THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
17 - Kemarahan Erlo


__ADS_3

Pukul 11:45


Universitas


Erlo duduk dengan lesunya di bangku seorang diri, karna teman karibnya masih berada di kantor polisi, mungkin. Bisik-bisik kecil terdengar menerobos telinganya, dia tau apa yang sedang di bicarakan teman-temannya itu.


"Bosan.."


Kata itu terus berputar di kepalanya, wajahnya nampak sangat tidak bersahabat. Hampir 1 jam Erlo hanya duduk menunggu dalam sunyi dosen yang akan mengajarnya datang. Seseorang menghamprirnya, Dia duduk di samping Erlo yang masih tidak menyadari kehadirannya.


"Kapankah kebosanan ini hilang"


Lagi Erlo terus mengeluh dalam hatinya. Tak beberapa lama, saat dia mengalihkan pandangannya kesisi lain, dia baru menyadari kehadiran seseorang yang duduk di sampingnya.


"Buang hatimu kelaut, ac..eth.." Latahnya, membuat orang yang di sampingnya itu melempar senyum mengejek.


"Laut?" Tanya orang itu, orang yang juga seorang bangsawan.


"Huhh, kamu Sank, ngapain duduk di sampingku" Ceplosnya.


"Namaku bukan Sank tapi Fran, Franden Aihara Jinkan ok" Jelasnya membuat Erlo sedikit malu.


"Aku tau, becanda dikit" Ngeles, Erlo tambah bad mood setelah bicara dengan laki-laki bernama Fran, laki-laki yang membantu mereka saat di gosipin satu kelas.


"Kamu kekantor polisi ya tadi malam?" Tanyanya, menarik Erlo kedalam pembicara'an serius. Walaupun dia melihat reaksi Erlo yang sedikit terkejut, wajahnya nampak belum puas.


Darimana dia tau aku kesana.. heran Erlo


"Gak mau jawab?" Tanya Fran yang Masih tidak di respon, ia melihat dengan jelas kehati-hatian lawan bicaranya itu.


Dia berdeham kecil "Katanya dia di tangkap karna berada tepat di tempat pembunuhan" Ucap Fran. Dia berusaha memancing Erlo dengan umpan lezat tapi, belum ada respon.


Di tempat pembunuhan? bukannya dia di rampok... pikir Erlo


"Erlo, kamu mau tau satu hal gak?" Tawarnya meskipun dia tau, hal ini akan di abaikan.


"Haris, ikut taruhan nangkap siapa pelaku pembunuhan sadis itu" Ucap Fran lagi.


Meski masih diam tapi jelas sekali mata Erlo memancarkan keingin tahuan.


Haris? ikut taruhan? ahh.. ini makin membingungkan, ni orang bohong atau beneran tau si?... Keluh Erlo


Dia sebenarnya belum percaya pada Fran yang emang dari dulu saingannya di sekolah dalam memperebutkan Gelar Siswa Populer. Mereka bertemu lagi di kuliahan yang sama, jadi wajar saja Erlo enggan mendengarkan kata-kata rivalnya.


meski begitu, Fran terus bicara.


"Kita bangsawan terancam gara-gara pembunuh itu, meski rata-rata korbannya adalah bangsawan kelas C" Sambungnya lalu dia berdiri dari bangku berjalan menjauhi Erlo dengan wajah penuh misteri.


Setelah mendengar penjelasan masuk akal Fran Erlo mulai berminat mendengar.


Tapi


Yang terjadi malah Erlo diam seribu bahasa, dia ingin percaya tapi ragu, ingin bicara tapi terhalang moodnya yang buruk, serba salah.


"Hah Erlo bodoh, kenapa kau tak tau apapun tentang ini"

__ADS_1


Mengacak-acak rambutnya sendiri.


***


Flasback


Malam saat Erlo pergi ke kantor polisi.


Di perjalanan, jalanan di QOINZE pada malam hari masih agak padat walaupun gemerlap lampu sangat indah dan memikat siapapun yang memandangnya. Dia tidak bersama dengan Ziri seperti yang ayahnya katakan ternyata ..


Di dalam mobil, Ziri baru saja duduk di kursi sopir. Erlo yang sudah berada di dalam merasa agak kesal.


"Kenapa lama?" tanyanya geram.


"Saya tadi mengerjakan tugas dari ayah tuan"


Erlo mendesah kecil.


"Ziri, kau tau kan, aku tidak suka di ganggu, jadi biarkan aku pergi sendirian, nanti kau akan ku jemput di tempat biasa aku menyuruhmu menunggu ok, jalan" perintahnya.


Ziri hanya bisa mematuhi.


Dan karna itulah dia berakhir sendirian di dalam mobil, melanggar aturan ayahnya sendiri.


Erlo sedikit gusar, dia tidak bisa tenang, kepalanya di penuhi pertanya'an yang sangat menyesakan.


"Haris, apa yang terjadi?"


___


Dia berdiri tepat di depan polisi yang menangani kasus Haris. Dengan hati tak karuan dia melampiaskan rasa ingin tahunya pada polisi dengan tanda pengenal Aslan.


"Pak, diamana teman saya sekarang?" Tanya Erlo dengan nada khawatir. Polisi itu menatap Erlo nanar, dan tangannya mengisyaratkan Erlo untuk duduk. Melihat itu Erlo terpaksa mengikuti aturannya, dia menahan gejolak emosi dalam dirinya.


