THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
15 - Leonardo


__ADS_3

Masih di pagi yang dingin, Gerald benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa hari ini. Dia masih membutuhkan istirahat total karna luka akibat penyiksaan Ziri di tambah dengan luka baru karna tertimpa lemari.


Dia hanya bisa mendesah pelan sambil memandangi buku kecilnya itu, di sana ada tulisan dengan tinta hitam miliknya yang di baca.


"Kata Lucy pamannya yang bernama Leonardo Dov dalam posisi berbahaya, dia berharap agar aku bisa memberitaukan hal ini padanya"


Gerald menghela kecil, lalu menutup bukunya.


"Leonardo?, apa yang sedang kau lakukan hingga dalam posisi bebahaya? Keponakanmu sangat mengkhawatirkanmu, di akhir hayatnya saja, namamu yang pertama keluar dari mulutnya, sepertinya kau orang yang sangat baik" Ucap Gerald dalam kesunyian.


Kantor polisi


Pukul 08: 23


24 Januari 2018


Masih pagi, semua polisi sudah berada di tempatnya. Tim B yang menangani kasus pembunuhan di Hotel nampak sangat kelelahan, kantong mata mereka menghintam dan bengkak. Apa tugas ini terlalu berat bagi mereka? Lain hal dengan Tim A, mereka santai-santai saja karna memiliki si jenius Leonardo. Tugas mereka ringan dan tak perlu memeriksa CCTV semalaman atau mondar mandir di tempat TKP. Mereka hanya mengetik keyboard duduk dengan nyaman dan mengirimkan laporan mengenai kasus padanya sebisa mereka menggunakan email, mudahkan.


"Huh, untung aja kita gak perlu kerja lembur kaya sebelah" Buka seseorang yang di juluki singa, Aslan dia berbicara pada teman di sampingnya.


"Tapi, kinerja pak Leo gak secepat kasus lain, apa kasus ini menyangkut orang penting?" Sahutnya, laki-laki dengan wajah tampan Kirosuki.


"Hem, hem, betul juga tuh, mungkin, tapi kita gak boleh asal asumsi loh, nanti kena batunya" Timpal Aslan bercanda, mereka berdua tertawa kecil.


"Aee bisa aja kamu lan"


"Kamu juga kiro"


"Siapa yang mau kena batu? Eii dasar singa"


"Kenapa gitu kuro Ee, kiro"


"Aee dasar singa"


Mereka terus bercanda dan tertawa.


Di ruangan khusus ini dia dengan kelereng hijau menawan itu berdiri menghadap jendela, Leonardo sedang melihat pemandangan di luar melalui jendela.


"Anak muda dengan dendam ya?" Tersenyum kecil.


"Kasus pertama, dia main-main dengan tema bioskop, apa yang dia tunjukan? Triknya sangat mudah, mengunci dari luar dengan kunci darurat, mengambil Ponsel korban sesaat sebelum korban masuk kamar lewat pelayan yang mengantarkan korban, dia punya koneksi besar dengan hotel itu. Meski begitu dia masih nekat dan hebatnya pencarianku tentangnya nihil di sana. CCTV tak menunjukan hal aneh di semua kamar hotel, seolah rekamannya di tukar dengan yang di inginkan pelaku, hehe.. Menarik sekali"


"Kasus kedua, dia main-main dengan pesta terlarang. Pesta sabu, pesta yang juga identik dengan para bangsawan kebal hukum. 3 di racun dan sisanya di tusuk? Salah, mereka semua di tusuk dan racun hanya pengalihan, ingin mempersulit pencarian motif pelaku. Dan sejujurnya keenam anak sial itu mati dengan rasa sakit luar biasa, mata dan mulut mereka menganga, jelas sekali sabu yang di makan mereka tidaklah murni"


"Jantung, Hati, Ginjal, semua korban menghilang, untuk apa? Uang? Salah, dia mengira dia adalah pahlawan. Memberikan pada orang yang membutuhkan dan membunuh orang yang tak di butuhkan, apa itu motifnya?"


"Hemm... Salah... Motifnya adalah... "


Suara Email masuk menghentikan gumamannya mengenai kasus itu, dia segera membalikan badannya dan mengarahkan kelereng hijau miliknya ke layar monitor.


"BE (heran) siapa ini, nama emailnya aneh"


Berpikir.


"Paling orang iseng, kalau beneran iseng, isap jempol mu di penjara" mulai lagi kata-kata memalukannya.


Tangannya mengklik pesan email itu lalu membacanya.

