THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
28 - Hukuman Paling Pahit


__ADS_3

Gerald sudah dua hari menjalani hukumannya di penjara, dia terus-terusan mendapatkan perlakuan tidak mengenakan, bahkan saat dia bersih-bersih tempat makan atau memecah batu di tengah lapangan penjara. Selama dua hari itu, Gerald selalu kehabisan makanan dan tidak kebagian minuman. Sebenarnya setiap orang mendapatkan segelas air mineral sehabis memecah batu di siang hari, tapi air Gerald selalu di tumpahkan mereka di depan mata Gerald, padahal dia benar-benar kehausan. Bahkan ada yang mengencingi gelas milik Gerald yang kosong itu dan menyuruhnya untuk meminum itu sebagai ganti air yang mereka tumpahkan. Tapi sipir penjara segera menghentikan penindasan berlebihan itu dan menyuruh Gerald membersihkan kamar mandi.


Di perjalanan menuju kamar mandi, sipir muda yang menyelamatkan Gerald itu menghampiri Gerald.


"Hei kamu! " Panggil sipir itu.


Gerald menghentikan langkahnya dan menatap si sipir dengan tanda pengenal Dival Jorgun. Dia tersenyum hangat pada Gerald.


"Ini" Ucap Dival sembari memberikan botol minuman.


Gerald agak terkejut.


"Apa tidak papa? " Tanya Gerald ragu-ragu.


"Ei ei.. Gak papa lah, minum aja selagi masih ada airnya" Jawab Dival ramah.


Gerald mengambil air itu dan meminumnya sampai habis, dia benar-benar kehausan. Dival yang melihat itu terlihat sangat senang. Gerald mengembalikan botolnya.


"Terimakasih" Ucap Gerald.


"Emh, sama-sama, ku harap kamu cepat keluar dari tempat ini" Kata Dival dan berlalu pergi.


Kata-kata itu menghangatkan Hati Gerald yang dua hari ini menahan rasa sakit akibat para penjahat itu, dia menahan rasa sakit pukulan dan rasa sakit ejekan dan bully yang datang tanpa henti tak terkecuali saat dia tidur sekalipun. Meski begitu, Wajah Gerald tak pernah ingin menangis karna perlakuan bejat mereka, malah tatapannya semakin tajam dan dingin.


Saat makan sore tiba, Gerald mengantri seperti yang lainnya, tapi setiap kali gilirannya mendapatkan jatah makanan, mampannya selalu di jatuhkan oleh tahanan lainnya, Gerald menjadi hiburan mereka, meski begitu, Gerald akan memungut makanannya yang jatuh, namun tidak sampai situ mereka mengganggu Gerald, makanannya yang jatuh dan di pungut ulang Gerald akan di jatuhkan mereka lagi dan di injak injak sampai tak layak di makan. Sebagian tahanan yang sudah selesai makan akan menariknya keluar tempat makan dan memukulnya di sana sampai puas. Sampai waktu makan habis, Gerald hanya bisa meringis kesakitan dan berjalan keruang makan untuk mengerjakan tugasnya membersihkan tempat itu. Tapi perutnya kelewat perih dan sakit, karna dua hari ini dia murni tidak makan dan hanya minum air yang siang tadi di berikan Dival.


Tak lama, Seseorang menghampiri Gerald yang meringis kesakitan di dekat sapu. Dia berjongkok dan mengulurkan tangannya di depan wajah Gerald.


"Aku punya makanan, mau makan bersamaku? " Ucap orang itu yang ternyata adalah sipir penjara Dival.


Gerald terkejut mendengar ajakan Dival tapi dia menerima uluran tangan hangat sipir baik hati itu.


Mereka berdua pergi ketempat di mana para tahanan tak bisa melihat mereka dan mereka makan bersama di sana. Gerald makan dengan lahap tanpa malu-malu di hadapan Dival, dia bahkan sedikit kesedak.


"Makan perlahan, makanannya masih banyak kok" Ucap Dival mengelus-elus belakang Gerald.


Selesai makan, Gerald dan Dival menatap dinding dingin di depan mereka. Tak ada yang berbicara apalagi Gerald. Dival tersenyum sendu saat menatap wajah Gerald dari samping.


"Gerald? Berapa umurmu? " Tanya Dival membuyarkan keheningan.


"18 Tahun" Jawab Gerald.


Dival tersenyum mendengarnya.


"Kamu tau? Adik laki-lakiku juga berumur sama denganmu, dia juga pendiam sepertimu" Curhatnya.


