
*A*ku sayang sama kamu, tapi apa ini yang terbaik buat aku. aku udah mencintai kamu selama ini semua perasaan aku tulus buat kamu dan rasa kamu buat aku juga begitu tulus bagaimana bisa aku menyakiti kamu karena bila kau yang terluka aku yang sakit tapi aku tidak bisa melawan keinginan ayah apa yang harus aku lakukan.Tuhan aku hanya ingin dia jadi jodohku hanya dia cukup dia bukan yang lainnya pikiran Manda yang entah kemana mana dan terus menangis di pelukan Rendy tanpa henti tidak ada yang bisa dilakukan Rendy hanya mencoba menenangkannya karena dia pun tidak tau alasan kekasihnya itu terus menangis.
Sejenak Manda melepaskan pelukannya dan menatap Rendy dengan mata yang masih mengeluarkan bulir bening.
" Sayang... kamu kenapa?" Tanya Rendy mengusap lembut pipi Manda, tidak ada jawaban dari Manda dia terus menangis menatap Rendy.
" Kalau kamu nggak bisa cerita ke aku sekarang nggak apa, kamu bisa cerita lain kali." Rendy tersenyum membelai rambutnya mencoba menenangkannya.
Rendy memilih mengantar Manda pulang tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka di dalam mobil hanya suasana hening dengan sesekali Rendy menoleh ke Manda yang duduk diam menatap ke depan dan fokus lagi mengemudi.
Apa yang terjadi sebenarnya pikir Rendy
tak lama mobil sedan yang biasa saja berhenti di depan rumah dua tingkat yang sederhana tapi terlihat mewah dengan warna dasar putih abu abu.
" Sayang... udah sampai." Rendy membuyarkan lamunan Manda.
" Emm iya.." Menoleh ke Rendy dengan tatapan kosong.
" Kamu udah tenang sekarang." Ucap Rendy membelai kepala Manda.
" Aku nggak tau masalah kamu sayang, tapi kalau kamu nggak mau cerita nggak pa pa dan kalau bisa cerita, cerita aja ke aku ya.." Rendy mencoba membuat Manda merasa tenang.
" Iya maaf." Ucap Manda dan keluar dari mobil Rendy dan melambaikan tangan ke Rendy yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan dia.
*
*
*
Tak terasa hari berlalu semakin cepat murid murid SMA kelas tiga telah menyelesaikan ujian akhir mereka begitu juga murid murid disekolah Yudha dan Mentari.
" Yes... akhirnya tenang hidupku ini ya tuhan." Ucap Eva menadahkan tangannya ke atas.
" Heh.. lebai kamu va baru siap ujian belum pengumuman." Seru Rara memukul tangan Eva.
" Iya va , ntar kamu nggak lulus gimana." Timpal Mentari yang duduk bersama Eva dan Rara di bangku kelas.
" Enak aja, perkataan itu do'a kalau ngomong yang baik baik napa." Sahut Eva memanyunkan bibirnya.
" Iya.. iya.." Sahut Mentari dan Rara bersama.
" Yok pulang orang pada pulang tu." Mentari bangun dari tempat duduknya dan berjalan di ikuti Rara dan Eva.
" Eh lihat tu ke sana." Tunjuk Rara ke arah lapangan sekolah yang dipenuhi murid murid lainnya.
__ADS_1
" Eh ada apanya , ke sana yok." Eva langsung menarik tangan Mentari dan Rara.
Di lapangan terlihat anak anak yang sedang heboh berkumpul melaksanakan ritual wajib setelah ujian akhir mencoret coret baju mereka warna warni sudah jelas menghiasi seragam sekolah yang selama ini putih bersih.
" Wah.. mentari sini aku yang pertama di baju kamu." Raihan langsung menulis tanda tangannya di baju Mentari yang masih bersih.
" Yah harusnya aku yang duluan." Menarik stabilo di tangan Raihan menulis namanya dan di ikuti Rara dan yang lainnya juga.
" Wih gue belum sini..." Ucap Yudha yang menoleh ke Mentari dan langsung menuliskan tanda tangannya di pundak Mentari yang masih kosong.
" Sini aku juga" Ucap Mentari menarik stabilo dari Yudha.
