
" Hah.... rugi buat alasan ini itu, tetap disuruh menginap juga." Gerutu Mentari sambil berjalan, ceklek dia membuka pintu kamar Yudha dan masuk ke dalam.
Matanya memandang seluruh isi kamar
" Rapi..., tapi masak sih aku harus tidur di sini, bareng dia." Berjalan duduk di pinggir tempat tidur dan menghela nafasnya.
" Ini piyama kak Manda yang mama kasih." Yudha yang baru masuk ke kamarnya memberikan baju pada Mentari.
Mentari diam menatap Yudha, seperti ada yang ingin dibicarakan namun dia merasa ragu.
" Kamu terpesona ya sama aku ?" Tanya Yudha tersenyum kepedean karena tatapan Mentari.
Mentari mengambil bantal di belakangnya dan memukul Yudha bugghhhh.
" Dasar.... kepedean..." Ucap Mentari.
Yudha menarik balik bantalnya dan membalas Mentari bughhh.
" Ngaku aja.. Memang kamu terpesona kan." Balasnya.
Mentari menarik bantal yang lain dan membalas Yudha lagi bughhh.
" Nggak, aku nggak bakal terpesona sama kamu." Ucapnya.
Yudha pun membalasnya lagi.
" Halah... alasan, buktinya kamu di kamar aku." Ucap Yudha sambil cengengesan.
Baghhhh bugghhhh " Aku terpaksa tau." Teriak Mentari memukul Yudha berkali kali.
" Wa.... kasian kamu, orang terpaksa nikah sama CEO , lah kamu terpaksa nikah ma aku.." Ganggu ya... dan membalas pukulan Mentari.
Bughhh bughhh bughhh semakin banyak pukulan yang dilayangkan Mentari
" Dasar kamu... ngerusak impian aku nikah sama CEO kayak di novel novel." Teriaknya geram.
Yudha hanya tertawa menahan pukulan Mentari dan tidak lagi membalasnya dengan pukulan.
" Hahaha... kasian kamu terpaksa nikah sama gamers." Ganggu Yudha.
" Tenang tenang aku bakal jadi suami yang baik kok , ngasih kamu rumah , mobil , apartemen dan semua yang kamu inginkan cukup sama ini." Celoteh Yudha mengganggu Mentari dan menunjukkan ponselnya yang terpampang game membuat kota di layar ponselnya.
Mentari merasa geram dan sudah lelah memukuli Yudha dengan batal dan melempar bantal itu asal.
" Gila.. kamu.. ,aku mau mandi." Teriaknya dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Dia merasa geram melihat Yudha, karena hobi Yudha Main game dan dia kebalikan dari Yudha tidak suka main game menurutnya itu hanya buang waktu.
Ah.... bisa bisanya aku nikah sama maniak game , lagi kesal aja sempat sempat nya dia tekan tu game.... ah..... geram... geram.... batinnya.
Mentari sudah selesai mandi dan melingkarkan handuk yang tersangkut di dinding di badannya.
" Ah piyamanya tinggal di tempat tidur lagi." Gerutunya kesal.
Dia membuka pintu kamar mandi perlahan mengintip apakah Yudha masih di kamar.
" Hah... syukurlah dia nggak ada." Ucapnya berjalan keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya langsung disitu.
Yudha yang sedari tadi berdiri di balkon kamarnya berjalan masuk ke dalam dan refleks terkejut.
" Waaaaaaaaa... ada gunung." Teriaknya saat melihat Mentari yang sudah selesai memakai piyama namun kancing bagian atas terbuka dan menampakkan sebagian dadanya.
Mentari terkejut dan menyadari kancingnya terbuka langsung menutup dengan tangan
" Dasar mesum..." Teriaknya melotot kan mata ke Yudha.
Yudha yang terkejut langsung berbalik dan pergi berdiri lagi di balkon sambil memegang dadanya yang berdetak kencang nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan batinnya sok alim.
" Sungguh indah gunung itu." Gumamnya sambil senyum senyum dan tiba tiba dia tersadar. " Ah otak gue mulai eror kayaknya." Memegang kepalanya. " Nggak... nggak.. jangan eror dulu... kamu masih muda, kalau kamu eror anak orang entar eror juga." Ucapnya menggeleng geleng kan kepalanya yang sudah mengingat hal yang tidak tidak.
Sudah setengah jam Yudha berdiri di balkon menenangkan dirinya.
