
Jauh dari tempat sebelumnya Chang yi dan Xiuhuan berada, berdiri sebuah rumah besar yang di kelilingi pepohonan hijau serta beberapa lentera yang menggantung di setiap tangkainya. Di halamannya terdapat sebuah kolam kecil yang di penuhi dengan ikan-ikan besar serta berdiri sebuah jembatan melengkung di atasnya, terlihat juga tiga ekor rusa tengah duduk di samping kolam.
Dari arah luar terlihat seseorang datang yang tidak di ketahui identitasnya, orang itu tampak membawa sesuatu di tangannya yang ia sembunyikan di dalam sebuah kantong warna putih menyerupai pakaiannya. Orang itu bertubuh tinggi serta rambutnya terurai panjang yang sebagian terikat, dari samping dapat terlihat ia tersenyum namun hanya saja wajahnya sulit untuk di kenali.
Saat ia berjalan melewati jembatan yang berdiri di atas kolam tiba-tiba seluruh penampilannya berubah, sebelumnya ia adalah seorang pemuda akan tetapi kini orang itu terlihat seperti wanita tua berusia sekitar sembilan puluh tahun yang di tangannya membawa sebuah tongkat untuk membantunya berjalan, seluruh rambutnya berwarna putih dan pakaiannya pun berubah tidak seperti sebelumnya.
Kemudian ia berjalan memasuki salah satu ruangan yang ada di rumah itu, saat pintu di buka ternyata di sana tampak Xiuhuan tengah terbaring tidak sadarkan diri. Di perutnya juga terdapat sebuah luka tusukan yang cukup parah.
Setelah menutup pintu orang itu lalu berjalan mendekatinya, kemudian mengambil sebuah mangkuk kecil dan ia taruh di atas meja. Orang itu juga terlihat membuka kantung kecil yang di bawanya dan mengeluarkan beberapa daun dengan warna berbeda yang kemudian ia remas dan masukkan ke dalam mangkuk kecil tadi.
Entah apa yang di lakukannya tapi setelah orang itu memasukkan bahan-bahan aneh ke dalam mangkuk dan mengaduknya, dia kemudian terlihat mengoleskannya pada luka yang ada di perut Xiuhuan secara perlahan.
"Tidak lama luka ini akan mengering ... sepertinya kau tidak ingat dengan perkataan ku"
Satu minggu yang lalu Xiuhuan pernah bertemu dengannya, saat itu adalah hari pertama Xiuhuan menginjakkan kaki di sebuah kota yang di tempati oleh banyak orang-orang. Di pertemuan mereka saat itu dia pernah berpesan pada Xiuhuan.
____________________
"Berhati-hatilah nak, ketika kau mengunjungi sebuah tempat asing jaga dirimu baik-baik. Karena tidak semua manusia itu memiliki hati yang baik"
"Terima kasih karena telah mengingatkan, aku akan selalu berhati-hati dalam perjalanan ku"
____________________
Ia pernah mengatakan padanya untuk berhati-hati saat mengunjungi tempat asing, tetapi sepertinya Xiuhuan tidak mengingat perkataannya yang membuatnya sekarang menjadi seperti ini.
...****************...
Bersamaan dengan itu di ruangan yang berbeda terlihat Chang yi baru saja tersadar sembari memegang salah satu bahunya seraya menahan rasa sakit, Chang yi tampak heran dengan keberadaannya saat ini, matanya terus melihat ke seluruh ruangan dan tidak lama ia bergumam ...
"Tempat apa ini? mengapa aku berada di sini? bukankah sebelumnya ..."
Perlahan dia kemudian berusaha untuk berdiri, dan di sana Chang yi melihat sebuah lukisan laki-laki yang berada di atas salah satu meja kecil dekat dengan beberapa gulungan kertas, ia terlihat seperti berusia empat puluh tahun. Dan yang membuatnya kembali merasa heran adalah saat melihat sebuah tanda api di kening lelaki itu.
"Apa dia roh? ahh itu mana mungkin, tidak ada roh yang mau menolong manusia setelah kejadian ratusan tahun lalu"
" ... Tapi bagaimana jika dia memang roh dan membawa ku kemari?, "pemuda itu sepertinya tidak bisa berhenti menatap lukisan yang di hadapannya, pikirannya bahkan di penuhi dengan banyak pertanyaan mengenai orang yang ada di lukisan itu.
Tidak lama ia memandangnya tiba-tiba pintu terbuka bersama dengan seorang wanita tua yang berjalan masuk. Wanita itu melihatnya yang tengah berdiri, melihat kehadirannya yang tiba-tiba membuat Chang yi terkejut dan mulai waspada lantaran dia tidak mengenalnya.
"Akhirnya salah satu dari kalian sudah sadar"
"Apa maksud mu?"
