TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.

TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.
CHAPTER 2 (MENINGGALKAN GUNUNG ROH)


__ADS_3

Pagi hari setelah matahari terbit Xiuhuan memutuskan untuk turun dari gunung dan memulai perjalanannya, sebelum itu sambil menggigit sebuah apel di mulutnya dia sedikit memperbaiki penampilannya agar orang lain tidak mengetahui identitasnya.


Pertama dia menghapus tanda di dahinya dengan mengusapnya menggunakan dua jari kirinya, kemudian dia mengikat rambutnya yang terurai dan mengubah warnanya menjadi hitam, dan terakhir dia merapikan pakaian yang di kenakan-nya.


Setelah merasa siap Xiuhuan mulai melangkahkan kakinya untuk turun dari gunung roh, namun sebelum itu dia sedikit bergumam. "Dalam beberapa tahun ke depan aku pasti akan kembali dengan diriku yang sama."


Xiuhuan kemudian mulai berjalan menuruni gunung sembari meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya, sedikit pun dia tidak menoleh ke belakang dan dari wajahnya terlihat begitu percaya diri, lantaran jauh sebelumnya Xiuhan telah memikirkan keputusannya itu untuk menjalani hidup di antara manusia dan dia yakin keputusannya itu benar.


Selama ratusan tahun Xiuhan tidak pernah meninggalkan hutan suci, ini adalah pertama kalinya dia turun gunung dan meninggalkan tempat yang selama ini dia katakan sebagai rumah yang paling menyenangkan jauh dari huru-hara juga tanpa manusia.


Sekarang karena sudah merasa bosan dengan kehidupannya, Xiuhuan memutuskan untuk membiasakan diri bergaul dengan orang-orang dan menghilangkan rasa ingin tahunya tentang kehidupan orang-orang biasa sebelum dia kembali ke alamnya.


Berjalan dari barat dan kembali dari timur, adalah janjinya kepada dirinya sendiri yang akan memulai perjalanannya mengelilingi dunia manusia, Xiuhuan akan memulai perjalanannya dengan berjalan ke arah barat dan kembali dari timur.


...****************...


Setelah berjalan cukup jauh akhirnya ia menemukan sebuah kota yang penuh dengan aktivitas manusia. Sebelum berjalan melewati gerbang masuk Xiuhuan sempat melirik nama kota yang tertulis di papan kayu di sebelahnya.


Kota ini di panggil kota seribu kedamaian. "Mari kita lihat apakah nama kota ini menunjukkan kedamaian di dalamnya?" bisiknya seraya tersenyum kemudian berjalan melewati gerbang masuk.


Begitu masuk ke dalam ia di suguhi pemandangan orang-orang yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Sambil berjalan perlahan matanya mengamati sekelilingnya, beberapa orang di sana tengah menjajakan dagangan mereka dan ada juga yang sekedar melihat-melihat kota.


Tidak hanya itu, di sana juga beberapa orang terlihat tengah memainkan alat musik tradisional yang menambah suasana damai di kota tersebut, anak-anak kecil berlarian sambil tersenyum dan tertawa menunjukkan bahwa mereka terlihat bahagia.


Arti dari nama kota itu memang damai, wajah cerah orang-orang di sana juga menunjukkan bahwa mereka menyukai tempat tinggal mereka.


Xiuhuan menghentikan langkah kakinya lalu memejamkan mata sambil mendengarkan suara-suara riuh di sekelilingnya, pendengarannya terfokus pada musik dan juga suara yang dikeluarkan oleh orang-orang. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggunya, ia mendengar seseorang berlari ke arahnya yang berdiri di tengah kerumunan.


"Pencuri!" teriak seorang wanita.


Namun Xiuhuan mengabaikannya dan terus mendengarkan suara riuh di sana, dan tidak lama kemudian pendengarannya yang tajam mendengar suara seseorang berlari terengah-engah dan mendekatinya.


"Pencuri! tolong tangkap dia!"


Ternyata pencuri itu berlari mendekatinya dan saat mereka berpapasan hanya dengan satu tangan Xiuhuan menangkapnya dengan memegang kerah bajunya. Pencuri itu sekarang tidak bisa lari karena Xiuhuan menahannya.


