
Awan melajukan mobilnya menjauh dari kampus Manda, hatinya terasa remuk hancur sakit seluruh tubuhnya bergetar mengingat kejadian yang baru saja di lihat. tiba tiba dia mengerem mobilnya mendadak di pinggir jalan dan memukul mukul stir mobilnya.
Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa dia tidak bilang kalau dia tidak mencintai ku dan punya seseorang. Aku tidak bisa menikah dengannya, aku bukanlah CEO yang senang memaksa wanita menikah denganku sedangkan dia tidak mencintaiku gumamnya didalam mobil.
*
*
Rendy terdiam membisu kini dia dan Manda duduk di sebuah bangku area kampus. Hatinya sesak mengetahui kenyataan bahwa kekasihnya akan menikah Minggu depan, tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana bingung, resah dan hancur semua menyelimuti hatinya.
" Jadi kamu mau mengakhiri hubungan kita ?" Tanyanya pada gadis yang di cintanya memecah kesunyian.
" Aku bingung... ayah tidak mau aku menolaknya tanpa memikirkan perasaan ku." Jawabnya.
Rendy menghela nafasnya dan membelai rambut Manda.
" Aku sangat mencintaimu, namun semua keputusan ada padamu." Ucapnya lirih.
" Bagaimana kalau kita..." Tiba tiba Manda diam memutuskan ucapnya.
" Kita apa ? " Tanya Rendy.
" Kita kabur saja.." Ucapnya pelan.
" Kamu yakin.. bagaimana dengan kuliah mu ?, coba dipikirkan dulu."
" Kamu tidak mencintaiku." Ucap Manda lirih dengan mata mulai berkaca-kaca.
" Aku mencintaimu, tapi keputusan mu itu beresiko sayang.." Sahut Rendy menggenggam tangannya.
Manda mulai menjatuhkan bulir air matanya lagi membuat Rendy tidak tahan melihatnya dan mendekapnya.
" Sudahlah jangan menangis lagi aku akan mengikuti keinginan mu." Ucapnya.
" Betulkah ?" Tanyanya.
" Betul, tapi pulanglah dulu kita akan memikirkan caranya." Rendy membelai kepala Manda dengan perasaan yang semakin campur aduk.
" Sayang.. kamu yang antarnya..." Pintanya.
" Iya baiklah sayang, ayo." Sahutnya.
*
*
Awan telah kembali ke kantornya, dia duduk di kursi kerjanya yang empuk karena jabatannya saat ini adalah seorang direktur dan menatap seikat bunga yang rencananya tadi ingin diberikan kepada Manda saat menjemputnya.
*A*ku harus membereskan masalah ini, tidak mungkin membatalkan acara pernikahan ini keluarga ku dan keluarga nya pasti akan malu maaf jika aku harus memaksamu Manda pikirnya.
*
*
__ADS_1
*
Manda telah tiba di rumahnya, dia berjalan langsung masuk ke kamarnya tidak ada orang dirumah karena jam baru menunjukkan pukul dua siang ibunya pergi ke rumah saudara mengantar undangan, ayahnya masih di kantornya dan Yudha dia entah kemana
belum pulang Manda tidak tahu.
" Mataku sembab karena terus menangis, ah lebih baik aku mengambil es batu biar sedikit reda." Gumamnya.
Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul lima Manda bangun berjalan menuju kamar mandi dan menyengarkan badan dan pikirannya.
Tok tok tok suara pintu kamarnya. Manda telah selesai mandi dan memakai pakaiannya dia berjalan menuju pintu dan membukanya.
" Eh mama." Sapanya melihat wanita berumur didepan pintu kamar.
" Sayang ada Awan dibawah dia ada perlu sama kamu." Ucap sang mama.
Deg.. jantungnya bagaimana ini apa yang harus kulakukan , ah sudahlah dia tidak boleh tau rencanaku pikirnya.
" Manda..." Panggil sang mama melihat putrinya malah melamun.
" I iya ma.. tunggu Manda akan segera turun." Ucapannya berjalan kembali ke dalam kamar dan menyisir rambutnya dan memakai sedikit pelembab dan lip balm dan bergegas turun kebawah menuju ruang tamu.
Awan menoleh ke arah Manda yang berjalan menghampirinya, wajahnya terlihat biasa saja namun hatinya begitu sakit mengingat sang calon istri berpelukan dengan seorang pria yang terlihat begitu akrab.
Manda duduk di samping Awan di sofa yang lain dan mencoba tersenyum melihat Awan yang juga di balas senyuman.