"Teman mu berada di ruangan lain, lukanya cukup parah dan sampai sekarang dia masih belum sadar"
"Benarkah?, "Chang yi yang baru saja mengetahuinya sekarang merasa khawatir dengan kondisi Xiuhuan
"dia berada di ruangan mana?"
"Mari ikut dengan ku, "dengan senang hati wanita tua itu mengajaknya pergi menemui Xiuhuan.
Saat Chang yi melangkahkan kakinya ke luar matanya langsung tertuju pada suasana sore hari yang begitu menenangkan di sertai hujan kembali turun namun hanya rintik saja, di halaman terlihat beberapa rusa yang tengah tidur juga memakan rumput. Di sana juga ada banyak lentera dengan berbagai bentuk terpasang di beberapa tempat.
"Tempat ini sangat menakjubkan, "seraya memasang senyum pemuda itu tidak berhenti melihat apa yang ada di hadapannya sembari berjalan perlahan.
"Anak muda apa kau baru pertama kali melihat tempat seindah ini?" tanya wanita tua yang tengah berjalan di depannya.
"Ah! ya ini adalah pertama kalinya aku melihat tempat seperti ini"
"Begitu ya hahaha, "wanita itu kemudian berhenti dan membuka pintu yang ada di hadapannya secara perlahan, setelah itu dia mengajak Chang yi masuk ke dalam.
"Silakan teman mu ada di dalam"
Dan dengan tergesa-gesa Chang yi berjalan masuk namun tiba-tiba dia berhenti saat melihat Xiuhuan terbaring lemah di atas sebuah tempat tidur yang di kelilingi beberapa buah lilin sebagai penerang. Sekarang ia berjalan perlahan mendekatinya serta melihat luka yang ada di perutnya.
"Xiuhuan, apa dia baik-baik saja?"
"Teman mu baik-baik saja, tetapi tubuhnya sangat lemah"
__ADS_1
Wanita tua itu kemudian berjalan mendekati Chang yi dan berhenti tepat di sampingnya, ia melihatnya tengah memandang Xiuhuan dengan sedih. Wanita itu lalu tersenyum padanya dan berkata. "Sepertinya kalian adalah teman dekat"
Chang yi yang baru menyadari wanita tua itu tengah melihat ke arahnya sontak menghapus sedikit air matanya, kemudian membalas senyumannya.
"Ah haha kami bukan teman, aku belum lama bertemu dengannya"
"Benarkah? ku kira kalian sudah lama berteman"
"Xiuhuan menolong ku setelah semalaman aku di hajar oleh bandit-bandit kejam, mereka menyerang desa tempat tinggal ku dan adik ku saat sebelum terjadi bulan purnama"
____________________
Sore hari saat sebelum terjadi pembantaian di desa tempat tinggalnya dahulu yang di lakukan oleh puluhan bandit yang duga adalah penguasa wilayah tersebut sebelum di jadikan desa. Saat itu di rumah gubuk kecil tinggal Chang yi dengan adik laki-lakinya yang baru berusia dua belas tahun.
"Ini makanlah" ujar Chang yi seraya memberikan makanan pada anak laki-laki yang tidak lain adalah adiknya.
Dengan rasa senang anak itu menerimanya dan memakan makanan yang di berikan oleh kakaknya dengan sangat lahap, itu karena seharian dia belum memakan sesuatu lantaran Chang yi tidak mampu membelikannya makanan, dan makanan yang baru saja ia berikan adalah sisa dari pedagang yang di temukannya di tempat sampah.
Dengan tatapan sendu seraya tersenyum Chang yi memperhatikan adik kecilnya yang sangat senang dengan makanan yang dia berikan untuknya.
"Changpu maafkan aku, aku hanya bisa memberi mu makanan dari tempat sampah" gumamnya.
Saat usianya sembilan tahun Chang yi sudah hidup tanpa kedua orang tua, Ibunya meninggalkannya sendirian setelah melahirkan adiknya.
Di usianya yang masih kecil saat itu, Chang yi harus merasakan kerasnya hidup tanpa kasih sayang orang tua, orang-orang selalu memandang mereka rendah dan tidak ada yang ingin membantu keduanya, bahkan saat kedinginan di bawah guyuran hujan atau pun salju.
Sebelumnya mereka tinggal di sebuah perkotaan yang cukup besar, namun pada suatu hari segerombolan prajurit mengambil paksa tempat itu atas perintah raja Jiao long. Dan semenjak itu orang-orang yang sebelumnya tinggal di sana terpaksa beranjak dari kota tersebut, termasuk Chang yi dan adiknya yang sudah berusia tujuh tahun.
Hingga pada akhirnya mereka menemukan sebuah wilayah yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung beberapa orang. Semenjak saat itu Chang yi memutuskan untuk tinggal di sana beserta yang lainnya. Namun ternyata sama seperti dahulu orang-orang masih tidak menganggap mereka dan bahkan sempat ingin mengusir keduanya, akan tetapi untung saja itu tidak terjadi.
