THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
06 - Bukan Tikus Tapi...


__ADS_3

TKP


Pukul 18:34


Banyak polisi berdiri di luar kamar tempat terjadinya pembunuhan, tim A yang di pimpin Jarden berada di dalam kamar menyelidiki kasus tingkat menengah ini. Mereka harus berhadapan dengan mayat yang menjijikan, bersimbah darah, minim baju, juga kehilangan organ dalam tubuh, luka di dada yang menganga dan kosongnya tubuh kedua korban.


"Dia mati akibat pukulan keras di kepala, mungkin benda yang di pakai pelaku adalah tongkat bisbol"


Detektif bernama Leonardo ini, menjelaskan kamatian korban pertama pada Jarden yang jongkok di samping mayatnya


"Lalu"


Balas Jarden.


"korban kedua mati akibat pukulan di perut, dia memukul dengan sarung tinju? Saya belum bisa memastikannya"


Dia menulis hasil pengamatannya di buku pribadi.


"Kau yakin mereka mati akibat pukulan, bukan tusukan pisau?"


Jarden menunjuk luka di dada korban yang cukup untuk menghabiskan darah keluar.


"Ya, si pelaku sepertinya bukan orang yang tega membunuh dengan darah mengenai tubuhnya"


"Kenapa menurutmu begitu?"


"Ada orang lain yang mengambil organ tubuh mereka"


"Hah?"


"Tuan Jarden, ada yang ingin bertemu anda"


Panggil salah satu polisi yang berjaga di luar kamar, pembicaraan mereka pun terputus.


"Baiklah!" Sahut Jarden seraya berdiri, dan si polisi kembali menunggu di luar.


"Leo tunda dulu, jangan sampaikan hasilnya pada siapapun, mengerti"


Perintah jarden di sambut tanda hormat leonardo.


Jarden segera keluar menemui seseorang yang memanggilnya itu, dia di bawa ke lantai atas kamar no 201, dengan wajah kesal Jarden melangkahkan kakinya menyususri beberapa kamar sebelum sampai pada kamar yang di tuju.


"Kenapa jauh sekali"


Keluhnya.


Polisi itu tak bicara apapun selain membukakan pintu dan mempersilahkan Jarden untuk masuk. Di dalam kamar dia berhadapan dengan seseorang dengan jas hitam bertubuh tinggi membelakanginya.


"Tu-tuan"


Jarden Tergagap.


''''


Asrama perempuan


Luvia sedang asyik makan ramen di atas meja belajar Aires, dia menatap laptop menonton video koleksi aneh milik temannya itu. Sedangkan Aires menonton acara Tv dan tidak sengaja melihat berita yang lagi panas, Pembunuhan di kamar no 133 tak mengenal gelar.


"Judul macam apa itu"


Gumamnya.


"Apa'an"


Serobot Luvia dengan mulut mengunyah makanan, matanya masih menatap laptop Aires.


"Lihat tuh berita, judulnya aneh"


Luvia mengalihkan pandangannya ke Tv.


"Lebih aneh video koleksimu"


Cetusnya.


"Ck, coba denger reporternya bilang apa"


Decaknya sebal.


Luvia fokus mendengarkan isi berita yang di sampaikan seperti keinginan Aires, dia berhenti makan dan duduk dengan tegak.


"Tuh kan aneh"


Keluh Aires.


Luvia menggelengkan kepalanya tanpa sebab.


"Aires, yang mati itu bangsawan, kau tau bangsawan kan?"


Aires memutar bola matanya menatap tajam Luvia.


"Ya taulah, kita ini bangsawan emang kenapa?"


"Pembunuh itu tidak melihat gelar kita, dia membunuh dua orang bangsawan tanpa rasa takut, itu berarti ... "


Jeda sesaat.


"Dia menentang pemerintah!!!"

__ADS_1


Ucap mereka serempak.


"Wah gila, sistem kerajaan sekarang bisa di bilang lemah si"


Aires merasa takjub, sekaligus mencibir.


"Kita harus hati-hati, dia si pembunuh belum ketangkepkan? sekolah besok jangan asal sebutin gelar kita, ngerti Aires"


Saran Luvia memperingatkan, Aires mengangguk setuju.


"Kenapa dia melakukan hal itu? Anggap aja dia masuk kekandang singa tapi gak bisa keluar" Ucap Aires heran.


