
Mentari yang baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama papa mama dan bang Awan memilih duduk sebentar diruang keluarga sambil menikmati acara di televisi.
" Adek kamu nggak belajar." Tanya mamanya duduk membelai rambut Mentari.
" Bentar lagi ma.." Jawab Mentari bermanja dengan mamanya.
" Ih... sayang ujian akhirnya kan 2 Minggu lagi, kamu nggak siap siap." Mama membangunkan Mentari yang berpangku manja sama mamanya.
" Ada ma... disekolah juga udah tryout berapa kali juga." Sahut Mentari duduk menyenderkan kepala ke sofa.
" Gimana pre wedding kalian tadi Awan ?" Tanya pak Helmi papanya Awan dan Mentari.
" Lancar aja pa.. malahan itu tu... yang nggak ada urusan malah dapat job dadakan." Awan menunjuk ke Mentari.
" Job apa ?" Papa heran karena belum ada yang menceritakan tentang Mentari yang jadi model sehari.
Mentari tersenyum melihat papanya. " Jadi hari ini pa aku jadi model dadakan loh.. " Serunya sambil terus terkekeh.
" Maksudnya papa nggak ngerti." Ucap papanya bergedik heran.
" Itulah pa... jadi aku sama Yudha diajak gantiin orang buat jadi model studio, ya... tapi sehari aja.. karena cuma untuk foto promosi studio mereka." Jelasnya.
" Hmmmm bagus, asal kamu nggak keberatan kan nggak masalah." Ucap papanya.
" Oh iya Awan masalah undangan udah kalian bereskan ?" Tanya papa.
" Belum pa rencananya lusa sih pa.. aku ma Manda kepercetakanya." Sahut Awan yang sedang duduk santai sambil memainkan hpnya.
" Hmm di usahain cepat 3 Minggu itu nggak lama loh." Ucap papanya.
" Iya... Awan." Sahut mamanya.
" Jadi kamu sama Manda udah lebih dekatkan." Timpal mamanya.
" Ya.. gitu deh ma." Sahut Awan santai padahal ada rasa gusar mengingat Manda yang seperti masih ada jarak dikeduanya.
" Jadi acara Abang ma kak Manda 3 Minggu lagi." Tanya Mentari yang baru tau kapan pastinya.
" Iya... siap adek ujian biar pikiran kamu udah tenang pas acara Abang." Sahut mamanya menoleh ke Mentari.
" Oh iya juga ya..." Ucap Mentari bangun dari sofa.
" Ma.. pa.. adek ke kamar dulunya." Mentari berjalan meninggalkan mereka menuju kamarnya.
*
*
Mentari duduk dimeja belajar mengambil beberapa buku untuk di baca dan mengambil tasnya melihat ponselnya yang ternyata sudah kehabisan baterai.
" Hmmm... nggak hidup di cas dulu lah.. " Mengambil charger mengecas hpnya.
Mentari kembali membaca baca bukunya hingga tak terasa ternyata sudah jam satu setengah dia belajar.
" Huaaa...... ngantuk." Menoleh Kedinding melihat jarum jam.
__ADS_1
" Wih dah jam 10 aja." Ucapnya menyimpan buku dan mengambil hpnya menghidupkannya.
Tring.... tring... tring.... beberapa pesan langsung masuk begitu hpnya dihidupkan.
" Wah... banyak pesan." Membuka pesan dan langsung terkejut mengingat yang dilupakannya sedari tadi.
" Raihan.... " Ucapnya menatap beberapa pesan masuk dari Raihan di hpnya.
" Sayang... kamu dah pulang." Pesan yang dikirim Raihan.
" Hay.... jam berapa jemput "
" Udah siap belum"
" Kok nggak di buka"
" Mentari sayang... jadi nggak jalan jalan."
Dan banyak pesan Raihan dan beberapa panggilan tak terjawab.
" Ya... ampun aku lupa sama kamu gimana ne marah nggak ya.. " Gerutu Mentari menatap layar ponselnya merasa nggak enak.
" Telpon nggak ya.. " Menatap layar ponselnya kebingungan takut Raihan marah.
" Ah telpon aja." Gerutunya menekan memanggil nomor Raihan namun tidak ada jawaban darinya hanya suara operator yang menjawab hingga beberapa kali pun tidak ada jawaban.
Bughh Mentari menjatuhkan tubuhnya ketempat tidur merasa lemas dan sedih.
" Bisa bisanya aku lupa." Gerutunya seraya menatap langit langit kamar dan tak lama dia pun tertidur.
