
Kasus yang di tangani tim A ini tergolong rumit, semua media belum di beri kejelesan tentang kondisi mayat dan apa motif dari si pembunuh, membuat beberapa polisi kewalahan mengadapi banyak pertanyaan dari reporter juga wartawan.
"Bagaimana kelanjutan kasus ini pak? Bisakah anda berikan kejelasan" Tanya seroang Reporter Lantang.
polisi itu menolak dengan melambaikan tangan.
"kami belum bisa memberikan informasi apapun" ucap polisi itu, namun para reporter yang membeludak tetap menanyakan hal yang sama dan itu memusingkan pihak berwajib ini.
"Bagaimana dengan keluarga korban? Kami tak melihatnya datang menjemput mayatnya" pertanyaan yang di lontarkan oleh salah satu wartawan itu membuat panas salah satu polisi yang berjaga.
"Bukannya tidak ingin mengambil mayatnya bodoh, kami mencoba mengotopsi korban agar bisa mendeteksi pelaku" setelah berucap demikian dia masuk kedalam kantor dengan wajah geram.
"Kamu kenapa lan?" Seseorang menegurnya, diapun menatap orang itu sinis.
"Hadapin tuh wartawan ******, masa polisi di angap penjahat, nuduh gak jelas, gerah bro" Lepasnya, dia kelihatan sangat kesal.
"Kamu aja yang panasan, kayak singa" tertawa.
"Ye, mau aku gebokin nih, ohh atau aku makan aja kayak singa katamu tadi"
"Tuhkan panasan lagi, dasar Aslan singa hutan" lagi tertawa.
Dialam Kantor polisi tidak bedanya dengan di luar mereka di sibukan dengan berbagai aktifitas dan kasus lain. Di salah satu ruangan, ada ruangan khusus yang hanya di tempati oleh satu orang saja. Ruangan itu berfasilitas lengkap, tidak dengan ruangan yang di tempati Jarden, dia yang sedang duduk itu sangat sibuk dengan berkas dan matanya tak mengenal lelah menatap layar monitor di depannya, Leonardo.
Seseorang memasuki ruangannya, membuat bola hijau menawan miliknya mengalihkan pandangannya terhadap orang yang datang, dia segera berdiri dan hormat, itu, Jarden.
"Tuan, kenapa kemari?" Jarden berjalan mendekati meja Leo sembari tersenyum manis.
"Bagaimana kasus Genki?"tanyanya.
"Dia akan segera menjalani persidangan, tidak perlu mencari bukti apapun lagi"
"Seberat apa kira-kira hukumannya?"
"Penjara seumur hidup"
Jarden terlihat kurang senang.
"Apa yang sedang kau kerjakan? Tugasmu hanya mengurus kasus Genki kan?" tanya Jarden.
"Ya, saya hanya penasaran saja .. Tapi kenapa kasus tingkat menengah ini di serahkan ketim lain, padahal saya mempunyai banyak informasi?" Heran Leonardo yang membuat Jarden tertarik.
"Kita tidak perlu ikut mengurus kasusnya, serahkan saja pada mereka" tersenyum.
Leonardo melihatnya tapi... Merasakan kejanggalan akan senyuman komisaris di depanya itu.
"Saya tidak mengerti?" Ucap Leonardo masih kukuh dengan pandangannya.
"Yah mungkin ada kasus lain yang lebih rumit, dengar" mendekati telinga Leonardo, berbisik.
"Aku masih menyayangimu, bagaimana kalau kita bermain Game?"
"Game?"
"Ini rahasia, hanya kita yang main"
"Baiklah, apa itu tuan?"
"Siapa yang lebih dulu menangkap pelakunya tanpa bantuan tim dia yang menang"
"?????"
_______
Sebuah perumahan mewah tersusun rapi, di siang yang cukup cerah ini segerombol anak muda berjalan melewati jalan depan perumahan, ada sekitar 7 orang, mereka membawa banyak kantong plastik hitam besar.
Salah satu dari mereka tertawa lepas.
"Ingat kasus pembunuhan bangsawan kemarin, heboh banget"
Yang lain beroh ria.
"Bener, mereka kan keluarga kelas atas" ada yang merespon.
"Tapi yang anehnya kasus itu gak jelas banget, masa di kabarin mereka mati dibunuh tanpa ada motifnya sih"
"Pembunhnya cuman iseng kali" tertawa.
"Eh, eh banyak kan bawa itunya?" menunjuk kantong plastik.
"Yoi, asalkan ada dia, kita aman" melirik kesamping, tertawa lagi.