Gerald diam saja mendengarkan.


"Di sekian banyak tahanan di penjara ini, kamu yang paling polos dan murni, kamu bukanlah pembunuh, hanya saja, ada aura aneh di sekelilingmu yang membuatmu kena sial terus, mau gak aku bantu hilangin" Tawar Dival.


Gerald menatap Dival heran.


"Ehmm.. Kalau di pikir-pikir aku memang sial terus beberapa minggu ini" Ungkap Gerald.


Dival tertawa ringan mendengarnya.


"Kenapa tertawa? " Tanya Gerald heran.


"Kena sial berminggu-minggu, tahan sekali, denger ya Gerald, di dunia ini masih ada yang namanya penyihir, mungkin saja kesialanmu itu karna sihir seseorang" Jelas Dival.


"Sihir? Bagaimana cara menghilangkannya? "


"Hoo.. Kamu percaya kata-kataku?"


Gerald mengangguk.


"Bisa kok, dari kecil aku sangat tertarik dengan kisah-kisah penyihir, dan negara kita ini dulu terkenal dengan mistisnya tau, pas masa SMP aku tidak sengaja bertemu penyihir sungguhan, sampai sekarang dia masih ada, aku akan meminta bantuannya, besok kita bertemu lagi disini mengerti" Jelas Dival lagi.

__ADS_1


Gerald kembali keruang makan mengerjakan tugasnya dan Dival juga kembali ke pos jaganya.


Besoknya.


Seperti kata Dival, mereka kembali bertemu di tempat itu. Gerald duduk menghadap Dival dengan tatapan antusias membuat Dival gemas.


"Udah makan belum? " Tanya Dival lembut.


Gerald menggeleng.


"Di ganggu lagi ya? Sekali-kali kamu harus melawan Gerald" Nasehatnya.


Gerald hanya diam saja.


"Baiklah, mari kita hapus sihir kesialan itu" Ucap Dival serius.


Dival menunjuk Tangan kanan Gerald mengisyaratkan kalau dia akan menyentuh tangan itu. Gerald menyerahkan tangan kanannya dan melihat Dival memejamkan matanya. Lalu Dival membuka botol kecil berisikan cairan aneh, dia mengolsekan itu di telapak tangan kanan Gerlad dan tak lama, cahaya biru membutakan mata mereka berdua sesaat.


"Apa yang terjadi? " Heran Gerlad.


Dival juga terkejut dan jantungnya berdegub kencang.


"Entahlah, mungkin ini berhasil" Jawabnya juga keheranan.


Beberapa saat kemudian keduanya tertawa kecil.


Moment itu sangatlah hangat bagi Gerlad, dia pertamakalinya merasakan kasih sayang seorang kakak laki-laki, karna selama ini dia selalu menjadi kakak bagi Erlo, mungkin.


Seminggu terlewati dengan kehangatan yang di rasakan Gerald dari Dival, Gerald tidak terlalu merasakan sakit karna Dival, bahkan Gerald tidak kelaparan lagi dan malah tubuhnya sehat dan kuat. Meski dia sering di jahati, terkadang Gerald mampu menepis pukulan mereka dan melawan balik, walaupun akhirnya bakal di keroyok masal. Mereka sering bertemu di tempat rahasia itu untuk mengobrol dan makan bersama. Tapi.. Ternyata kehangatan itu tak bisa berlangsung lama, karna terlihat seseorang berhasil menangkap foto Gerald bersama Dival, seorang sipir mungkin. Gerald tidak menyadarinya, dia hanya bisa sedikit tersenyum karna cerita-cerita tak masuk akal Dival.


Tapi..


Keesokan Harinya..


Suara jeruji besi selnya terbuka membangunkan Gerald dan 4 tahanan lainnya. Beberapa sipir mendekati Gerlad lalu seorang sipir memukul kepalanya dengan pentungan.


"Bangun Bocah tengik" Seru sipir yang memukul Gerald.


Beberapa sipir lainnya memasang borgol di tangan Gerald dan menyeretnya keluar jeruji selnya ke suatu tempat yang familiar.. Ya tempat di mana Gerald dan Dival makan dan ngobrol Bersama.


"Dimana mereka tau tempat ini? Dival? Dimana dia? " Pikir Gerald keheranan.


