
"Sayang sekali padahal aku hampir membunuhnya"
"... Setelah lebih dari sepuluh tahun aku kembali ke sini. Jika adik ku masih ada, apa dia akan senang atau sebaliknya?, "awan kelabu mendadak terlihat jelas di kedua bola mata Chang yi dan melunturkan senyumannya, sejak tadi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya pada siapa pun.
"Apa aku akan berhasil? jika iya, setelahnya apa yang akan aku lakukan?"
Chang yi membuat pedang di tangannya menghilang, dia lalu berjalan membuka pintu dan keluar hendak berkeliling istana.
Bola matanya yang hitam pekat tidak berhenti melihat apa yang di lewatinya, serta kedua tangannya ia taruh di belakang pugung.
'Tempat ini ternyata tidak banyak berubah'
Sampai akhirnya langkahnya terhenti di tepi kolam besar yang di atasnya penuh dengan bunga teratai, kolam itu berada di halaman belakang area istana. Chang yi kemudian bertinggung dan mengambil air dari kolam tersebut menggunakan kedua tangannya.
Ia lalu meminum air jernih yang tergenang di kedua telapak tangannya itu dengan sekali tegukan.
"Hahh meski pun sama tetap saja rasanya berbeda" ujarnya seraya mengusap sedikit mulutnya yang basah lantaran air yang baru saja dia minum.
Chang yi kemudian berdiri dan ia menatap jauh ke sebrang kolam yang ada di hadapannya, di sana dia melihat Xue fang tengah berdiri memandangi kolam dengan tatapan kosong.
Melihat itu lantas membuatnya mengangkat sisi bibirnya dan berkata. "Eh? sepertinya ada yang sedang terpuruk ya?"
Setelah mengatakan itu Chang yi kemudian mendekati Xue fang, begitu tiba di dekatnya dia tidak langsung bertanya atau mengatakan apa pun. Beberapa detik matanya memandang wajah gadis itu yang masih manatap air kolam di hadapannya.
'Apa masalahnya sangat berat?'
"Apa tujuan mu?" tanya Xue fang yang ternyata menyadari kehadirannya.
"Eh? k-kau menyadari aku datang?"
Xue fang lalu berbalik dan melihat Chang yi. "Suara nafas mu membuat ku menyadari kehadiran mu"
"A-Apa? bagaimana bisa? itu di luar nalar. Aku saja-"
"Siapa kau! "gadis itu membuatnya berhenti bicara dalam sekejap hanya dengan mengarahkan pedang miliknya pada leher Chang yi.
Melihat pedang yang begitu dekat dengan lehernya membuat Chang yi menelan ludahnya sendiri karena takut, kedua jari tangannya lalu menggeser sedikit pedang seraya berkata. "Hei, tidak sopan mengarahkan pedang mu pada leher seseorang seperti ini"
"Aku bukan penyusup atau pun penjahat, kedatangan ku kemari dengan niat baik. Aku juga tidak sendirian, sekarang guru petapa yang datang bersama ku tengah mengobati tuan muda Liu Changhai di kamarnya"
"Petapa?" Xue fang terlihat mengerutkan kedua alisnya.
"Iya petapa ... a-apa ada yang salah?"
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk?"
"Ah itu ..."
__ADS_1
"Aku yang mengizinkannya, "sebelum menjawab, Jia li tiba-tiba datang dan memotongnya begitu saja.
"Kau? kenapa kau mengizinkan orang asing masuk?" tanya Xue fang.
"Salah satu dari mereka dapat menyembuhkan luka Liu Changhai, oleh karena itu aku mengizinkan mereka masuk"
"Cih kau begitu naif, bagaimana jika mereka memiliki niat jahat? kehadiran keduanya sangat tiba-tiba dan bertepatan setelah malam masuknya penyusup ke dalam istana"
Chang yi yang berdiri di antara keduanya mendadak membatu terdiam karena perkataan Xue fang.
