sebelummya. Dia sudah berada dalam rumahnya, Gudang.


Ada seseorang yang mendampinginya, sedari tadi dia duduk membelakangi Gerald. Orang itu berjenis kelamin laki-laki, dengan kaca mata memakai jas putih berkaos biru, di sampingnya tersusun benda-benda tajam dan kilauan jarum-jarum yang di takuti semua orang apalagi anak-anak. Dia menyeringai memandangi buku di depannya, kaca mata itu nampak bercahaya putih menutupi matanya, lalu orang itu berdiri mendekati Gerald membawa . . . Jarum suntik, Dokter.


"Lukanya cukup parah, dia beruntung masih hidup" Ucapnya sambil menyuntikan cairan merah ke selang infus.


"Dia bangun 5 jam yang lalu, dan kembali pingsan 10 menit menahan sakit, kenapa anak ini nekat sekali?" Dokter itu kembali duduk.


Tak lama dia mendengar suara pelan dari mulut Gerald, suara ringisan yang menyayat hati. Dokter itu segera mendekatinya kembali dan menanyakan beberapa hal, untuk memastikan kondisi tubuhnya.


"Bagaimana perasa'anmu?"


Gerald tidak bisa mendengar dengan jelas kata-kata dokter itu, telinganya mendengung.


"Apa kau bisa melihatku?"


Masih tak ada respon, dokter itu mengambil jarum suntik lagi. Gerald berusaha sebisa mungkin mengumpulkan kesadarannya yang belum bisa menyatu dengan nyawanya, lebay.


"Mungkin anda belum sembuh total, karna itu ada sebagian panca indra anda yang tidak bisa berfungsi dengan normal" kata Dokter itu sambil menyuntikan jarum pada lengan Gerald, setelah itu dia mendudukan Gerald yang lemah dan meletakan meja kecil di depannya, satu mangkok bubur serta ai putih ia letakan di atasnya. "Cobalah untuk makan, tubuh anda perlu asupan nyata" Ucapnya sembari kembali duduk di bangku samping Gerald, dia memperhatikan gerak-gerik pasiennya itu dengan teliti.

__ADS_1


Gerald masih linglung, pandanganyapun masih buram sekilas dia melihat bubur di depannya tapi tangannya sangat sulit di gerakan.


"Di mana aku?" Dia ingin mengetahui tempat yang masih buram dari pandangannya ini, mengabaikan makanan di depannya.


"Anda di rumah, Gudang, ada seseorang yang memberi taukan kalau anda demam, jadi Ziri membawa anda, saat sampai di sana anda dalam kea'adaan pingsan" Jawab Dokter itu. Gerald bisa mendengarnya dengan jelas, tapi kepalanya yang mulai menunjukan tanda ketidakstabilan fungsi, pusing.


Dia memegang kepalanya dan menepuk ringan, wajahnya jelas merasa tak nyaman. "Itu efek dari obat, kalau anda memaksakan untuk makan, maka kondisi seperti itu akan segera hilang" Mendengar penjelasan dari Dokter yang tak di kenalnya itu, dia dengan berat hati memakan bubur itu ekuat tenaga.


"Aku mau tanya sesuatu" Ucap Gerald sembari menyuap makanan kedalam mulutnya dengan tangan sedikit gemetar.


Dokter merespon dengan anggukan pelan.


"Tentu saja, apa itu?"


Gerald menatapnya, melihat wajah dokter itu dengan jelas.


Terdiam sejenak.


Lalu Dokter itu tertawa geli, dia menghela ringan dan membuat ekspresi sinis.


"Karna Tuan Erlo, mungkin?" Gerald tertegun, dokter itu tertawa melihat reaksi serius Gerald "Bercanda, mana saya tau, saya hanya seorang dokter yang jadi langganan Ziri, jadi tidak bisa menjawab pertanyaan anda"


***


1 jam berlalu, Gerald sudah bisa berdiri tegak. Dokter yang merawatnya itupun berpamitan dengannya setelah memberikan obat. Senyum aneh dari bibir dokter itu di acuhkan Gerald, dia tidak ingin membuat kepalanya sebesar buah kelapa muda itu pusing kembali.


Di dalam gudang itu, dia berjalan-jalan tanpa arah, dia melihat seluruh ruangan sudah berubah total. Itu membuatnya semakin tak mengerti maksud dari semua ini, pertanya'annya tak bisa di jawab dokter itu atau dia tidak bisa memberikan jawaban karna sesuatu? Gerald menyadari semua itu dari cara bicaranya, di ruangan yang menjadi rumahnya selama ini hanya ada 1 lemari. Lemari yang sering di pakainya untuk menyimpan barang tak berguna, dia mendekati lemari itu lalu membukanya. Senyum merekah dari bibirnya terpancar indah, dia melihat baju dan celana lusuh serta jaket kotornya di gantung rapi.


"Mereka tidak ingkar janji"

__ADS_1


Dia mengambil celana jeans usang itu dan merogok setiap sakunya, wajahnya berubah panik.


"Dimana kertas itu? Aku rasa di sebelah sini" Entah apa yang sedang di cari Gerald, sepetinya hal itu sangat penting baginya. "Sial!!" Decaknya.


"Bukuku, semoga saja masih ada" Dia berharap penuh setelah kehilangan sesuatu di kantong celananya. Jaket kotor itu di ambilnya perlahan lalu memeriksa semua kantongnya. Dia bernafas legah setelah mendapati buku pribadinya itu masih ada, senyuman itupun kembali terlihat, senyum yang jarang di tampakkannya.


Dia berjalan kekasurnya lalu duduk dengan nayaman, matanya fokus pada buku itu, senyumanya masih belum pudar. Dengan semangat dia membuka lembaran putih dengan tintah hitam membaca setiap halaman lalu terhenti di halaman baru yang berisikan tulisan pendek.


"Apa ini? kurasa aku belum menulis apapun setelah kasus pembunuhan itu" Gumamnya.


Dia membaca dengan seksama tulisan pendek dengan tinta biru itu.


"Carilah sebuah Kursi Kayu usang, Cobalah untuk menangkapku, sampah"


Gerald terdiam setelah membacanya, matanya berubah sayu. Dia menghela berat dan terlihat jelas dia menahan amarahnya.


"Aku di pojokan olehnya, lihat saja, aku akan menangkapmu meskipun harus membunuhmu"


Sebenarnya Gerald anak yang terlalu baik, meski kelihatan dingin tak bisa di abaikan kalau dia juga peduli pada orang lain. Dia kelihatan banyak beban di pundaknya, karna beban itulah dia terkena hukuman sepihak ZIRI. Gerald juga layaknya remaja kebanyakan yang ingin bersekolah, karna itu dia sering mendatangi sekolah elit terdekat dengan tempatnya. Seberapa menyakitkan pun kehidupannya dia kelihatan tegar dan memiliki prinsip kuat, entah karna apa, mungkin jawabannya ada di dalam buku kecil yang selalu di bawanya.


.


.


.


Kepastian tidak bisa di dapatkan dengan kepercaya'an, tapi kamu harus mendapatkannya dengan tanganmu sendiri.


Gerald.

__ADS_1


__ADS_2