"Mana ku tau, kalau di kandang singa berarti dia harus pandai bersembunyi atau setidaknya pandai melarikan diri kan?" Luvia juga mancoba berspekulasi


"Ngaco aja kamu, besok gak ada tugaskan?" Tanya Aires.


"Gak ada"


Sahut Luvia beri'iringan dengan berbaliknya dia ke meja belajar Aires.


Dia kembali memakan ramennya dan menoton video lagi, sedangkan Aires memindah channel Tv.


"Aires!"


Panggilnya tiba-tiba.


"Hem"


Dingin.


"Beneran gak mau kencan nih"


"Gak"


"Kenapa? ada cowok yang kamu suka ya?"


Terdiam.


"Ada ya, siapa?" Tanya Luvia lagi.


Tapi Gak di jawab.


"Kalau gitu aku mau lihat cowok pakai jaket hitam itu besok, temenin ya?"


Pintanya.


"Hem"


Meski kelihatan acuh tak acuh, Aires sebenarnya agak kepikiran dengan berita tadi.


"Membunuh bangsawan terang-terangan? Sepertinya pembunuhnya merasa berkuasa, dia bukan tikus yang pandai sembunyi, tapi dia.... "


Jalanan QOINZE


Gerald terlihat di sisi jalan, berhenti di salah satu toko roti membeli satu roti lalu berjalan ke kafe, membeli kopi. Jalanan seperti biasa ramai akan pejalan kaki, tidak ada kata sunyi di kota QOINZE yang terkenal akan kepadatan penduduknya itu, Pusat kota dari 7 kota lainnya yaitu Gold Geer, Dinsicc, Kronzz, Melves, Jezdia, Quiacx dan Anpazua. Yang artinya Kota QOINZE adalah kota terbesar yang menjadi pusat para pekerja dan tourist wisata di kerajaan HARNZOV zaman moderen dia adalah bagian inti negara, meski sepertinya sistem pemerintahannya lebih ke pemerintah atau presiden.


Gerald duduk di salah satu bangku pinggir jalan menghadap beberapa toko dan restoran, memakan roti dengan lahap dan meminum kopinya sambil melihat orang lewat di hadapannya. Dia mengeluarkan sebuah buku kecil dan pulpen di saku celananya menulis sesuatu. Setelah itu dia kembali memakan roti dan menatap buku kecilnya yang berisikan tulisan.


"Kamar no 133, dua orang bangsawan, wah dia ... benaren nekat"


Bicara sendiri.


Dia menulis lagi, dan terhenti dengan mata sayunya menatap kertas kosong itu hampa. Tangannya tak bisa menggerakan pulpen yang ringan itu, entah kenapa raut mukanya mulai terlihat berbeda, dia memikirkan sesuatu, matanya mulai terlihat berair.


"Permisi, boleh saya duduk di samping mu"


Suara lembut itu menyadarakan Gerald yang hampir saja sedih dalam diam. Dia seorang wanita dengan pakaian pekerja kantoran terlihat lelah dan wajahnya kusut.


"Boleh"


Sahut Gerald, dia memberi ruang untuk wanita itu duduk. Wanita itu pun duduk perlahan dan terdengar hela'an nafas berat.


"Apa dia punya masalah?"


Batin Gerlad.


Tapi Gerald berusaha mengabaikan wanita itu dengan melanjutkan menulis.


Tak lama suara isak tangispun sayup-sayup terdengar telinga Gerald, hati lembutnya terenyuh mendengar tangisan wanita di sampingnya itu. Dia menatap wanita itu serius, dan mendapati wajah putihya memerah dengan air mata jatuh di pipinya. Gerald tak tahan dengan ini, dia segera berdiri ingin pergi meninggalkan wanita itu, tapi tertahan.


"Anaku mati di sungai itu, pembunuhya belum di temukan, sekuat apapun aku menahannya, rasa sakit di hati ini tak mau di ajak berteman." Ucapnya penuh kekecewaan.


Gerald diam saja.


"Kau tau rasanya kehilangan seseorang?"


Tanya wanita itu dan membuat Gerald kembali duduk menemaninya.


"Pernah"


Jawab Gerald.


Wanita itu mengusap air matanya dan menatap wajah Gerald yang menunduk fokus melihat tanah dengan mata sayu.