'Seharusnya aku dan Xiuhuan datang satu atau dua bulan setelah malam kejadian itu, wajar saja dia dan Chang yang curiga pada kami yang datang tiba-tiba dan mengajukkan diri untuk mengobati Liu Changhai, kenapa kami begitu bodoh?'
'Kejadian tadi malam pasti sangat di tutup rapat oleh istana agar beritanya tidak tersebar ke penjuru negeri, mereka tidak akan membiarkan orang-orang tau. Selama ini mereka yang berada di luar sana sangat mengetahui tempat ini sulit untuk di tembus, bahkan pendekar kuat sekali pun. itu karena Jia long"
'Namun sekarang dengan mudahnya aku dan Xiuhuan masuk, apa mungkin Jia li mengizinkan kami masuk karena aku? selain itu bukankah seharusnya Chang yang sekarang sudah memberitahu Jia long tentang kehadiran kami? tetapi kenapa satu jam setelah kedatangan kami tidak ada reaksi apa pun dari pria tua bajingan itu?'
' ... Sepertinya ada sesuatu'
"Aku melakukannya karena tunangan ku!"
Lamunan Chang yi teralihkan saat Jia li berbicara dengan nada tinggi.
"Tunangan? sejak kapan kau mempedulikannya?" mata Chang yi kini teralihkan pada Xue fang yang tersenyum melihat Jia li begitu juga sebaliknya.
"Kau tidak perlu tau aku peduli atau tidak padanya, karena itu urusan ku"
Xue fang terlihat marah dan melihat Jia li dengan tatapan tajam. "Jika terjadi sesuatu apa kau akan bertanggung jawab?"
"Aku akan menanggung akibat dari perbuatan ku yang sudah membuat mereka berdua masuk, apa perlu aku menulisnya di atas kertas dengan darah ku sendiri?"
Xue fang hanya terdiam tidak membalas perkataanya kali ini, namun dia tiba-tiba melihat Chang yi. "Kau akan jadi yang pertama di antara kalian yang ku penggal"
"Pe-Penggal?"
Setelah mengatakan itu Xue fang pergi begitu saja meninggalkan Chang yi dan Jia li, setelah kepergiannya Jia li yang berdiri di sebelah Chang yi terdengar mengehela nafas begitu panjang, dan membuat kepala pemuda di sebelahnya itu di penuhi banyak pertanyaan.
"Sejak kapan kalian berdua tidak akrab?" tanya Chang yi.
"Saat setelah dia mengetahui kebenaran tentang dirinya" balas Jia li seraya melihat beberapa bunga teratai di atas kolam.
"Sikapnya berubah begitu saja, meski pun kami di besarkan dengan cara yang berbeda dahulu dia tidak pernah seperti itu padaku. Tuan muda juga tahu bukan? walau kalian tidak dekat, tapi kau selalu melihat ku berdiri di sampingnya"
"Pantas saja, saat aku kembali melihatnya setelah sekian lama dia terlihat berbeda. Apa ayah mu mengetahuinya?"
"Sepertinya begitu dan dia tidak peduli, wajar saja karena memang sudah seperti itu sikapnya sejak dahulu pada kami berdua"
"Tapi bukankah dia lebih mempedulikan mu di banding Xue fang?"
__ADS_1
Jia li sesaat membalik badannya melihat Chang yi, lalu menjawab pertanyaanya. "Memang, tapi semuanya berubah saat kekuatan di tubuhnya semakin kuat. Begitu juga dengan ketamakan yang semakin melekat dalam dirinya"
"Sepertinya dia bukan lagi harimau melainkan monster yang rakus akan kekuasaan, "Chang yi tersenyum sembari melipat kedua tangannya.
"Yang di katakan tuan muda benar, karena itu sekarang aku semakin membencinya. Setiap sihir di dalam tubuhnya bertambah kuat, bertambah juga rasa benci ku padanya"
Chang yi melihat gadis itu yang sekarang sedang tersenyum sendu menatap pantulannya sendiri di atas air, hari ini pertama kalinya Jia li menunjukkan raut wajah seperti itu padanya.