Salah satu dari mereka ada yang merasa sangat tidak senang, dia anak muda culun dengan kacamata dan pakaian rapinya, tidak dengan teman-temannya yang lebih namapak seperti berandalan. Dia di rangkul salah satu dari mereka dengan wajah nakal.
"Kamu manis banget loh, Yufen" Tertawa terbahak-bahak.
Mereka menggoda anak muda culun itu, tidak, itu lebih dari menggoda tapi malah seperti pembullyan.
"Mereka datang" terkekeh. Kalian ingatkan suara saringan melengking ini, ya, ini milik anak muda dengan topeng itu. Dia berada di salah satu rumah mewah memperhatikan segerombolan anak muda yang sedang berjalan kearahnya.
"Kali ini apa lagi yang enak?" melihat ponselnya, ada foto mayat seorang perempuan dengan wajah dikuliti. Dia terkekeh lagi, sangat mengerikan dan menjijikan melihatnya menikmati foto itu seperti melihat idolanya. Dia menggeser layar ponselnya dan tetus melihat foto\-foto menjijikan itu.
"Yang ini saja" apa dia memilih sebuah foto untuk objeknya? Dia tidak waras. Pembunuh keji seperti dia sangat mengerikan, siapa yang dia ikuti? Jack the ripper kah? kelihatannya dia adalah fans fanatiknya.
\_\_\_\_\_\_
"Perasaan ini, apa ini" dialog di baca santai oleh Erlo. Dia hanya duduk manis di kursinya menghafal percakapan dalam naskahnya itu, tak lama terdengar suara berat memanggilnya.
"Erlo sekarang giliranmu!!"
Erlo bangkit dari bangkunya berjalan kearah panggung. Di depannya terdapat pemeran perempuan yang akan menjadi lawan mainnya, dia dengan wajah cool menatap perempuan itu serius hingga membuat perempuan itu sedikit grogi.
"Mulai!!" Teriak gurunya di bangku penonton.
Tatapan Erlo berubah, ekspresi wajahnya segera memasuki zona karakter.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Erlo.
"Aku, itu bukan aku"
"Apa maksudmu heh, dasar penghkianat!!"
Si perempuan menangis.
"Sudah ku bilang bukan aku!!"
"Lalu siapa!!?"
"Hantu mungkin"
__ADS_1
Menggeleng tak percaya dia mendekati perempuan itu seolah akan segera menyiksanya.
"ERLLLLLL BABBYYYYYYY!!!!" Teriak Seroang cewek keras.
Suara keras itu membekukan Erlo, dia menurunkan matanya ke lantai teater dan jantungnya berdegup kencang, dia mengenali suara yang meneriakan namanya itu.
"Ada apa? Siapa dia Guru!!"
Teriak pemeran perempuan, dia merasa terganggu. Sang Guru melambaikan tangan tanda tak tahu. Orang yang meneriakan nama Erlo itu berlari cepat ke arahnya menaiki panggung teater dan DEG..
Pelukan hangat dari belakang Erlo makin membuat suasana di tempat pelatihan ini heran.
"Aku pulang, babyy"
\_\_\_\_\_
Gerald
Aku bertemu malaikat? Apa dia benar\-benar tulus memberiku semua ini, atau dia hanya merasa simpati? Aku sekilas melihat matanya yang menahan air mata, apa itu karna aku? Apa dia sedih dengan keadaanku? Ah ini memusingkan, Gerald sadarkan dirimu dia hanya sebuah kebaikan dari tuhan, kamu harus kuat jangan termakan kasih sayang nanti semuanya akan sia\-sia. Ok kemana sekarang aku harus pergi, aku sudah cukup baikan dengan perban dan perutku ini sudah terisi penuh memberikanku tenaga ekstra.
"Dia benar\-benar cantik" Melintas pikiran itu di benak Gerald.
Tunggu!? Gerald kenapa kamu malah teringat wajahnya, JANGAN!! Kamu tidak boleh tergoda, ingat Gerald tujuanmu, ingat benar\-benar, mengerti. Ok ayo berangkat sekarang ayo bekerja di bassement, itu lebih menyenangkan, ayo Garald, memutilasi ayam.
"Apa aku sudah gila, memutilasi ayam hah konyol".
Aku sampai di tempat kerjaku, seperti biasa semuanya sangat ramah walaupun aku pekerja baru di sini, tatapan mereka terfokus pada ayam, wah aku sangat iri dengan ayam, dia di perhatikan sebegitunya sampai\-sampai berbicarapun tak bisa, kadang kamu di pandang dengan senyuman, senyuman yang sangat manis. Tapi aku tidak mau menjadi sepertimu itu sama saja dengan kehidupanku sekarang tapi bedanya, aku tidak pernah di perhatikan.
