TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.

TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.
CHAPTER 1 (ROH XIUHUAN)


__ADS_3

"Xiuhuan, aku percaya kau di takdirkan menjadi dewa roh di masa depan nanti, aku juga percaya perang ini akan berakhir damai karena kau adalah pemimpinnya."


"Jika aku terlahir kembali di kehidupan berikutnya, aku harap persahabatan kita masih berlanjut tetapi dengan alur lebih baik. Terima kasih... "


"Terima kasih untuk semua perjalanan menyenangkan dan menantang haha, aku sangat berharap bisa terlahir kembali dan menjadi teman mu"


"... Sekarang tidak ada waktu lagi, manusia iblis itu akan mengubah seluruh alam semesta menjadi neraka jika kau tidak segera menghentikannya"


"Biarkan aku pergi dengan tenang karena setelah ini aku akan bertemu kembali dengan adikku, maaf aku hanya bisa menjadi temanmu sampai di sini. Tapi, di kehidupan selanjutnya aku tidak akan ceroboh dan merepotkan mu lagi, "dengan tubuh bersimbah darah serta wajah babak belur Chang yi terlentang lemah lantaran sebuah serangan harus mengenai tubuhnya, di sana ia tampak di temani oleh Xiuhuan yang selama ini menjadi rekannya.


Jauh sebelum kehidupan manusia, di sebuah gurun pasir dengan badai yang begitu kencang. sebuah perang terjadi. Seluruh dataran pasir yang awalnya lembut ketika menginjakkan kaki di sana, kini di genangi banyak darah segar dengan warna merah pekat, sekelompok orang terdengar mengaum ketika salah seorang pria dengan tanduk menyerupai iblis di kepalanya mengeluarkan seekor naga dengan wujud gumpalan asap hitam.


"Semuanya sudah berakhir naga ini telah bangkit dan menyatu dengan tubuhku, kalian hanya melakukan hal yang sia-sia. Tidak ada gunanya seberapa besar pun kekuatan yang kalian keluarkan itu tidak akan mempengaruhiku."


Langit yang semula gelap tiba-tiba berubah menjadi warna merah dengan iringan hujan dan petir menggelegar yang merupakan awal dari sebuah kehancuran besar, udara mulai terasa dingin dengan hadirnya kegelapan yang menyelimuti alam semesta.


Saat itu Xiuhuan tengah meratapi kesedihannya karena teman yang selama ini selalu berada di sampingnya harus tewas di tengah-tengah peperangan yang sedang terjadi, dengan raut wajah yang sangat marah ia meninggalkan tubuh Chang yi dan berjalan mendekati Jiao Long yang sekujur tubuhnya di selimuti oleh sihir hitam.


Pada langkah ketiganya, dia berubah menjadi seekor naga putih dengan tubuh yang sangat besar.


"Bagi ku ini adalah awal dari perdamaian, perang ini akan menjadi saksinya."


Xiuhuan terlihat melepaskan bola api besar dari mulutnya dengan sebuah anak panah yang terhubung dengannya, yang kemudian itu melesat dengan cepat menuju arah Jiao Long. Saat anak panah itu mengenai dirinya, sebuah ledakan besar terdengar yang menyebabkan seluruh alam semesta bergetar hingga manusia pun merasakan kengerian perang itu.


...****************...


Tiga tahun sebelum perang besar terjadi seluruh alam semesta tampak begitu damai...


"Di sebuah gunung yang orang-orang memanggilnya gunung roh terdapat sebuah hutan yang sering di sebut orang sebagai hutan suci. Hutan itu dihuni oleh sekelompok roh yang dapat berubah wujud menjadi naga putih. Hutan itu juga menjadi rumah bagi mereka para roh berwujud naga putih sejak dahulu kala," ujar seorang wanita tua yang tangan kanannya membawa tongkat panjang untuk menopang tubuhnya yang sudah renta. Ia dikelilingi oleh anak-anak kecil yang mendengarkan ceritanya sambil duduk.


"Mereka manusia seperti kita, yang membedakannya adalah mereka bisa berubah wujud menjadi naga putih atau yang sering kita sebut sebagai roh. Tidak hanya itu, sekujur tubuh mereka dipenuhi oleh sihir yang tidak biasa, kekuatan mereka sangat besar, bahkan pernah ada yang membuat bukit besar runtuh hanya dengan satu jentikan jari."


Setiap kalimat yang dia ucapkan membuat anak-anak yang mendengarkannya terkagum-kagum dengan ceritanya.


"Mereka sangat hebat"


"Aku juga ingin menjadi seperti mereka"


"Bisakah aku bertemu dengan mereka?"