Dia yang selalu ceria, berubah begitu saja selama kepergiannya.
"Jia li, apa kau menderita?"
"Pada awalnya tidak, tapi semakin lama aku mulai merasakannya. Bahkan aku merasa hidup sendiri"
"Hei kenapa kau merasa sendiri? bukankah ada Liu Changhai tunangan mu? sebentar lagi dia akan menjadi orang yang selalu berada di sisi mu, cepatlah menikah agar kau tidak merasa sendirian dan kesepian lagi seperti ini"
"Dia memang tunangan ku tapi aku tidak menerimanya"
"Apa? maksud mu kalian di jodohkan?"
"Ya begitulah, dan aku tidak bisa menolaknya karena ayah ku yang terlihat sangat mengerikan itu"
Untuk kali ini Chang yi terdiam, dia hanya orang luar yang tidak bisa seenaknya ikut campur ke dalam masalah yang di alami Jia li saat ini.
Namun meski begitu, mereka adalah teman sejak kecil. Chang yi sedikit berjalan mendekati Jia li dan berdiri di sebelahnya, setelah itu ...
"Jia li aku minta maaf, karena bagian yang ini aku sendiri tidak tahu apa yang harus ku lakukan, tapi aku bisa mengatakannya. Jika kau tidak menyukainya jangan memaksa, namun sebelumnya apa kau pernah memberinya sedikit ruang?, "Chang yi memegang salah satu bahu Jia li dengan tangan kirinya, dan membuat gadis itu menoleh padanya.
"Tidak ada gunanya hanya diam saja dan merasa sendiri, perasaan seperti itu datang mungkin karena kau tidak membiarkan hati mu terbuka pada Liu Changhai. Cobalah untuk sedikit membukannya dan rasakan sendiri hasilnya nanti"
"Jika kau merasa nyaman terimalah dia dan minta padanya untuk membuat mu bahagia, tetapi jika sebaliknya ... bahagiakanlah dirimu sendiri. Ada banyak hal di semesta ini yang bisa membuat mu senang dan tidak merasa sendiri, kau harus memperluas tekad dalam hati mu. Jangan hanya diam saja, saat kecil aku selalu melihat mu patuh terhadap peraturan istana dan memendam dalam keinginan mu, buang jauh semua itu"
Pandangan Jia li perlahan mulai kabur lantaran tertutupi air mata yang tiba-tiba saja keluar, dia lalu lalu terlihat menunduk karena tidak ingin seseorang melihatnya. Tangisan yang selama ini selalu di tahannya kini mengalir dengan deras, dan terdengar oleh pemuda di sebelahnya.
'Ya kau harus melakukannya, dan susurilah jalan itu sampai menemukan setitik cahaya yang semakin lama cahaya itu akan semakin besar dan terang, karena setelah Jiao long tiada kau pasti akan sendiri. Melihat mu dan Xue fang yang sekarang tidak akrab, itu membuat ku khawatir. Dia mungkin akan meninggalkan mu suatu hari nanti karena Xue fang juga memiliki tempatnya sendiri untuk pulang'
'Perkataan mu yang mengatakan sangat benci pada Jiao long, di telinga ku tidak terdengar sebesar itu. Bagaimana pun juga darahnya mengalir di dalam tubuh mu, saat dia tiada nanti kau pasti akan menyesalinya"
Di sisi lain ...
"Nona Xue fang" ujar dua orang penjaga memberinya hormat saat Xue fang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Liu Changhai.
Wajahnya sangat tegas dan berjalan tegak dengan pandangan lurus tanpa sedikit pun teralihkan.
Saat tiba di dalam kedua matanya tertuju pada Xiuhuan yang tengah bermeditasi, tubuhnya di selimuti banyak cahaya putih yang sangat terang.
"Ternyata petapa itu adalah kau" gumamnya.
__ADS_1