Yudha menoleh ke Mentari.
" Ayo kita turun." Ucapnya dan berjalan masuk kedalam dan keluar dari kamarnya diikuti Mentari.
" Mentari ayo makan yang banyak." Ucap mama Mira di meja makan.
" Iya jangan malu malu." Sahut pak Wahyu.
" Enggak ini aja udah cukup." Jawabnya makannya memang tidak banyak , karena memang dia seorang yang suka jaga badan dan kalau makan berlebihan berat badannya akan langsung naik.
" Ya sudah, terserah kamu asal jangan malu malu karena ini rumah kamu juga." Jelas Bu Mira karena Mentari sudah jadi bagian dari mereka.
" Iya ma ..." Jawabnya tersenyum malu.
Yudha hanya duduk diam menikmati makanannya dan sekali kali menoleh melihat Mentari dan menggeleng geleng kan kepalanya.
Pak Wahyu yang sedari tadi memperhatikan Yudha pun seolah tau apa yang dipikirkannya dan selesai makan menyuruhnya ke kolam ikan di belakang rumah menemuinya.
Yudha berjalan menghampiri ayahnya yang sudah duluan berada di sana, dia pun berjongkok di pinggir kolam dan memberi makan ikan.
__ADS_1
" Yudha... ayah mohon kamu jangan tergesa gesa meminta jatah mu pada Mentari" Ucap sang ayah.
" Jatah apa yah..." Tanya Yudha yang memang tidak nyambung maksud ayahnya.
" Meniduri Mentari." Jawab sang ayah singkat.
" APA..." Yudha terkejut akan maksud ayahnya.
" Tapi ayah menyuruh nya tidur dengan ku." Ucapnya santai tanpa menoleh ke ayahnya, dan keusilannya tiba tiba saja muncul.
" Ya tapi tidak untuk menyentuhnya." Sahut sang ayah.
" Aku suaminya jelas aku berhak." Mulai memainkan perannya.
" Ayah tau tapi dia tentu belum siap." Ucap sang ayah.
" Ayah... bukankah istri harus memenuhi hak suaminya dan aku ingin ayah..." Aktingnya mulai parah.
" Yudha... ayah mohon, jangan lakukan apapun padanya kalau dia tidak menginginkannya." Pak Wahyu serius dengan ucapannya berbeda dengan Yudha yang sedang usil.
" Tapi... ayah... aku.. aku sudah...." Ucapannya sengaja diputus.
" Sudah apa Yudha." Tanya ayahnya panik mengguncang tubuh Yudha.
" Sudah pasti mematuhi perintah ayah." Melebarkan senyumnya.
" Dasar kamu..." Tolak sang ayah membuat Yudha terbalik ke belakang.
" Pasti kamu sedang mengerjai ayah." Ucapnya kesal, walau didikannya ke Yudha terkadang keras namun mereka sangat dekat sebagai ayah dan anak.
" Ayah... aneh, aku sudah menikah dengannya tapi tidak boleh menyentuhnya." Ucap Yudha sambil bangkit dan berdiri membersihkan bajunya.
" Bukan tidak boleh, boleh asal dia mau dan jangan memaksa, ingat kalian masih muda dan masih banyak waktu, kalian bisa pendekatan dulu." Jelas pak Wahyu itulah kesepakatannya dengan pak Helmi menyatukan mereka secara perlahan.
" Iya.. iya.. aku tau." Ucapnya dengan wajah datar.
" Ya sudah ayo kita masuk, sudah waktunya tidur." Ucap sang ayah dan berjalan masuk kedalam di ikuti Yudha menuju kamar masing masing.
Sesampainya dikamar Yudha melihat Mentari yang sudah tidur menghadap ke pinggir tempat tidur.
" Hahaha apa ini pembatas." Gumamnya melihat bantal guling yang diletakkan di tengah tempat tidur.
Dia tidur dan menatap punggung Mentari
" Dia istri ku.. hahaha." Gumamnya dan tertawa tidak pernah dibayangkan dia akan punya istri secepat ini.
__ADS_1
Mentari yang sebenarnya tidak tidur pun mendengar ucapan Yudha apa dia berharap lebih dari ku , ah aku tidak mau , aku belum siap batinnya.
Dan entah sejak kapan keduanya pun tertidur dengan pemikiran masing masing dan posisi tidur Yudha menghadap Mentari dan Mentari membelakangi Yudha.