TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.

TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.
CHAPTER 20 (TEMAN MASA KECIL)


__ADS_3

"Itu artinya ...?"


Merasa ada seseorang memegang salah satu bahunya, Chang yi lantas berbalik saat setelah ia menutup buku yang tengah di bacanya.


Begitu melihat ke belakang ternyata orang yang baru saja memegang bahunya ialah seorang wanita dengan pakaian menyerupai bangsawan tengah berdiri sembari tersenyum memandangnya. Dari wajahnya itu Chang yi ternyata mengenalinya, ia adalah Jia li yang tidak lain teman masa kecilnya.


"Lama tidak bertemu, "wajahnya teramat cantik dengan sebuah hiasan kepala dari emas, kulitnya seputih dan selembut kapas di sertai pakaian yang dikenakannya berwarna putih.


Untuk sesaat Chang yi terdiam memandang ke arahnya, diam-diam matanya mengamati setiap bagian dari wajahnya. "Ba-Bagaimana kabar mu?," bukan kehendaknya bertanya seperti itu, mulutnya tiba-tiba saja berbicara dan mengucapkan sebuah kalimat yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.


Jia li hanya tersenyum dan terlihat duduk di sebuah kursi yang berada di sebelahnya, matanya tampak tertuju pada buku yang tengah di baca pemuda itu, kemudian tangan kanannya menggeser buku tersebut tanpa Chang yi sadari.


"Negeri Nan yun? kau percaya tempat itu ada?"


Entah kenapa pemuda itu sesaat terpaku sembari tidak berhenti memandang Jia li, namun akhirnya ia kembali sadar setelah mendengar suara lembutnya.


Chang yi yang juga baru menyadari bukunya kini berada di depan Jia li terlihat sedikit terkejut, "buku itu?"


"Baru saja aku menggesernya"


"A-Aku tidak menyadarinya, "wajahnya tampak malu dan seperti berusaha menutupinya dari Jia li.


Jia li kembali tersenyum, ia lalu berkata. "Sepertinya tuan muda tertarik dengan negeri Nan yun"


"Ah tidak, aku hanya sedikit penasaran. Baru saja seorang pedagang bercerita padaku tentang tempat itu, dan karena ceritanya itulah entah mengapa aku jadi penasaran"


"Begitu ya, jujur saja sejak kecil aku sangat ingin pergi ke sana dan melihat bagaimana dan ada apa di sana? satu hal yang selalu aku harapkan jika menemukan tempat itu adalah, aku ingin bertemu roh" ujar Jia li.


"Pedagang itu mengatakan pada ku hanya orang yang tersesat dan tidak tahu arah tujuan hidup yang pasti akan menemukannya"

__ADS_1


"Ya itu benar, mungkin suatu saat nanti ketika aku putus asa, aku akan pergi berkelana untuk mencarinya"


Saat keduanya tengah berbicara Chang yi baru sadar ternyata wanita itu yang tidak lain teman masa kecilnya masih mengingatnya. "Tunggu, bagaimana kau mengenali ku? terakhir kita bertemu saat kecil. Mengapa kau bisa tahu ini aku?"


"Saat kecil aku selalu melihat tuan muda pergi mengunjungi tempat ini, karena itulah saat mendengar suara langkah kaki mu aku langsung mengenalnya. Semenjak tuan muda pergi aku selalu menunggu di sini dan berharap kita akan bertemu"


Perkataan Jia li membuatnya terenyuh, Chang yi tidak menyangka ternyata selama ini ada orang yang selalu menunggunya. "Aku tidak menyangka kau masih mengenal ku walau sudah beberapa tahun lamanya kita tidak bertemu"


"Tuan muda sangat mudah ku kenali, bahkan hanya dari langkah kaki saja aku sudah tau itu adalah kau"


"Lantas bagaimana kau mengenali ku?, "Jia li menanyakan hal yang sama pada Chang yi.


"Saat pertama kali tiba di sini aku melihat sebuah iring-iringan kerjaan dan melihat seorang wanita muda ada di tengah iring-iringan itu, pada detik itu juga aku tahu itu adalah kau"


"Senang mendengarnya ... andai saja kejadian itu tidak terjadi tuan muda pasti masih sama seperti dahulu, "Jia li yang pada awalnya tersenyum kini tampak menunjukkan wajah sedih.


"Semua itu sekarang sudah jadi masa lalu, aku sangat senang karena kau ternyata baik-baik saja. Sungguh tidak menyangka dan tidak dapat di percaya Jiao long masih memiliki hati seorang ayah"


"Jia li meski pun begitu kau harus tetap berhati-hati, Jiao long memang ayah mu tetapi dia juga orang yang sudah membuat banyak kekacauan. Karenanya manusia dan roh tidak di izinkan lagi bertemu apa lagi menjalin sebuah hubungan pertemanan"


"Aku akan selalu mengingat perkataan mu, "wanita itu kembali tersenyum, melihat itu Chang yi juga ikut tersenyum.


