
Jarden berjalan memasuki sebuah Rumah Sakit, dia dengan wajah tampannya yang tenang memasuki kamar pasien dan mendapati 4 orang polisi sedang terbaring dengan banyak perban di tubuhnya. 4 orang polisi itu sadar, dan mereka segera hormat sebisa mungkin di kondisi mereka yang sangat tidak prima.
"Tuan Jarden, anda baik sekali langsung menjenguk kami" Ucap Aslan, salah satu polisi yang ikut terkena dampak kecelakaan dadakan.
"Bagaimana perasaan kalian?" Tanyanya, Jarden segera duduk di satu sofa empuk dengan wajah menenangkan.
"Kami, baik-baik saja, anda tidak perlu repot-repot kesini, padahal 2 jam lagi sidang di mulai" Kali ini Kirosuki yang menjawab, di sambut anggukan yang lain.
"Aku cukup penasaran akan sesuatu, makanya datang ke sini"
Mereka semua bingung dan saling menatap.
"Apa itu tuan?" Tanya Aslan.
"Kenapa kalian bisa kecelakaan?" Mendengar itu, mereka semua membeku. Wajah Jarden tetap pada mode tenang, dia juga melempar senyum hangat agar ini tidak terlihat seperti introgasi untuk menentukan hukuman bagi polisi yang tidak taat peraturan.
Tetapi hal itu tetap saja membuat Aslan menelan ludah susah payah, dia tidak tau ingin jawab apa, tapi Kirosuki memberanikan diri.
"Saya akan ceritakan pada anda tuan" Ucapnya percaya diri.
"Bagus, silahkan"
"Jadi begini .. "
______
Dua sejoli yang biasa terlihat konyol ini nampak diam, Aires, Luvia duduk di bangku masing-masing dengan kesibukannya. Pelajaran kedua kosong karna guru mereka harus menghadiri pemakaman anak beliau yang juga masuk dalam daftar korban pembunuhan berantai, karna pembunuhnya tertangkap, mayat-mayat yang di otopsi boleh di ambil.
Kabar itu sudah tersebar keseluruh sekolahan, guru yang memakai kaca mata itu kehilangan anaknya seorang mahasiswa dari Universitas Goldenbran, Universitas yang sama dengan Yufen, Haris, Erlo, juga adik Luvia, Fran.
Anaknya di cap salah satu dari pecandu narkoba, meskipun bukan seorang bangsawan, hal itu malah menambah sakit hatinya, ayah mana yang tidak sedih saat mendengar anaknya mati mengenasakan. Dan hal ini di jadikan kesempatan murid nakal yang ingin balas dendam dengan mengumpat pada guru pengawas murid itu sepuasnya.
"Heh, dasar guru tidak becus, mengurus kita seenaknya tapi lihat anaknya, lebih hina di banding kita" Oceh siswa yang menentang guru itu sewaktu menetapkan hukuman bagi Luvia.
Dia berkerumunan dengan gengnya, terdiri dari 5 orang, 3 laki-laki, 2 perempuan.
"Iya, Bos, dia bilang kita di hukum karna kesalahan sendiri, tapi anaknya tidak di urus"
"Guru sialan yang pilih kasih"
"Dia gak bisa apa-apa sama bangsawan ya, kan?" Cibir salah satu cewek di geng itu, membuat telinga Luvia bergerak.
"Aku dengar sesuatu yang tidak mengenakan" batinya.
"Tentu saja, bangsawan sudah menguasi negara kita, diam-diam" Sambung cewek satunya lebih parah di sahut dengan tawa satu geng yang sangat mengganggu.
"Aku di gosipin"
Lagi, Luvia bicara pada dirinya sendiri, dia fokus pada ponselnya yang sedang memperlihatkan video streaming berita Gerald.
"Apapun yang kita lakukan, selalu di anggap berbeda dengan mereka" melirik Aires yang sedang asyik baca komik.