" Emm... di mananya lapaknya penuh." Melihat baju Yudha yang sudah penuh dengan coretan warna warni.
" Oh tunggu." Yudha membuka bajunya.
" Hi.... ngapain kamu buka baju malu tau." Ucap Mentari menutup matanya.
" Ada baju dalam tau, nah kamu disini kasih tandanya spesial kan." Yudha menunjukkan kerah bajunya yang masih bersih.
" Hmmmm boleh juga." Mentari langsung meninggalkan jejak namanya di sana.
" Sayang kita pulang bareng ya." Raihan meletakkan tangannya di bahu Mentari.
" Ya jalan jalanlah sayang, Ken hari ini terakhir kita pakai seragam sekolah ya jadi kita harus merayakannya." Jawab Raihan.
" Kita nggak diajak ne ?" Tanya Rara.
" Iya aku juga, bareng aja napa." Timpal Eva.
" Ya gue mau juga gabung boleh." Tambah Egy yang selama ini sedang pdkt dengan Eva.
" Boleh makin rame kan makin seru." Jawab Mentari. " Iya kan sayang." Mengiyakan pada Raihan.
" Oh... iya ya.." Sahut Raihan dengan nada yang sedikit terpaksa.
" Ya udah gue ma Arief ikut juga." Ucap Yudha.
" Iya.. yok kita jalan." Ucap Mentari sambil menggandeng tangan Raihan.
*
*
*
__ADS_1
" Manda... tunggu." Teriak Rendy namun Manda tidak menoleh malah mempercepat langkahnya.
Randy berlari dan menghadang Manda.
" Kamu kenapa , kenapa kamu menghindari ku ada masalah ayo cerita." Menggenggam tangan Manda menatap matanya penuh tanya.
" Aku... aku buru buru." Sahut Manda menarik tangannya dari Rendy namun malah digenggam semakin erat.
" Jelasin dulu kamu ada masalah apa sama aku." Rendy tak melepaskan genggamannya.
" Kita.. udahan aja." Ucap Manda menatap Rendy menahan sesak di dada.
"Apa.." Rendy terkejut melepaskan genggamannya.
" Maksud kamu kita putus." Tanya Rendy dibalas anggukan oleh Manda.
" Tapi kenapa apa salah aku apa masalah kita." Tanyanya lagi.
" Kamu nggak ada salah, aku yang salah." Sahut Manda matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu salah apa ?, kamu nggak ada salah sama aku kita kan baik baik aja." Ucap Rendy merasa makin bingung menatap Manda.
" Minggu depan aku nikah." Sahut Manda menundukkan kepalanya dan air mata mulai mengalir di pipinya.
Bagaikan mendengar suara petir yang begitu keras dan hati yang terasa sangat sesak Rendy gemetar menatap Manda. Tangannya mengangkat kepala Manda yang tertunduk.
" Kamu nggak bohong kan?" Tanyanya
Manda menggelengkan kepalanya.
" Jadi... kamu udah nggak cinta sama aku ?" Tanyanya lagi.
Manda diam hanya air mata yang terus mengalir di wajahnya menahan rasa sakit yang sama.
" Jawab kamu udah nggak cinta sama aku ?" Teriak Rendy yang sudah merasa putus asa.
Manda semakin nangis tersedu sedu menatap Rendy dia tidak mampu menjawab pertanyaan Rendy.
" Yang terakhir aku tanya kamu cinta sama aku." Teriaknya lagi.
" A... aku cinta sama ka kamu." Jawab Manda menatap Rendy dan langsung dibalas pelukan oleh Rendy.
Di kejauhan Awan yang sedari tadi datang ingin menjemput Manda di kampusnya hanya berdiri melihat sang calon istri dengan seorang lelaki penuh drama dan tanda tanya.
" Siapa dia apa kekasihnya Manda, mereka terlihat begitu saling mencintai dan apa yang kulihat sepertinya aku yang salah hadir di antara mereka berdua , lebih baik aku pergi dari sini biar mereka menyelesaikan masalah mereka pikir Awan memilih pergi menjauh dan meninggalkan kampus Manda dengan hati yang berkecamuk.
__ADS_1