Tetapi mendadak Chang yi yang semula tersenyum sekarang mulai memasang wajah serius, bersamaan dengan itu seorang pemuda dengan beberapa pengawal datang ke sana, saat ia memasuki perpustakaan dan melihat keduanya ada di sana, pemuda itu langsung menunjukkan ekspresi tidak suka lantaran melihat apa yang sekarang ada di hadapannya. Sebentar kedua bola matanya saling beradu pandang dengan Chang yi, yang kemudian setelah itu ia berjalan mendekati mereka berdua.


"Jia li? ,"dengan nada lembut orang itu yang tidak lain adalah tunangannya sekarang tampak berdiri melihat Jia li.


"Aku dari tadi mencari mu"


Jia li kemudian berbalik dan melihatnya dengan menunjukkan raut wajah tidak suka. "Untuk apa mencari ku? bukankah kau sedang berlatih dengan paman Chang yang?"

__ADS_1


"Chang yang?, "mendengar nama itu tiba-tiba Chang yi juga ikut menyebutnya namun dari dalam batinnya.


"Aku tadi memang sedang berlatih dengannya, tapi saat seorang pelayan memberi ku kabar kau ingin menemui ku, aku lalu meminta izin padanya untuk pergi dan menemui mu"


Jia li tidak membalas perkataannya ia tampak berdiri dan sedikit pun tidak melihatnya, pandangan matanya justru malah dia arahkan pada Chang yi yang masih terduduk. "Aku harus pergi"


Chang yi yang sebelumnya duduk kini berdiri, setelah itu ia terlihat menganggukkan kepalanya. "Jika ada kesempatan kita pasti akan bertemu lagi"


"Itu pasti akan terjadi, "setelah mengatakan itu Jia li kemudian berjalan pergi keluar tanpa tunangannya Liu Changhai.


"Jia Li?, "Liu Changhai lantas mengejarnya, namun saat sebelum itu ia melihat Chang yi tengah tersenyum melihat ke arahnya, tidak lama ia pergi lari mengejar Jia li dengan di ikuti beberapa anak buahnya.


Saat semuanya sudah pergi Chang yi tampak berjalan mendekati pintu keluar dan diam-diam mengintip dari dalam melalui pintu yang sedikit terbuka. Ia sepertinya ingin tahu kemana orang-orang tadi pergi, namun sayangnya Chang yi tidak dapat melihat mereka. Ia lalu membuka pintu dan berjalan keluar, saat setelah menutupnya Chang yi kemudian berkata.


"Jadi dia melatih seorang anak bangsawan?"


Setelah itu Chang yi berjalan pergi hendak kembali ke penginapan dan memberitahu Xiuhuan tentang negeri Nan yun. Saat tiba di sana ternyata Xiuhuan tengah tidur lelap dengan posisi yang tidak karuan.


"Aku tidak yakin dia seorang roh" ujarnya yang tengah berdiri di depan pintu seraya menghadap Xiuhuan.


...****************...


Malam kini telah tiba kota terlihat hening lantaran orang-orang sudah tertidur, tepat di bawah rembulan seorang lelaki yang tidak di ketahui indentitasnya berdiri di antara bangunan rumah dengan jalan yang tampak sepi, sebagian wajahnya tertutup oleh sebuah kain hitam dan hanya terlihat kedua matanya saja. Dari dekat ia seperti tengah memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan tidak ada satu orang pun berada di luar, setelah merasa semua orang tidak ada yang keluar ia lalu berjalan mendekati istana dengan sekujur tubuhnya mendadak keluar sebuah sihir menyerupai darah berwarna merah.


Matanya menyorot tajam pada gerbang di depannya yang pada saat itu tertutup rapat, di sana juga terlihat dua orang prajurit bertubuh besar sedang berjaga, kedua prajurit itu ternyata menyadari kehadirannya dan saat mereka akan mendekatinya tiba-tiba dari belakang keduanya sebuah sihir menjalar mendekati mereka. Sihir itu dengan cepat mengikat kedua prajurit itu yang dimana itu semakin kencang.


"Apa ini?" Ujar salah seorang dari mereka yang kemudian melihat lelaki tidak di kenal itu berjalan mendekati gerbang, dan saat keduanya saling berhadapan serta bertatapan mata mendadak ia dan rekan prajurit lainnya berteriak karena ternyata sihir yang terikat di tubuh mereka mulai membakar keduanya, tidak memerlukan waktu lama kulit mereka perlahan mulai terkelupas yang apa bila menyentuh tanah itu akan menjadi abu.


Lelaki itu tiba-tiba menendang prajurit yang ada di hadapannya hingga membuatnya membentur gerbang yang menyebabkan gerbang terbuka, saat itu juga tubuhnya seketika menjadi abu. Rekannya yang melihatnya jelas ketakutan hal itu akan terjadi padanya, untung saja lelaki itu hanya membiarkannya dan ia berjalan memasuki gerbang hendak menuju istana namun tetap saja pada akhirnya tubuh prajurit itu juga menjadi abu.

__ADS_1


Saat berada di tengah gerbang ia tiba-tiba mengentikan langkah kakinya, pandangan yang pada awalnya melihat ke arah depan kini di arahkannya ke atas melihat seseorang melayang di udara sembari melihatnya dengan kedua alisnya yang di kerut kan.


__ADS_2