
Pak Wahyu yang sudah sadar terkejut mendengar bahwa keluarga pak Helmi telah sampai dan mencoba menenangkan dirinya, dia meminta seseorang menyambut mereka dan mengajak pak Helmi , istri dan anaknya k atas untuk menyampaikan berita penting ini.
Pak Helmi dan keluarganya merasa heran saat di ajak naik ke lantai dua dan menghampiri pak Wahyu yang tampak merebahkan diri di tempat tidur di dampingi dan istri yang duduk disampingnya dan juga putranya.
" Maaf.. kamu kenapa ?" Tanya pak Helmi santai kepada sahabatnya. " Kamu sakit."
Sambungnya lagi menghampiri pak Wahyu.
" Jantungku kumat, gara gara putriku kabur." Sahutnya dengan wajah cemas dan malu.
" APA." Teriak Awan mendengar sang calon istri yang kabur.
Yudha mendekati mereka, mencoba menjelaskan semua yang terjadi. Tanpa sepatah kata pun Awan bergegas pergi meninggalkan mereka.
" Awan kamu mau kemana." Ucap sang mama mencoba menahan Awan namun dicegah oleh suaminya.
" Biarkan dia pergi kita tidak bisa memaksanya disini." Ucap pak Helmi santai karena memang dia adalah seorang yang punya pikiran tenang.
" Aku minta maaf pada kalian, sudah membuat keluarga kita malu gara gara putriku." Ucap pak Wahyu yang mulai bangun dan duduk bersandar.
Pak Helmi malah tersenyum menatap sahabatnya membuat yang lain bingung kenapa dia tidak marah.
" Kamu tidak perlu minta maaf dan keluarga kita tidak akan malu asal pernikahan ini berlanjut." Ucapnya lagi dengan santai membuat semua orang tambah bingung.
"Papa ngomong apa, putri mereka sudah kabur dan anak kita juga sudah pergi apa kita yang akan menikah lagi." Seru istrinya dengan perasaan emosi melototkan mata ke suaminya.
" Manda memang sudah kabur dan Awan juga sudah pergi." Ucapnya lagi.
" Jadi mau papa apa sekarang mencari mereka." Sahutnya lagi.
" Helmi kita tidak punya waktu untuk mencari mereka karena penghulunya setengah jam lagi akan sampai." Sahut pak Wahyu.
" Kita tidak akan mencari mereka." Ucapnya lagi dengan santai.
" Supaya keluarga kita tidak malu karena acara di batalkan bagaimana kalau anakmu Yudha dan Mentari saja yang menikah." Timpalnya lagi.
"****APA****.... " Spontan teriak Yudha dan Mentari yang sedari tadi diam saja.
" Aku nggak mau." Ucap Mentari.
" Aku juga." Sahut Yudha.
" Kalau kamu tidak mau biar ayah mati saja." Tiba tiba ayah Yudha menjawab tanpa bilang setuju sebelumnya menatap Yudha.
Tiba tiba Yudha terkejut dan menggenggam tangan ayahnya. "ayah jangan bilang begitu." Ucapnya.
" Kalau kamu tidak mau ayah akan mati." Ucapnya lagi.
__ADS_1
Yudha menghela nafasnya menatap ayahnya dan berkata. " Baiklah aku mau ayah."
" Lalu kamu sayang." Ucap pak Helmi menatap putrinya.
" Tapi ayah aku baru selesai ujian lulus pun belum dan masih banyak yang ingin kucapai." Ucapnya.
" Ya.. ayah tau, Yudha juga sama denganmu. tapi ini semua demi keluarga kita, agar kita tidak malu dengan tamu yang sudah kita undang." Jelasnya dan memohon pada putrinya.
" Iya sayang." Ucap sang mama dan membelai kepalanya.
" Tolong sayang setidaknya kita tidak begitu malu, dan masalah impian mu kamu akan tetap bisa mencapainya bersama Yudha." Rayu mamanya.
" Iya kami mohon nak." Ucap ibu Yudha yang tiba tiba duduk bersimpuh memohon pada Mentari, spontan Mentari menariknya bangun " Jangan begini tante." Ucapnya.
" Lalu tante harus bagaimana agar kamu mau." Ucapnya lirih.
" Ya sudah aku mau, tapi dengan syarat aku akan tetap tinggal dirumah orang tuaku dan begitu juga Yudha." Ucapnya.
" Iya boleh." Sahut pak Helmi ayahnya.
" Ya sudah mari kita siap siap." Ucapnya lagi.
