TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.

TRACES OF THE FRIENDSHIP OF SPIRITIS AND HUMAN.
CHAPTER 21 (SOSOK DENGAN KAIN HITAM)


__ADS_3

Kedatangannya ternyata sudah dinantikan dan orang yang tengah menunggunya itu adalah Chang Yang tangan kanan Jiao long, Chang Yang tampak membawa sebuah pedang di salah satu tangannya seraya memandang ke arahnya, dari wajahnya ia sepertinya orang yang sangat tegas. Lelaki yang baru saja berjalan memasuki gerbang lantas mengehentikan langkahnya, kemudian ia juga melihatnya. Begitu kedua mata mereka saling bertemu dia tersenyum, itu terlihat dari caranya memandang Chang Yang.


"Tak ku sangka ternyata seseorang dari tadi menunggu ku, apa kau juga menyiapkan sebuah jamuan makan malam untuk ku?"


Chang Yang tidak menjawabnya tapi ia malah mengangkat pedang miliknya dan melemparkannya pada orang itu, pedang tersebut kemudian melesat dengan cepat mendekatinya.


Saat benda tajam mengarah padanya, orang itu berbisik. "Setidaknya jawab terlebih dahulu pertanyaan ku"


lalu setelahnya sihir kembali keluar dari tubuhnya yang dimana itu kemudian menahan pedang yang hampir menusuk keningnya, sesaat waktu seperti terhenti di sertai angin malam yang terasa dingin menghampiri keduanya. Chang Yang masih menatap kedua matanya, dan saat itu tiba-tiba sebuah perasaan aneh muncul dalam hatinya, ia merasa mata yang tengah menatapnya saat ini seperti tidak asing baginya. Sebuah ingatan masa lalu yang singkat juga kembali teringat dalam benaknya.


Kemudian di dalam hatinya dia berkata. "Apa itu kau?"


Dan tanpa dia sadari pedang yang baru saja di lemparnya itu sekarang dekat dengan lehernya bersama dengan seorang lelaki yang kini berada di belakangnya. "Apa yang sedang kau pikirkan? sebuah masa lalu?" ujar lelaki itu.


Chang Yang lalu memegang pedang yang akan menyayat lehernya hingga membuatnya terluka. Saat darahnya menetes, dari bawah seekor naga dengan tubuh menyerupai ular muncul saat sebuah pusaran angin namun berwarna hitam berputar di bawahnya. Naga itu kemudian memutari keduanya dan membuat sebuah pusaran lebih besar, dari balik pusaran itu lelaki yang masih berada di belakangnya melihat seorang wanita berdiri di depan gerbang menatap ke arah mereka.


Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada Chang Yang, namun orang yang tengah di sandra-nya itu ternyata tidak lagi bersamanya di sana, melainkan ia sekarang berada di samping wanita yang baru saja dilihatnya.


"Bagaimana bisa?, "Saat setelah ia mengatakan itu, naga yang dari tadi memutari tubuhnya mulai mendekat ke arahnya dari belakang. Untung saja lelaki itu menyadarinya dengan cepat dan ia berhasil menghindar.


Namun ternyata tidak sampai di situ naga yang di selimuti sihir hitam itu kembali menyerangnya dengan sebuah api besar yang keluar dari mulutnya, dan untuk kesekian kalinya ia berhasil menghindari serangan yang mengincar tubuhnya. Setelah itu sebuah pedang muncul dari tangannya dengan sebuah sihir, tubuhnya lalu terbang mendekati naga hendak membelahnya.


"Nona Xue Fang tidak seharusnya membantu saya" ujar Chang Yang pada wanita di sebelahnya.


Sembari tersenyum Xue Fang membalasnya. "Kebetulan aku baru kembali dari luar dan melihat mu tengah di sandra"


"Ada apa? mengapa kau bisa kalah darinya? bukankah kau cukup kuat untuk mengalahkannya?"


Chang Yang tidak membalas perkataan Xue Fang dan hanya terdiam, namun sesaat ia sedikit menoleh padanya dan setelah itu kembali melihat lelaki yang masih melawan naga milik Xue Fang. Matanya seperti ingin berusaha melihat lebih jelas wajah yang tertutup kain itu, dari tangan kanannya ia kemudian melemparkan sebuah benda kecil tajam menyerupai pisau padanya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu sebuah pedang berhasil mengenai tubuh naga tapi tidak sampai membelahnya, setelahnya baru pisau kecil milik Chang Yang menggores kain yang menutupi wajah lelaki itu. Xue Fang yang menyadarinya kemudian membuat hewan itu menghilang karena ternyata ia juga penasaran.


Sayangnya wajahnya masih tidak dapat dilihat lantaran lelaki itu memegang kain hitam yang baru saja akan membuat identitasnya terbongkar, perlahan ia lalu turun dan jarak antara mereka kini hanya beberapa meter.


"Biarkan kain yang menutupi wajah mu itu terlepas, mengapa kau sangat tidak ingin kami melihatnya?" ujar Xue Fang.


"Wajah mu juga tertutup kain, itu tidak ada bedanya dengan ku"


Merasa orang itu menyuruhnya membuka kain yang menutupi wajahnya, Xue Fang lalu melepaskannya dan menunjukkan sisi lain dirinya pada orang itu. Sungguh tidak di sangka ternyata ia wanita yang sangat cantik sama seperti adiknya Jia li, kekuatan pada sekujur tubuhnya yang selalu orang-orang anggap sebagai sihir jahat ternyata sangatlah berbeda dengan wajahnya. Saat sesuatu yang menutupi wajahnya ia buka, semua sisi jahat itu seakan menghilang dari dalam dirinya.


