Tiba Tiba Jadi Pasangan

Tiba Tiba Jadi Pasangan
eps 21 resepsi


__ADS_3

Mentari duduk di depan cermin menatap dirinya yang terlihat berbeda, ya dia terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin yang disewa dadakan tampa peduli bagaimana seleranya karena yang penting ukurannya pas. Hatinya terasa tersayat mengingat pernikahan yang tak diinginkan, namun dia mencoba menerimanya demi orang tuanya untuk menutupi rasa malu mereka.


Beginikah takdirku , tiba tiba saja menikah dan sudah jadi seorang istri batinnya dan menghela nafas mencoba tegar.


Beberapa saat kemudian Mentari dan Yudha telah duduk di pelaminan yang begitu indah, para tamu mulai berdatangan melihat pengantin wanita yang begitu anggun dengan gaun berwarna pic bertabur batu sauroski dan pengantin pria yang mengenakan stelan jas hitam. Ya karena mendadak stelan mereka tidak senada dan di buat seolah terlihat cocok saja.


Yudha sesekali melirik ke Mentari yang terlihat berbeda.


Anggun sekali dia, hatiku teduh melihatnya pikirnya.


Berbeda dengan Mentari yang fokus ke depan melihat tamu yang mulai mendekati singgasana mereka dan berbisik bisik memandangi mereka.


Seorang wanita bawahan di kantor Awan berkata.


" Undangan yang ku terima pengantin prianya pak Awan, tapi kenapa pengantinnya orang lain." Bisiknya pada seorang yang lain.


" Iya.. apa kita salah datang." Ucap yang lainnya.


" Tidak, kita tidak salah datang karena yang duduk sebelah kiri panggung memang orang tuanya pak Awan." Sahut yang lain.


" Kau yakin." Tanya seorang yang tadi.


" Aku yakin karena mengenal orang tuanya." Jawabnya lagi.


" Dan sepertinya pengantin wanita itu adalah adik satu satunya pak Awan." Sambungnya lagi.


" Apa... " Yang lain terkejut.


" Apa mungkin pak Awan malu karena adiknya duluan yang menikah dan membuat undangan palsu di kantor." Jawab seorang yang mulai berasumsi yang bukan bukan.


" Entahlah, tapi mereka terlihat masih sangat muda ya.." Seorang berkata melihat wajah sang pengantin.


" Iya apa mungkin sebetulnya ini memang pesta pak Awan dan karena adiknya melakukan kenakalan remaja jadi dia yang dinikahkan." Seorang netizen yang suka sukzon.


" Heh diam jangan bilang yang tidak tidak, kita hanya diundang menikmati pesta dan bukan bicara yang aneh aneh." Sahut yang lainnya.


Dan begitulah percakapan para tamu yang sudah datang, tidak bisa di pungkiri ini semua akan jadi gosip hangat buat mereka yang mulutnya terlalu lemas untuk mengungkap kehidupan orang lain. Hingga tidak terasa acara yang begitu indah dengan bisik bisik para tamu telah selesai.


*


*


Jam menunjukkan pukul 12 saat tiba tiba Awan datang menghampiri keluarganya yang menginap di hotel malam itu selesai acara

__ADS_1


tok tok tok dia mengetuk pintu kamar hotel yang seharusnya jadi kamarnya dengan Manda malam itu, tidak ada jawaban dan bodohnya dia lupa dengan bel di sana karena tergesa gesa.


" Kenapa tidak ada yang membuka, apa mungkin tidak ada orang disini." Gerutunya dan dia teringat kamar di samping yang disewa untuk orang tuanya dan bergegas melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar itu. tok tok tok dia mengetuk dan ceklek sesaat pintu terbuka dan terlihat Mentari dengan baju piyamanya.


" Dek maafkan Abang." Ucapnya yang langsung memeluk adiknya.


Mentari hanya diam dan malah mengalirkan air matanya.


" Awan." Sang mama terkejut melihat kehadiran putranya.


" Mama maafkan Awan." Ucapnya lirih dan beralih memeluk sang mama Buk Sari mulai menangis memeluk putranya.


Flashback on


Awan sedang menenangkan perasaannya di suatu tempat malam itu, hatinya yang terasa sesak di tinggal kabur oleh Manda membuat dia terluka dan pergi begitu saja dari rumah Manda tampa arah dari tadi pagi sampai tidak terasa matahari telah berlalu dan bulan yang mulai menemaninya.


" Kenapa kamu tidak bilang Manda, aku tidak akan memaksa kalau kamu tidak mencintaiku." Gumamnya.


" Ahhhhhgggggggggg." Teriaknya melepaskan penat di dadanya.