*Gi*mana rasanya kecewakan loe. itu juga yang gue rasain pas loe ngak balas pesan dan telpon gue... rasain loe.. pikir Raihan yang sedari tadi hanya mendiamkan ponselnya yang terus berbunyi.
*
*
*
Raihan sedang berjalan di koridor sekolah memainkan ponselnya lalu suara seorang wanita memanggilnya dan dia menoleh ka asal suara nampak Mentari berjalan kencang menghampirinya.
" Raihan... maaf ya... aku kemarin lupa sama janji kita." Ucap Mentari yang sudah berdiri di depan Raihan.
Raihan diam menatap Mentari dan menghela nafasnya.
" Aku kecewa sama kamu." Katanya dan berbalik ingin pergi namun langsung di jegat oleh Mentari.
" Raihan..... denger dulu aku punya alasan kenapa aku lupa." Kata Mentari yang menahan Raihan.
Raihan menatap Mentari. " Katakan." Ucapnya.
Mentari menjelaskan semuanya kepada Raihan masalah pemotretan yang membuatnya lelah dan melupakan janjinya dengan Raihan.
" Ya sudah kali ini aku maafkan." Ucapnya seraya membelai lembut rambut Mentari.
Mentari tersenyum menatap Raihan dan bel masuk pun berbunyi.
__ADS_1
" Ya udah aku ke kelas dulunya." Ucapnya.
" Iya... " Sahut Raihan dan Mentari hendak pergi meninggalkan Raihan namun tangannya di pegang oleh Raihan membuatnya kembali menoleh.
"Apa... ?" Tanyanya.
"Ntar pulang sekolah kita bareng ya..." Ucap Raihan.
" Boleh.. " Mentari menganggukkan kepalanya.
" Ya udah aku pergi dulu ya." Seru Mentari tersenyum.
" Tapi... tangan aku dilepas dulu." Melihat tangannya yang masih digenggam.
" Oh.. iya.." Raihan melepaskan tangan Mentari dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mentari berjalan pergi menuju kelasnya.
" Eh napa tu anak." Ucap Eva Menoleh ke Mentari yang senyum senyum baru masuk kelas menghampirinya.
" WOY... napa senyam senyum nggak jelas pagi pagi." Celetuk Rara menatap Mentari yang masih tersenyum manis tidak menjawab.
" Hmmmm parah ne anak." Ucap Eva memegang kepala Mentari. " Nggak panas, apa kesurupan ya.." Timpalnya.
" Ih... apaan sih." Ucap Mentari memindahkan tangannya Eva dari dahinya.
" Kamu tu kenapa." Ucap Rara.
" Nggak kenapa napa." Sahutnya mengeluarkan buku dari tasnya melihat guru yang telah masuk membuat Eva dan Rara memilih diam dan mengikuti pelajaran.
*
*
Manda berjalan menuju taman yang ada ditengah kampus dia memilih duduk disebuah bangku di sana yang dipayungi pohon yang rindang , membuka buka bukunya dan terkejut saat ada yang tiba tiba ada yang menutup matanya.
" Siapa.... lepaskan." Ucapnya dengan nada suara yang tinggi memegang tangan yang menutupi matanya.
" Sayang..." Rendy berbisik ke telinga Manda dan melepaskan tangannya.
" Kamu... sengaja ya." Ucapnya Manda menoleh ke Rendy.
" Kejutan loh... ini aku bawa roti kesukaan kamu." Memberikan sebuah roti rasa mocca ke Manda dan duduk disampingnya.
" Makasih..." Ucapnya tiba tiba perasaannya jadi tidak enak mengingat dia belum memberi tahu masalah perjodohannya dengan Awan
gimana caranya aku harus bilang ke kamu, aku bigung harus mulai gimana, lihat kamu buat aku tambah nggak tega kalau harus bilang yang ada buat kamu sakit kalau nggak bilang juga aku sakit gimana ini batinnya dan tidak terasa dadanya tiba tiba terasa sesak dan matanya berkaca kaca.
" Kenapa nggak dimakan." Ucap Rendy yang melihat Manda masih memegang rotinya dan melamun.
" Hah... sayang kamu mau nangis." Terkejut melihat mata Manda yang mulai menjatuhkan bulir air mata.
" Sayang kamu kenapa.. ? " Tanyanya memegang pundak Manda, tidak ada jawaban dari Manda dia hanya menangis dan Rendy menarik Manda dan memeluknya. membuat Manda menangis semakin tersedu sedu dalam pelukannya.
" Menangis lah... kalau itu membuatmu tenang." Ucap Rendy membelai kepala Manda dia memilih diam tidak ingin bertanya masalah apa yang di hadapi kekasihnya.
__ADS_1