"Jangan ikut campur, lepaskan!" ujarnya sembari menatap Xiuhan dengan wajah panik lantaran jika Xiuhuan tidak melepaskannya dia pasti akan tertangkap karena dari jauh orang-orang terlihat berlari mengejarnya bahkan sudah hampir dekat.


Xiuhuan kemudian membuka matanya dan melihatnya, sambil tersenyum dia berkata.


"Kau tertangkap."


Orang itu kemudian mencoba melepaskan tangan Xiuhuan yang memegang kerah bajunya, tetapi dia tidak bisa melakukannya dengan mudah karena kekuatan manusia roh itu sangat kuat, dan orang biasa tidak mungkin bisa menandinginya.


Sembari tersenyum Xiuhuan memperhatikan orang yang mencoba melepaskan tangannya yang menahannya untuk pergi.


"Lepaskan aku!, "kepanikan terlihat jelas dari wajahnya begitu juga dengan keringat dingin yang terpampang jelas di dahinya.


"Mengapa tangan mu begitu kuat?"


"Tidak peduli seberapa keras kau mencoba, kau tidak akan bisa melepaskannya"


Orang-orang yang mengejarnya kini sudah dekat di hadapannya, kemarahan terlihat di wajah mereka seraya membawa tongkat kayu yang siap untuk memukulnya.


"Hah!"


Pencuri itu semakin ketakutan, dia kemudian hendak melayangkan pukulan kepada Xiuhuan untuk menjauh darinya. Xiuhuan menyadarinya dengan cepat dia menarik tangannya dan melemparkannya ke hadapan orang-orang itu.


Wanita yang di duga korbannya kemudian mengambil kantong berisi uang yang ada di tangannya. Pria itu ternyata baru saja mencuri dan melarikan diri setelah mendapatkan barang yang dia mau, tetapi wanita itu melihatnya lalu berteriak dan orang-orang yang mendengar teriakannya pun mengejarnya.


Saat orang-orang tengah lengah pencuri itu hendak melarikan diri tetapi mereka menangkapnya dan memarahinya di sana.


"Ma-Maafkan saya," ujarnya yang ketakutan lantaran orang-orang akan memukulinya.


"Biarkan dia pergi jangan lakukan apa pun kepadanya," sambung wanita itu yang melihatnya.


"Terima kasih, terima kasih."


"Ini, aku tahu mengapa kau melakukannya. Seharusnya kau mencari pekerjaan bukan mencuri," lanjutnya seraya memberinya uang dari kantongnya.


"Ba-Baiklah."

__ADS_1


Pria itu kemudian pergi setelah menerimanya, dan orang-orang yang berkumpul mereka semua membubarkan diri meskipun mereka kecewa karena membiarkannya pergi.


"Tempat ini tidak benar-benar di penuhi dengan kedamaian," gumam Xiuhuan sambil melihat ke arah beberapa orang yang terlihat marah.


"Terima kasih, jika anda tidak menangkapnya mungkin uang ini tidak akan kembali ke tangan saya" ujar wanita tadi yang masih berdiri di depannya.


Xiuhuan kemudian mengalihkan perhatiannya kepada wanita itu dan tersenyum padanya. "Lain kali anda harus berhati-hati"


Setelah mengatakan itu Xiuhuan pergi berjalan menjauh darinya, wanita itu melihatnya berjalan semakin jauh membelakanginya. Tidak lama dia juga berjalan ke arah yang berlawanan dengan Xiuhan.


...****************...


"Kota yang menarik, " tanpa henti Xiuhan melihat sekelilingnya dan menikmati suasana kota itu.


"Roh-roh yang tinggal di gunung itu sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu."


Tetapi mendadak dia menghentikan langkah kakinya dan memperhatikan seorang wanita tua bersama beberapa anak kecil yang duduk tidak jauh dari situ, Xiuhan mendengar perkataan wanita tua itu tentang roh-roh yang tinggal di hutan suci.


Karena penasaran Xiuhuan berjalan sedikit lebih mendekatinya dan mendengarkan apa yang wanita tua itu katakan.


"Mereka hidup seperti kita manusia, memiliki keluarga dan teman"


Pria itu tersenyum mendengar kata-katanya, dia mulai mengingat kehidupannya di hutan bersama roh-roh lainnya.