"Apa dia yang saat itu di bawa Jiao long setelah melakukan meditasi di hutan pedalaman? setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat wajahnya" batin lelaki itu.


"Aku sudah memperlihatkan wajah ku padamu, sekarang giliran mu"


Mendengar permintaan Xue Fang lelaki itu seperti tersenyum. "Itu tidak akan pernah terjadi"


"Aku sudah menduganya"


"Jiao long membuat masalah begitu besar dan menyebabkan semua orang sengsara, aku hanya penasaran dengan tujuan apa dia melakukan semua itu?"


Belum sempat Chang Yang menjawabnya tiba-tiba dari dalam istana Liu Changhai datang tergesa-gesa bersama dengan para pengawalnya. "Paman kau baik-baik saja? salah seorang pengawal ku mengatakan ada yang menyerang mu" ujarnya tanpa melihat seorang lelaki tengah berdiri di sebelahnya.


"Aku baik-baik saja"


"Sekarang katakan padaku dimana orang itu?, "Liu Changhai terlihat begitu marah, ia sepertinya tidak suka ada orang berusaha menyerang Chang Yang gurunya.


"Dia ada di sebelah mu"


Liu Changhai yang tidak menyadari orang yang di carinya berada di sebelahnya tampak menoleh melihatnya, tidak di sangka ia yang pada awalnya begitu berani sekarang terlihat bergetar seperti ketakutan. Lelaki itu lantas merasa heran dengannya, ia lalu sedikit berjalan mendekatinya. Namun baru saja kakinya melangkah Liu Changhai malah lari mendatangi Chang Yang dan bersembunyi di belakangnya.

__ADS_1


"Paman jangan biarkan dia membunuh ku"


Dari wajahnya Chang Yang sepertinya tidak suka dengan perilaku Liu Changhai yang terlihat lemah, ia bahkan memelototinya hingga membuatnya takut. Liu Changhai yang sebelumnya bersembunyi di belakangnya sekarang berdiri di sebelah Chang Yang dan tampak berusaha untuk tidak takut.


"Hei, mengapa kau lari aku bahkan belum menyerang mu?" teriak lelaki yang tadi hendak mendekatinya.


"Ti-Tidak perlu, kau tidak perlu mendekati ku"


Liu Changhai lalu melihat para pengawalnya seakan menyuruhnya untuk menyerang lelaki itu, dan benar saja tidak lama setelahnya para pengawal itu tiba-tiba melakukan serangan padanya, Pertarungan yang sempat terhenti pun kembali di lanjutkan. Lelaki itu melawan mereka dengan pedang yang masih ada di tangannya.


"Paman Chang Yang siapa dia?" tanya Liu Changhai.


"Entahlah, saat sebelum aku mengetahui identitasnya kau malah tiba-tiba datang dan menggagalkannya," Chang Yang memberi tatapan dingin pada Liu Changhai yang membuatnya terdiam dan tidak berani kembali berbicara.


Kembali pada pertarungan lelaki itu tampaknya berhasil menjatuhkan dua orang dari mereka dengan menebas masing-masing perut para pengawal Liu Changhai dan membuat pedang miliknya memiliki noda darah. Ia kemudian terlihat menyentuh darah yang masih segar itu dengan menggunakan dua jari kanannya, tidak lama darah di tangannya itu seketika menjadi sebuah kertas warna merah. Lelaki itu lalu melemparkan kertas tersebut pada para pengawal yang tersisa. Saat kertas mengenai salah seorang dari mereka, tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang menyebabkan mereka semua terlempar cukup jauh.


"Mengapa sihir jahat miliknya berbeda dengan kita?" tanya Xue Fang pada Chang Yang.


"Sihir itu terbentuk dari sebuah dendam dari orang-orang yang sudah tiada, anda pasti juga mengetahuinya di zaman sekarang orang biasa saja yang tidak memiliki dosa pun harus mati terbunuh oleh mereka yang lebih tinggi darinya"


"Banyak dari mereka yang kemudian menjadi arwah pendendam. Bukan hanya satu, untuk membentuk kekuatan seperti itu setidaknya di perlukan lebih dari seratus arwah. Dengan begitu seseorang yang menemukannya dan dapat mengendalikannya akan memilih kekuatan yang cukup besar, apa lagi jika orang itu mahir melakukan bela diri seperti lelaki itu"


"Benarkah? aku baru mengetahuinya itu sangat menarik"


"Tapi bagaimana bisa orang yang sudah tiada melakukan semua itu?" lanjut Xue Fang.


"Manusia biasa saja yang mempunyai sebuah dendam mereka akan melakukan banyak cara agar orang yang di bencinya merasa sengsara, begitu juga dengan para arwah itu mungkin saja mereka masih belum menerima kematian, karena itu lah kekuatan itu terbentuk apa lagi di kehidupan mereka yang baru sangat berbeda dengan kita saat ini. Jadi anggap saja mereka sama seperti kita"


Saat setelahnya Liu Changhai yang masih berada di sebelahnya tiba-tiba memuntahkan sebuah darah kental yang warnanya begitu pekat, hal itu terjadi padanya lantaran baru saja mendadak ia merasakan sebuah sihir seperti masuk ke dalam tubuhnya dari belakang punggungnya, yang tidak lama setelahnya jantungnya seperti di tekan.

__ADS_1


"Tuan muda?, "Chang Yang melihat kejadian itu lantas tampak mengkhawatirkan muridnya Liu Changhai, tidak hanya itu ia juga di kejutkan dengan suara jeritan yang tiba-tiba terdengar. Pandangan yang semula melihat Liu Changhai sekarang ia alihkan pada lelaki yang sebelumnya menyerangnya, sekarang ternyata ia tengah memandang ke arahnya seraya tersenyum menyeringai.


__ADS_2