__ADS_1


"Tuan detektif, ini dari Zero X. Biar saya beri tau satu hal tentang si pembunuh, dia seorang mahasiswa dengan rambut berwarna biru laut. Saya saksi yang melihat pembunuhan keji itu, sekian. Identitas rahasia."


Leo menyerngit bingung, setelah membaca pesan itu dia duduk di kursinya yang nyaman lalu berpikir.


"Siapa dia Zero X? lalu kenapa dia takut memberi saksi secara langsung ke kantor polisi? Dan... Ngapain dia tulis identitas rahasia di akhir.. Gak guna, kenapa dia berani ngirim email mencurigakan seperti ini?" Bergumam lagi, Leo seakan ragu dengan pesan email ini. Dia memutuskan untuk membalas email tersebut mencoba berkomunikasi lebih dalam.


"Berikan ciri spesifik si pembunuh, atau bagaimana cara aku bertemu dengannya?"


Lama menunggu, pesannya tak kunjung di balas, Leonardo semakin merasa heran. Akhirnya dia memutuskan melacak pemilik email tapi... Akun itu fake dan sudah hilang beberapa menit yang lalu.


"Sial!!!" geramnya.


"Apa maunya? Sepertinya ini lebih menyenangkan dari yang kukira. Seseorang yang mengaku saksi tapi memberikan kejelasan singkat tanpa adanya alasan yang kuat. Dia seolah mempermainkan seorang detektif sepertiku, atau mungkin saja dia... Salah satu karakter dalam game ini?"


Leonardo agak terkekeh memikirkannya.


"Game ya? Sebenarnya aku tidak suka mempermainkan kasus yang menyangkut nyawa orang banyak"


"Aa.. Kenapa tidak coba saja mencari mahasisawa dengan rambut biru itu, melangkah satu jalan di Game akan membuat sensasi mendebarkan dengan memberikan kejutan yang sudah di siapkan pembuatnya"


Setelah berpikir lama, Leonardo memutusakan untuk pergi ke beberapa kampus. Mungkin ada 4 kampus yang akan di kunjunginya, melihat dari catatan si detektif genius ini.


"Kita coba saja, semoga kampus ini tujuan yang benar" Ucapnya yakin.


Leonardo memilih kampus terbaik kota ini terlebih dahulu yang jaraknya dengan semua kasus lebih dekat, Universitas Goldenbarnd.


***


15 menit perjalanan menuju Universitas, Leonardo dengan mobil hitam gagah miliknya itu akhirnya parkir di tempat tujuannya. Dia turun dari mobil dan langsung masuk ke Universitas itu, tapi beberapa langlah masuk ia di cegat seorang satpam di sana.


"Maaf, apa urusan anda di sini?" Ucap satpam itu tegas. Leonardo terdiam melihat situasi yang menerpanya ini, ia memutuskan untuk tidak menyebutkan identitasnya kepada satpam itu, dia hanya tersenyum manis.


"Kalau tidak ada urusan, silahkan pergi"


Karna desakan satpam, akhirnya Leonardo buka mulut.


"Begini pak satpam, saya mau tanya-tanya sama orang yang ada di kampus ini boleh?"


Membuat alasan yang masuk akal.


"Tapi anda kelihatannya ingin menuju kantor para dosen?" Tukas satpam itu kurang percaya.


"Saya kira tidak ada orang di luar, jadi saya mencoba mencari seseorang untuk di ajak bicara, sebentar saja" Jelasnya lagi, setelah mempertimbangkan ucapan Leo, satpam itu mencoba percaya "Oh begitu, jam segini Universitas kosong, jam pelajaran di mulai pukul 11:30, anda salah kalau datang pagi begini" Ucap satpam menerangkan pada Leonardo tentang aktifitas di Universitas yang di jaganya ini.


"Jadi hanya anda yang ada di sini?"


Satpam mengangguk.


"Kalau begitu, apa anda keberatan kalau saya tanya menggantikan para dosen atau mahasiswa di sini?"


"Oh silahkan, mari ikut saya"


***


"Anda mau tanya apa? Sepertinya anda orang yang penting" Ucap satpam itu. Matanya terpana dengan kegagahan Leonardo serta pakaianya yang tergolong berkelas. Mereka duduk di pos jaga tempat satpam bekerja.


"Oh ini, maaf sebelumnya, karna saya kirang sopan, saya cuman reporter magang" Jawab Leonardo.

__ADS_1


Dia mengerti maksudnya dengan melihat arah pandangan lawan bicaranya itu. Satpam manggut-manggut mendengarnya, lalu dia menyodorkan segelas kopi hangat.