Anak-anak itu mengungkapkan kekaguman mereka saat itu, mereka juga menggambarkan roh-roh itu dengan cara mereka sendiri secara imajinasi.


"Orang biasa seperti kita tidak bisa menjadi bagian dari mereka, orang biasa yang tidak memiliki ikatan darah dengan mereka jelas berbeda"


Suasana kota yang ramai dan suara bising orang-orang yang berlalu lalang seakan menjadi angin lalu bagi anak-anak itu karena mereka mendengarkan cerita dengan sangat serius.

__ADS_1


"Sampai saat ini belum pernah ada manusia yang melihat hutan suci dan bertemu dengan mereka, sudah ribuan orang mencari keberadaan mereka namun tidak ada yang berhasil" lanjutnya sembari memandang gunung yang menjulang tinggi di sebelah utara yang jaraknya puluhan kilometer dari kota tempatnya berada.


Pada saat yang sama, di sana, di dalam hutan yang penuh dengan pepohonan tinggi dan besar, terdengar suara kicauan burung yang saling bersahutan. Suara mereka yang berisik dapat terdengar hingga ke seluruh penjuru hutan.


Tetapi, satu hal yang menarik perhatian dari semua itu adalah seekor naga putih kecil berada di atas salah satu cabang pohon yang menghadap pada hutan dan pegunungan jauh di depannya.


Yang sedang di lakukannya adalah tidur dengan sinar mentari menyinari tubuhnya, sesuatu yang menarik perhatiannya adalah sisiknya yang berwarna putih dan berkilau. Di dahinya juga terdapat sebuah tanda api.


Di tengah tidur nyenyak nya, seekor burung kecil tiba-tiba menghampirinya, ia kemudian mematuk kepala hewan yang sedang tidur itu, entah apa maksudnya.


Burung kecil itu tiba-tiba terbang menjauh ketika naga kecil itu terbangun, melihat hal itu ia tidak tinggal diam dan kemudian mengejarnya dengan terbang menggunakan sayap kecilnya.


Ia terlihat terampil dan lincah seraya menghindari pepohonan yang ada di sana. Mungkin alasan burung kecil itu melakukan hal itu lantaran dia ingin bermain dengannya? oleh karena itu dia mematuk kepalanya.


Dari jauh keduanya terlihat seperti sedang bermain, namun kenyataannya tidak. Sayangnya saat terbang dengan kecepatan tinggi naga kecil itu lengah dan melewatkan sebuah pohon besar di depannya, pada akhirnya ia menabrak pohon tersebut dan membuatnya tumbang.


"BRUK!"


"Argh ... burung sialan!"


Tidak lama kemudian terdengar suara seorang pria mengerang kesakitan dari tempat hewan itu baru saja jatuh.


Dari dekat, seorang pria bertubuh tinggi dan kekar tengah duduk sambil memegangi pinggangnya karena baru saja jatuh dari ketinggian. Matanya memelototi burung yang terbang semakin tinggi dan menjauh darinya, meskipun ia terlihat dingin sikapnya sangat bertolak belakang dengan wajahnya itu.


"Kau pasti kan ku balas," ujarnya seraya berdiri.


...****************...


Pria itu kini berada di dekat sebuah danau yang cukup besar, di sana juga terdapat mata air yang mengalir dari sungai tak jauh dari situ. Ia sedang membasuh wajahnya dengan air danau menggunakan kedua tangannya.


"Apa yang aku lakukan? mengapa aku melakukan hal bodoh itu? pada akhirnya aku sendiri yang menderita" gumamnya seraya tetap membasuh wajahnya.


Setelah selesai ia kemudian memandangi danau di depannya dan membiarkan wajahnya basah. Pria itu tampak menghela nafas dan kemudian berbicara pada dirinya sendiri.


"Tidak, aku harus menyukainya. Karena selama ini dia juga teman yang menemaniku di sini, tapi caranya menggangguku saat aku tertidur sudah keterlaluan."


Dia kemudian berdiri dan beranjak menjauh dari danau, lalu duduk di salah satu cabang pohon tempat sebelumnya dirinya tidur. Setelah itu, dia meletakkan tangan kanannya di lutut kakinya dan bersandar pada pohon sembari melihat tebing tinggi yang keberadaannya jauh dari matanya memandang.


Xiuhuan, roh naga putih yang tinggal di hutan suci. Semua orang yang sama sepertinya memilih untuk pergi ke alam mereka termasuk keluarganya untuk menjalani kehidupan yang damai jauh dari manusia yang sedang berperang saat itu.


