
Yudha terbangun saat tangannya terasa meraba sesuatu yang asing menurutnya
Empuk , kenyal dan lembut , hmmm gulingku kok terasa bedanya pikirnya dengan mata masih tertutup dan perlahan dia membuka matanya dan mengangkat wajahnya.
" Astagfirullah......" Ucapnya terkejut melihat ternyata yang di pegangnya sedari tadi adalah barang berharga milik Mentari .
" Pantesan beda." Timpalnya lagi dan duduk menyapu membersihkan tangannya seolah telah ternoda.
Dia bangun dan beranjak berjalan ke kamar mandi.
" Haaahh..... gila.. gila... semalam gue lihat, lah pagi ini nggak sengaja gue pegang, tercemar udah tercemar otak gue." Gerutunya di dalam kamar mandi merasa frustasi dan menggeleng geleng kan kepalanya.
" Upss.... untung dia nggak kebangun, kalau ke bangun habis deh gue." Gumamnya lagi sambil mengacak acak rambutnya dan memulai ritual mandinya.
Mentari terbangun dan mengerjapkan matanya, dia menoleh ke samping melihat Yudha dan ternyata sudah bangun, dia menoleh ke kamar mandi terdengar suara gemercik air.
Ah sambil nunggu Yudha mandi mending aku tidur lagi pikirnya dan merebahkan tubuhnya memejamkan mata.
Yudha telah selesai dan keluar dari kamar mandi, matanya melirik Mentari.
" Masih tidur aja tu orang." Gerutunya dan terdengar oleh Mentari namun dia memilih tetap memejamkan mata.
Emmm pakai baju apanya pikir Yudha berdiri di depan lemari memilih bajunya dan saat mengangkat tangannya mengambil baju di kotak paling atas tiba tiba handuknya melorot.
"Aaaaaaaa." Teriak Mentari sontak menutup wajahnya dengan tangannya , dia bangun di waktu yang tidak tepat.
Yudha yang terkejut dengan teriakkan Mentari langsung mengambil handuknya yang telah jatuh dan membetulkannya.
" Udah jangan teriak lagi." Ucapnya dan berjalan menghampiri Mentari.
" Turunin tangan kamu." Berdiri tepat di depan Mentari.
" Nggak... pakek dulu baju kamu." Mentari tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Yudha tersenyum menyeringai dan memegangi tangan Mentari seolah ingin menurunkannya.
"Ngapain kamu malu, lihat aja aku kan suami kamu." Ucapnya jahil dan menarik tangan Mentari.
" Nggak... aku nggak mau lihat." Mentari tetap memejamkan matanya walaupun tangannya sudah tidak menutupi wajahnya.
Yudha semakin usil, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari.
" Kalau matanya tetap ditutup ,aku cium ya..." Bisiknya.
Spontan Mentari membuka mata dan mendorong Yudha bruukk Yudha terjatuh kebelakang.
" Aduh.... dasar istri durhaka." Ucapnya yang terduduk di lantai.
Mentari yang melihat Yudha yang sebenarnya telah memakai pakaiannya pun langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Yudha.
" Maaf..." Ucapnya dan mengulurkan tangan
" Sini aku bantuin."
"Nggak perlu , aku bisa bangun sendiri." Sahut Yudha.
" Salah kamu sih, suka usil." Ucap Mentari.
__ADS_1
Yudha berdiri dan berjalan mengambil sisir di meja. " Sana mandi, aku tunggu di bawah."
" Tapi Yudha baju ya..." Ucap Mentari karena dia tidak mungkin memakai baju kemarin yang sudah kotor.
Yudha melihatnya. " Iya... tunggu bentar, aku minta sama mama." Ucapnya paham maksud Mentari.
*
*
" Ayah, mama, Mentari pulang dulunya." pamitnya setelah selesai sarapan.
" Iya, hati hati ya sayang." Ucap mama Mira membelai kepala Mentari dan di balas senyuman oleh Mentari.
" Kapan kamu akan tinggal disini ? " Tanya pak Wahyu saat Mentari menyalaminya.
Pertanyaan dari pak Wahyu spontan membuatnya terkejut. " hah..." Membelalakkan matanya. " Be... belum tau yah." Sahutnya ragu.
Mendengar pertanyaan suaminya dan jawaban Mentari membuat Bu Mira menarik tangan Mentari dan mengiringinya menjauh dari suami dan anaknya.
" Sayang... mama tau ini terlalu buru buru, dan ini semua berat buat kamu, tapi kami mohon sebagai menantu kami,kami ingin kamu tinggal di sini bersama kami." Ucapnya dengan nada pelan.
Mentari hanya diam menatap Bu Mira mertuanya.
" Sayang..." Ucap Bu Mira membelai rambut Mentari.
