THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
08 - MIMPI PAHIT AKAN LUKA


__ADS_3

Sehari setelah pembunuhan.


Gudang.


Pukul 5:00


Ruangan itu masih saja minim cahaya, terlihat seseorang dengan jas hitam dari belakang sedang mencambuk seseorang, di tempat Gerald pernah di pukul dan di ancam.


Dia terus melakukan penyiksaan itu sampai nampak bahunya naik turun, lelah. Siapa yang jadi korbannya belum nampak. Suara dari cambuk yang mengenai tubuh si korban sangat tidak mengenakan, dan sekilas ada darah yang muncrat seiringan dengan layangan tali, berapakali dia melakukannya? Setelah merasa puas, dengan nafas terengah dia menghempaskan cambuk itu di samping korban lalu keluar dari gudang tanpa sepatah katapun hanya suara erangan marah.


Orang yang dia cambuk masih duduk di lantai meringis kesakitan, bajunya melayang entah kemana, kepalanya menunduk, dia adalah Gerald. Warna kulitnya yang pucat dan sepatu putihnya memerah, menandakan kalau yang di siksa seperti binatang itu Gerlad. Tangannya berlumuran darah, dia menahan cambukan itu agar tak mengenai wajahnya, saat dia mengangkat kepalanya dan menatap hampa kedepan, wajahnya nampak membiru dan bibirnya kembali pecah. Kenapa dia disiksa? apa salahnya? dengan nafas tersengal Gerald menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dari kepala sampai kakinya tak ada yang luput dari serangan cambuk mengerikan itu, sampai warna cambuk yang putih berubah merah tua dan berbau amis.


"Aaa!!! Kakiku"


Rintihnya.


Dia mencoba berdiri setelah menguatkan diri, tapi terjatuh kembali, lagi dia mencoba berdiri memaksakan tubuhnya yang sudah mencapai batas, dan akhirnya terjatuh lagi. Dia kehilangan kesadaran sesaat setelah bisa berdiri dan berjalan beberapa langkah.


"Gelap, siapakah yang akan menolongku?"


Brukk!!


''''


Rumah Haris


Pukul 07:30


Kamar yang bercat hijau ini terlihat menawan, dia membuka tirai jendela besarnya mempersilahkan mentari pagi menyapa, menampakan senyum hangat kepada embun pagi, sehangat sinar matahari pagi yang menyegarkan, tapi di luar angin mengepul bagai asap, dingin.


Dia mendekap kedua lengannya menginginkan sedikit kehangatan.


"Wah, kota sudah benar-benar dingin"


Dia berjalan menjauh dari jendela menuju meja belajarnya, ada buku yang dia pakai waktu berada di ruangan pribadinya, dia duduk, menatap buku itu dan mulai membuka kertas yang berisikan tulisan miliknya sendiri.


"Hemh, kemarin beneren keren, bisa di introgasi langsung sama detektif asli"


Bergumam kagum.


"Tapi, kenapa ada orang seaneh itu di dalam hotel?"


Merasa heran tiba-tiba.


"Erlo bilang dia mengenalnya, ngapain juga main rahasia-rahasia'an, kayak anak kecil aja"


"Erlo bisa banget bikin penasaran, dia nyembunyi'in hal penting dari polisi, ini bisa berbahaya"


Setelah bicara kurang jelas memikirkan apa yang terjadi kemarin. Dia Kembali menatap kertas.


"Lord Diamond, sepertinya perjalanan ku masih panjang untuk mengungkapmu"


______


Sekolahan


Pukul 7:54


"Aires lama banget sih"


Gerutu Luvia yang dari tadi menunggunya di depan gerbang, nafasnya berasap dingin. Tapi sedikitpun batang hidung temannya itu tak kelihatan.


"Mana sih cowok itu?, ah dingin"


Keluhnya.


Dia berjalan mendekati samping gerbang perlahan dan melihat secara teliti, siswa-siswi lain menatapnya heran dia tidak peduli dan malah fokus mendekati tempat biasanya cowok aneh itu nongkrong.


"Luvia!"


Kejut Aires hingga membuatnya terperanjat mengelus dada.


"Kagetnya, apa'an sih, kenapa lama banget?"


"Oh, bukuku ke tinggalan"


Terkekeh.


"Jadi kamu balik lagi tapi jalan santai gitu, dasar nih anak"


Gemesnya.


Aires senyum-senyum, Luvia kembali memfokuskan pandangannya pada samping gerbang yang belum jelas.


"Oy, oy Aires, janjimu ingatkan?"

__ADS_1


"Iya"


"Ok, jangan lepasin tangan aku ya kalau ada hal aneh"


"Iya"


Luvia meraih tangan Aires dan menggenggamnya erat, Aires pasrah di jadikan pelampiasan rasa takut temannya itu.