Dia dulu tinggal berdua dengan kakak laki-lakinya di sana, akan tetapi tidak lama kemudian kakaknya juga memutuskan untuk pergi menyusul yang lain, alasannya dia merasa bosan di hutan karena hanya ada mereka berdua.


Ketika kakaknya mengajaknya untuk ikut, Xiuhuan menolak karena baginya hutan suci lebih menyenangkan dari pada harus tinggal bersama banyak orang.


Xiuhuan lebih menyukai tempat yang tidak terlalu ramai dan juga sepi, ketika berada dekat dengan orang atau mendengar suara riuh dia akan merasa terganggu karena Xiuhuan membenci keramaian.

__ADS_1


Setelah kakak laki-lakinya pergi, satu-satunya teman Xiuhuan hanyalah suling bambu putihnya dan terkadang burung kecil tadi. Dia sangat menyukai alat musik itu bahkan hampir setiap hari ia memainkannya untuk menghilangkan suasana hening di hutan suci.


"Sama seperti biasa" bisiknya, lalu mengeluarkan sulingnya.


Xiuhuan mulai meniup benda itu dan memainkan lagu yang menenangkan. Burung-burung yang tadinya berkicau kini terdiam seakan ingin mendengarkannya.


Pohon yang tertiup angin juga terlihat menikmati lagu tersebut, angin sepoi-sepoi tak henti-hentinya berhembus melewatinya dan sinar matahari pagi yang hangat juga menemaninya.


XIuhuan mulai memejamkan matanya dan memainkan sebuah lagu menenangkan, setelah mencapai nada terakhir ia kembali membuka matanya dan melihat ke arah barat.


"Ada banyak manusia yang tinggal di sana"


Entah apa yang dia pikirkan, Xiuhuan tidak berhenti melihat ke sana. Setiap hari setelah memainkan serulingnya atau sebelum memainkannya pria itu selalu melihat ke arah barat.


Lamunannya seketika buyar saat tiba-tiba perutnya mengeluarkan bunyi yang menandakan dia lapar.


"Ahh astaga, aku lupa belum mengisi perut ku, " dia terlihat memegang perutnya yang baru saja berbunyi.


Xiuhuan kemudian lompat dari atas pohon yang cukup tinggi tempat sebelumnya dia berada, dia hendak mencari makanan untuk mengisi perutnya. Hingga akhirnya Xiuhuan tiba di salah satu pohon yang penuh dengan buah apel, tanpa fikir panjang Xiuhuan lalu memetik salah satu apel dan memakannya.


"Satu masih kurang" ujarnya sembari mengunyah apel di mulutnya.


Dia kemudian turun dan mendekati pohon tersebut, setelah itu menyikutnya dan berkata. "Aku masih lapar"


Beberapa buah apel kemudian jatuh, Xiuhuan lalu mengumpulkannya satu per satu dan memakannya di bawah pohon.


Xiuhuan merupakan roh yang tidak terlalu kuat seperti yang lain karena Jiwa murni dalam tubuhnya cacat atau tidak sempurna saat dia di lahirkan.


Meskipun begitu Xiuhuan tidak pernah memikirkannya, dia tidak peduli jika tidak memiliki sihir sebanyak orang-orang sepertinya. Sebaliknya, XiuHuan selalu ingin hidup seperti orang biasa yang tidak dikelilingi oleh sihir, itu sebabnya dia selalu melihat ke arah barat karena di sana banyak orang hidup dan menjalani kehidupan yang biasa.


Kadang kala dia juga berpikir untuk tinggal di antara mereka, tetapi karena tidak suka keramaian Xiuhuan ragu untuk melakukannya dan tidak pernah turun dari gunung.


Terakhir kali dia berbicara dengan kakaknya sekitar enam puluh tujuh tahun yang lalu, karena itu sekarang dia mulai merasa kesepian lantaran terus hidup sendiri di hutan.


"Apa aku harus kembali dan berkumpul dengan roh-roh lain?"


Sejenak Xiuhuan melamun dan memikirkan apa yang akan dia lakukan karena sekarang dia sudah merasa bosan dengan hutan itu seperti kakaknya.


Dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada apel di tangannya yang telah di gigitnya dan melirik sebentar ke arah barat.


"T-tidak"


"Sekarang bukan itu yang aku inginkan," Xiuhuan mengeluarkan serulingnya dan memainkannya dengan salah satu tangannya.


"Aku tidak akan kembali sebelum melihat kehidupan manusia, aku akan berjalan dari barat dan kembali dari timur untuk bisa merasakan kehidupan mereka dan menghilangkan rasa penasaran ku"

__ADS_1


__ADS_2