"Kau menyukainya?" tanya Chang yi pada adiknya.
Seraya tersenyum Changpu menjawab. "Makanan ini sangat enak"
"Kalau begitu kau harus menghabiskannya"
"... Aku akan pergi keluar sebentar, jaga dirimu dengan baik di rumah"
"Maaf"
Chang yi lalu pergi berjalan keluar seraya menangis dan menjauh agar Changpu tidak melihatnya, dia berjalan memasuki hutan pipinya terlihat basah juga matanya memerah. Di sana Chang yi menumpahkan kesedihannya yang selama ini tidak bisa membuat adiknya bahagia, serta mengingat kembali kehidupannya yang menderita.
"Kenapa? kenapa masih tidak berubah? padahal aku selalu berusaha terus berusaha, tapi mengapa masih saja seperti ini?" ujarnya seraya memandangi jurang yang ada di depan matanya.
"Sampai detik ini aku masih tidak dapat membuat adik ku bahagia, dan membuatnya terus kelaparan. Bahkan dia selalu senang saat aku memberinya makanan dari tempat sampah, "Chang yi sebenarnya sudah tidak tahan dengan hidupnya yang terus seperti itu, namun dia harus terus bertahan demi adik laki-lakinya.
Hingga malam pun tiba Chang yi masih berada di sana, dia terlihat tengah duduk di bawah sebuah pohon dengan tatapan mata yang terlihat kosong.
"Ku harap suatu saat nanti ada sesuatu yang dapat mengubah segalanya, sesuatu yang akan membawa kekuatan untuk ku" gumamnya yang kemudian mengalihkan pandangannya pada rembulan.
Di tengah lamunannya itu mendadak Chang yi teringat dengan adiknya Changpu, ia kemudian berdiri dan bergegas kembali pulang ke rumah.
...****************...
"Cepat kemari!"
"Ampuni kami tuan, kami tidak mengetahui jika wilayah ini milik kalian" ujar seorang pria paruh baya pada pria bertubuh besar.
"Jangan banyak alasan!"
"SLASH" lelaki dengan tubuh besar tiba-tiba mengayunkan pedang miliknya dan menyayat pria tua yang tengah bersimpuh di hadapannya, dengan sekali tebas dia sudah tidak bernyawa.
"Cih sampah, "lelaki itu kemudian membakar tubuhnya yang sudah tidak bernyawa beserta rumah miliknya.
Beberapa saat setelah Chang yi pergi meninggalkan desa, segerombolan bandit datang dan menghancurkan tempat itu juga menyandra orang-orang yang tinggal disana.
"Dengar kalian semua! ini akibatnya karena kalian telah berani memasuki wilayah kami!, "teriak salah satu dari mereka yang merupakan pemimpin gerombolan bandit itu.
"Maafkan kami tuan, maafkan kami"
__ADS_1
Orang-orang yang ketakutan terlihat bersimpuh di hadapannya seraya memohon ampun dan meminta maaf, mereka tidak mengetahui tempat yang selama ini mereka pijak adalah wilayah para bandit. Akan tetapi para bandit kejam itu tidak mendengarkan rintihan orang-orang itu, mereka malah membunuh satu persatu orang-orang yang tidak berdosa serta membakar rumah mereka.
"Apa-apaan ini?, "Chang yi yang baru saja tiba di desa amat terkejut saat melihat semua orang tengah di sandera oleh sekelompok laki-laki bersenjata.
Dari kejauhan sembari bersembunyi Chang yi memperhatikan apa yang tengah dilakukan bandit-bandit itu. Wajahnya berkeringat serta tangannya gemetar saat melihat orang-orang tengah di tebas lehernya satu-persatu seraya mengantri menunggu giliran.
"Mengapa mereka melakukan itu?"
" Changpu? di-di mana dia?"
Chang yi mendadak teringat dengan adiknya dan mulai mengkhawatirkannya, dari sana dia tidak melihat Changpu ada di antara mereka. Di saat para bandit itu tengah sibuk dengan yang lain Chang yi kemudian lari menuju rumahnya untuk mencari adiknya. Sesampainya di rumah Chang yi sangat terkejut saat melihat kondisi rumahnya yang tengah di bakar api besar.
"Hah! tidak mungkin"
Kemudian tanpa ragu dia lari masuk ke dalam untuk menyelamatkan Changpu, di dalam pria itu menemukan adiknya yang hampir pingsan.
"Changpu?"
"K- Kakak? kau sudah pulang?"
"Changpu aku akan membawamu keluar, "Chang yi lalu menggendong adiknya dan segera lari keluar, dan beberapa detik saat ia baru keluar api semakin membesar saat setelah mereka berada di luar.