"Heh, juga tidak pernah ada keadilan semenjak mereka menginjak tanah air kita"
Umpatan-umpatan itu terus terlontar di mulut mereka segeng, sedangkan murid lain, diam saja, mereka sibuk dengan tugas yang di berikan guru berkaca mata itu sebelum pergi.
"Kapan mereka berhenti mengumpat, aku mulai mual" Luvia mulai merasa terganggu.
"Sidangnya, akan di langsungkan siang ini, 2 jam lagi, kah" mendesah, juga cemberut.
Salah satu cewek di geng itu mendekati Luvia, saat melihat wajah cemberutnya. Sejenak memang aneh, apa dia salah sangka pada Luvia? Tatapannya tajam, dia dengan angkuhnya memukul meja Luvia membuat Luvia hampri menjatuhkan ponselnya.
"Hahahaha!! Lihat, bangsawan itu gak bertenaga" ejek siswa yang bergelar bos.
"Hmph, apa kau cemberut padaku?" Tanya cewek itu jengkel. Cewek dengan rambut sebahu dengan mata coklat, dia terlihat cantik meski agak kasar.
Luvia, terpaku, diam, tapi mulutnya sedikit terbuka, matanya terpana, dia sedang memandang wajah cewek yang sedang marah padanya dengan pandangan kagum.
"Keren, bagaimana bisa dia se angkuh ini?"
Merasa di abaikan, cewek itu menarik kerah baju Luvia yang membuat lehernya agak tercekik. Wajah cewek itu sangat dekat dengannya, hingga Luvia bisa merasakan nafasnya, tapi tatapan matanya bagai mak lampir.
"Kenapa diam, takut? Aku sudah muak dengan gelar mu, perlakuan istimewa dari semua guru terhadapmu juga .. Wajahmu"
Luvia masih diam, dan Aires yang asyik baca komik tidak terganggu sama sekali, dia diam saja dengan keributan yang di sebabkan geng yang namanya belum di ketahui ini.
"Nafasnya, bau .. Alkohol?" Luvia berpikir dalam diam.
"Yuuki-san, sudahlah jangan bicara terlalu dekat dengannya, nanti bisa kecium" Tegur salah satu cowok berbadan kurus dengan rambut acak berwarna cokelat.
Cewek bernama yuuki itu masih memandang lekat mata Luvia, se inci pun jarak wajah mereka tidak berubah.
"Oy kau dengar tidak, Yuuki!" serunya lagi.
__ADS_1
"Aku dengar, aku masih marah padanya, jangan ikut campur Tanko!" balasnya dengan nada geram.
"Gawat, mereka bertengkar, aku tidak mau ikutan" lagi Luvia bicara pada diri sendiri, sedangkan ekspresinya pada Yuuki datar.
Yuuki lagi-lagi tidak mendapat respon apapun dari Luvia, meski mata mereka bertemu.. Yuki bisa merasakan kehampaan di mata Luvia dan itu makin membuatnya kesal dan geram.
"Kau tidak dengar ya!! Apa kau cemberut padaku heh!!?" Teriaknya, Luvia merasakan angin berhembus kencang di wajahnya, apa lagi bau alkohol yang keluar dari mulutnya membuat Luvia pusing.
"Gawat, kenapa cewek secantik dia harus ikut geng abnormal kayak mereka" Pikir Luvia.
"Yuuki, namamu kan?" Tanya Luvia.
"Heh, kau baru tau sekarang, padahal kita 3 tahun berturut-terut sekelas"
"Benarkah? Aku tidak tau sama sekali" Balas Luvia polos.
"Tentu saja, kau hanya memikirkan teman bangsawanmu yang gila komik itu, dan murid lain, bagai sampah"
Kuping Aires bergerak.
"Aku di bicarakan, kenapa aku harus terseret masalah Luvia si" batinya.
"Kenapa Yuuki berpikiran seperti itu?" Tanya Luvia lagi.
"Jangan berpura-pura tidak tau, heh, aku sangat berterimakasih pada geng kuda laut yang sudah membuat aku menjadi berani memarahimu"
Luvia mendengarkan, dia diam saja.
"Kuda Laut? " pikirnya menerawang.