"Benarkah?" Wanita itu seakan tak percaya melihat betapa mudanya anak lelaki di sampingnya, Gerald mengangguk pelan meyakinkannya.


"Bagaimana caramu mengatasi rasa sakitnya?" Tanya wanita itu lagi, dia masih menatap wajah penuh luka Gerald.

__ADS_1


Gerald menghela berat mendengar pertanyaan itu.


"Aku mencoba mengabulkan harapannya" Jawab Gerald.


Wanita itu menyerngit.


"Orang mati, harapannya juga mati, kau bercanda"


Menolak percaya.


"Aku tidak bercanda"


Tegas Gerald.


Wanita itu kembali menatap kedepan, matanya masih berkaca-kaca.


"Aku selalu mengatakan hal ini pada orang-orang, baru kali ini ada yang menjawab dengan tulus tanpa merasa simpati padaku"


"Apa maksudmu?"


Heran Gerlad.


"Kau bicara seseuatu yang ingin kau katakan saja, dan tadi kau mau pergi, seolah tidak ingin ikut campur urusanku"


Terdiam, Gerald hanya mendengarkan wanita itu.


"Orang lain pasti bilang "malangnya nasibmu, yang sabar nanti juga pelakunya akan tertangkap" atau ini dan itu, ucapan simpati yang tak berarti itu menurutku tidak menyelesaikan apapun .. "


"Itu keputusanmu!!"


Potong Gerald tiba-tiba dan lantang.


"Apa maksudmu?"


Kaget wanita itu.


"Mau menerima rasa simpati orang itu atau tidak, itu keputusanmu. Orang hanya ingin kau merasa nyaman saat bicara dengannya tulus atau tidak ucapan itu. Pendapatmu hanya bisa di rasakan oleh dirimu sendiri, berterimakasihlah pada tuhan karna masih ada orang-orang yang mau mendengarkan keluhanmu"


Nasehat Gerlad.


Itu menjadi penutup pembicara'annya dengan wanita itu, dia segera pergi dari bangku meninggalkan si wanita yang masih terdiam mencerna kata-katanya. Dia tidak memikirkan perasaan wanita itu yang sebenarnya membutuhkan dorongan, Gerald tidak ingin berlama-lama mendengarkan keluhannya, dia hanya tidak ingin terikat dengan wanita itu kalau terus menemaninya. Karna itu dia memutuskan untuk pergi.


Dia berjalan menuju tempat sampah, membuang sampah makanannya lalu pergi lagi entah kemana.


Wanita itu duduk dengan lesu menatap punggung Gerlad yang mulai menjauh, dia merasa ucapan Gerald benar. Dia hanya bisa menunjukan senyuman tipis dengan mata yang menangis dalam diam.


"Kenapa aku begini, anak itu jauh lebih kuat dariku"


Terisak pelan.


"Aku sangat memalukan"


''''


Bawah jembatan


"Kamu lihat, dia sangat menderita"


Gerald bicara sendirian seperti waktu itu, di bawah jembatan dekat sungai yang mengalir tenang. Dia duduk di atas rerumputan halus, menatap kota sebelah yang terang.


"Kamu mendapatknya?"


Hening karna dia sendirian.


Dia bertanya pada siapa? kenapa dia pergi ke bawah jembatan itu terus, ada yang aneh dengannya.


"Ada dua pembunuh!! siapa yang satunya?"


Pekiknya kaget.


. . .


Angin menghembus helaian rambutnya.


"Ini menarik, dia benar-benar musuh yang pandai melarikan diri"


Masih hening, dari tadi Gerald hanya bicara pada angin lewat, hanya ada dia, jembatan, sungai, dan kota seberang.


Lalu . . .


"Ya, dia musuh yang kuat"


Suara serak seperti berbisik, suara yang sering di gunakan untuk film horor ini terdengar samar-samar, suara anak kecil perempuan.


Gerald menatap hampa kedepan tak ada siapapun, dia mendengar suara itu, tapi suara itu tak membuatnya takut, angin malam yang dingin juga tak melemahkan semangatnya.


Apa dia bisa melihat HANTU?


.


.


.


.


Menyedihkannya dia, hidup dalam kubangan darah dan dendam. Harusnya dari dulu aku sudah meyadarinya, kalau dia akan tumbuh, berkembang besar persis seperti monster.

__ADS_1


Gerald.


__ADS_2