" Kami sudah sangat malu dengan ulah Manda, kami malu pada keluarga mu, dan untuk menebus semua itu tinggal lah bersama kami, biar kami yang mengurus mu sebagai menantu kami." Pintanya dengan penuh harapan.
Mentari menghela nafasnya dan mencoba berpikir sesaat.
" Maaf ma... , Mentari belum bisa saat ini , tapi kedepannya akan ku pikirkan ma." Sahutnya.
" Iya ma , aku pulang dulu ya." Sahut Mentari.
*
*
Di dalam mobil Yudha fokus mengemudi dan sekali kali menoleh melihat Mentari, sedangkan Mentari sibuk memikirkan permintaan mama Mira agar tinggal bersama mereka.
Ah... kapan aku siap tinggal sama mereka, otomatis aku sekamar terus sama dia, nggak mau... ntar yang ada aku jadi mama muda lagi pikirnya yang melayang entah kemana mana.
Tidak terasa mereka telah sampai ke depan rumah Mentari.
" Makasih ya." Ucap Mentari hendak turun dari mobil, namun tertahan karena pintu mobil tidak bisa terbuka dikunci oleh Yudha.
" Yudha... ngapain dikunci, aku mau turun." Menoleh ke Yudha.
Yudha menoleh dan tersenyum ke Mentari
" Berbalik cepat." Pintanya.
Mentari berbalik membelakangi Yudha, Yudha langsung mengambil sesuatu dari laci mobil dan memakaikannya pada Mentari.
" Kalung ini mama yang berikan, dan dia ingin aku yang memakaikannya padamu." Ucapnya.
Mentari terkejut dan tersenyum, dia langsung membalikkan badannya dan menatap Yudha
__ADS_1
" Cantik, makasih ya." Ucapnya.
Yudha melihat dada Mentari melihat kalung yang di pakainya yang tertulis Yume
ah mama ada ada saja pikirnya melihat tulisan itu namun tiba tiba saja buyar saat fokusnya ke dada Mentari kenyal , tersenyum dan ah apa yang ku pikirkan.. pikirnya dan langsung menoleh menatap wajah Mentari yang sedang fokus melihat kalung di dadanya.
Cup... Yudha spontan mencium pipi Mentari, dan membuatnya terkejut PLAK sebuah tamparan diberikan oleh Mentari
" Kurang ajar..." Teriaknya.
Mendengar ucapan Mentari membuat Yudha emosi.
" Kurang ajar kamu bilang." Ucapnya.
" Aku sua...." Perkataannya diputus.
" Hah... sudah turun sana, cepat." Ucapnya lagi menenangkan dirinya.
Mentari membuka pintu mobil dan segera turun, dia bergegas jalan menuju rumahnya dan masuk kedalam tanpa menoleh ke belakang.
Yudha yang menatap punggung Mentari segera melajukan mobilnya saat Mentari sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Ah.... ngapain gue cium dia, dasar ini bibir udah nggak bisa di ajak kompromi lagi." Gerutunya di dalam mobil dan melaju pulang.
Mentari berjalan dengan emosi, sampai dia tidak melihat mamanya yang sedari tadi menatapnya aneh.
" Dek... adek kenapa ?" Tanya sang mama membuat Mentari menoleh melihat mamanya yang sedang duduk menonton TV.
" Aku kesal ma... masak dia cium aku." Jawabnya keras dengan emosi.
" Siapa ?" Tanya mama.
" Yudha ma..." Teriaknya.
"Oh..." Jawab sang mama.
" Kok oh ma..., mama nggak marah apa anaknya dicium orang." Teriak Mentari.
" Marah sih, tapi Yudha kan suami kamu, jadi ngapain mama marah." Sahut sang mama santai.
" Apa ma..." Ucap Mentari.
" Hah... kamu sini duduk." Melambaikan tangannya ke Mentari
"Sayang... Kamu sekarang itu sudah jadi istri Yudha, jadi dia berhak buat kamu dan apapun yang dia lakukan, sebagai istri kamu harus patuh." Ucapnya membelai rambut Mentari.
" Tapi ma... aku be.. " Ucapnya terputus.
" Mama tau kamu belum siap, dan mungkin Yudha juga belum siap , tapi kalian bisa mencobanya perlahan." Ucap sang mama.
" Iya ma." Jawab Mentari malas mendengar ocehan sang mama.
" Aku mandi dulu ya." Ucapnya lagi sambil bangkit dari kursi dan berjalan.
" Iya.. " Jawab sang mama.
" Oh iya kalau mama cepat punya cucu pun nggak masalah." Timpalnya lagi sambil tersenyum.
__ADS_1
" Nggak bakalan ma." Teriaknya dan bergegas meninggalkan mamanya.