Mereka berjalan mendekati sisi samping gerbang dan Luvia menengok dengan pelan, Aires hanya melihat belakang Luvia.


"Ya, Aires!"


"Apa"


Sahut Aires, kali ini dia mulai penasaran juga, dia termakan gosip satu sekolahan yang nyebut cowok aneh itu gila.


Degup jantungnya bercapu cepat begitupun Luvia, matanya membuka sempurna, Aires mengikutinya menengok ke arah di mana cowok itu berada, dan..


"Kosong"


Aires memundurkan badannya sebelum melihat apa yang di lihat Luvia, dia sudah tau kalau di sana gak ada apa-apa, kosong seperti kata temannya itu. Dia menghela geram.


"****"


Memukul kepala Luvia cukup keras.


"A.. Sakit tau"


Rintih Luvia.


Aires mengabaikannya, dia berjalan duluan memasuki gerbang, sedangkan Luvia mengelus kepalanya yang sakit. "Dasar, becanda dikit doang marah" gerutunya.


Dia kembali menatap sisi samping gerbang dan berjalan masuk kesela-sela cukup sempit itu, sela-sela yang cukup untuk 2 orang dewasa.


"Kamu kesakitan?"


____


Gedung.


Di dalam ruangan dengan nuansa kerajaan ini duduk seorang anak muda berparas tampan dan gagah. Matanya setajam elang, hidungnya mancung, alisnya tebal, rambutnya berwarna biru laut. Dia memandang jauh kearah kaca besar yang memaparkan pemandangan kota QOINZE yang padat akan gedung indah. Dia menumpu dagunya seakan bosan berada di ruangan besar itu. Sesekali dia mekirik jam tangannya, dan tak lama ponselnya berdering.


"Ya, ini aku Daniel"


...


...


"Terserah saja"


...


"Jam?"


...


"Baiklah"


Pembicaraan terputus, dia anak muda tampan bak pengeran itu menyebut namanya, Daniel. Siapa yang bicara dengannya di telpon? Dia tersenyum hangat setelah berbicara dengan orang di sebrang itu, tubuhnya bangkit berdiri dari kursi raja dan kaki panjangnya melangkah di atas karpet mewah, pintu yang terbuat dari baja hitam berkelas di depannya terbuka otomatis saat kakinya menginjak lantai 1 meter dari pintu. Ruangan yang sangat mewah dan canggih untuk zaman modern ini dengan arsitekturnya gaya kerajaan yunani kuno, membuat siapapun yang melihatnya terpana.


____


Anak kecil laki-laki yang berlari seperti orang gila di taman itu akhirnya sampai kerumah, rumahnya sangat mewah untuk sekedar anak lusuh seperti dia, anak yang berpakian layaknya anak sederhana seperti anak dari orang dengan perekonomian sedang. Dengan langkah berat dia memasuki pintu depan dan di sambut oleh pelayan tampan.


"Tuan kenapa kaki anda?"


Anak kecil laki-laki itu tidak menjawab, wajahnya menunduk tak berani menatap mata si pelayan yang terlihat masih remaja.


"Tuan, sini biar saya obati"


Anak itu menggeleng.


"Kenapa tuan? Nanti lukanya tambah parah"


Terdiam.


Lalu seseorang datang menghampirinya karna mendengar keributan kecil di ruang depan, dia pria dewasa dengan jas hitam mewah.


"Ada apa Ziri?"


Tanyanya pada si pelayan yang masih membujuk tuan kecilnya, dia menoleh ke arah pria itu dengan penuh hormat.


"Tuan Gerald terluka, tapi dia tidak mau saya obati, Yang Mulia"


Jawab pelayan itu.

__ADS_1


Pria itu menatap Gerald lembut, meski wajahnya sendiri belum jelas terlihat, seolah ini ingatan Gerald.


"Sayang, biarkan Ziri mengobati lukamu mengerti. Tidak sakit kok, nanti kalau didiamkan malah tambah sakit loh"


Anak kecil itupun mengangguk pasrah mendengar bujukan pria itu, siapa dia? Dengan wajah yang samar itu ada banyak kemungkinan, dia ayah Gerald?


Tapi, Anak kecil yang bernama Gerald ini mengikuti langkah besar Ziri si pelayan muda yang ingin mengobati lukanya meninggalkan pria tadi. Gerald mematuhi pria tadi. Wajah Gerald kecil nampak resah dia sesekali menatap belakang kepala ziri yang berjalan di depannya, dia dibawa ke dapur lalu ..


"Saya tidak ingin anda terluka, jadi bagaimana kalau supaya anda tidak merasa sakit lagi saya harus menancapkan ini di kepalamu tuan Gerald"


Memegang pisau besar panjang, memainkannya di depan anak kecil berumur 7 tahun.