"Tapi manusia jahat yang haus akan sihir berusaha memburu mereka dan ingin mengambil jiwa murni yang berada di dalam tubuh mereka"


"Apakah mereka berhasil mengambilnya?" tanya salah seorang anak laki-laki.


"Tidak, mereka tidak berhasil karena tidak ada satu pun manusia yang bisa menemukan hutan itu sampai detik ini."


Xiuhuan sekarang menunjuk kan senyum tipis lantaran dia juga teringat kejadian menyedihkan yang menimpa mereka saat dia masih kecil.


Saat Xiuhuan berusia sepuluh tahun sebuah kejadian mengerikan terjadi. Dimana para roh tiba-tiba di serang oleh ratusan manusia yang dicurigai pengguna sihir hitam.Entah dari mana mereka mengetahui lokasi hutan suci, karena selama ini manusia hanya mengenal gunung roh bukan hutan keramat.


Mereka menyerang para roh bahkan menculiknya untuk dijadikan budak, ada juga yang hanya mengambil kekuatan jiwa murni yang ada di dalam tubuh roh yang mereka tangkap agar mereka dapat hidup abadi dan memiliki sihir yang sangat besar.


Jiwa murni sendiri merupakan salah satu jiwa yang ada di dalam tubuh roh setelah jiwa kehidupan,


Para roh tidak terima dengan perlakuan manusia yang seenaknya memasuki wilayah mereka. Perang besar pun pecah, yang mana hari itu adalah pertama kalinya terjadi perang antara makhluk dari dua alam yang berbeda.


Perang baru berhenti setelah salah satu roh menghancurkan bukit besar dan menjatuhkan pecahannya pada ratusan manusia jahat yang haus akan sihir itu. Dan sejak saat itu para roh lebih waspada terhadap manusia, mereka juga tidak melakukan kontak apa pun dengan manusia.


Hingga ratusan tahun berlalu dan kejadian tersebut perlahan mulai di lupakan, hingga saat ini hanya para roh yang tahu apa yang terjadi ratusan tahun yang lalu, tidak dengan manusia. Yang mereka ketahui hanyalah cerita sepintas tentang salah satu roh yang pernah menghancurkan sebuah bukit besar.


Mereka tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, dan mereka juga tidak tahu bahwa roh-roh dan manusia dahulu pernah bertemu dan menjalin persahabatan.


"Kita jangan mengganggu kehidupan mereka, biarkan mereka hidup dengan tenang dan damai di sana,"


"Dia benar jangan ganggu kehidupan kami," gumam Xiuhuan yang terlihat bersedih.Wanita tua itu ternyata tidak sengaja melihatnya, dia kemudian berjalan menghampiri Xiuhan.


"Apakah kau seorang musafir?" tanya wanita itu padanya.


Xiuhuan tidak langsung menjawabnya, sesaat dia memperhatikannya yang terlihat bungkuk dan membawa tongkat kayu.


"... Ya, saya seorang musafir."


"Berhati-hatilah nak, saat kau mengunjungi tempat asing jaga dirimu dengan baik. Karena tidak semua manusia itu memiliki hati yang baik," mendengar jawabannya dia kemudian memegang salah satu pundak Xiuhuan.


"Terima kasih telah mengingatkan saya, saya akan selalu berhati-hati dalam perjalanan."


Setelah itu dia tidak berkata apa-apa dan berjalan pergi, tampak dari langkah kakinya tidak secepat saat dirinya masih muda.Xiuhuan mengamatinya sejenak sambil tersenyum, ia kemudian melihat ke arah anak-anak kecil yang masih berada di sana.


"Hei anak kecil apa kalian menyukai cerita tentang roh?"


"Menurut kalian bagaimana mereka?"


Salah satu anak perempuan kemudian mendekatinya, melihat hal itu Xiuhuan kemudian bertinggung dan melihatnya lebih dekat.


"Gadis cantik katakan, bagaimana?"


"Tinggi."

__ADS_1


"Hmm lanjutkan."


"Besar dan menakutkan"


"Hah! Itu tidak benar!"


Merasa jawabannya tidak benar, Xiuhuan kini mengalihkan perhatiannya pada anak-anak lain dan menanyakan pertanyaan yang sama.


"Menurut kalian seperti apa para roh itu?"


"Mereka memiliki tanduk dan gigi yang tajam," jawab seorang anak laki-laki.