" Bang Awan baru pulang kantor ?" Tanyanya.
" Lalu ada perlu apa ?" Tanyanya lagi.
" Aku hanya ingin bertanya apa kau mencintaiku ?" Awan tidak ingin basa basi.
Manda diam terpaku tidak menyangka bahwa Awan akan menanyakan hal ini padanya. Namun dia tetap menjawab agar tidak ada kecurigaan akan rencananya.
" Saat ini belum, tapi kedepannya aku tidak tahu." Ucapnya sesantai mungkin.
" Apa kau benar benar mau menikah dengan ku." Tanyanya lagi dengan wajah serius.
" Benar aku mau." Sahut Manda lagi, namun jawaban bukan dari hati hanya di mulut saja.
" Baiklah kalau begitu, aku pikir kamu terpaksa menikah dengan ku." Ucapannya merasa lega dan mencoba berpikir positif akan kejadian yang dilihat tadi pagi.
" Ini bunga untuk mu." Timpalnya lagi seraya memberikan seikat bunga mawar yang begitu indah.
Manda mengambilnya sambil tersenyum.
" Terimakasih." Ucapnya
" Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu." Awan beranjak berdiri dari sofa dan berjalan menuju pintu depan di antar Manda.
" Bang Awan hati hati di jalannya." Ucap Manda.
" Iya.. sampai jumpa dihari pernikahan kita." Ucap Awan tersenyum lega dengan sikap Manda dan masuk ke mobilnya dan berlaju pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga pak Wahyu.
__ADS_1
Manda berjalan masuk kedalam rumah dan menutup pintu bergegas naik ke atas menuju kamarnya dan merebahkan diri di tempat tidur empuknya.
Hah...... helaan nafas seolah lega dari Manda
dia baik tapi aku tidak mencintainya, maaf aku harus berbohong dan menyakitimu pikirnya.
*
*
Yudha baru saja pulang pukul tujuh dan bergegas naik ke tangga, namun langkahnya terhenti karena suara seorang wanita memanggilnya.
" Yudha kamu baru pulang, kemana saja kamu pulang sekolah ?" Tanya mamanya.
" Biasa ma hari terakhir ujian ya jalan jalan sama teman." Sahutnya tidak berpindah dari tangga.
" Ya sudah mandi sana, selesai mandi ajak kakakmu turun juga untuk makan malam." Ucap mama dan pergi menuju dapur.
" Oke ma.." Sahutnya dan bergegas ke kamarnya.
Beberapa saat diruang makan telah berkumpul keluarga pak Wahyu yang berjumlah empat orang. Pak Wahyu, istrinya Bu Mira , anaknya Manda dan Yudha.
" Manda berapa orang teman mu yang kamu undang di acaramu ?" Tanya pak Wahyu.
" Um... hanya beberapa orang ayah." Jawabnya padahal tidak ada satupun temannya yang tau akan pernikahannya.
" Oh... aku boleh undang temanku juga." Sahut Yudha.
" Jangan.. jangan undang teman mu, cukup orang terdekat saja." Timpal Manda langsung menyela.
" Tapi kak.." Ucap Yudha dan terputus karena Manda memotong pembicaraannya.
" Tidak ada tapi tapi." Ucapnya.
" Hmm.... kenapa begitu Manda." Ucap pak Wahyu menatap tajam ke Manda.
" Aku lebih suka saudara saja yang hadir ayah.." Ucapnya lirih.
" Iya.. iya saudara saja dan kerabat dekat lebih baik." Timpal bu Mira.
" Oh ya sudah." Sahut Yudha santai, baginya itu bukan masalah karena mungkin saja temannya ada acara lain.
" Ya.. kalau begitu mau mu ayah juga akan setuju." Tambah sang ayah.
" Mungkin hari Rabu rumah kita mulai dihias." Ucap Bu Mira. Mengingat acara yang akan di adakan dirumah mereka selaku mempelai wanita.
" Wih cepatnya, ini hari Kamis berarti tinggal berapa hari lagi ya.." Yudha tidak menyangka waktu begitu berjalan.
" Iya.. acara nikahan hari Jum'at dan malamnya langsung pesta." Sahut bu Mira lagi.
" Wah ayah harus kembali ke kamar menyelesaikan pekerjaan." Ucap pak Wahyu beranjak dari kursi berjalan meninggalkan ruang makan.
Manda hanya diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, padahal ini adalah acara pernikahannya namun hanya kekacauan yang ada di hatinya.
__ADS_1