Tapi kini pemandangannya berubah, ada kain hitam membatasi dirinya dengan dinding ruangan yang biasanya mereka bersandar, seolah di balik kain hitam itu akan ada tontonan, ada ruang yang khusus. Gerald di paksa duduk di kursi khusus yang di letakan di depan kain hitam itu, tangan dan kaki Gerald di ikat di kursi itu kencang, Gerald baru bangun tidur, tapi langsung di paksa seperti ini tentu saja dia kebingungan.


"Apa yang mereka lakukan? " Herannya.


Setelah terikat kencang, sipir-sipir itu berlalu pergi keluar ruangan dan mengunci Gerald Sendirian di sana, sekilas Gerald bisa melihat senyum jahat salah satu sipir.


Tak lama.. Tirai hitam di depannya terbuka dan menunjukan pemandangan mengerikan.


Dival di siksa dalam keadaan telanjang oleh 3 orang lelaki besar yang juga telanjang. Ada banyak bekas cambukan di sekujur tubuhnya dan wajahnya sudah tertutupi bengkak akibat pukulan. 3 orang lelaki besar itu tertawa puas, bahkan ada yang melambaikan tangannya menyapa Gerald.


"Hallo Tuan Penonton" Sapanya.


"Sekarang, kita akan ketahap hiburan selanjutnya, perkenalkan kami bertiga dari sirkus dunia malam, emhh itu terlalu lembut, sebenarnya kami dari sirkus malam menjijikan Hahahahaha" Ucapnya percaya diri dan puas.


"Oy oy Gon, Perkenalkan nama kita lah, biar dia bisa balas dendam" Ucap temannya yang sedang memegang kepala Dival dengan kasar.


"Hoo bener juga, maaf lupa, Hahahaha tidak masalah, nama grup kita saja sudah cukup, tapi... Agar lebih mudah aku akan kasih tau nama asli kami padamu penonton terhormat" Sambutnya.


Gerald, dari tadi tidak mendengarkan omongan orang itu dengan jelas, karna sekarang dia hanya terfokus pada Dival yang kesakitan. Gerald sangat marah dan berusaha melepaskan ikatan di tangannya, dia menggeram hebat membuat orang-orang dari sirkus malam itu tertawa puas.


"Jangan sakiti dia! " Pinta Gerald dengan nada geram.


"Oy oy anak muda, kalau kau berkata begitu, malah seperti meminta kami agar menyiksanya lebih dari ini, kau tidak mengerti ya? Hahahahaha" Balasnya


"Benar! Bagi kami kata-katamu itu seperti, aah cepat bunuh orang di depanku, cepat siksa dia, Hahahahaha" Tambah teman yang satunya dengan suara mengejek, dia lah yang memegang cambuk.

__ADS_1


Gerald panik, dia terus berusaha melespaskan diri agar bisa menolong Dival.


Mulut Dival di sumbat dengan bola besar oleh mereka, jadi hanya suara erangan yang terdengar, Gerald tau betapa sakitnya Dival sekarang, dia sangat tau rasanya di siksa seperti itu, tapi ternyata itu bukanlah akhir dari penderitaan Dival, Gerald tak tau kalau ada penyiksaan yang sangat mengerikan di banding di pukul dan di tendang. Mereka sirkus malam itu akan menunjukkan penyiksaan yang sebenarnya pada Gerald.


*Karna penyiksaannya terlalu sadis.. Aku akhiri disini saja cerita penyiksaannya*


Lanjut...


Gerald sangat shock dengan apa yang sedang di lihatnya ini. Dival orang yang membantunya dengan tulus sedang di siksa habis-habisan di depan matanya sendiri, di perlakukan layaknya binatang, dan yang paling parah adalah, ketika dia melihat wajah tersiksa Dival saat dia di perkosa oleh ke 3 orang gila itu. Gerald tak henti-henti menggeram dan menangis marah. Tangan dan kakinya yang di ikat pun sudah nampak berdarah karna dia terus memaksakan diri agar terlepas dari ikatan yang menghalanginya menyalamatkan Dival.


"HENTIKAAAANNN!!! KU MOHON HENTIKAAAAAANNN!! APA KALIAN TIDAK PUNYA HATI, ORANG YANG KALIAN SIKSA SEKARANG ADALAH ORANG YANG SANGAT BAIK, KENAPA KALIAN TIDAK BISA MENGERTIII!!! HENTIKAAN KU MOHON!! " Teriak Gerald dengan kemarahan dan kesedihan.


Tapi respon yang di dapat Gerald adalah tawa mengejek yang semakin membuat Gerald marah.


