THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail

THRONE Seri 1 "HOPE" Fall To Jail
04 - Mimpi Masa Lalu & Pujian Palsu


__ADS_3

*Di sore yang begitu tenang, banyak anak-anak beranjak pulang kerumah saat asyiknya bermain mendengar bel pulang berbunyi. Di Kota QOINZE Pemerintah memasang teknologi yang benar-benar unik, anak-anak di sana tak perlu di cari atau di suruh pulang, mereka tau jam pulang dan kamera pengawas bertrbaran di sudut-sudut taman bermain, hingga ibu-ibu di QOINZE tak perlu repot kesana-kemari.


Seorang anak kecil laki-laki berlari kearah taman di saat anak-anak lain berjalan pulang, anak itu tertarik melihat sesuatu yang terbang dan jatuh di taman, layang-layang. Bukannya pergi ke arah layang-layang yang jatuh, dia malah mendapati seorang anak perempuan sebaya dengannya sedang bermain sendirian, seharusnya dia juga pulang, kenapa dia masih bermain? Anak itu main pasir membelakangi anak kecil laki-laki itu, dan terlihat dia membentuk sebuah "Rumah" Batinnya. Dia mendekati anak kecil perempuan itu perlahan agar dia tak menyadari kehadirannya, rasa penasran anak-anak memang sangatlah besar. Saat sudah dekat, tiba-tiba saja anak laki-laki itu berlari kembali menjauhi taman melewati anak-anak yang berjalan santai yang baru saja berselisihan dengannya, dia berlari seperti orang gila*.


*Dia berlari tanpa melihat sana-sini, hanya kebawah dengan nafas tercekat karna sesuatu, dia seakan ketakutan, akibatnya anak itu menabrak seorang pejalan kaki di hadapannya hingga dia sendiri terjatuh dan lutunya berdarah. Pejalan kaki itu tidak kesal, tapi malah membantu anak kecil laki-laki berdiri dan tersenyum kearahnya.


"Adik kenapa?"


Suaranya lembut, dia seorang laki-laki memakai baju sekolah, SMP.


"Anu... Maaf menabrak kakak"


Hanya itu yang di katakan anak kecil laki-laki tadi dan melanjutkan perjalannya, dia berjalan agak cepat sambil menahan sakit dan juga mengeluarkan sedikit air mata.


Laki-laki itu merasa heran dengan perlakuan seorang anak kecil yang tampak menyembunyikan sesuatu, tapi dia memaklumi kejadian yang tak penting menurutnya, dia tersenyum geli.


"Paling dia di kejar jack the ripper"


Terkekeh.


Anak laki-laki kecil itu adalah Gerald di masa lalu.


Ini adalah mimpinya karna dia masih terbaring penuh luka di tempat ia di siksa malam itu*.


__________


Pukul 07:12


Jum'at 19 Januari 2018


Cuaca QOINZE mulai mendingin, nafas seseorang akan mengepul bagai gumpalan asap sesaat. Tidak tau berapakah suhu di sana sekarang, orang-orang tetap bekerja tanpa telat sedikitpun, cuaca bukan penghalang untuk mencari rezeki.


Di dalam sebuah bangunan megah dan besar memanjang. Banyak kamar-kamar di sepanjang lorong dan pintu dengan berbagai tulisan terpasang di depannya seperti "ketuk dulu", "beri salam", "jangan di ganggu", "hargai privasi orang" dan masih banyak lagi, ya...  Ini asrama khusus perempuan.


Dan di salah satu kamar.


"Hei, hei berhentilah menonton, ayo sekolah"


Suara familiar ini terdengar jengkel.


Luvia dia sedang menegur temannya yang sedang asyik dengan tontonan, Aires.


Mereka berada di ruangan yang sama, yap teman sekamar. Dia sibuk menyiapkan buku dan merapikan bajunya, lalu memakai sepatu hitam mengkilat, dari warna baju sekolahnya dia seorang anak SMA.


Saat dia sibuk-sibuknya bersiap untuk sekolah, sang teman senyum-senyum kayak orang gila menonton Anime komedi. Dia menonton anime yang baru saja di belinya kemarin malam, mungkin dia ingin ke toko anime lagi minggu depan, di dalam rak bukunya ada satu rak berisikan kumpulan CD, belum lagi dalam kotak tersusun CD dengan ciri spidol merah, Sudah di tonton, juga ada satu rak dengan susunan komik.


"Aires!!!"


Seru luvia kesal.


Sayangnya Aires tak bergeming dengan teriakan cukup keras itu.


Luvia mulia kesal level 1, dia mendekati Aires dengan malasnya dan menepuk bahu sang teman yang rohnya sedang tidak di jasadnya, Luvia menatap dengan tatapan setajam pisau.


"Udahan dulu, ayo sekolah"


Nada bicaranya selembut sutra, siapapun pasti akan menoleh, ini namanya penipuan.


Aires menatap mata Luvia, dan terkejut bagai habis naik roller coaster.


"Serem"


Cetusnya.