"Gerald, cepat ambil pisaumu kamu sudah terlambat 5 menit" suara monoton itu membuatku menoleh dan mengangguk, aku segera ketempatku dan mulai bekerja.
Aku banyak melakuka pekerjaan berat dan ringan, tapi kenapa aku tidak terlalu menyukai pekerjaan ini? Apa mungkin aku kelainan jiwa? Melihat darah dan daging sobek ini membuatku senang, bukankah ini aneh? atau aku trauma bunyi bising pisau? Aku sendiri tidak tau, menyedihkan. Kalau saja bukan karna dia, mungkin aku tidak akan ketempat ini, dia membuatku terjebak rasa sakit yang lebih sakit di banding pukulan. Dia mengkhianatiku, sakit sekali.
"Gerald!!! Awasss" aku mendengar suara teriakan keras, dia meneriakan namaku, kenapa? Apa ada yang salah dengan ku? Ada yang berbahaya di dekatku? Aku merespon teriakannya dengan menatap orang itu, semua orang menatapku takut, kenapa? Aku sangat kebingungan, ayolah siapapun dari kalian pegang tanganku. Apa ini, kenapa pandanganku gelap, aku pingsan??? Hanya teriakan mereka yang kuingat.
\_\_\_\_\_\_
Haris terlihat berlari kecil di depan perumahan mawah itu, dia sesekali menatap ponselnya seperti memastikan sesuatu, wajahnya cemas.
"Dimana sih yufen" gerutunya. Dia masih berlalari kecil melihat setiap rumah mewah dengan teliti, nafasnya mulai tersengal. Lama berlari dia masih belum menemukan yufen si anak culun bersama berandalan itu, dia berhenti sejenak, menumpu tangannya di atas lutut dan mengatur pernafasan yang mulai sulit di rasakan.
"Angkat" dia menelpon, kakinya tak bisa diam, dia sangat cemas. sesekali dia melihat keadaan sekitar berharap dapat melihat batang hidung yufen. Tapi apa daya, tak semua harapan akan terwujud, dia sama sekali tak melihat yufen, hanya sunyi.
"Kumohon, kenapa dia tidak mengangkatnya?"
\_\_\_\_\_
Jam pelajaran.
Luvia duduk di bangkunya dengan resah, seakan tak ada tempat yang nyaman untuknya. Mau berbalik kekanan atau kekiri, membaringkan kepala semuanya tak mempan dia masih merasa resah. Aires tak memperhatikan temannya itu, dia fokus membaca komik. What di jam pelajaran baca komik? nih anak punya IQ 200 kali ya. Guru yang menjelaskan tentang Sastra ini melihat kelakuan mereka berdua tapi dia seolah tak bisa menegur. Apa karna mereka bangsawan? Guru itu tetap menjelaskan mengabaikan mereka berdua membuat murid lain jengkel, tapi mereka bisa apa, mereka hanya bisa berteriak pada diri sendiri tentang keadilan, bagi bangsawan uang adalah kekuatan mereka dan gelar adalah kehormatan, bak keluarga kerajaan saja.
Luvia menundukan wajahnya dengan raut takut, sebenarnya dia kenapa? Dia terus saja tidak memfokuskan matanya ke satu arah seolah dia melihat hal yang sangat tidak mengenakan. Dia memejamkan matanya sesaat sebelum membukanya kembali, dia menatap lantai dan terlihat sedikit menggigit bibir bawahnya. Lalu entah kenapa dia melayangkan tubuhnya kesamping hingga jatuh dari kursi mengejutkan semua orang lalu dia berteriak kencang sebelum pingsan, apa yang terjadi?
\_\_\_\_\_
Haris masih berdiri di tempatnya menunggu yufen mengangkat telponnya, walaupun dia harus berkali\-kali melalukannya baginya itu tidak masalah, dia hanya harus berbicara dengan yufen.
"Ayolah" sesaat saat dia mengatakan itu, sambungan telpon diangkan Haris sangat senang dia menampakan senyum legah.
"Ahh yufen kamu kemana aja, aku kahawatir banget nih, kamu di mana sekarang?" buka Haris dengan nada senang.
"Temanmu baik\-baik saja" terkekeh.
Wajah haris berubah muram matanya menunjukan ketakutan dalam, seketika saja lututnya lemas, dia tau ini bukan candaan
"Dimana dia?" tanya Haris memberanikan diri.
"Dia duduk manis di sini, rumah no 133" lagi terkekeh.