"Semuanya terbakar" bisik pemuda itu seraya melihat rumahnya, lalu menidurkan Changpu di pangkuannya.
"Changpu kau baik-baik saja?"
"Kakak kau harus tetap hidup, cepat lari dari sini sebelum mereka melihat mu"
"Apa yang kau katakan? mengapa kau menyuruhku lari dan meninggalkan mu?"
"Kakak ce-cepat pergi, aku tidak ingin mereka membunuh mu"
Chang yi menatap dalam adiknya sembari mengusap rambut juga air matanya. Dan tanpa di sadarinya dia juga ikut menangis, anak itu terus batuk juga dadanya terasa sesak lantaran asap yang dihirupnya.
"Mengapa kau diam saja? cepat pergi"
Chang yi tidak menjawabnya dan dia juga tidak mengikuti perintahnya, pemuda itu hanya terdiam seraya menatap Changpu. Sampai pada akhirnya para bandit melihat mereka lalu mendekati keduanya dan menarik tangan Chang yi dengan kasar kemudian menendangnya berkali-kali.
"Ternyata masih ada sampah yang tersisa" ujar salah satu dari mereka seraya memegang kedua pipi Chang yi.
Sedikit pun Chang yi tidak mengalihkan pandangannya dari Changpu, sedangkan orang-orang itu terus menghajarnya tanpa henti. Begitu juga sebaliknya, seraya menangis dan terbaring lemah anak itu melihat kakaknya yang terus di pukuli, dari sana dia mulai mengingat saat keduanya mengalami masa-masa sulit. Yaitu saat orang-orang tidak pernah menerima kehadiran mereka, juga saat mereka kedinginan di bawah hujan tidak ada satu pun yang kasihan pada keduanya.
Chang yi yang babak belur kemudian terjatuh menimpa tanah, jarak antara keduanya kini sangat dekat. Changpu juga terlihat mulai menutup matanya dan saat sebelum dia benar-benar menutup mata, Chang yi tersenyum padanya untuk memberitahunya bahwa dia baik-baik saja, dan adiknya bisa pergi tanpa mengkhawatirkannya.
Malam itu adalah malam terakhirnya hidup, Changpu meninggal pada saat bulan purnama.
Chang yi hanya bisa menangis seraya menatap adiknya yang sudah tidak bernyawa, dia ingin memegang tangannya namun tubuhnya tidak dapat dia gerakan lantaran bandit-bandit itu tanpa henti menginjak punggungnya.
"Pada akhirnya aku hanyalah seorang pecundang, Changpu maaf. Karena kakak bodoh mu ini kau harus mati sia-sia, kau belum merasakan kehidupan yang layak" batin Chang yi.
Sekarang hidupnya penuh dengan penyesalan, dia tidak menyangka adiknya akan pergi secepat itu.
Orang-orang itu kemudian membawanya pergi dari sana. Wajah Chang yi terlihat memprihatinkan, darah terus mengucur dari kepala juga mulutnya dan hampir menutupi sebagian wajahnya. Mereka membawa tubuh yang sudah tidak berdaya itu ke sungai, dan tanpa ragu membuangnya di sana.
"menyedihkan, beberapa hari ke depan tubuhnya pasti akan membusuk" ujar salah seorang bandit yang baru saja melemparnya ke sungai.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan sungai dan membiarkannya tenggelam terbawa arus, orang-orang itu mengira Chang yi telah mati namun itu tidak benar, dia masih bernafas.
____________________
Chang yi menceritakan apa yang terjadi pada saat bandit kejam membantai desa mereka, dan wanita tua yang baru saja mendengarkan ceritanya tampak masih tersenyum, dia lalu sedikit mendekatinya dan memegang bahu Chang yi.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, kehilangan orang yang paling berharga itu memang menyakitkan apa lagi dia adalah satu-satunya yang kau miliki. Tapi apa kau sadar? mungkin saja pemuda itu adalah teman yang akan mendengarkan setiap masalah mu, berhentilah menyesali kematian adik mu karena itu sudah menjadi takdirnya"
"Sekarang jalani hidup dan berhenti merasa bersalah atas kematian adik mu karena itu bukan kesalahan mu"
Chang yi tersenyum mendengar perkataannya tetapi kesedihan yang ia tunjukkan masih terlihat, sesaat Chang yi melihat Xiuhuan yang masih belum sadarkan diri.
Wanita tua itu juga terlihat menoleh pada Xiuhuan. "Kau belum melanjutkan ceritanya, bagaimana kalian bertemu?"
__ADS_1
"Saat aku sadar, aku melihat Xiuhuan tengah duduk di samping ku dan bermeditasi. Saat itu aku tidak tau untuk apa dia melakukan itu, tapi pada akhirnya aku mengetahuinya ... ternyata dia melakukan itu untuk menyembuhkan luka ku"