Tiba Tiba Jadi Pasangan

Tiba Tiba Jadi Pasangan
eps 19 kabur


__ADS_3

Malam itu seorang gadis berdiri di balkon kamarnya menatap jauh ke bawah ke halaman depan yang sudah dihiasi meja, bangku, dan bunga mawar putih yang begitu indah. Nuansa acara pernikahan dipilih dengan tema serba putih agar terlihat suci dan syahdu, namun semua bukan keinginannya.


Manda berjalan masuk ke dalam kamar terlihat tempat tidur yang telah diganti dengan yang baru dan dihiasi tirai putih di bagian kepala dan dia terus berjalan menatap turun kebawah melihat semua ruangan yang juga telah siap dirias tampak sangat indah.


*A*yah , mama maafkan Manda , Manda ngak siap dengan semua ini , maaf kalau membuat kalian terluka lirihnya didalam hati dan kembali berjalan menuju kamarnya.


" Sayang... kamu belum tidur." Terdengar suara sang mama yang baru keluar dari kamar menghentikan langkahnya.


" Iya ma.. belum ngantuk." Sahutnya sambil tersenyum maaf mama hatinya berkata.


" Oh biasa itu mau jadi pengantin agak dag dig dug gimana gitu ya..." Ganggu sang mama.


" Mama... pengalaman ya.." Balik mengganggu.


" Ah sudah sana tidur udah jam sebelas juga.." Ucap mama lalu berjalan meninggalkan Manda menuju dapur untuk mengambil minum.


Manda hanya tersenyum menatap punggung mamanya dan kembali melangkah menuju kamarnya.


*


*


Yudha menggeliat dan terbangun, tangannya meraba ke atas meja dekat tempat tidur dan mengambil ponselnya dilihat jam menunjukkan pukul 3 pagi, dia bangun merasa kerongkongannya yang kering dan berjalan ke luar kamar menuju dapur. Saat kembali dari dapur menuju kamarnya dia berhenti di depan pintu kamar Manda dan membukanya entah mengapa dia sangat ingin melihat kakaknya.


Ceklek pintu kamar Manda dibuka. " kak..." Ucapnya dan berlari menghampiri Manda yang nampak sedang berdiri di balkon dengan tas ransel di punggungnya.


*A*h... bagaimana ini aku ketahuan sama Yudha pikirnya saat melihat sang adik masuk dan menghampirinya.


" Kak.. kakak mau kemana ?" Tanya Yudha dengan wajah gelisah melihat gelagat sang kakak seperti ingin kabur.


" Hah.... Yudha kamu sayang sama kakak ?" Tanyanya.


" Sayang kak." Jawabnya.


" Bantu kakak memilih jalan hidup sendiri , kakak ngak mau menikah dengan Awan." Ucapnya memelas kepada sang adik.


" Tapi kak..." Ucapnya.


" Nggak ada tapi tapi... tolong.. kakak mohon, kakak ingin bahagia dengan orang yang kakak cintai." Ucapnya lagi semakin memelas.


Yudha bingung apa yang harus dikatakan.

__ADS_1


" Dek kamu cuma perlu pura pura nggak tau aja dan tolong tenangkan mamanya..." Serunya lagi.


Yudha hanya diam dan menganggukkan kepalanya saja.


Manda memeluk Yudha dan ingin turun dari balkon, namun ditahan oleh Yudha.


" Kak lewat pintu saja bahaya dari situ." Ucapnya


Manda tersenyum dan berbalik masuk berjalan keluar kamar turun kebawah dan keluar dari pintu depan diantar oleh Yudha.


" Kak.. kakak pergi dengan siapa?" Tanya Yudha menghentikan langkah Manda yang berada di teras rumah.


" Sama Rendy kamu tenang aja.." Sahutnya dan tersenyum ke Yudha lalu bergegas menuju gerbang karena Rendy telah menunggunya diluar gerbang.


Yudha menutup pintu dan kembali menuju kamar dan merebahkan tubuhnya ketempat tidur dan menatap langit langit kamar dengan mata yang sudah enggan tertutup, pikirannya berjalan kemana mana memikirkan bagaimana suasana rumahnya nanti saat mereka sadar kakaknya telah kabur.


*


*


Tok tok tok... " Yudha bangun." Teriak sang mama mengetuk pintu kamar Yudha.


Matanya mengerjap perlahan dan terbuka entah jam berapa dia semalam tertidur lagi.


" Yudha kakakmu nggak ada dikamar." Ucap sang mama " bagaimana ini mama sudah mencarinya di seluruh rumah tapi tidak ada." Dengan tangan menggenggam penuh rasa cemas.