Beberapa waktu pun berlalu dia masih setia menatap bulan yang menemaninya malam itu hingga ponselnya tiba tiba berbunyi dan tertera nama seorang teman akrabnya.


" Awan dasar loe... bohongin gue, katanya loe nikah rupanya adek loe yang nikah." Teriak seorang dari sebrang telpon.


" Iya... loe bohong karena malu ya ? " Tanyanya sambil mengganggu.


" Tut.... tut..." Suara panggilan terputus karena Awan langsung menekan tombol merah dilayar ponselnya dan bergegas masuk ke mobil dan mengemudikannya menuju hotel yang telah di sewa untuk acara resepsinya.


Flashback off


Awan , mentari , mama dan ayahnya telah duduk di sofa di kamar hotel tempat mereka menginap.


" Sekarang kamu sudah tau kan semua yang terjadi hari ini." Ucap pak Helmi yang telah menjelaskan kejadian setelah Manda kabur dan dia pergi begitu saja.


" Maaf pa." Ucapnya.


" Harusnya aku tidak pergi begitu saja dan mencoba menyelesaikan masalahku." Sambungnya lagi.


" Sudahlah, ini semua bukan salah mu dan sudah ketentuan takdir yang begini, Karena ternyata Manda bukan jodohmu nak." Ucap sang ayah.


" Iya yang penting kamu baik baik saja sekarang." Sahut sang mama.


Mentari hanya diam karena dia termasuk yang terluka disini.

__ADS_1


" Tapi kenapa papa menikahkan Mentari dengan Yudha ?" Tanyanya.


" Papa tau Mentari maupun Yudha terpaksa, tapi ini yang terbaik buat keluarga kita." Jawabnya.


" Ini semua memang berat buat mereka papa tau." Sambungnya lagi.


" Tapi mama sekarang lebih tenang karena anak gadis mama ada yang jaga." Tersenyum senang menatap Mentari.


" Dan juga kalian sekarang bisa pacaran setelah menikah lebih halal." Ucap sang mama dengan senyum semakin lebar.


"Ah mama.. ada ada aja." Sahut Mentari memanyunkan bibir.


" Iya dek udah punya stempel MUI mau coba apa aja nggak bakal dosa." Ganggu Awan tersenyum lebar menatap Mentari dan mencoba menutupi hatinya yang sedang terluka.


" Udah yuk papa antar ke kamar sebelah." Tiba tiba sang ayah menggandeng tangan Mentari.


" Pa..." Ucap Mentari melepaskan tangannya, yang benar saja masak dia di suruh sekamar dengan Yudha.


" Iya iya cuma ganggu." Sahutnya.


" Ya sudah kamu sama mama tidur disini, papa dan Awan tidur dikamar sebelah sama Yudha." Berjalan keluar menuju kamar sebelah.


Seperti janji semula Mentari dan Yudha hanya menikah saja tapi tidak tinggal bersama dulu, kalau sudah waktunya mereka akan tinggal bersama.


Yudha bergegas membuka pintu kamarnya saat mendengar suara bel , ceklek pintu dibuka dan dilihatnya dua orang pria berdiri di sana.


"Bang Awan." Ucapnya terkejut membelalakkan mata melihat Awan ada di sana.


" Kenapa, kamu kecewa karena bukan Mentari." Ganggunya, ingin membuat Yudha salah tingkah.


" Eh bukan itu." Jawab Yudha menggaruk ngaruk kepalanya yang tiba tiba gatal.


Pak Helmi hanya tersenyum dan berjalan masuk kedalam di ikuti Awan dan Yudha.


" Sorry malam pertamanya sama kita aja dulu." Ucap Awan dengan senyum usil, padahal dia jangankan malam pertama nikah saja tidak jadi pikirnya.


Yudha hanya terdiam dengan wajah yang memerah, jelas sangat malu karena yang mengganggunya abang ipar dan di depan ayah mertuanya , bisa di bayangkan kalau bisa dia mau menghilang saja.


" Sudah Awan jangan diganggu." Ucapnya kepada Awan yang mulai usil.


" Maaf Yudha untuk sementara kamu dan Mentari pacaran saja dulu kalau sudah siap nanti baru dilanjutkan ketahap lebih serius." Ucapnya menoleh ke Yudha yang tertunduk malu dan mengiyakan ucapan pak Helmi yang telah jadi mertuanya.


" Yasudah jangan ribut , papa ngantuk ingin istirahat salah satu dari kalian tidur di Sofanya." Dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang begitu empuk dan jelas saja Yudha lah yang tidur di sofa karena malu jika tidur bersama mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2