Tiba Tiba Jadi Pasangan

Tiba Tiba Jadi Pasangan
eps 25 mengunjungi mertua


__ADS_3

Mobil Yudha telah berhenti terparkir didepan rumahnya, dia menoleh menatap Mentari yang pura pura tidur sedari tadi, entah apa sebabnya dia pun bingung.


Dasar cewek, dikit dikit ngambek batinnya dan seketika dia tersenyum usil mengerjai Mentari , dia mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari dengan jarak sangat dekat.


" Mumpung lagi tidur , cium sekali boleh ya..." Ucapnya pelan semakin mendekati wajahnya ke Mentari.


Mentari yang mendengar ucapan Yudha langsung membuka mata dan mendorong Yudha. " Dasar... kamu , cari cari kesempatan ya.." Teriaknya.


" Eh... udah bangun, padahal mau kasih surprise." Sahutnya tersenyum memiringkan sebelah bibirnya.


" Surprise apanya, cari untung iya.." Teriak Mentari lagi.


" Udah halal kok, tentu boleh kan !" Serunya lagi mendekatkan dirinya, Mentari langsung membuka pintu mobil segera keluar.


" Hahaha..." Yudha hanya tertawa dan ikut keluar dari mobil.


" Assalamualaikum." Sapanya membuka pintu rumahnya yang memang tidak di kunci.


" Waalaikumsalam." Ucap sang mama yang datang menghampiri mereka.


Mentari langsung menyalami tangan Bu Mira mertuanya dan di balas pelukan oleh Bu Mira


" Apa kabar kamu sayang ?" Tanya Bu Mira.


" Alhamdulillah sehat tante." Sahutnya.


" Jangan panggil tante dong, panggilnya mama aja ya.." Pintanya.


Mentari tersenyum. " Iya mama." Jawabnya.


" Ehem... ehem... anak sendiri nggak di anggap lagi ne..." Seru Yudha dengan wajah cemberut seperti anak kecil.


" Oh iya mama lupa, ada anak mama yang ganteng di sini." Langsung memeluknya seolah olah sudah lama tidak bertemu.


" Duh mama jangan lebay dong, aku masih tinggal di sini loh belum pernah pindah sama sekali." Ucapnya membalas pelukan mama.


Mentari hanya tersenyum melihatnya


dasar manja pikirnya.


" Iya.. iya mama tau, kamu kan senangnya asal pulang di peluk dulu." Ucap mama santai dan melepaskan pelukannya, namun berbeda dengan Yudha seketika wajahnya berubah menjadi merah merasa sangat malu pada Mentari dengan ucapan sang mama.


Mentari hanya tersenyum melihat Yudha dan menggeleng geleng kan kepalanya.


" Ayo sayang kita duduk." Mama Mira menarik tangan Mentari menuju ruang keluarga.


" Bagaimana jalan jalannya seru ?" Tanya mama Mira.


" Seru ma.." Jawabnya.


" Apa Yudha memberikanmu sesuatu ?" Tanyanya lagi.


" Maksudnya ma." Mentari balik bertanya karena tidak paham.

__ADS_1


" Semacam hadiah." Jawabnya.


" Oh enggak ma, kita cuma nonton dan makan aja." Sahut Mentari, dia tidak merasa canggung berbicara dengan Bu Mira karena memang sudah dekat dan kenal.


" Dasar tidak peka." Ucap mama Mira dengan nada kesal.


" Siapa yang tidak peka ma ?" Tanya Yudha yang baru saja mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana pendek menghampiri mereka.


" Kamu.." Jawab mama singkat.


" Aku ma..." Jawab Yudha.


" Iya.. kamu buat mama malu saja, baru pertama ajak istri jalan jalan masak kamu nggak punya inisiatif buat kasih hadiah ke dia." Jelas sang mama dengan nada kesal.


" Oh.. ada ma.. dianya yang nggak mau." Jawab Yudha duduk di sofa sebelah kiri dekat mamanya sambil menekan remote menghidupkan televisi.


Mendengar jawaban Yudha mama Mira langsung menoleh ke Mentari yang ada di sebelah kanannya. " Kenapa kamu nggak mau ?" Tanyanya.


Mentari mengerutkan keningnya , mengingat Yudha tidak menawarkan hadiah apapun untuknya. " Perasaan aku, dia nggak nawarin apapun kok ma." Jawabnya.


Mama Mira langsung menepuk pundak Yudha


" Kamu bohong sama mama." Serunya ke telinga Yudha.


Yudha menggosok gosok telinganya


" Enggak kok ma." Jawabnya.


Mentari pun menoleh menatap Yudha, ingin mendengar hadiah apa yang ingin dia katakan pada mama yang sebenarnya tidak pernah di tawarkan kepada nya.