*
*
" Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Wijaya binti Helmi Wijaya dengan seperangkat mas kawin yang disebut tunai." Ucap Yudha menjabat tangan sang penghulu.
"Sah sah." Para saksi menjawab.
Yudha membalikkan badannya menatap Mentari yang duduk disampingnya, begitu juga Mentari. Lalu tangannya menyalami tangan Awan dan mencium punggung tangannya sesuai perintah penghulu dan begitu juga Awan mencium kening Mentari yang sudah sah menjadi istrinya.
Pak Wahyu menoleh ke pak Helmi.
" Maaf atas tindakan putriku dan terimakasih masih mempercayakan putrimu pada putraku." Bisiknya.
Pak Helmi tersenyum. " Aku tau putramu baik, begitu juga putrimu, namun dia bukan jodohnya putraku." Bisiknya lagi.
Mereka pun tersenyum dan saling merangkul
membuat para tamu ada yang tersenyum, ada yang kagum , ada juga merasa aneh dan tidak suka.
*
*
Acara pernikahan pun selesai Yudha masuk ke kamarnya untuk istirahat karena resepsi akan dilanjutkan nanti malam di hotel yang telah disewa oleh orang tuanya dan Mentari. sedangkan Mentari beristirahat di kamar Manda yang bersebelahan dengan kamar Yudha dan orang tuanya dikamar tamu ruang keluarga.
__ADS_1
" Hah.... Aku nggak pernah kebayang kalau aku bakal nikah secepat ini." Gumam Mentari yang duduk dipinggir tempat tidur Manda yang sudah di hiasi begitu indah.
Menikah dengan pakaian dan dandanan sesederhana ini tanpa mahkota yang indah dikepalanya , untung rambutnya di sanggul dan dihiasi cepitan rambut bermutiara yang diberikan abangnya sebagai hadiah ulang tahun pikir nya.
Lalu dia bangun dan berjalan menuju lemari Manda yang sudah di izinkan oleh mertuanya mengambil salah satu baju putrinya sebagai baju ganti Mentari sementara untuk istirahat.
Yudha tidur menatap langit langit kamarnya
kak.. kakak kabur belum siap menikah aku menolong kakak tapi malah aku kena batunya, lulus saja belum udah punya istri apa aku siap, ah tapi tidak apa dia tidak akan merepotkan ku karena kita tinggal dirumah masing masing pikirnya dan tidak lama dia sudah masuk ke alam mimpinya.
*
*
Sementara di kamar pak Wahyu terlihat dia dan sang istri sedang duduk berbincang.
" Sayang.. pak Helmi itu baik sekalinya." Ucap sang istri.
" Iya... makanya aku ingin Manda menikah dengan anaknya." Sahutnya.
" Mama malu sama mereka, anak kita yang buat masalah tidak memikirkan kita, tapi mereka tidak marah dan malah memberikan putrinya." Ucapnya lagi.
" Iya ma.. aku juga malu, tapi sekarang aku masih bingung dan cemas masalah Manda." Ucapnya pak Wahyu.
" Iya... Manda di mananya sekarang, mama terus memikirkannya." Bu Mira mulai berkaca-kaca.
" Iya aku juga sayang." Sahut suaminya dan memeluk sang istri menenangkan perasaan mereka masing masing.
*
*
Dikamar tamu terlihat seorang wanita berumur yang sedang mondar mandir mencoba menelepon anaknya sedari tadi namun tidak ada jawaban.
" Sudahlah ma.. mending kamu istirahat buat resepsi nanti malam." Ucap pak Helmi yang lelah melihat istrinya asik mondar mandir.
" Pa.. Papa selalu aja santai anak pergi nggak tau kemana, di telpon nggak diangkat angkat masih juga tenang." Cerocos istrinya.
" Awan sudah dewasa ma, dia nggak bakalan melakukan hal hal bodoh." Sahutnya.
"Kalau keadaannya nggak gini mama percaya, tapi sekarang situasi yang sangat berat buat dia pa.. dia ditinggal sebelum nikah, gimana kalau dia bunuh diri." Cerocosnya terus memikirkan yang tidak tidak.
" Dia tidak akan melakukan hal itu." Sahut pak Helmi lagi dan merebahkan tubuhnya ketempat tidur dan memejamkan mata.
" Mama mending sini temani papa tidur biar nggak mikir aneh aneh." Ucapnya melambaikan tangan.
" Papa..." Ucap sang istri dan keluar dari kamar.
__ADS_1