"Karna kau tidak mengerti kesalahan mu sama sekali, biar aku jelaskan semuanya" Yuuki menarik nafas panjang lalu..
"KAU TIDAK PERNAH ABSEN DENGAN KETUA KELAS, TIDAK MENGERJAKAN PIKET DENGAN BENAR, MELANGGAR PERATURAN SAAT BELAJAR SEPERTI MAIN HP SAAT GURU MENJELASKAN, MENYONTEK, BERPAKAIAN SESUKANYA, TIDAK PERNAH MEMBUNGKUKAN BADAN, JUGA ... "
"KAU TIDAK PERNAH MEMPERHATIKAN PERASAAN ORANG LAIN, HANYA PEDULI PADA DIRI SENDIRI, JUGA SELALU MEMAKSAKAN KEHENDAKMU"
Luvia membeku, mendengar semua perasaan yang di ungkapkan oleh orang bernama Yuuki ini membuatnya sadar akan sesuatu. Aires yang mendengarnya juga meraskaan hal yang sama, selama ini mereka berdua melakukan hal yang mereka suka tanpa memikirkan teman sekelas. Meskipun begitu, Aires tetap melanjutkan membaca komiknya, membiarkan Luvia mengurus masalahnya sendiri.
"Kenapa diam?" Tanya Yuuki lagi, dan kali ini dia melembutkan suaranya. Luvia menurunkan pandangan matanya kebawah, jarak wajah mereka mulai menjauh, Yuuki kelihatan masih kesal dia masih mencengkram kerah Luvia.
"Yuuki benar, selama ini aku berbuat sesukaku, Yuuki ya? Kok aku kayak kenal nih cewek si? " Pikir Luvia lagi.
Teman segengnya yang lain agak kaget dengan semua luapan emosi Yuuki, tapi mereka hanya bisa melihat saja, seolah menyuruhnya menyelesaikan sendiri masalah mereka.
"Aku tidak cemberut karna mu, tapi karna ini" Luvia menunjukan ponselnya yang masih memutar video streaming channel berita pada Yuuki.
"Untuk apa menunjukan ini?" Tanyanya Jengkel.
"Pembunuhnya gak akan di hukum mati" Jelas Luvia.
"Ha? "
Seluruh murid yang ada di kelas sontak kaget mendengarnya.
"Itu berarti .. Dia .. Jangan bercanda bangsawan loyo, mana mungkin pembunuh bangsawan di ampuni pemerintah, ayahku yang tidak sengaja menabrak mobil mereka saja di penjara seumur hidup, jangan membohongi ku!!" bentak Tanko, cowok kurus seperti dia punya suara lantang yang sangat keras, dia nampak marah dengan perkataan Luvia.
Murid lain pun mulai berbisik hal yang sama.
"Oy, Tanko, tenangkan dirimu" Tegur Bos mereka.
Tanko meredam amarahnya dengan menutup rapat mulut, tapi wajahnya merah padam, dia tidak terima perlakuan khusus itu.
Sedangkan Yuuki menjauhi Luvia perlahan, tapi dia masih berdiri di hadapannya.
"Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan?" Ucap Yuuki dingin.
Luvia menanggapi dengan tenang, Aires menyimpan ponselnya di saku roknya dan mulai memperhatikan mereka berdua.
"Bagaimana caramu mengatasinya Luvia? Aku benar-benar tidak bisa memahami perasaan mereka, ah.. Aku akan jawab sesuatu yang membuat mereka benci padaku saja" Pikir Luvia.
"Kalian rakyat rendahan.. Jangan macam-macam denganku, bangsawan loyo sepertiku bisa menghukum geng kuda lautmu menjadi geng kuda panggang" Ucap Luvia Agak Keras dan Serius.
Mendengar jawaban sombong Luvia, Yuuki tidak bisa menahan amarahnya. Dia kembali menarik kerah baju Luvia hingga badan Luvia ikut tertarik.
"Jadi maksudmu kalian bisa memanipulasi hukum?" Tanyanya geram.