"Emh .. anda siapa dia?"


Erlo manatap polisi itu, dia menghela pelan.


"Saya temannya"


Aslan mempertimbangkan ucapan Erlo, tangannya nampak menyentuh dagu seperti orang cerdas.


"Dia baik-baik saja, saya tidak bisa memberi tau lebih pada anda" Jelas Aslan.


Erlo kesal dan marah, dia tidak bisa membendung rasa ingin taunya.


"Pak, kenapa dia bisa masuk kantor polisi? Kenapa anda jadi terlihat bermain-main!!" memukul meja cukup keras dengan wajah memerah, marah.


"Sebenarnya, teman anda yang bernama Haris itu hanya sedikit terlibat, puas" Aslan sangat lembut menjawab pertanyaan kasar Erlo, dia tau posisinya yang hanya orang biasa sedangkan lawan bicaranya seorang bangsawan.


"Terlibat? Biarkan saya bicara langsung dengannya"


Aslan tidak bisa bicara lagi, dia tidak tau harus mengatakan apa, permintaannya lepas dalam wewenangnya.


"Kenapa diam? Anda tau saya, dan anda yang mengevakuasi saya serta teman saya waktu di hotel, apa anda tidak ingat? Saya menghargai anda karna itu saya seolah baru ketemu dengan anda, Kenapa anda tidak percaya dengan saya?"

__ADS_1


Aslan di serang dengan pernyataan Erlo yang benar dan tak bisa di bantahnya.


"Mungkin teman saya di jebak, bangsawan punya banyak uang, anda tau sendiri banyak yang perlu uang di dunia ini, jadi bisa saja dia di tuduh atau di minta paksa oleh penjahat" Asumsinya percaya diri.


Aslan makin bungkam, Erlo terus mendesaknya agar mengizinkannya bertemu teman karibnya itu. Saat Aslan terjebak kekosongan kata, seseorang dengan tubuh kokoh mendekati mereka, menepuk bahu Erlo yang tegang karna emosinya yang meluap-luap. Erlo mengalihkan kelereng coklatnya pada orang itu.


"Erlo??" Ucap orang itu terkejut.


"Kak Jarden?" Juga terkejut.


Aslan hanya memandang heran, dia belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi ini.


"Jadi, kamu yang ribut-ribut sama Aslan?"


Erlo mengangguk.


"Kenapa kemari?"


"Haris katanya masuk kantor polisi di sini, bisa aku bertemu dengannya kak Jarden" Pinta Erlo sedikit memelas. Jarden berpikir sejenak, matanya nampak meragukan kondisi Erlo untuk menerima keputusannya, karna dia jelas sedang kacau.


"Haris belum bisa di temui, dia masih di ruang introgasi, ini akan memakan waktu cukup lama. Karna dia seorang bangsawan, kau tau itukan Erlo?" Jawabnya, menolak permintaan Erlo.


Tetap saja cowok ganteng ini tidak bisa menerima penjelasan Jarden.


"5 menit, apa gak bisa juga? Emangnya dia kenapa?" Erlo terus mendesak dengan pertanyaannya. Jarden tersenyum geli, dia juga memegang perutnya yang terasa berbulu-bulu.


"Kamu ini sepupu yang merepotkan" Tertawa, "Erlo kamu bukan anak kecil, seharusnya kamu bisa membaca situasi di sini" sambungnya masih tertawa kecil.


Erlo makin kesal, dia tau kalau kelakuannya seperti anak kecil, tapi mana ada teman yang tidak khawatir pada temannya, apalagi saat tau dia berada di kantor polisi, berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat melelahkan.


"Kak, dia kenapa masuk ke sini?" Tanya Erlo dengan nada cukup tinggi, Jarden berhenti bercanda dengannya yang sudah habis sabar.


"Dia di rampok, penjahatnya sudah di tangkap, tapi harus ada proses yang harus di selesaikan baru dia bisa keluar dengan tenang" Terang Jarden sedikit jengkel.


Erlo terpaksa menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa menemui temannya itu, untuk memastikan kalau dia baik-baik saja dengan mata kepalanya sendiri.


"Terimakasih!!" Ucapnya kasar lalu keluar kantor polisi dengan hati yang tambah berapi-api.


***


Mengingat kejadian malam itu, Erlo kembali emosi, usahanya berbohong pada kedua orang tuanya sia-sia, apalagi saat dia menjual nama bidadarinya sebagai penguat. Dia semakin kesal dan marah, duduk di kelas tanpa dosen menambah hancur moodnya. Lalu tanpa di sadarinya dia berjalan menghampiri Fran yang memancingnya beberapa menit lalu, walaupun dia terlihat tidak menyukai Fran tapi demi infromasi dia membuang rasa itu.


"Ceritakan tentang Haris" Buka Erlo pada Fran yang menenggelamkan kepalanya di meja. Mendengar suara Erlo dia menegakan tubuhnya perlahan dan menatap kelereng coklat itu dengan tatapan mengejek.


"Kau tertangkap Erlo" Ucapnya seraya menyeringai.


.


.


.


Sebenarnya apa yang tidak ku tahu? Haris sahabatku dari kecil, tapi kenapa seolah dia memiliki seribu rahasia dariku. Bisakah aku terus mempercayainya? Atau aku coba berkhianat untuk membalasnya? Itu bukanlah diriku.


Erlo.

__ADS_1


__ADS_2