THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
23 - Kakak Yang Ku Banggakan


__ADS_3

Di pagi yang masih menggoda ini, seuatu kejadian menghebohkan seluruh orang. Ya, tertangkapnya pembunuh yang sangat meresahkan masyarakat, bagaimana tidak, bukan hanya bangsawan yang mati, tapi di kasus kedua 3 orang bangsawan dan 3 orang mahasiswa biasa mati mengenaskan.


Kalian pasti merasa bingung kenapa bangsawan sangatlah di hormati dan mampu menghebohkan sebuah negara, baiklah lihat pejelasannya kenapa.


HARNZOV adalah sebuah negara yang dulunya adalah sebuah Kerajaan besar. Kerajaan HARNZOV sudah beridiri selama ratusan tahun dan di pimpin 99 Raja di setiap eranya dan era ini sistem kerajaan berubah menjadi pemerintahan di bawah Raja baru Glen Gold Melves, meski tak sepenuhnya pemerintahan tapi itu berdampak sangat besar pada tatanan kerajaan yang di bangun Raja-Raja sebelumnya.


Bangsawan di kerajaan HARNZOV tidaklah murni asli dari kerajaan ini, namun semua gelar bangsawan di negara HARNZOV adalah bagian dari keluarga kerajaan yang di pimpin oleh Raja Glen Gold Melves yang sedang berkuasa di era moderen ini, dan jadilah mereka kebal akan hukum.


Dulu saat era kekuasaan Raja sebelumnya Raja Louis, Bangsawan tidak mendapatkan kepastian Hukum, karna beliau memiliki pandangan berbeda, begitu pula Raja terdahulu. Raja Louis memiliki sahabat dekat yang jadi tangan kananya yaitu Glen Gold Melves yang posisinya adalah Bangsawan kelas A yang kini menjadi Raja.


Ada 3 Bangsawan kelas A di kerajaan HARNZOV yaitu Gold Melves, Van Anpaz, Aihara Jinkan dan 4 bangsawan kelas B Yaitu Farges, Wexi, Tuksez dan Logdi yang memimpin ke 7 kota besar lainya di kerajaan ini. Dan Raja baru Glen Gold Melves memerintah di pusat kota Kerajaan/Negara HARNZOV yang bernama QOINZE.


Bangsawan di kerajaan HARNZOV kebanyakan bukanlah bangsawan asli kerajaan, tapi bangsawan dari negara asing, berasal dari luar kerajaan HARNZOV tapi berkontribusi besar untuk kerajaan, karna itu di pemerintahan baru bangsawan asing tersebut bisa memimpin 7 Kota lainnya di negara ini. Dan seperti yang sudah di ketahui, ada beberapa bangsawan yang hanya menyebutkan nama depannya saja namun ada juga yang sudah ketahuan gelar bangsawannya seperti Luvia Aihara Jinkan yang berasal dari jepang. Dia adalah bangsawan dari negara asing yang memilih untuk berada di bawah naungan Raja Louis saat sang Raja berkuasa selama 100 Tahun. Di era Pemerintahan Glen Gold Melves sistem kerajaan Raja Louis di ubah 80%, dan melahirkan peraturan baru yang berbunyi (Bangsawan adalah keluarga kerajaan yang memilki kekuasaan di atas masyarakat.)


Itu menjelaskan semua keluhan orang-orang di sekitar Aires, Luvia, Erlo dan Haris.


Ada 3 tingkatan bangsawan yang membedakan seberapa tinggi derajat mereka di mulai dari kelas A lalu B dan terakhir C. Bangsawan kelas C tidak memiliki hak memimpin kota tapi mereka mendapatkan jabatan tinggi di sistem tatanan dan pemerintahan kota di bawah pengawasan Bangsawan kelas A dan B. Meski begitu, entah kenapa kebanyakan yang mati hanyalah bangsawan kelas C.


Karna masalah ini kasus pembunuhan itu tidak bisa sembarangan di tangani oleh polisi, hanya unit khusus yang boleh turun langsung, hasil dari investigasipun tidak bisa di publish seenaknya, butuh persetujuan pemerintah, karna itu banyak polisi yang membeberkan hasil palsu agar meredam para reporter juga rasa penasaran masyarakat. Sistem ini di tetapkan pemerintah, karna di jaman moderen sekarang ini semuanya serba kekurangan uang, karna itu bangsawan yang tinggal di Kota Qoinze keamanannya di perketat.