" Jadi gini ma, tadi pas Mentari tidur di mobil, aku mau kasih dia sebuah ciuman pertama aku buat hadiah kencan kita, tapi belum juga ku cium, dia udah nolak aku kebelakang gagal deh ngasih hadiahnya." Ceritanya dengan wajah sepolos mungkin.


" Untung nggak jatuh." Ucapnya sambil menggosok dada seolah masih terkejut.


Mendengar cerita Yudha hanya membuat Mentari merasa malu dan membuang mukanya ke arah lain.


" Hmmm... dasar kamu, itu bukan hadiah, tapi kamunya kepingin." Ucap sang mama menolak Yudha hingga jatuh dari sofa.


" Duh mama... Kok aku serasa anak tirinya, di dorong dorong." Ucap Yudha yang duduk di lantai dan memijat mijat kaki mamanya.


" Kamu aja dasar lebay, masak di tolak sedikit langsung jatuh." Celoteh sang mama.


" Sana kamu jangan sok baik di depan Mentari pijat pijat kaki mama." Sang mama menarik kakinya dan menepis tangan Yudha.


" Aduh... mama... hiks hiks." Menangis di buat buat.


" Tega sekali pada anakmu ini, apa salahku ma..." Ucapnya ya kebiasaan nonton sinetron bareng emak jadi ketularan lebay ya.


" Hey... nggak malu apa sama Mentari." Ucap sang mama menggelengkan kepalanya.


" Udah ma.. nggak usah dipikirin, Mentari udah biasa lihat dia gila." Ucap Mentari tanpa berpikir pada siapa dia bicara.


" APA gila..." Teriak mama Mira dengan wajah emosi.

__ADS_1


Mentari jadi salah tingkah mengatakan Yudha gila pada mamanya, jelas saja dia akan marah anaknya dibilang gila.


" Ma maaf ma..., maksud aku.. i i." Ucapnya terputus oleh mama Mira.


" Ternyata kamu udah tau dia gila, dan kamu masih terima dia sebagai suami kamu... mama terimakasih banget ya sayang." Ucap Bu Mira memeluk Mentari dan membelai rambut nya.


Mentari terdiam dan bingung dengan tingkah dan perilaku Bu Mira ah kalau gini sih mak sama anak sama sama gila yang ada , hmmm dasar keluarga dilema mah ini namanya batin Mentari.


" Yah... kok mama dukung dia bilang aku gila." Ucap Yudha kesal.


" Apa aku bukan anakmu lagi ?" Tanyanya lebay.


" Udah diam kamu." Sahut mama Mira melepaskan pelukannya dari Mentari dan membelalakkan matanya ke Yudha.


Pak Wahyu yang baru pulang bermain bola di lapangan bersama para teman kerja langsung masuk mendengar keriuhan di dalam rumah dan menghampiri mereka.


" Wah ada apa ribut sekali ?" Tanya pak Wahyu.


" Wah ada Mentari rupanya." Saat mendapati Mentari ada disana duduk di dekat istrinya.


Mentari langsung bangun menyalami pak Wahyu. " Iya ayah." Sahutnya , tanpa disuruh dia punya inisiatif memanggil ayah bukan lagi om karena otomatis tetap akan di tegur.


" Bagaimana kabar menantu ayah, sehat ?" Tanyanya tersenyum membelai kepala Mentari.


" Sehat yah." Sahutnya.


" Kalau ayah bagaimana ?" Tanyanya.


" Alhamdulillah ayah sehat." Jawab pak Wahyu.


" Dan syukurlah sampai sekarang masih sanggup main bola, walau main sesama orang tua." Ucapnya sambil cengengesan.


" Pantesan badan ayah masih keren sampai sekarang." Ouji Mentari melihat badan pak Wahyu yang mempunyai badan yang atletis di usianya yang sudah menginjak lima puluh lebih.


" Terimakasih atas pujiannya sayang." Ucap pak Wahyu.


" Ah aku juga keren loe." Ucap Yudha berdiri membusungkan dada ke depan.


Mentari menoleh ke Yudha.


" Keren sih, tapi ayah lebih keren." Ucapnya mengejek.


" Mata kamu udah jereng ya..." Ucap Yudha kesal.


" Sudah.. sudah, makanya rajin olahraga biar keren kayak ayah." Sahut ayahnya sambil tertawa.


" Oh iya Mentari malam ini kamu menginap di sini ya.." Pinta pak Wahyu sambil melirik jam tangannya yang telah menunjuk jam 6.


" Tapi ayah... aku nggak bawa baju ganti dan juga nggak ijin sama papa dan mama tadi." Jawabnya.


" Masalah ijin ayah sudah bicara sama ayah kamu dan diizinkan , dan masalah baju , baju Manda ada." Sahut pak Wahyu yang memang telah merencanakan ini sebelumnya.


" Mau ya.." Mama Mira memegang tangan Mentari dengan tatapan memohon.

__ADS_1


__ADS_2