Gerald kecil menggeleng takut, apa karna itu dia terus menolak bujukan pelayan muda itu? Dia tau sifatnya yang sangat aneh sekaligus mengerikan? Karna itu dia menghela berat saat ingin masuk kedalam rumah, anak kecil mana yang mau dilayani oleh pelayan seaneh dia yang mungkin saja seorang psikopat, mungkin.


Ziri meletakan pisau itu kembali keasalnya.


"Ok, begitu tuanku, anda harus hati-hati jangan sampai terluka, kalau anda terluka lagi nanti saya bisa di bunuh loh"


"Kenapa?" Tanya Gerald Kecil dengan polos.


"Ayah anda sangat sensitif, walaupun anda ini ... Yah itulah tapi kalau anak itu datang kerumah ini apa anda tau apa yang akan terjadi" Ucap pelayan itu.  (Jelas sudah pria tadi ayah Gerald)


"Apa? Siapa?" Heran Gerald Kecil.


"Saya akan bebas membalas dendam, anda tidak perlu tau sekarang nanti tidak seru" Jelas pelayan itu lagi, tapi lebih ke arah mempermainkan Gerald kecil.


"Aku tidak mengerti" Respon Gerald kecil jujur.


"Tentu saja, nanti kamu juga akan mengerti maksudku, tuan" Ucapnya.


Dia berjalan mengambil kotak p3k didalam lemari, Gerald kecil menatapnya dalam diam, lalu pelayan itu menghampirinya segera dan jongkok di hadapan Gerald kecil mengobati luka di lutunya perlahan. Dia tersernyum manis melihat darah yang mengotori kaki kecil tuannya itu.


"Aaa sakitt" rintih Gerald.


Tiba-tiba dia menyeringai senang melihat pemandangan itu.


"Kalau dia datang, anda akan merasa lebih sakit dari ini tuan"


Gerald menyerngit bingung, dia tidak terlalu mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya itu, saat ini dia sedang menahan rasa sakit luka di lututnya.


"Kamu bicara terlalu rumit" Keluh Gerald Kecil.


"Benarkah? bagaimana kalau begini saja, anda akan terluka lebih dari ini" Jelasnya.


"Luka lebih dari ini?" Gerald kecil makin keheranan.


"Apa anda mau tau kenapa itu bisa terjadi?" Tanya Pelayan itu.


Gerald Kecil Mengangguk.


"Anggap saja anda hanya bahan pelampian saja" Jawab Ziri, pelayan muda itu serius mengatakan hal rumit di hadapan anak kecil.


"Hah?"


Gerald tambah tidak mengerti satupun kata-kata pelayannya itu, dia hanya mendengarkan dan tak mencernanya ke dalam otak. Hening sesaat, mereka fokus pada perban lalu pelayan itu menatap kebelakang Gerald.


"Tuan?"


Panggilnya tiba-tiba, Gerald sedikit terkejut dan mentap mata Ziri serius.


"Ya, ada apa" Respon Gerald kecil.


"Apa itu?" Tanya Ziri yang matanya fokus ke belakang Gerald kecil.


Gerald kecil kebingungan melihat wajah Ziri yang berubah masam, seakan dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan.


"Apa?"


Mencoba memastikan, Gerald kecil menekan intonasi nada bicarnya.


"Di belakangmu"


Gerald kecil menengok kebelakang melihat apa yang di maksud Ziri, dia berharap ini hanya lelucon. Tapi saat dia melihat apa yang dimaksunya Gerald kecil pun jatuh pingsan di pelukan Ziri, dan semunya menjadi gelap. Apa yang dia lihat? Atau apa yang terjadi??? Mungkin.


***


Masa kecil dan masa lalu bisa mempengaruhi apa yang akan terjadi di masa depan, seseorang cenderung berkembang dengan sifat yang ada di masa lalunya. Dengan itu kita bisa tau baik buruknya dia dan kita juga bisa tau alasan kenapa dia melakukan hal yang tak bisa di mengerti manusia normal berhati nurani.


Gerald ternyata tertidur di samping dinding gerbang sekolahan, tempat yang sering jadi tujuannya. Dia bermimpi buruk dan terlihat kesusahan bangun. Tapi... Seorang siswi SMA bernama Luvia mendekatinya.


.


.


.

__ADS_1


Aku senang bisa melihat dia menderita, coba katakan sekarang apa kau bahagia? Tentu saja tidak, siapa yang bahagia saat orang tercintanya mati. Dia yang terbaik, kau benar-benar terbaik, aku sangat suka caramu menyampaikan kekesalan, kau sangat sadis dan kejam kawan.


Daniel.


__ADS_2