_____


Jarden mengajukan permintaan keringanan hukuman Gerald? ini sesuatu yang sangat aneh.


Tapi, dia di tolak ketiga Hakim dengan sanggahan peraturan pemerintah. Meskipun begitu pada akhirnya dia berhasil membujuk mereka dengan sebuah buku berisikan sesuatu yang mungkin tidak bisa di lawan.


Setelah keluar dari gedung mewah itu Jarden berhenti di depan mobilnya, tapi ada seseorang di belakangnya, dari postur tubuh yang tinggi dan kekar, jelas dia seorang laki-laki.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya seseorang itu.


Jarden tersenyum, dia segera membalikan badan dan menundukan kepalanya hormat.


"Sesuai rencana Tuan"


_______


Haris, duduk santai di depan Tv. Ada beberapa cemilan di depannya dan mulutnya nampak sedang mengunyah sesuatu. Wajahnya bosan, tayangan di lihatnya tidak sesuai dengan umurnya, Spongebob. Dia mendesah kecil lalu mengambil remot memindah channel tanpa melihat tayangan yang sedang berlangsung, hingga akhirnya dia memutuskan untuk stop di cahnnel no 5 yang sedang menyiarkan berita terbaru.


Dia melihat berita yang di tayangkan dan terkejut saat melihat wajah laki-laki yang di sangka pembunuh berantai akhir-akhir ini, dia berdecak sebal.


"Kenapa dia yang jadi kambing hitamnya, bukankah seharusnya Yufen? Heh dasar licik"


Tak beberapa saat, Haris mengambil ponsel di saku celananya dan menelpon seseorang.


"Hallo Erlo"


"Iya?"


Erlo yang menjawab telpon ternyata bermalas-malasan di atas kasurnya yang empuk.


"Kenapa suara mu?"


"Ngantuk"


"Aku mau kasih tau sesuatu"


"Apaan?"


"Kamu gak usah khawatir lagi, penjahatnya udah ketangkep"


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


"Penjahat yang buat aku masuk kantor polisi"


"Perampok itu, kamu yakin? Kak Jarden .. Kamu juga bilang dia udah di tangkap lalu?.. Aku tidak mengerti"


"Emh, yakin 100% jadi gak ada alasan kamu murung, cuekin aku, kan kemarin udah kujelasin semuanya. Maaf bohongin kamu, itu supaya kamu gak khawatir kalau-kalau penjahat itu incar aku lagi, Jarden dan aku udah sepakat bohongin kamu sampai semuanya beres"


"Syukurlah, tapi ini keterlaluan membohongi teman sendiri, karna kau punya alasan jadi ku anggap ini tidak pernah terjadi"


Erlo mengiyakan apapun yang di katakan Haris, dia juga berusaha sabar agar tidak menambah masalah. Erlo mengetahui kebenaran, tapi menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


Di balik kesabaran yang di tunjukanya pada Haris, ada seberkas senyum tipis terpaksa yang nampak di wajahnya walaupun hanya sekilas.


Saat Haris membohonginya lagi, Erlo teringat bagaimana Haris datang kerumahnya membawa kumpulan film komedi terbaru dan itu kebohongan pertamanya, tak lama dia keluar dari kantor polisi, tepat pada malam harinya.


______


Di depan pintu, Haris di sambut baik oleh pelayan kesayangan keluarga Erlo, dia langsung di suruh masuk dan menunggu di ruangan tamu.


Wajahnya sangat tenang, tak lupa senyum tulus yang sering di tunjukannya itu terlihat jelas. Haris tidak ingin ada suasana suram saat bertemu temannya itu.


Tak memerlukan waktu lama, Erlo dengan sedikit berlalari menuju kearahanya, dengan wajah cemas bercampur kesal. Nafasnya nampak sedikit tersengal, Erlo berdiri tepat di depan Haris dengan wajahnya yang kacau akan ekspresi.


"Haris" Ucapnya spontan, matanya berbinar kecil.


"Yo! Erl"


Dengan tenangnya Haris menyapa Erlo, seperti tak terjadi apa-apa.


"Jangan buat eksperi begitu, aku jadi tidak enak" Sambungnya.


Erlo segera memperbaiki sikapnya yang nampak sekali lemah dia duduk dengan posisi senyaman mungkin menghadap Haris, padahal hal itu wajar untuk sebuah pertemanan.


"Tidak usah di pikirkan"


"Kau baik-baik saja, kan?"