"Tentu saja, karna kalian tidak lebih dari sampah" Jawab Luvia dengan seringai mengejek.
Jantung Yuuki bagai terkena sayatan pisau tajam, dia sangat terpukul mendengar umpatan Luvia yang sangat merendahkan mereka yang bukan bangsawan.
"Ku bunuh kau!!" Ucapnya seraya melayangkan tamparan pada pipi pucat Luvia, tapi sebelum itu terjadi Luvia lebih dulu menarik kerah baju Yuuki membuat mereka...
Chu...
__ADS_1
Aires yang melihatnya kaget, murid satu kelaspun membeku.
Luvia mencium paksa Yuuki yang ingin menamparnya, bahkan dia belum melepas ciuman itu. Yuuki yang di cium membeku dan membiarkan Luvia.
Aires marah dan segera berlari kearah mereka berdua dan....
Plak
Bam
Bruk
"AHOO!!" teriaknya. (BODOH).
_______
Gerald duduk di dalam kantor polisi yang sangat ramai, dia berada di pojok karna nampak jelas di wajahnya ada raut takut dan trauma. Tidak ada polisi yang mendekatinya untuk bicara atau sekedar bertanya, semua memandang jijik padanya.
Dahinya berbalut perban putih, mungkin efek kecelakaan dadakan itu membuat kepalanya terbentur.
Tak lama dia duduk dengan gemetar sendirian, seseorang datang menghampirinya, Leonardo.
"Kamu bisa berjalan sendiri, kan?" Tanyanya.
Gerald menunduk takut, tapi anggukan kecil masih dapat terlihat.
"Baiklah, kita akan bersiap-siap ketempat sidang"
_______
Jarden mengendarai mobilnya, dia sedang dalam perjalanan menuju tempat sidang. Saat dia berada di rumah sakit dan mendengar cerita anak buahnya, Jarden tersenyum senang.
Inilah yang di katakan Kirosuki pada Jarden.
"Saat Gerald menggigil, saya kira dia trauma, atau takut dengan hukuman yang akan menimpanya, Aslan selalu memprovikasinya"
"Saya ingin memberinya minum, tapi dia malah berteriak hal aneh, saya lupa apa yang di katakannya, tapi yang pasti saya tau, dia membuat gelombang angin yang kencang hingga Watabe yang menyetir pingsan"
"Iya tuan, itu yang terjadi"
Semuanya setuju dengan penjelasan Kirosuki yang singkat namun pas.
*
Jarden terkekeh sendiri di dalam mobil mewahnya, lalu kekehan itu berubah jadi tawa keras.
"Sudah kuduga, anak itu otaknya eror, Telekenisis, kah? Tidak masuk akal"
Lagi tertawa.
_______
Sebuah mobil hitam mewah parkir di depan rumah besar yang indah, seorang laki-laki memakai jas hitam keluar dan terlihat tergesa-gesa masuk, dia menuju lemari besar tengah ruangan.
Laki-laki itu tidak asing, Ziri. Niatnya ingin mengambil sesuatu dalam lemari itu tapi matanya tertuju ke ruang tamu yang Tv nya masih menyala.
"Ah, siapa yang menyalakan Tv" gerutunya, dia segera mematikan Tv itu dan secara tidak langsung melihat seseorang tergelatak tal berdaya depan kursi.
Ziri heran, dia mendekati seoranh laki-laki yang sedang tengkurap itu, lalu membalikan badannya.
"Ini sudah satu jam" Ucapnya seraya memegang kepala laki-laki itu, dan dia terkejut bukan main saat tau siapa wajah orang itu.
"Tu-tuan Erlo!!?"
Ziri mulai panik.
"Kenapa ini bisa terjadi?"
Dia menatap Tv yang sudah mati itu dengan kecurigaan tinggi.
"Gerald, dia .."
.
.
.
.
Kenyataan tak sendiah ilusi, apa yang kita lihat benar, sebenarnya adalah kebohongan, jadi lihatlah dengan cara berbeda.
Ziri.
__ADS_1