"Mereka juga memiliki jenggot tebal dan mata merah." sahut lainnya.


Mendengar jawaban mereka Xiuhuan lantas tidak menerimanya, dia mulai menunjukkan wajah sedikit kesal tapi masih bisa tersenyum.


"Mengapa kalian membayangkan mereka seperti itu? Begini, sebenarnya mereka selain memiliki tubuh tinggi dan besar, mereka juga terlihat kuat. Dan yang paling penting roh-roh pria itu memiliki wajah yang tampan."


"Bohong!"


"Itu benar."


Anak-anak itu tiba-tiba lari meninggalkannya sendirian sembari mengejeknya. "Hei, mau ke mana kalian!"


"Apa yang aku katakan adalah benar, mereka malah lari dan tidak mempercayai ku,"


"Mengapa anak kecil seperti mereka memiliki imajinasi seperti itu? apakah wanita tua itu yang memberitahu mereka?"


Xiuhuan kembali melayangkan pandangannya pada kota seraya berjalan dan melupakan anak-anak itu, lama berkeliling dia melihat sebuah tempat makan di sana dan karena penasaran Xiuhuan pergi berkunjung ke tempat itu.


"Seperti apa rasanya makanan manusia?"


Begitu masuk, Xiuhan kemudian duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari pintu masuk, setelah itu dia memanggil salah satu pelayan.


"Hei!"


"Apa yang anda inginkan?" tanya pelayan itu.


"Berikan aku makanan yang orang-orang sering menyebutnya daging."


"Baik tunggu sebentar."


Sambil menunggu pelayan itu kembali, Xiuhuan memperhatikan orang-orang yang ada di sana, Xiuhan benar-benar merasa terganggu karena suara mereka yang sangat keras. Tidak hanya itu, dia juga tidak terlalu suka melihat orang meminum anggur.


"Hahh aku harus membiasakan diri," bisiknya sembari memejamkan mata.


Akhirnya setelah lama menunggu pelayan tadi kembali dengan membawa makanan.


"Apakah anda benar tidak ingin memesan anggur?" tanyanya setelah meletakkan makanan dan teh di atas meja.


"Tidak terima kasih"


Setelah pelayan itu pergi Xiuhuan mulai menyentuh makanannya, namun dia sedikit ragu saat ingin memakannya tetapi karena penasaran Xiuhuan harus mencobanya. Xiuhuan kemudian mengambil sedikit makanan dari mangkuk menggunakan sumpit dan memakannya. Saat itu menyentuh lidahnya dia sangat terkejut saat mengetahui rasanya.


"Ini??, "Xiuhuan mulai memakannya dengan lahap dan hendak menghabiskannya.


"Jadi seperti ini rasanya daging? sudah ratusan tahun aku hidup dan tidak pernah memakannya,"


Beberapa saat kemudian makanan itu sudah tidak terlihat di dalam mangkuk dan piring, manusia roh itu menghabiskannya tanpa sisa.


"Mereka membantai semua orang yang tinggal di sana tanpa ampun, bahkan ada yang dibakar bersama dengan rumahnya."


Sambil meminum teh Xiuhuan mendengar percakapan tiga orang yang baru saja memasuki tempat itu, diam-diam telinganya menguping semua yang mereka katakan. "Malam itu adalah malam yang mengerikan bagi semua orang yang tinggal di sana"


"Itu salah mereka sendiri mengapa mereka membangun sebuah desa di daerah yang penuh dengan bandit!"


"Mereka hanyalah orang biasa, bagaimana mereka bisa tahu bahwa tempat itu adalah wilayah para bandit kejam?. Dan selain itu, jika tempat mereka sebelumnya tidak di rebut paksa oleh Raja Jiao Long mungkin semua ini tidak akan terjadi pada mereka."


Setelah selesai meminum tehnya Xiuhuan kemudian meletakkan sekantong uang di atas meja dan pergi, saat dia melewati orang-orang yang masih berdiri di depan pintu Xiuhan tidak mengatakan apa pun pada mereka. Setelah dirinya pergi pelayan sebelumnya datang kembali menghampiri meja itu untuk membawa mangkuk dan piring kotor, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sekantong koin emas di atas meja.


"Uang ini terlalu banyak" ujarnya sembari matanya mencari-cari orang yang baru saja makan di meja itu.

__ADS_1


__ADS_2