"KALAU KALIAN TIDAK BERHENTI MENYIKSANYA, AKU BERSUMPAH! AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENYESALI PERBUATAN KALIAN! AKU AKAN MENJADI ORANG TERHORMAT YANG AKAN MENGEKSEKUSI KALIAN! AKU AKAN JADI RAJA DI NEGARA INI! AKU... AKU.... AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN KALIAN SAMPAI KALIAN MATI!! " Ucap Gerald Dengan Hati yang penuh Dendam, amarah, juga kekesalan.


Mendengar sumpah Gerald yang serius itu membuat nafsu buas mereka ber 3 memudar.


"Haaah, apa-apaan ini, ak tidak minat lagi mempekosanya, lagian bermain dengan cowok tidak seseru dengan cewek" Kesal orang yang memegang cambuk.


"Aku mau muntah mendengar sumpahnya, saking tidak berdayanya kau anak muda, sampai-sampai mau menjadi Raja di negri ini? Bodohnya" Tambah orang satunya yang sedang melepaskan bola besar di mulut Dival.


"Hemmh sepertinya sampai di sini saja, aku juga sudah muak melihat reaksimu yang hah huh tidak jelas, kau baru bersumpah saat kami sudah muak bermain dengan orang ini" Ucap Gon si pemimpin sirkus malam.


Nafas Gerald tersengal-sengal, air matanya tak henti-henti mengalir, dia hanya menatap wajah Dival yang sudah tak kuat lagi. Saat penutup mulut Dival lepas, dia bisa mendengar suara tangisan Dival yang sangat menyakitkan, dia berteriak sekeras yang dia bisa, tapi wajahnya tak mengarah pada Gerald, seperti kekesalannya bukanlah pada Gerald, tapi pada keadaan yang sudah membuat mereka menderita seperti ini.


"Dival! Dival! Kak Dival! " Panggil Gerald pilu.


Dival mendengar suara menyedihkan itu, dia menatap Gerald yang hatinya hancur berkeping-keping.


Tapi apa yang Dival lakukan saat itu.


Apa yang di lakukan Dival adalah tersenyum tulus pada Gerald seolah mengatakan, "aku baik-baik saja", namun bagi Gerald itu tamparan keras pada mentalnya yang merasa gagal menolong Dival.


Dua orang penyiksa itu mendekati Gerald lalu melepaskan ikatan di tangan dan kaki Gerald.


Seorangnya lagi mengambip pistol diam-diam.


Genangan darah Dival sangatlah banyak, luka akibat cambukan dan sayatan pisau itu sepertinya menguras banyak darah Dival. Tapi Dival yang sekarat itu masih saja bisa tersenyum pada Gerald.


Saat ikatan Gerald lepas, Gerald langsung menghampiri Dival dan memeluk erat tubuh yang lemah itu.


"Dival! Kak Dival! Kak Dival! Maafkan aku... Hiks hiks.. Maafkan aku... Maafkan aku... Aku... Aku.. Seharusnya mati saja.. Jadi tidak ada yang terluka seperti ini... Hiks hiks.. Aku.. Aku... " Ucap Gerald terbata-bata.


Namun Dival dengan lembut menyentuh pipi Gerald lalu berkata.


"Jangan berkata seperti itu, Gerald! Ingat! Ini bukan salahmu, ini bukan sala... "


Duarrr!!!!


Dival di tembak mati tepat di depan Gerald, bahkan darah Dival membahasahi tubuh dan wajahnya.


Gerald terdiam kaku.


Tapi sesaat kemudian... Dia panik dan menggoyang-goyang tubuh Dival yang perlahan mendingin di pelukannya. Gerald menangis panik dan berharap Dival masih hidup. Tapi... Itu hanyalah harapannya yang tidak akan pernah terwujud.


Dival mati di pelukkan Gerald yang menangis dan berteriak lepas kendali.


Sedangkan ke 3 orang yang menyiksa dan membunuh Dival keluar ruangan itu dengan senyuman puas dan kekehan merendahkan.


.


.


.


.

__ADS_1


Ini Hukuman Terpahit yang pernah kudapatkan. Ternyata kehilangan seseorang yang berharga bisa membuatmu berharap mati seperti ini. Aku mengaku kalah pembunuh siapapun kau tertawalah sepuasmu sekarang, aku... Kalah saat ini... Hanya saat ini...  Tapi ku akui... Ini sangatlah menyakitkan.


Gerald.


__ADS_2