"Udah tau masih bisa pura-pura gak denger"


Aires menutup laptopnya segera, dia tau kalau temennya ini lebih serem ketimbang tokoh tsunade di anime naruto kalau sudah marah, dia akan menanggung kemarahan dengan sakit punggung berhari-hari.


Aires mencoba menanggapi Luvia dengan biasa, biar dia tidak ketahuan takut. Dia melakukan hal dengan beringas, mamakai rompi, dasi, serta sepatu, secepat yang dia bisa. Soal buku, Luvia sudah menyiapkannya karna dia tau kebiasa'an Aires di pagi hari saat berangkat sekolah, suka ketinggalan, inilah yang di namakan teman berkah.


"Udah nih, ayo berangkat"


Ajak Aires dengan malasnya.


"Tunggu"


Cegat Luvia tiba-tiba, dia menuju lemari dan dengan cepat mengambil dua mantel.


"Apa lagi"


Aires merasa kesal, padahal dia tau cuaca sedang dingin.


"Mau mati membeku?"


Nyerahin mantel warna pink ke Aires yang menghentakan kakinya pelan, manja.


"Kamu sih, ini tugasmu, pakek lupa"


Gerutunya.


Luvia hanya memandang wajah Aires yang cemberut, dan dia juga merasa sedikit kesal dengan tingkah Aires yang kekanakan, gak tau di untung.


"Iya, pakai dulu"


Setelah itu mereka berjalan keluar asrama melewati jejeran kamar siswi lain, asarama khusus perempuan. Mereka juga bercakap santai.


"Aires, mau main tebakan gak?"


Tawar Luvia.


"Ok, apa'an?"


"Tebak aja, ini bohongan apa enggak, mudahkan"


"Baiklah, aku dulu ya ..."


Pinta Aires di stujui Luvia.


"Di lorong sebelah sana, aku sering melihat sekelebat bayangan hitam lewat, kayaknya sih laki-laki. Tebak aku bohong apa enggak?"


Luvia terdiam.


"Hah, bayangan laki-laki, jangan-jangan..."

__ADS_1


Batinya sesaat.


"Enggak"


Jawabnya lemas.


"Wah, keren kamu bisa baca pikiran aku ya?"


Pujinya.


"Bener!!"


Pura-pura kaget.


"Aa itu kebetulan aja.. Ok giliran ku"


"Heem"


Sambut Aires antusias.


"Kemarin malam, aku jalan-jalan sendirian tanpa kamu 10 menit, pas melewati dua gedung di tengah-tengahnya ada seorang pria berpakaian serba hitam natap aku tajam, lalu aku nyuruh temanku bermain dengannya bohongan apa enggak?"


Aires berpikir, dia mencerna kambali tebakan Luvia.


"Bohong"


Percaya diri.


"Ok lah, anggap aja kamu bener"


"Gak boleh gitu"


"Iya kemu bener"


"Luvia!!"


Rengeknya.


Ada yang merasa terganggu dengan percakapan Luvia-Aires, dia perempuan memakai pakain putih.


"Mereka, bakal mati"


Ucapnya.


Saat melawati kamar di ujung lorong pintu keluar, Luvia merinding begitu juga Aires, di depan pintunya saja bertulisan "Ganggu, Bakal Mati".


Mereka berdua ingin cepat-cepat keluar pintu sebelum pintu kamar itu terbuka, pintu itu bagai memancarkan aura mistis mendalam. Baru beberapa langkah, terdengar suara decitan pintu terbuka, suara pintu itu bagai sambaran petir yang menyetrum mereka sampai habis darah, kamar paling horor.


"Kalian berdua!"


Sebuah suara menghentikan langkah Aires dan Luvia dalam sekejap, mereka berdua membeku.


"Jam berapa pulang kemarin malam?"


Pertanyaan yang lebih horor bagi mereka, Aires maupun Luvia terpaksa menatap langsung si penanya.


Seorang perempuan sebaya mereka dan berpakaian sekolah sama dengan mereka hanya saja tanpa rompi, rambutnya panjang bewarna cokelat, tapi yang menonjol adalah ikat kepalanya yang terdapat sebuah tulisan "bekerja keras". Wajahnya kurang tidur, terlihat dari kantong matanya dan bibirnya juga pink pucat, dia si penanya adalah ketua Asrama, horor.


"Anu .. Jam 8"


"Oh, ..."


Dia ketua asrama membuka buku di tangannya, buku berisikan catatan khusus asrama, dia mencatat jam kepulangan Aires dan Luvia lalu.


"Kemarin aku gak ada, jadi gak sempat nulis, kalian harus ta'ati aturan biar gak nambah bebanku mengerti"


Ceramahnya.


"Iya"


Sahut mereka serempak


"Kalian!!!"


Luvia menelan ludah mendengar tekanan intonasi nada bicara ketua asrama, begitupun Aires dia mengepalkan tangannya seolah berharap supaya hal tak di inginkan menjauh.


"boleh pergi"


Aires, Luvia, bernafas legah mendengarnya, mereka langsung menampakan senyum merekah.


"Anda juga harus cepat berangkat ketua"


Sanjung Luvia.