Yudha hanya berdiri menatap mamanya dan pura pura terkejut. " Apa ma.." Ucapnya.


" Iya sayang bagaimana ini.. mama bingung." Ucap sang mama memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


" Ayah sudah tau.. ?" Tanyanya.


" Ayah belum tau, sekarang ayahmu sedang duduk bersama saudara yang sudah sampai di ruang tamu" Jawab sang mama.


Yudha terkejut mendengar saudaranya yang sudah sampai dan berbalik menatap jam dinding di kamarnya yang rupanya sudah menunjukkan pukul delapan.


" Ya sudah ma.. kita coba beritahu ayah dulu masalah ini." Ucapnya memberi solusi.


" Mama takut.. takut jantung ayahmu kumat." Sahut sang mama.


Yudha memegang bahu mamanya mencoba menenangkan " ma.. mama tenang dulu , bagaimana kita bilangnya nanti saja saat keluarga pak Helmi kemari " ucapnya

__ADS_1


" mama pura pura nggak tau aja dulu, dan biasa saja." Timpalnya lagi menyakinkan sang mama.


" Yudha mama nggak bi.." Bruukk mamanya jatuh kelantai dan pingsan, Yudha langsung mengangkat tubuh sang mama ke dalam kamarnya dan menidurkan ketempat tidurnya.


"Mama.. Maafkan Yudha ya.. Membiarkan ini terjadi." Gumamnya sambil menatap wajah sang mama yang telah memakai make up dan baju kebaya putih dan rok songket senada berbunga putih.


Yudha berjalan menuju kamar mandi untuk menyengarkan tubuhnya dan beberapa menit kemudian keluar bersiap siap mengenakan celana krem dan jas krem putihnya dipadu dengan kemeja warna abu abu muda yang sama dengan sang ayah, dia menatap sang ibu yang masih pingsan dan mencoba menyadarkannya.


" Ma.. mama.. bangun ma.." Ucapnya menggoyangkan tangan sang mama.


Mamanya tersadar dan menatap Yudha yang telah rapi.


" Yudha... mama.. " Hiks hiks ucapnya terputus tat kala ingat putrinya yang kabur dari pernikahannya.


Yudha memeluk mamanya mencoba menenangkan itulah janjinya pada Manda.


" Sayang... sayang.. Mira, kamu dimana." Terdengar suara seorang pria dewasa memanggil sang istri.


" Ma... ayah manggil mama." Ucap Yudha.


Tak ada respon mamanya terus menjatuhkan air matanya membasahi baju Yudha.


Tap tap tap suara langkah kaki mendekati kamar Yudha ceklek membuka pintu dan mendapati istrinya dan anaknya sedang berpelukan.


"Mama sayang dari tadi ayah cariin malah disini." Ucapnya tidak melihat wajah sang istri yang telah basah dengan air mata karena membelakanginya.


" Ayah kak Manda kabur." Ucap Yudha dengan wajah penuh ketegangan.


Pak Wahyu langsung terkejut, seketika wajahnya berubah tak karuan mendengar sang putri kabur di hari pernikahannya . Tangannya memegang dadanya merasakan debaran jantung yang begitu kencang dan nafasnya terasa sesak bruukk dia terjatuh ke lantai.


" Ayah." Spontan teriak Yudha dan langsung menghampiri sang ayah.


Bu Mira juga spontan bangun menghampiri suaminya yang tergeletak di lantai tidak lama beberapa saudara mereka naik dan menghampiri mereka dan membantu memapah pak Wahyu ke tempat tidur Yudha.


"Ma... ini obatnya." Yudha telah kembali mengambil obat jantung ayahnya dikamar orang tuanya.


Salah seorang saudara pun telah membawakan segelas air putih, segera pak Wahyu diberikan obatnya agar lebih tenang.


Saudara mereka telah tau kalau Manda kabur, mereka bingung harus berbuat apa, mereka hanya diam saling memandang dengan tatapan cemas.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 keluarga pak Helmi telah sampai di depan rumah pak Wahyu dan terlihat berjejer beberapa mobil.

__ADS_1


Awan turun dengan gagahnya mengenakan stelan jas serba putih di ikuti sang adik Mentari yang terlihat begitu cantik mengenakan kebaya putih dengan Kilauan kalung mutiara di lehernya dan rok songket abu abu putih senada dengan sang ibu, begitu juga sang ayah sama gagahnya dengan Awan walau umurnya tidak muda lagi.


Seorang wanita berlari menuju kamar Yudha menghampiri mereka. "Kak.. keluarga pak Helmi sudah datang." Ucap Bu Salwa adiknya Bu Mira.


__ADS_2