"Ini di minum, gak usah di bahas, wajar kamu kan gak tau" Ucapnya rendah hati. Leonardo menerima minuman itu dengan senang hati dan menyeruputnya.


"Pak satpam, apa di sini ada murid nakal, melanggar aturan atau apapun itu?" Buka Leonardo dengan berani, satpam itu menyentuh dagunya memikirkan pertanya'an Leonardo tadi. "Rasanya di sini gak ada aturan resmi, karna sebagian besar mahasiswa di sini bangsawan" Jawab satpam itu. Leonardo sedikit terkejut, dia dengan sigap menulis apa yang di sampaikan satpam itu di buku pribadinya.


"Apa di sini banyak mahasiswa yang mencat rambutnya?" Leonardo menunggu jawaban satpam yang tengah berpikir ini. Tak lama jawabannya pun keluar "Kemarin saya melihat seorang mahasiswa laki-laki mencat rambutnya, mencolok sekali" Lenardo antusias mendengarnya. "Warna apa? Apa hanya dia yang mencat rambutnya begitu?" lagi satpam itu menyentuh dagunya. "Hemm, warna biru" Ucapnya percaya diri, Leo sangat senang mendengarnya, dia masih menulis semua yang baru di ketahuinya. "Banyak mahasiswa yang mencat rambutnya, tapi hanya dia yang mencolok" Sambungnya.


"Ok, (Berpikir sejenak, mengumpulkan keberanian) Apa anda tau siapa namanya?" Leonardo tau betul kalau pertanya'annya kali ini akan mengundang rasa curiga, tapi demi menggali informasi dia rela menanggung resiko tentang pasal mengusik privasi orang. Satpam itu menatap leo dengan tatapan aneh "Bukankah anda reporter, untuk apa menanyakan privasi mahasiswa di sini? Apa ini akan di tayangkan?" Kecuriga'an itupun akhirnya terlontar dari mulutnya. Leonardo sedikit panik memikirkan sebuah alasan untuk menutupi aksinya.


"Iya anda benar pak, tapi saya di sini hanya mencari seseorang untuk di jadikan model cat rambut perusaha'an bos saya, ini misi pertama reporter magang seperti saya, maklumlah pak" Jawab Leonardo dengan wajah polos, satpam itu kembali percaya dengan alasan yang di buat olehnya.


"Nah bilang begitu dari tadi, biar gak salah paham, kirain buat apa. Kan kau tau, banyak kasus pembunuhan terjadi akhir-akhir ini, jadi saya harus hati-hati memberi informasi" Cerita satpam, membuat Leo mengangguk membenarkan "maaf pak, jadi gimana, boleh tau siapa namanya?" Tanya Leo kembali dengan senyum polos.


Satpam itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memikirkan siapa nama mahasiswa yang kemarin di lihatnya.


"Namanya ..."


***


Setelah berbicara dengan satpam itu, Leonardo mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Wajahnya nampak kurang senang, tapi terkadang dia terkekeh jengkel.


"Heh, dari foto dan nama yang ku dengar, kenapa ini seolah hanya duplikasi?" Herannya.


"Penyuka biru? Berarti ada yang di tirunya, ini namanya senjata makan tuan, ini petunjuk luar biasa yang di dapat dalam beberapa menit" Kagumnya.


Saat satpam menyebutkan nama mahasiswa itu.


"Namanya .."


"Yufen"


Leonardo terkejut mendengar nama anak itu, anak yang di temukan oleh polisi di tempat TKP, terkulai lemas di ikat di atas kursi dengan sambungan listrik tegangan tinggi. Bukankah dia korban, lalu kenapa pengirim email Zero X bilang pelakunya adalah seorang mahasiswa ber-rambut Biru? Rumit.


"Saya sering mendengar temannya berbicara tentang dia"


Leo makin penasaran.


"Benarkah, apa yang anda dengar pak?"


"Mungkin ini sebuah julukan untuknya, karna dia juga salah satu bangsawan"


Terdiam, dia hanya mendengarkan.


"Si penyuka biru"


"Ini jelas jebakan dalam game yang harus ku hindari, Yufen hanyalah Duplikasi yang menjadi pion oleh si pelaku" batin Leonardo.


.


.


.


.


Serumit apapun jebakannya, aku tidak akan terjebak. Lihat saja Jack The Ripper amatir. Akan ku kejar kau, sampai tulangmu semuanya lepas dari daging dan kulitmu itu.

__ADS_1


Leonardo.


__ADS_2