"Bisa lihat sendiri"


"Kenapa kau bisa masuk kantor polisi? Apa benar kata Kak Jarden kalau kau di rampok?"


Erlo terus menghantam Haris dengan runtunan pertanyaan, membuat temannya itu merasa susah bernafas.


"Iya, pelakunya sudah tertangkap, tapi aku masih agak kesulitan menjelaskan pada mereka, dan juga soal kita ini spesial kau tau sendiri, kan?"


"Benarkah? Syukurlah kau tidak terlibat hal yang mengerikan" Ucapanya, berakting sebisa mungkin. Erlo merasa ini adalah tantangan terberat di hidupnya, saat harus berbohong di hadapan teman tercintanya, agar bisa terus bersama tanpa ada ikatan kebencian dan kecurigaan.


"Jadi, jangan bad mood lagi ya, pangeran Akting" Balas Haris sedikit menekan kata Akting.


Erlo mendadak tegang, dia merasa Haris mengetahui kebohongan sikapnya.


"Aa, aku hampir lupa" Sambungnya tiba-tiba, membuat Erlo menatap serius padanya.


"Apa?" Dingin.


Menyerahkan kantong belanjaan yang dari tadi di bawanya, seraya tersenyum lebar.


"Ini, kejutan untukmu"


"Waah, apa ini? Padahal kau yang sedang kesulitan, kenapa aku yang malah dapat hadiah" kembali berpura-pura. Dan kali ini dia bersikap semirip mungkin dengan dirinya seperti biasa.


Haris berhenti tersenyum melihat reakis Erlo yang sangat senang melihat hadiah bawaannya, dia melakukan itu tepat saat mata Erlo tidak mengawasinya, tapi sedetik kemudian dia kembali tersenyum saat Erlo menatapnya.

__ADS_1


"Ee.. Jangan sungkan, ini cara yang paling ampuh agar tidak terlalu tegang"


"Ah, aha ha, kau bisa saja Ris, film kesukan ku lagi, apa ini sogokan biar aku maafin kamu?"


Sedikit bingung. Mereka saling menatap dengan tatapan canggung dan penuh dengan rasa benci.


"Maafin apa?" tanya Haris Serius.


"Udah buat aku ngejual nama bidadari berhaargaku"


"......"


_______


Haris merasa aneh, saat Erlo tidak kunjung bicara lagi.


"Oy, Erlo, kamu masih bernafaskan?"


Suara itu membuat Elro segera tersadar akan lamunannya yang tak di undang lewat sejenak.


"Maaf, maaf" Responya canggung.


"Kau ini, ku kira tidur lagi"


"Lalu, siapa penjahatnya?"


"Coba kamu buka Tv,"


"Ok"


Erlo segera bangun dari malas-malasanya menuju remot Tv yang berada di ruang tengah.


"Udah nonton belum?" Tanya Haris lagi.


"Ini aku baru turun tangga, bentar, ini udah depan Tv, Kumatiin Ya telponnya" Balas Erlo.


Erlo mengambil remot Tv dan menekan tombol On, layar hitam Tv langsung menyala dan memaparkan berita soal kasus Gerald. Betapa populernya berita itu hingga rattingnya lebih tinggi di banding siaran lain, tapi ini tidak penting bagi Erlo, tapi yang membuatnya menarik adalah isi dari berita dan orang yang sedang jadi tokoh utama.


Dia tidak bisa duduk di sopa setelah melihat wajah yang sedang di lihatnya.


Bibirnya gemetar, tangannya mengepal, matanya perih, wajahnya menunjukan kepiluan yang sangat mendalam, entah kenapa tangan Erlo mencengkram dadanya sendiri. Dia menahan rasa sakit yang sedang menimpa hatinya, tak lama, buliran bening hangat itu jatuh, suara isakan pelan terdengar menyakitkan. Dengan bibir gemetar Erlo mengatakan sesuatu, sesuatu yang mungkin tidak bisa di percaya siapapun.


Dengan nada lirih dia berkata ..


"Kakak!"


Sebelum akhirnya dia terjatuh di lantai dan semuanya menjadi gelap baginya, Erlo tak berdaya, tidak sanggup menerima kenyataan yang baru saja di lihatnya.


Gerald adalah kakak yang banggakannya.


.


.


.


.


Apa benar apa yang aku lihat ini nyata, ... Kalau benar, ini sudah membunuhku.


Erlo.

__ADS_1


__ADS_2