Haris langsung berlari menuju rumah no 133 yang baru saja di lalunya 5 menit lalu, wajahnya nampak cemas tingkat tinggi dia berlari bagai orang gila dengan mata yang nampak memerah.
"Apa? Kenapa Yufen bisa berada di sana? "
Beberapa jam yang lalu sebelum Yufen di bawa ke perumahan mewah.
Haris berjalan santai memasuki kafe sendirian tanpa Erlo. Setelah memilih tempat duduk yang nyaman dia membuka ponselnya.
__ADS_1
"Cih, Erlo sialan, kenapa hari ini dia harus latihan teater si? Udahlah, aku ajak Yufen aja" ucapnya.
Dia membuka ruang chat, bersamaan dengan itu seorang pelayan menghampiri.
"Mau pesan apa tuan?" Tanyanya.
Haris tersenyum.
"Americano 1" jawabnya.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar" Ucap pelayan itu lagi dan berlalu.
Haris mengetik di ruang chat.
HARISS : Yufen culun, temenin aku dong, aku sendirian nih, Erlo sok keren itu lagi ngejar cita\-citanya.
tak lama..
YUFEN : kamu dimana detektif gila? Aku lagi di toko roti ini.
Balas yufen.
Haris tertawa geli.
HARISS : Aku tunggu di restoran \*\*\*\*\* Kalau kamu gak datang dalam waktu 30 menit aku datangin loh, aku kan lacak ponselmu.
YUFEN : Serem. Aku datang kok bentar lagi ini.
HARISS : OKE
Setelah selesai di ruang chat, Minuman Haris datang.
Selagi menunggu dia melihat posisi Yufen. Tapi... Dia melihat jalur aneh yang di ambil Yufen.
"Ha? Dia mau kemana? Kalau dia jalan sana gak bakal nyampe sini \*\*\*\*! " Gerutu Haris.
Haris mulai curiga.
"Tunggu, bukankah itu jalan keperumahan mewah? Itukan perumahan bangsawan kelas C? Ngapain bangsawan kelas A kayak dia kesana? Gawat... Ini udah aneh" Cemas Haris.
Karan itu dia memutuskan untuk mengikuti Yufen.
Kembali ke perumahan mewah no 133.
Sampainya di rumah itu dia langsung membuka pintu yang sengaja tidak di kunci oleh jack the ripper, Haris tak memikirkan dia sedang di permainkan atau apa oleh orang yang tak di kenalnya itu, dia hanya ingin menyelamatkan temannya meskipun harus jatuh kedalam jebakan. Dia melihat sekeliling dengan nafas terengah cepat, matanyapun fokus pada satu titik yaitu kursi dengan seseorang duduk diatasnya terikat besi dan di belakangnya terdapat aliran listrik tingkat tinggi, kalau seseorang menekan tombol on maka tubuh orang itu sekejap saja akan menggeliat bagai cacing terbakar.
"Bagaimana, apa kau mau menyelamatkannya?" suara itu lagi.
suara anak muda dengan topeng jack the rippernya terdengar sangat senang. Haris memandang marah kesemua bangunan, dia tau kalau orang itu pasti bersembunyi di suatu tempat dan jelas sekali karna ada banyak kamera kecil di sudut ruangan. Dan Haris tau dia pasti orang yang sama dengan yang di hotel dan di perpus seperti kata Erlo.
"Aku tak perlu menyelamatkannya" Ucap Haris Lantang.
Anak muda itu terkekeh mendengar ucapan Haris.
"Kenapa, kau takut?"
"Bukan, kalau kau membunuhnya, kau juga akan kubunuh" kini bukan kekehan lagi tapi tawa yang sangat menyeramkan.
"Membunuhku? Konyol, memangnya kau bisa apa heh!!" Geramnya.
"Aku tau siapa kamu, mau aku katakan sekarang"
Suara itu tak terdengar lagi, hening sejenak membuat Haris bisa mengumpulkan keberaniannya.
Di ruangan dimana si Jack The Ripper itu berada, dia sedikit berdecak kesal.
"Anak itu bukan sasaranku, aku sudah selesai, terimakasih sudah mau bermain denganku" Dia tertawa keras hingga Haris menyerngitkan kening tidak mengerti.
Tak lama suara sirene polisi berhamburan di dibelakang Haris dan banyak pistol menodong kearahnya, Haris mengerti sekarang, dia di jadikan umpan, tapi tidak masalah baginya karna dari awal dia memang hanya ingin bermain.
.
.
.
.
Yufen, anak manis itu sungguh cerdik, bagaimana kalau aku harus menjadikan dia seorang kuda hitam. Dia sangat pandai menipu, pion berhargaku.
__ADS_1
Jack The Ripper.