Sambil berjalan keluar pintu Luvia merencanakan sesuatu buat ketua asrama yang mau masuk kembali ke kamar, sambil mengambil ancang-ancang, lari dia mengisyaratkan Aires akan marabahaya akan rencananya. Meskipun Aires kurang suka dan sedikit protes tapi tak di gubris Luvia.


"Udah turutin aku aja" Ucap Luvia percaya diri.


"KETUA ESTELIN NGESELIN!!!!  JANGAN LUPA TIDUR YAAAA!!!!"


Teriak Luvia kenceng lebih kenceng dari Toa.


Mata sang ketua asrama yang lesu berubah melotot mendengar teriakan Luvia. Dia tidak jadi masuk ke kamar, tapi malah berlari mengejar mereka seperti anjing gila.


"Luvia Begooooo!!! " Umpat Aires sambal lari.


 


Jalanan kota QOINZE.


Mobil berwarna kuning mewah melesat di atas aspal hitam sedikit putih ini dengan kecepatan sedang, salju belum turun tapi genangan air mulai membeku. Seorang laki\-laki muda duduk manis di bangku penumpang, dia tidak menyetir malahan dia memiliki sopir pribadi cukup tampan dan sangat gagah. Yap Erlo, di pagi yang cerah dan dingin ini dia mau kemana?.


"Huh, dinginnya"


Gumamnya.


Sang sopir melirik di spion depan, tersenyum tipis.


"Ada apa tuan?"


Erlo memfokuskan pandangannya pada sang sopir saat mendengar pertanya'annya.


"Oh.. Ya.. Tidak apa\-apa"

__ADS_1


Jawabnya canggung.


"Lagi mikirin apa?"


Singgung sang sopir lagi.


"Gak ada"


Jelas Erlo menekan.


"Tuan, mau tips gak?"


Tawarnya.


Erlo bergeming, dia merasa tertarik.


"Apa'an?"


Sang sopir terkekeh sesaat.


"Tuan harus uji nyali, biar siap casting film horor"


Erlo menghela nafasnya, dan menyandarkan badannya di bangku mencari kenyamanan.


"Itu susah, tapi patut di coba si"


Balasnya.


\\


Kantor polisi


"Komisaris Jarden, gimana introgasinya kemarin?"


Tanya seorang pria dengan tanda pengenal Leonardo Dov.


\(Oh si Jarden Komisaris toh, hemmm\).


Leonardo Dov pria yang memiliki iris mata hijau, rambut blondenya menawan ciri khas orang asing, dengan tinggi badan mumpuni, 179 cm dia sangat terlihat seperti polisi idaman.


"Yah, dia bilang dia pembunuh bayaran. Sampaikan pada Aslan, w


Watabe, dan Rin selamat atas kerja kerasnya"


Jawab Jarden, seraya memuji 3 orang polisi yang berhasil menangkap pelaku.


Jarden duduk di bangku kekuasaannya, walaupun bergelar komisaris dia masih berbaur dengan bawahannya, dia berada di kantor dengan banyak orang, dan di atas mejanya ada tulisan Tim A.


"Pembunuh bayaran?"


Pekik Leonardo agak terkejut, setelah beberapa saat mikir dia ngomong lagi.


"Baiklah tuan, saya akan sampaikan, maaf saya sedikit terkejut"


Sambungnya.


"Bagus, wajar saja kamu terkejut leo. Aa satu lagi informasi penting, Nama si pelaku adalah Shibata Genki" Lanjut Jarden.


"Shibata Genki? Saya pernah mendengar nama itu" Balas Leonardo.


"Kau tau dia siapa?" Tanya Jarden agak penasaran.


"Kalau tidak salah, dia pembunuh yang pernah di sewa menteri keuangan untuk melenyapkan pesaingnya, menteri itu terlibat dalam penggelapan uang sebesar 16 triliun di tahun 2013, dan di tangkap tahun 2015, tapi shibata Genki tak pernah di temukan jejaknya, ini prestasi besar komisaris"


Jelasnya senang.


"Benarkah? tim kita benar\-benar beruntung"


Jarden tersenyum aneh setelah mengatakan itu, dia menatap Leonardo yang masih tenggelam dalam rasa bangga dan senang. Jarden seolah tak terlalu tulus mengatakan pujian itu.


\


Kemarin malam di tempat introgasi.


"Baiklah, siapa nama anda tuan black?"


Tanya Jarden lebih dalam.


"Shibata Genki"


"Wah, anda sepertinya kena sial ya hari ini?"


"Apa maksud mu?"


Pelaku merasa heran.


"Siapa target anda tuan black?"


"Itu, i\-itu ... "


Dia terbata\-bata, ragu untuk terlalu jujur.


"Tidak apa\-apa"


Jarden menenangkan.


"Aires"


.


.


.


.


.


*Dia akan kubunuh, akan kubunuh, beraninya dia menyentuh putriku. Game, aku ingin cepat\-cepat memulainya, kenapa dia lama sekali... Hah membosankan, tunggu malaikat maut mu penjahat.


Jarden*.


 

__ADS_1


__ADS_2